Reincarnation Of The Poor Princess

Reincarnation Of The Poor Princess
Fifty Nine (59)


__ADS_3

Langkah kaki pelan Stella membawanya masuk ke halaman Istana Evercius. Ia segera berjalan menuju kantor ayahnya.


"Selamat pagi, Tuan Putri."


Beberapa tukang kebun menyapa Stella setiap kali ia berjalan.


"Selamat pagi, Tuan Putri."


Para pelayan yang sedang berlalu-lalang menyapanya sambil tersenyum.


"Selamat pagi, Tuan Putri."


Kepala pelayan juga memberinya sapaan setiap kali mereka bertemu.


Sekarang Stella sudah terbiasa dengan salam yang diberikan para pekerja di Istana Evercius. Sejak dia terkena demam yang menghebohkan seisi istana, perlakuan semua orang padanya berubah. Setiap kali Stella bertemu dengan mereka, maka mereka akan memberinya salam sambil tersenyum.


Stella mencoba terbiasa dengan perlakuan hangat dari mereka, tapi tetap saja rasanya aneh.


"Apakah Tuan Putri akan menemui Yang Mulia?"


"Iya."


Stella mengangguk sambil mengulurkan tangannya pada kepala pelayan itu.


"Tolong tunjukkan jalannya."


"Baik."


Kepala pelayan itu segera meraih tangan Stella dan menggandengnya. Mereka berjalan menuju kantor Raja Shavir. Ketika sampai di sana, Stella tidak sengaja bertemu dengan pelatih pedangnya, yaitu Jesriel.


"Astaga, muridku yang cantik!"


Jesriel tersenyum lebar sambil melambaikan tangannya ke arah Stella. Stella menghampiri Jesriel dan melihat pria berambut oranye itu mengenakan pakaian mewah.


"Kenapa Guru ada di sini?" tanya Stella, lalu menunjuk baju yang dikenakan Jesriel. "Apa Guru mau pergi ke pesta?"


Hari ini Jesriel mengenakan pakaian resmi untuk kesatria, yang biasanya dipakai saat akan mengunjungi sebuah pesta perayaan, jadi Stella berpikir bahwa Jesriel akan pergi ke pesta seseorang.


*(A/N: selain jadi guru berpedang Stella, Jesriel adalah seorang kesatria)


Berbanding terbalik dengan isi pikirannya, Jesriel menggeleng.


"Tidak. Gurumu yang tampan ini tidak menghadiri pesta apa pun. Aku datang ke sini karena dipanggil oleh Yang Mulia Raja," jawabnya, membuka pintu kantor sang raja. "Bukankah muridku yang cantik ini juga akan menemui Yang Mulia? Jadi ayo kita menemuinya bersama."


"Oh, oke."


Stella melepaskan tangannya dari kepala pelayan istana ayahnya, Juna.


"Terima kasih sudah mengantarku. Sampai jumpa, Juna."


"Semoga Kerajaan Evergard selalu diberkati," balas Juna seraya memberi penghormatan, kemudian Stella dan Jesriel memasuki kantor Raja Shavir, setelah itu Juna pergi dari sana.


***


Stella memasuki kantor ayahnya. Matanya menatap fokus pada dua orang lelaki yang memunggunginya. Namun, salah satu dari mereka menarik perhatian Stella.


Rambut merah muda...?


Stella seperti pernah melihat warna rambut yang seperti itu, tapi ia tidak ingat pernah bertemu dengan orang itu di mana.


Sementara itu, Raja Shavir yang sedang berbincang dengan tamunya segera melirik ke arah pintu ketika merasakan keberadaan seseorang. Ia langsung tersenyum begitu melihat Stella yang telah datang.

__ADS_1


"Oh, Stella. Kemarilah."


Stella berjalan ke arah ayahnya. Kedua lelaki itu, yang menjadi tamu Raja Shavir, secara sadar menoleh ke arah Stella. Tatapan mereka bertemu dan Stella terkejut saat melihat mereka.


Nicole...?


Stella mengenali salah satu di antara mereka. Dia adalah Nicole, kesatria yang dia tolong di Hutan Whiteback. Lalu pandangan mata Stella beralih ke arah seseorang yang memiliki rambut merah muda yang sedari tadi menarik perhatiannya.


Kalau begitu, dia adalah ... "Pangeran Bunga" yang waktu itu?!


Sejak Stella bertemu dengan Ester, dia memanggilnya "Pangeran Bunga" di dalam hatinya, karena warna rambut anak laki-laki itu menyerupai bunga sakura. Alasan lainnya juga karena tutur kata anak laki-laki itu yang lembut dan pemalu. Namun sekarang, Stella tidak yakin kalau anak laki-laki itu adalah orang yang sama yang ditemuinya di Hutan Whiteback.


Itu karena aura dan penampilannua sudah berbeda! Sangat berbeda!


Di hadapan Stella, Ester mengenakan pakaian resmi seorang bangsawan, menegaskan ketampanannya yang menawan. Ekspresi lembutnya yang terlihat polos sudah tidak ada lagi, digantikan dengan ekspresi bermartabat yang cocok untuk orang dewasa. Jika tidak ada Nicole di sampingnya, maka Stella akan mengira bahwa Ester memiliki saudara kembar.


Bisakah seseorang berubah dengan begitu cepat dalam waktu yang singkat?!


Stella ingin bertanya pada anak laki-laki itu, tapi akhirnya dia sadar bahwa tidak ada yang mengenalinya sebagai "Ellia", karena sekarang dia adalah "Putri Stella".


Lalu Stella tersenyum dan mengangkat roknya sedikit, sedangkan kaki kanannya ditekuk ke belakang.


"Senang bertemu dengan kalian."


"Memberi hormat pada Tuan Putri. Semoga Kerajaan Evergard selalu diberkati."


Ester dan Nicole memberi penghormatan dengan serentak, setelahnya penghormatan selesai.


"Stella, kemarilah."


Stella berjalan ke arah Raja Shavir. Lalu dilihatnya pria itu menepuk-nepuk pahanya.


Tolong, jangan di saat-saat seperti ini!


Kemudian, Stella tersenyum dan menolak dengan halus.


"Ayah, aku sudah besar. Duduk di situ agak―"


"Tidak apa-apa."


"Tapi di sini―"


"Tidak akan ada yang melihat."


"Tentu saja ada yang―"


"Duduklah."


"Ukh...."


Stella menggigit bibir bawahnya, merasa frustrasi.


Tidak ada yang melihat apanya? Memang kau pikir tiga laki-laki yang ada di ruangan ini siapa?! Mereka bukan manusia, begitu?!


"Stella. Duduklah."


Raja Shavir tersenyum sambil menepuk-nepuk pahanya, tapi tekanan yang mengerikan menguar di sekitarnya.


Glek.


Stella menelan salivanya. Kekuatan Raja Shavir memang tidak sebanding dengan kekuatannya yang besar, tapi ia tidak boleh menggunakan kekuatannya di sini. Karena Ester dan Nicole sudah melihat kekuatannya. Dia harus tetap merahasiakan identitasnya sebagai "Ellia".

__ADS_1


"Stella akan duduk, Ayah."


Lalu Stella berjalan dengan kaku. Langkah kakinya yang selambat siput membuat Raja Shavir turun tangan. Ia mengangkat tubuh kecil Stella dan mendudukkannya di pangkuannya.


"Oke, sudah," katanya dengan nada puas.


Mata ungunya memandang Ester dan Nicole, lalu beralih memandang Jesriel.


"Ini adalah putriku. Namanya―"


"Oh, Nicole!"


"Jesriel? Lama tidak berjumpa!"


Jesriel, orang yang memotong perkataan Raja Shavir, tidak sengaja bertatapan dengan Nicole, sahabatnya sejak ia berlatih di kamp khusus kesatria. Mereka berpelukan dan saling melempar tawa, benar-benar mengabaikan ekspresi mengerikan dari Raja Shavir.


"Diam. Atau. Mati."


Hawa dingin yang menyeramkan mengagetkan sepasang sahabat itu. Mereka bergidik lalu merinding. Mata mereka menatap patah-patah ke arah Raja Shavir.


"Ya-yang Mulia .... Mo-mohon ampuni kami...."


Raja Shavir tidak menjawab, tapi melototi mereka dengan tajam. Merasakan tidak ada rasa belas kasihan di mata sang raja, Jesriel beralih menatap Stella dengan tatapan memelas. Pandangan matanya seakan mengatakan "Tolonglah guru tampanmu ini, muridku yang cantik".


Stella tidak bisa mengabaikan tatapan memelas dari Jesriel karena itu sangat mengganggunya. Lalu ia menepuk dada bidang Raja Shavir. Dengan wajah sedih, mata membulat lebar yang berair dan suara super imut yang terdengar lirih, Stella melancarkan aksinya.


"Ayah ... jangan marahi mereka. Mereka terlihat ketakutan. Mereka juga tamu penting yang Ayah bilang, 'kan? Ya~ Ya~?"


[Heart Attcak!]


Stella bisa membayangkan tulisan seperti itu dengan warna merah muda menjadi latar belakang Raja Shavir. Lihat saja wajah terguncangnya, seolah-olah ada anak panah menembak jantungnya yang berbentuk seperti cinta.


*(A/N: bentuk kek gini ♡ maksudnya >///<)


Beberapa saat kemudian, hawa dingin yang mengelilingi Jesriel dan Nicole menghilang. Ekspresi wajah Raja Shavir perlahan melembut.


"Baiklah."


*Berhasil!


Berhasil!


Berhasil*!


Stella, Jesriel, dan Nicole bersorak di dalam hati, mengucapkan kata yang sama.


"Oh, benar. Ayah memanggilmu karena ingin memperkenalkanmu dengan pewaris Duke Ronnight. Dia adalah Ester Aubrey Ronnight."


Hah? Pewaris duke?


Stella membulatkan mata karena terkejut.


Bukankah dia pangeran? Kok bisa jadi pewaris duke?!


Seolah-olah belum puas mengejutkan Stella, Raja Shavir kembali berbicara, menjatuhkan bom yang sangat besar.


"Sekaligus calon tunanganmu."


APA? CALON TUNANGANKU?!


――――――――――――――

__ADS_1


TBC!


__ADS_2