
Suasana sepi yang menyelimuti Istana Everstell kini perlahan-lahan diisi dengan kehadiran orang-orang. Beberapa pelayan berjalan berbeda arah, menyibukkan diri, sebelum akhirnya istana kosong itu diisi oleh pelayan-pelayan lain yang baru saja pulang dari kuil.
"Lihat, 'kan? Kita sudah berdoa di kuil sejak Tuan Putri menghilang, dan katanya sekarang Yang Mulia Raja tahu di mana keberadaan Tuan Putri!"
"Iya, aku sangat senang! Ternyata usaha kita tidak sia-sia!"
"Ternyata Tuhan memang ada! Mulai sekarang, aku akan sering mengunjungi kuil!"
"Aku juga! Aku juga!"
"Hei, pasti sebentar lagi Tuan Putri pulang. Ayo kita siap-siap!"
"Ya, ya! Ayo!"
Para pelayan yang baru saja datang mempercepat langkah kaki mereka menuju pintu masuk Istana Everstell. Senyuman bahagia mengembang di wajah mereka, tak terkecuali Suzy yang baru saja sampai bersama dengan Bonnie dan Lucca. Mereka membawa karangan bunga warna-warni di tangan masing-masing.
"Aku sudah tidak sabar melihat wajah Tuan Putri!" seru Bonnie dengan rona kemerahan di pipinya, lantas membayangkan Putri Stella yang sudah lama tak ditemui menjadi semakin imut. "Pasti Tuan Putri akan bilang "Wah, sudah lama tidak bertemu! Aku rindu kalian!", 'kan? Iya, 'kan?!"
"Tuan Putri pasti tidak akan bilang begitu," sangkal Lucca dengan wajah tegas, membuat Bonnie menggembungkan pipinya karena kesal. Lalu Lucca melanjutkan dengan ekspresi yang masih serius, "Tapi aku yakin kalau beliau akan memeluk kita."
"Wah, Lucca! Imajinasimu lebih liar dariku!"
Bonnie berseru dengan wajah tercengang, yang entah termasuk kritikan atau pujian. Kemudian dia mengangguk dengan wajah berseri-berseri.
"Tapi aku setuju denganmu!"
Lalu obrolan mereka yang bercampur dengan suara tawa perlahan tersamarkan ketika keduanya berjalan lebih cepat.
'Mereka anak-anak yang lucu.'
Melihat Bonnie dan Lucca yang aktif mengekspresikan perasaan mereka, Suzy tersenyum lembut. Lalu mata birunya memandang langit kebiruan seraya menutupi matanya dari teriknya matahari.
'Tuan Putri, saya harap bisa bertemu dengan Anda sekarang.'
Dia menurunkan tangannya perlahan seraya memfokuskan pandangan ke depan, kemudian mengambil langkah ringan menuju pintu masuk Istana Everstell.
Srek, srek.
"Hm?"
Bunyi dedaunan yang jatuh mengambil alih perhatian Suzy. Dia menatap beberapa pohon yang ada di dekat gerbang Istana Everstell. Dedaunan pohon-pohon itu yang bergoyang meskipun tidak ada angin membuat perasaan curiga timbul di hatinya.
"Chirp! Chirp!"
Hingga akhirnya suara seekor burung yang hinggap di batang pohon itu terdengar dan membuat Suzy menghela napas lega. Dia melihat ada sekitar tiga ekor burung biasa yang hinggap di sana, yang sepertinya adalah keluarga.
'Fiuh, kupikir ada apa.'
Perasaan curiga tadi timbul karena dia mengira ada penyusup yang sedang mengintai Istana Everstell. Ini bisa saja terjadi karena raja dan pewaris takhta tidak ada di istana. Jika para bangsawan tahu, mereka mungkin akan mencoba segala cara untuk mengkritik raja secara terang-terangan dengan alasan "melalaikan tugas negara".
'Yang Mulia, Pangeran, dan Tuan Putri. Cepatlah kembali.'
Suzy berdoa dengan cemas di dalam hatinya, setelah itu ia berbalik. Namun, suara dedaunan yang lagi-lagi terdengar mengganggunya.
Srek, srek.
'Duh, sekarang ada apa lagi, sih!'
Swuuungg―!
Mata hijau Suzy membelalak kaget ketika merasakan sesuatu mendekatinya. Dia segera menghindar dengan ekspresi ketakutan. Karangan bunga yang ada di genggaman tangannya jatuh ke tanah.
Lalu bola api kemerahan yang entah dari mana asalnya melewatinya. Terkejut, tubuhnya tiba-tiba membeku sebelum akhirnya suara ledakan terdengar.
Boom!
"Kyaaakkk!!"
Istana Everstell, yang menjadi tempatnya berbagi kenangan dengan sang putri dan pelayan-pelayan lainnya, meledak dan terbakar, menyebabkan sedikit guncangan di tanah. Suara jeritan para pelayan yang berusaha melarikan diri terdengar secara beruntun.
"A-apa...."
Kakinya gemetar hingga tidak mampu menopang tubuhnya dan suara "bruk" pun terdengar.
"Yang sebenarnya terjadi...?"
'Padahal ... padahal tadi tidak ada yang terjadi! Padahal tadi masih ada yang tertawa dan mengobrol! Padahal ... tadi masih baik-baik saja....'
"Hiks! Heuk..., hiks! Ughh...!"
Tidak ada yang bisa dia lakukan selain duduk dengan tubuh gemetar di tanah. Air mata mengalir dari kelopak matanya dengan deras.
Tap, tap, tap.
Langkah kaki seseorang yang berhenti di belakangnya membuat Suzy berhenti menangis dan menoleh ke belakang dengan penuh harapan, berharap bahwa yang datang adalah tuan putrinya. Namun―
"Hai? Ternyata serangan tadi meleset, ya?"
Deg.
__ADS_1
Pupil mata Suzy bergetar ketakutan ketika melihat pria di depannya. Seringai khas seorang pembunuh tampak di wajah pria itu. Jubah hitam di tubuhnya yang terlihat mencurigakan menambah kesan jahat dan kejam dari orang itu. Tak lupa dengan bola api kemerahan yang melayang di atas tangannya, membuktikan bahwa dialah dalang dari penyerangan tadi.
'Dari mana datangnya orang gila ini?!'
"Si-siapa kau?! Beraninya kau...!"
"Hm? Oh, sepertinya kau cocok menjadi sandera, deh?"
Ucapan tiba-tiba dari orang itu membuat Suzy bergerak mundur. Berbahaya. Orang itu berbahaya. Bunyi tanda bahaya berdering di pikirannya berulang kali. Kalimat "melarikan diri" segera terlintas di benaknya.
Suzy segera bangkit dan berusaha lari ketika mata merah menyeramkan itu menatapnya.
"Mau ke mana?"
"Agghh!"
Namun, pria itu lebih dulu mencengkeram tangannya dan membenturkannya ke tanah.
"Kyaak!"
"Berisik sekali," kata pria itu dengan nada tidak suka. "Kau pikir bisa kabur dariku?"
"Si-siapa kau?! Dan untuk apa kau menyerang para pelayan seperti kami?!"
"Aku butuh sandera," jawab pria itu seraya menyeringai keji. "Jika putri itu tahu bahwa orang kesayangannya dalam bahaya, bukankah dia akan kembali?"
Mata biru Suzy terbuka lebar ketika mendengar ucapan pria itu.
'D-dia membicarakan tentang Tuan Putri...!'
...―――...
"Ester, aku pergi dulu."
"T-tunggu, Nona Ellia!"
Stella terpaksa berbalik dan bertatapan dengan Ester, yang menyodorkan jari kelingkingnya.
"Berjanjilah."
"Buat?"
"Kita akan bertemu lagi. Bisakah Nona Ellia berjanji seperti itu?"
Melihat Ester yang berekspresi serius dan sedikit tersipu, Stella berkedip, berpikir bahwa anak laki-laki itu sangat ingin bertemu dengannya.
'Sebegitu sukanya kau padaku?'
"Ya. Aku berjanji."
'Karena sebentar lagi kau pun akan tahu kalau "Nona Ellia" dan "Putri Stella" adalah orang yang sama,' lanjut Stella di dalam hatinya.
"Wah...."
Mata biru Ester yang berbinar-binar segera menatap Stella. Lalu jari tangannya bergerak menggenggam tangan lawan jenisnya.
"Terima kasih!"
"Ya―"
"YANG MULIA PANGERAN!"
Suara teriakan seseorang yang terdengar mendesak mengambil alih perhatian Stella dan Ester. Bahkan Dhemiel yang sempat putus asa segera dibuat terbangun dari khayalannya berkat teriakan kencang itu.
"Pangeran!!"
Pengawal pribadi Raja Shavir, Creed, berlari menghampiri Dhemiel dengan napas tersengal-sengal, bukti bahwa dia berlari dari tempat yang jauh.
"Kenapa? Apakah Stella sudah ditemukan?"
"Bukan itu! Haahh ... hosh, hosh...."
"Lalu apa?"
"I ... istana! Istana! Istana!"
"Iya, istana! Apa ada yang terjadi di istana?!" timpal Dhemiel kesal sambil mengguncang lengan Creed.
"Istana diserang!"
Deg.
"Apa? Bagaimana bisa?!"
"Maka dari itu, Anda harus bersembunyi di tempat yang aman sekarang! Yang Mulia Raja sudah kembali lebih dulu, jadi biar beliau yang mengurus masalah ini," jelas Creed sambil memegang tangan Dhemiel. "Maaf bila saya lancang, tapi Anda harus ikut dengan saya."
"Apa-apaan ini!"
Dhemiel menepis tangan Creed dengan kasar. Marah, itulah yang dia rasakan sekarang. Istana dalam bahaya dan ayahnya ada di sana, jadi kenapa dia harus bersembunyi?
__ADS_1
"Tolong mengertilah!" bujuk Creed dengan ekspresi khawatir. "Saat istana diserang, Anda sebagai pewaris takhta harus dilindungi!"
"Tapi tetap saja, Ayah ada di sana...!"
"Anda belum cukup kuat, Pangeran."
Dhemiel menggertakkan giginya kala mendengar ucapan Creed, yang merupakan kebenaran. Dia tidak pandai dalam sihir, dia juga tidak pintar mengayunkan pedang dan bertarung. Itulah kenapa dia selalu bermain-main, karena tidak ada yang bisa dia lakukan. Sekarang dia merasa menyesal dan tidak berguna karena tidak bisa membantu.
"Ikutlah dengan saya, Pangeran."
Dhemiel menggigit bibir bawahnya dengan cemas, setelah itu mengangguk dengan terpaksa.
"... Ya, aku ik―"
"Istana siapa yang diserang?"
Pertanyaan dari seseorang memotong ucapan Dhemiel.
Creed mengalihkan pandangannya, bertatapan dengan mata merah seorang anak perempuan yang terlihat semerah darah. Dia tercekat, lalu menyadari bahwa anak perempuan itulah yang menjadi topik perbincangan terpanas di ibukota; pemilik mata merah yang sangat langka!
"A-anda...."
"Aku tanya, istana siapa yang diserang?"
"I-itu ... Istana Everstell."
"!!"
"Istananya Stella?!"
"Istana milik Tuan Putri?!"
Ekspresi ketiga anak kecil itu sama. Keterkejutan melintas di mata mereka.
Stella mengerutkan keningnya, berpikir orang gila mana yang berani menyerang istanya. Dibandingkan dengan istananya, lebih masuk akal kalau penyerang itu menyerang istana raja atau pewaris takhta. Tapi ini aneh bahwa orang itu menyerang istanya, yang ditinggalkan olehnya, tidak punya barang berharga atau mewah tersimpan di sana, dan hanya dijaga oleh pelayan-pelayan yang tidak bisa bertarung―!
Saat itulah mata merah Stella menyala.
'Ah! Suzy!'
Pelayannya, Suzy, yang sudah merawatnya sejak bayi hingga sekarang, ada di sana. Tidak ada yang tahu apakah dia masih hidup, terluka, sekarat, atau ... kemungkinan sudah tiada.
Nyut....
Bagian dadanya terasa nyeri, seperti ada sesuatu yang menyengatnya. Rasanya menyakitkan.
'Tidak! Suzy tidak boleh mati!'
Suzy belum boleh mati. Tidak untuk sekarang. Dia harus berumur panjang untuk bertemu dengan majikannya sebelumnya, sang ratu. Dia juga harus hidup untuk bertemu dengan Putri Stella yang asli. Suzy tidak boleh mati!
"Nona Ellia! Anda mau ke mana?!"
Ester berteriak di belakangnya sambil berusaha mengejar, tapi Stella tidak peduli.
Dia hanya fokus pada keselamatan Suzy sekarang. Kakinya dengan cepat melangkah menuju Pintu Pelangi berada, pintu yang menghubungkan antara Sora dan Evergard. Dia harus cepat-cepat sampai ke istana sebelum sesuatu yang buruk terjadi.
"Nona Ellia! Tunggu!"
"Jangan mengejarku lagi! Aku punya urusan mendesak!"
"Apakah Nona akan pergi ke istana?"
Stella berhenti berjalan. Dia menoleh dan menatap Ester dengan tajam. "Bagaimana kau tahu?" ucapnya yang terdengar seperti geraman.
Ester ikut berhenti mengikuti dan menatap "Nona Ellia" dengan gugup sambil menjawab, "Ah, itu karena sepertinya Nona ingin membantu Yang Mulia. Anda ... terlihat sangat marah saat tahu bahwa istana sedang diserang. Jadi saya berpikir begitu."
"... Ya, itu benar."
"Jadi, biarkan saya ikut juga!"
"Hah?"
"Aku juga ingin ikut!" sambung Dhemiel yang tiba-tiba sudah ada di samping Ester. "Biarkan aku ikut juga."
"Tapi, Pangeran...!"
Creed mencoba menghentikannya, tetapi anak laki-laki itu tetap bersikeras ingin ikut. Keteguhan terukir di wajahnya yang biasanya terlihat kekanak-kanakkan.
"Aku tidak bisa meninggalkan Ayah sendirian di sana! Meskipun aku tidak bisa bertarung, setidaknya aku bisa membantu orang-orang yang terluka untuk melarikan diri. Jadi, biarkan aku ikut!"
"Baik."
Stella menerima tawaran mereka berdua tanpa berpikir panjang. Semakin banyak orang yang membantu maka hasilnya akan semakin baik. Lagi pula, kini sudah saatnya semua orang tahu identitas asli Putri Stella yang tidak pernah terungkap.
Dia adalah Komandan Eternal Flame, pemilik aura Dewi Kematian yang legendaris, pengendali iblis bayangan, tuan dari seekor naga agung, dan pemilik mata merah dan rambut pirang yang langka!
'Berani mengganggu orang-orangku, kau akan mendapatkan balasan dariku berkali-kali lipat. Aku akan membuatmu lebih memilih mati daripada hidup.'
"Sekarang, ayo kita ke kembali ke istana."
__ADS_1
――――――――――――――
TBC!