
Barbiel, bantu aku.
Untuk memastikan kecurigaannya, Stella harus menemui Xylia dan merasakan energi gelap tadi dari jarak dekat. Namun, itu tidak mungkin dia lakukan seorang diri, mengingat Raja Shavir dan Dhemiel yang memperlakukannya seperti berlian mahal sekarang, jadi dia butuh bantuan seseorang untuk mengalihkan perhatian mereka.
Orang yang tepat untuk menyempurnakan rencananya adalah Barbiel, yang mengetahui segala tentangnya.
Seperti yang diharapkan, Barbiel mendengar isi pikiran Stella dan menyetujui untuk membantunya. Di gendongan ayahnya, dia tersenyum cerah dan menunjuk ke tempat Stella berada.
"Mau ana! Ana!" (Mau ke sana! Ke sana!)
"Baik, ayo kita sapa mereka."
Eigel menyetujuinya tanpa bertanya, mengira bahwa putrinya ingin lebih dekat dengan anak perempuan Alexa. Mereka menghampiri Raja Shavir dan menyapa.
"Salam kepada Bulan Merah Evergard. Semoga Kerajaan Evergard selalu diberkati."
"Salam kepada Matahari Eclate. Semoga Kerajaan Eclate selalu diberkati. Sudah lama tidak bertemu denganmu, Eigel."
"Benar, sudah lama tidak bertemu denganmu juga, Shavir."
Mereka mengobrol dengan ramah, seperti seorang teman lama yang tidak pernah saling memberi kabar dan akhirnya bertemu. Barbiel menepuk-nepuk bahu ayahnya, setelah itu Eigel menurunkannya. Kaki pendeknya menghampiri Stella.
"Kakak!"
Dia menggenggam tangan Stella, tersenyum lebar. Stella tiba-tiba berimajinasi kalau Barbiel memiliki ekor dan sedang mengibaskan ekornya sekarang.
"Kita bertemu lagi, Barbiel."
"Iya!"
Duduk di sebelah kanan Raja Shavir, Dhemiel menatap cemburu ke arah Barbiel yang dengan mudahnya mendapat senyuman langka dari Stella, jika dibandingkan dengannya yang sangat sulit mencairkan hati beku dan dingin adik perempuannya hanya untuk saling berbicara satu sama lain.
Di sisi lain, Eigel mengalihkan pandangannya ke arah Barbiel dan Stella, lalu tersenyum.
"Sepertinya putriku ingin berteman dengan putrimu."
"Benarkah?"
Raja Shavir mengikuti arah pandang Eigel, menatap Stella dan Barbiel yang saling melempar senyum.
"Sepertinya begitu. Ngomong-ngomong, kudengar Miraria koma."
"Ya, itu benar. Sudah tiga tahun lamanya."
"Aku heran. Kenapa setelah istri kita melahirkan anak perempuan ada saja kejadian buruk yang datang."
"Kau benar. Rasanya seperti takdir mempermainkan kita sebagai suami."
Melirik ke arah dua pria itu, Stella memberikan kode pada Barbiel melalui pikirannya, setelah itu Barbiel memandang Raja Shavir dan berbicara.
"Paman, atu mau main cama Kakak! Mau main!" (Paman, aku ingin bermain dengan Kakak!)
"Barbiel bilang, dia ingin bermain dengan putrimu."
Eigel menerjemahkan, di tempatnya Barbiel mengangguk sepenuh tenaga.
"Iya!"
"Baik―"
"Yay! Ayo, Kak!"
"Ayo."
Barbiel langsung menarik tangan Stella. Mereka mulai menjauhi podium. Sementara itu, Dhemiel menatap kesal ke arah ayahnya yang menyetujui permintaan balita itu.
"Kenapa Ayah izinkan, sih?!"
"...?"
__ADS_1
Raja Shavir mengerutkan kening dan memandang putranya yang tiba-tiba marah tanpa alasan.
"Huh!"
Dhemiel turun dari kursinya dan berjalan sambil mendengkus, sekarang dia ingin mencari teman curhat.
Raja Shavir langsung menatap Eigel, seolah-olah bertanya "Apa salahku?" dengan ekspresi shock, sedangkan Eigel tertawa terbahak-bahak.
―――
Semakin lama semakin banyak pula orang-orang yang berdatangan, mereka mengerumuni Xylia, menjadikannya pusat perhatian semua orang. Mereka saling mengobrol dan tersenyum ramah. Tak lama kemudian, suara langkah kaki seseorang terdengar, mendatangi mereka.
"Bisakah kau mengobrol denganku sebentar, Xylia?"
Semua orang di sekitar Xylia langsung mengalihkan pandangan ke arah sumber suara, termasuk Xylia. Ia sangat mengenali pemilik suara itu.
Mata semuanya tertuju pada seorang anak kecil yang seumuran dengan Xylia. Bagian bawah rambut hitamnya bergelombang, tampak berkilau dan halus. Di atas kepalanya ada tiara perak berkilau, dijepit dengan bagian atas rambutnya yang dikepang ke belakang. Poninya dipotong dengan rapi di atas mata. Mata ungunya yang cerah memberikan perasaan dingin. Dengan ciri-ciri seperti itu, siapa pun bisa tahu bahwa dialah sang putri.
Semuanya saling melempar pandang dengan gelisah, setelah itu membungkuk dan memberi penghormatan dengan enggan.
"Memberi hormat pada Tuan Putri. Semoga Kerajaan Evergard selalu diberkati."
"Angkat kepala kalian."
Mereka segera mengangkat kepala, lalu bertatapan dengan mata tajam itu, setelah itu seulas senyuman terbit di wajah Stella.
"Seharusnya kalian memberi hormat seperti ini tadi. Tapi sepertinya kalau aku tidak mendatangi kalian, kalian tidak akan pernah memberi hormat padaku. Selamanya."
Stella menekankan kata "selamanya", lalu mengerahkan sedikit kekuatannya, menekan orang-orang itu. Mereka yang ditekan oleh Stella merasa merinding, setelah itu sadar bahwa sang putri adalah pemilik aura hitam "Dewi Kematian". Jika dia ingin, dia bisa saja membunuh mereka dalam sekali serang.
"A-ampuni kami, Tuan Putri!"
Semuanya memandang Stella dengan mata memelas, meminta belas kasihan. Stella diam sejenak, mengulur waktu agar para bangsawan itu bisa merasakan bagaimana rasanya berada di ujung jurang kematian, setelah itu dia kembali tersenyum.
"Ini kesempatan terakhir kalian, jadi gunakanlah dengan bijak."
"Jadi bisakah aku meminjam Xylia sebentar?"
"Tentu saja! Silakan, Tuan Putri!"
Para bangsawan, yang mulanya berkerumun di sekitar Xylia, langsung mengundurkan diri, meninggalkan Stella dan Xylia.
Xylia menggigit bibir bawahnya. Dia tidak menyangka jika orang-orang yang sebelumnya berada di pihaknya, kini menuruti kata-kata sang putri dengan patuh, padahal sebelumnya mereka mengejek putri itu dengan gembira.
"Xylia."
Stella memanggil gadis di depannya dengan wajah tanpa ekspresi, kemudian menggenggam lengan tangan Xylia.
"Ikut denganku."
Xylia, yang diseret oleh Stella ke balkon, memberontak. Sesampainya di sana, dia berteriak ke arah Stella.
"Beraninya kau menarikku seperti tadi! Apa kau tidak takut kalau aku akan menghukummu, hah?"
Suaranya meninggi. Lalu dia memegang lengan tangannya yang tadi ditarik dengan kasar oleh Stella. Matanya menatap ke arah Stella dengan pandangan menghina.
"Dan juga bisa-bisanya mereka mengakuimu sebagai putri! Kau tidak pantas untuk berada di sini!"
"Yang harus datang ke sini bersama Yang Mulia Raja dan Pangeran Dhemiel adalah aku! Bukan kau!"
"Ya harus mereka panggil "tuan putri" adalah aku! Bukan kau!"
"Mereka seharusnya menghormatiku!"
"Dan mereka seharusnya menghinamu seperti yang mereka lakukan di pesta sosial lain!"
"Kau juga seharusnya memakai gaun yang lusuh! Seharusnya kau tetap diam di istanamu! Seharusnya kau tidak usah datang ke sini!"
"Dan ... seharusnya Yang Mulia Raja memanggilku! Tersenyum padaku! Menatapku dengan hangat! Lalu semua orang akan memanggilku "tuan putri" dan tidak ada yang akan mengingatmu! Seperti dulu!"
__ADS_1
"Seharusnya begitu! Tapi karena kau, semua yang kumiliki datang kepadamu dan menjadi milikmu! Aku membencimu, Stella! Aku sangat membencimu!!"
Xylia mengeluarkan semua kekesalannya. Dia menghirup oksigen dengan rakus, terengah-engah. Sekarang, yang ada di matanya hanya ada kebencian dan ambisi untuk menyingkirkan Stella, seperti yang terjadi di buku dongeng "The Poor Princess".
"Apa kau sudah selesai berbicara?"
Tatapan Xylia menjadi lebih bingung setelah mendengar balasan Stella yang tenang. Tidak ada jejak kemarahan atau sebagainya di matanya.
"Kau ... kau tidak tersinggung? Tadi aku sudah menghinamu! Menghinamu! Apa kau tidak marah? Apa kau tidak tersinggung?" tanya Xylia bertubi-tubi.
Stella berjalan lebih dekat ke arah Xylia, kemudian berbisik ke arahnya.
"Kenapa aku harus marah dan tersinggung? Kau beruntung karena yang berdiri di depanmu bukanlah Putri Stella."
Mata hijau Xylia bergetar. Ekspresi wajahnya terlihat sangat terkejut.
"Hah? Apa? Lalu kau―"
Bzzt! Bzzt!
Stella mencengkeram tangan Xylia dengan kuat, mengalirkan mana sihirnya.
"Apa―aaagh! Hentikan! Aaaakhh!"
Suara jeritannya terdengar pilu, tapi tak ada seorang pun di aula yang akan mendengarnya. Karena di sekitar balkon sudah dipasang sihir kedap suara. Alasannya karena banyak pertemuan rahasia yang terjadi antara sesama bangsawan di tempat itu, jadi keamanannya terjamin.
Bzzt! Bzzt!
Suara seperti kabel listrik yang rusak terdengar.
Energi gelap dan kelam yang beredar di sekitar Xylia langsung lenyap setelah Stella menyalurkan mana sihirnya ke tubuh Xylia, diganti dengan energi putih murni yang dimiliki Xylia sebelumnya. Setelah itu, jeritan Xylia berhenti dan dia menatap sekitarnya dengan bingung, begitu juga dengan Stella yang melepaskan cengkeramannya dari tangan Xylia.
"Tu-tuan Putri? Di mana ini? Apa kita sekarang ada di balkon?"
"Iya."
"Bukankah tadi kita―astaga! Aku ingat kalau aku tiba-tiba merasa aneh! Sepertinya sihir jahat itu kembali menguasaiku!"
Xylia menutup mulutnya, ketakutan terlihat di wajahnya.
"Apa, apa yang baru saja kulakukan? Apakah aku menghina Tuan Putri lagi? Apakah aku seperti itu lagi?"
"Tidak, kau tidak berbuat seperti itu," kata Stella sambil mencoba menenangkan Xylia.
"Tapi aku yakin kalau aku...."
"Hal itu tidak akan terjadi lagi."
Mata hijau Xylia sudah basah, merasa bersalah karena mengetahui Stella berbohong padanya agar hatinya tidak terluka. Lalu dia memeluk Stella dengan erat.
"Tuan Putri! Maafkan aku...!"
"Tidak apa-apa."
Stella menepuk-nepuk punggung Xylia yang bergetar.
"Maafkan aku! Huwaaa...!"
Kemudian Xylia mulai terisak di pelukan Stella.
"Kau tidak bersalah, jadi jangan menangis."
Di tengah perlakuannya yang lembut pada Xylia, mata ungu Stella menjadi dingin.
Itu bukan sihir jahat yang menguasai Xylia di masa lalu, tapi sihir pengendali tingkat tinggi yang mengendalikan seseorang melalui darah orang itu sendiri.
――――――――――――――
TBC!
__ADS_1