Reincarnation Of The Poor Princess

Reincarnation Of The Poor Princess
Twenty Six (26)


__ADS_3

Stella duduk di ranjangnya, merenung. Dia masih memikirkan mimpi aneh yang baru saja didapatnya. Stella tidak tahu asal-usul wanita yang ada di mimpinya. Namun, ketika dia memikirkan kata "ibu" yang keluar dari mulut wanita itu, serta rambutnya yang berwarna pirang keemasan, Stella hanya bisa memikirkan satu orang, yaitu Alexa, ibunya di dunia ini.


"Tapi...."


Stella meletakkan tangannya di dagunya, alisnya mengerut, sedangkan pikirannya terpaku pada kalimat terakhir dari wanita itu.


"Kenapa dia mengatakan "Ibu akan segera kembali bersama kakakmu"? Apa maksud kalimat itu?"


Stella tidak bisa memahami arti dari kata-kata wanita itu. Itu adalah sebuah misteri yang harus dipecahkan. Namun, yang bisa dipahami Stella adalah kalimat "Tunggu Ibu" dan "Ibu akan segera kembali", itu menandakan bahwa Alexa, ibunya di dunia ini, masih hidup.


"Apa?"


Stella tersentak ketika pemikiran itu memenuhi kepalanya. Pupil matanya membesar, bersamaan dengan kalimatnya selanjutnya.


"Ini benar-benar kejutan besar," katanya. 


Stella tidak bisa tidak kehilangan akal sehatnya ketika mengetahui bahwa orang yang dikabarkan meninggal ternyata masih hidup.


Tetapi, mengapa tak ada satu pun yang mengetahui fakta ini?


Pada saat itu, suara ketukan pintu terdengar, diikuti suara gelisah milik Suzy yang juga terdengar.


"Apakah Anda baik-baik saja, Tuan Putri?"


Stella tidak menjawab, dia terdiam. Mendengar tak ada jawaban apa pun dari tuannya, Suzy kembali berbicara.


"Nona Xylia datang mengunjungi Anda, Tuan Putri."


Xylia?


Stella mengerutkan keningnya ketika Suzy mengucap nama itu. Suasana hatinya kini sedang tidak baik, tetapi sekarang dia memiliki tamu tak diundang yang kemungkinan akan memperburuk suasana hatinya.


"Aku tidak ingin bertemu siapa pun sekarang," balas Stella dengan nada suram.


Di luar kamar Stella, Suzy terdiam, tidak bisa berkata-kata. Kemudian, seseorang muncul di sampingnya.


"Ada apa?"


Suara manis orang itu menyentak pikiran Suzy, dia pun menoleh, mendapati Xylia berdiri di sampingnya dengan wajah polos.


"Apakah Tuan Putri tidak ingin menemuiku?" tanyanya. Setelah itu, wajahnya berubah menjadi sedih.


Melihat perubahan pada raut wajah Xylia, Suzy menjadi gelisah.


"Bu-bukan begitu, Nona Xylia," kata Suzy, berusaha menenangkan Xylia. "Tuan Putri hanya―"


"Hanya membenciku," potong Xylia, matanya berair, mulutnya melengkung ke bawah, sedangkan wajahnya berubah menjadi semakin sedih. "A-a-aku hanya, aku hanya ... ingin menemuinya. Tapi sepertinya, Tuan Putri tidak ingin menemuiku. Itu mungkin karena dia membenciku...."

__ADS_1


"Anda tidak boleh berbicara seperti itu, Nona Xylia!"


Suzy memegang bahu anak kecil itu, kemudian kembali berusaha menenangkannya.


"Tuan Putri tidak membenci Anda sama sekali," ucap Suzy dengan tegas, membuat wajah sedih Xylia berubah menjadi cerah.


"Benarkah?" tanyanya dengan wajah berseri-seri.


Suzy tersenyum dan mengangguk sebagai jawaban.


"Kalau begitu, aku akan menemui Tuan Putri dulu!"


Setelah itu, Xylia berjalan menuju pintu kamar Stella dan membukanya tanpa meminta izin dari pemilik kamar itu, meninggalkan Suzy yang memiliki ekspresi kosong di wajahnya. 


"Mengapa rasanya aku seperti dipermainkan oleh Nona Xylia?" gumamnya, terdiam mematung di tempatnya.


...―――...


"Tuan Putri!"


Stella melirik ke arah pemilik suara manis itu dengan malas. Dia menatap Xylia yang memasuki kamarnya tanpa seizinnya dengan tatapan datar.


Namun, Xylia mengabaikan tatapan Stella yang sepertinya tidak menyukainya, dia berjalan dan akhirnya berdiri di sebelah kiri ranjang Stella.


"Aku merindukanmu, Tuan Putri!" katanya dengan wajah berseri-seri dan mata berbinar.


"Tuan Putri, aku punya permintaan. Kuharap Anda mau memenuhi permintaanku."


Stella terdiam. Matanya meneliti ekspresi wajah yang ditunjukkan Xylia padanya, berusaha mencari jejak kepalsuan dan kebohongan, tetapi dia tidak menemukan apa yang dicarinya. Ekspresi itu tampak nyata, Stella tidak bisa menyangkal fakta itu. Akhirnya, Stella memutuskan berbicara dengan Xylia.


"Apa itu?"


"Hehe."


Xylia tidak menjawab, tetapi tersenyum lebar ke arah Stella hingga matanya menyipit.


...―――...


Suara embusan angin terdengar. Kedua anak kecil yang memiliki usia serupa itu sedang berjalan-jalan di sebuah taman bunga yang indah. Inilah permintaan yang diinginkan Xylia, yaitu berjalan-jalan bersama Stella. Ketika mendengar permintaan Xylia, Stella langsung memikirkan taman bunga yang berada di halaman belakang Istana Everstell, tempat itu sangat sesuai untuk dijadikan tempat berjalan-jalan.


Dulunya, tempat itu ditumbuhi sedikit tanaman bunga, tetapi sekarang berbeda, karena Stella telah memperkerjakan tukang kebun untuk mengurus taman itu.


"Bunga-bunga di sini indah sekali, Tuan Putri."


Suara manis seseorang terdengar. Stella hanya mengangguk singkat sebagai balasan. Setelah itu, Xylia, yang berjalan di sampingnya, mengambil satu langkah mendahuluinya. Kemudian, gadis kecil itu berjongkok, dia pun memetik beberapa bunga yang tumbuh di taman itu dengan riang.


Stella tidak terlalu memedulikan apa yang dilakukan Xylia, dia hanya mengamatinya dari jarak dekat. Tetapi setelah itu, Stella dikejutkan oleh Xylia, yang memberikan bunga-bunga yang dipetiknya tadi padanya.

__ADS_1


Stella akhirnya bersuara, dia bertanya, "Apa yang kau lakukan?"


Senyum ceria masih senantiasa tampak di wajah cantik Xylia. Ekspresi wajahnya juga masih sama seperti sebelumnya; berseri-seri. Namun, nada suaranya berbeda.


"Aku memberikan bunga-bunga ini untuk Tuan Putri sebagai permintaan maaf," kata Xylia, masih mempertahankan postur tangannya yang memberikan bunga-bunga itu pada Stella.


Pada saat itulah, Stella merasakan keanehan dengan tingkah laku Xylia.


Tidak seperti tadi, suara Xylia yang terdengar di telinganya saat ini sangat tenang dan dewasa, sangat berbeda dengan kepribadiannya yang sangat manis.


Namun, mengapa Xylia meminta maaf?


Melihat tidak ada balasan apa pun dari Stella, Xylia segera menjelaskan, "Aku minta maaf. Karena aku, Tuan Putri tidak bisa pergi ke acara tes bakat bersama Yang Mulia Raja dan Pangeran Dhemiel. Itu sebabnya, aku memberikan ini sebagai tanda permintaan maaf."


Ah, sekarang Stella mengerti.


'Aku pikir ada yang aneh dengannya, tapi dia tetap polos seperti biasanya,' batin Stella, kemudian mengambil bunga-bunga yang diberikan Xylia.


"Sebenarnya, itu tidak perlu, tapi terima kasih," balas Stella, lantas tersenyum kecil.


'Ini bukan salahmu, ini salah si Shavir itu!' lanjut Stella di dalam hatinya dengan geraman. 'Kalau si Shavir itu tidak meminta untuk mendampingimu, kau juga tidak akan pergi bersamanya.'


Mendengar balasan Stella yang terdengar lembut, disertai dengan senyum kecilnya yang terbilang langka, wajah Xylia menjadi semakin cerah, dia tersenyum lebar.


"Terima kasih, Tuan Putri! Aku pikir, Tuan Putri tidak akan pernah memaafkanku!" katanya dengan gembira, bahkan Xylia mengatakan itu sambil melompat-lompat.


Melihat reaksi tidak terduga dari Xylia, Stella hanya diam. Dia sudah menduga hal itu. Namun, tetap saja Stella merasa ada yang aneh dengan sikap Xylia padanya.


'Bukankah "Xylia" di dalam buku dongeng itu sangat licik dan ... jahat pada Putri Stella? Tapi, mengapa berbeda dengan apa yang kulihat hari ini?'


Pada saat itu, Xylia tanpa sadar mengucapkan sebuah kalimat yang membuat Stella tersentak.


"Aku pikir, aku tidak akan pernah mendapatkan permintaan maaf dari Tuan Putri, karena saat itu Anda sudah mati, dan semua itu karena aku! Tapi sekarang, aku lega, aku lega karena bisa mendapatkan permintaan maaf dari Tuan Putri! Aku sangaaat lega!!"


Apa?


Stella terkesiap.


Dari mana ... Xylia tahu hal itu?


"Ah?"


Baru pada saat itulah, Xylia menyadari apa yang dia katakan. Wajahnya yang berseri-seri berubah menjadi pucat. Rahasia yang selama ini disimpan olehnya tanpa sadar keluar dari mulutnya. Suasana di sekitar mereka seketika berubah menjadi tegang.


――――――――――――――


TBC!

__ADS_1


__ADS_2