Reincarnation Of The Poor Princess

Reincarnation Of The Poor Princess
Twenty Five (25)


__ADS_3

"Baiklah, pelajaran pertama hari ini adalah mengendalikan kekuatan sihir yang kita miliki."


Azalea memulai pembelajarannya. Saat ini, Stella dan Azalea berada di sebuah lapangan luas yang digunakan untuk berlatih sihir. Meskipun Istana Everstell tidak memiliki dekorasi-dekorasi yang terbuat dari emas di sekitarnya, bangunan itu memiliki semua tempat yang dibutuhkan, seperti tempat berlatih berpedang, tempat berlatih sihir, dan lainnya.


Di lapangan yang luas ini, hanya ada Stella dan Azalea, sedangkan Suzy berdiri cukup jauh dari tempat mereka, tujuannya agar Suzy tidak terkena serangan dari sihir yang akan dikeluarkan Stella, kalau-kalau Stella salah membaca mantra.


"Jika kita kehilangan kendali atas sihir yang kita miliki, maka sihir itu akan berhamburan, dan menyerang sekitarnya dengan brutal."


Stella mengangguk singkat ketika mendengar penjelasan Azalea, kemudian Azalea kembali menjelaskan langkah-langkah dasar menggunakan sihir, ia juga langsung mempraktikkannya di depan Stella.


Tanpa diduga, Stella mampu melakukan apa yang dikatakan Azalea. Kendali terhadap sihirnya sangat baik, Stella juga bisa menciptakan bola-bola api berukuran kecil dan sedang, itu adalah kemajuan yang pesat, mengingat bahwa jiwanya berasal dari dunia lain.


Azalea bertepuk tangan atas keterampilan Stella dalam sihir, kemudian mulai memujinya. Suzy yang berdiri cukup jauh dari Stella juga ikut memujinya dengan wajah berseri-seri.


"Anda luar biasa, Tuan Putri!" puji Azalea dengan seruan, tepuk tangan darinya masih bisa didengar.


Stella hanya tersenyum kecil sebagai tanggapan. Sejujurnya, dia juga cukup terkejut dengan kemampuannya. Namun, setelah Stella memikirkannya kembali, kemampuan itu mungkin didapatnya dari Shavir dan Alexa.


Semua anggota keluarga kerajaan memiliki keterampilan yang bagus dalam sihir, ditambah latar belakang ibunya di dunia ini yang dulunya merupakan penyihir berbakat, jadi tidak heran jika tubuh yang ditempati oleh jiwa Stella Elliathania Elliot Evergard akan memiliki keterampilan yang bagus dalam sihir.


"Anda sangat berbakat, Tuan Putri."


Azalea masih memujinya, ia tersenyum lembut, kemudian pandangannya menurun, seolah sedang mengenang masa lalunya.


"Anda mengingatkan saya dengan Yang Mulia Ratu, beliau juga berbakat dalam sihir."


'Oh, tidak.'


Stella tiba-tiba merasakan dadanya berdenyut dan terasa sakit.


Perasaan apa ini? Pertanyaan itu melintas di benaknya tanpa diketahui jawabannya.


"Tentu saja Anda berbakat, itu karena bakat bawaan yang diturunkan Yang Mulia Ratu pada Anda."


Tidak.


Stella tidak ingin mendengarkan apa pun tentang orang yang dibicarakan Azalea.


Namun, Azalea tidak mengetahui reaksi tidak wajar dari Stella, ia tetap melanjutkan perkataannya dengan penuh kegembiraan.


"Walaupun Anda tidak mirip dengan Yang Mulia Ratu dan malah mirip dengan Yang Mulia Raja, tetap saja, saya merasa seperti melihat Yang Mulia Ratu dalam diri Anda."


Stella meletakkan tangannya di dadanya, kemudian pakaian yang dikenakannya di bagian sana menjadi kusut, tangannya mengepal.


"Sayangnya, Yang Mulia Ratu meninggalkan Anda di dunia yang kejam ini. Tapi, saya, Azalea Orma, bersumpah akan memberikan kesetiaan dan hidup saya pada Anda."

__ADS_1


Pada saat itulah, pandangan Azalea, yang semulanya menurun, beralih menatap Stella. Namun, apa yang terjadi di hadapannya membuatnya terkejut.


"Tu-tuan Putri...?"


Suara Azalea bergetar. Dia pun mencoba menjangkau Stella, namun tangannya yang hendak ke arah Stella seketika terhenti ketika mendengar perkataan anak kecil di depannya.


"Pergi .... Tinggalkan aku sendiri."


Azalea berusaha memahami perkataan Stella, namun ia masih tidak paham. Mengapa sang putri meneteskan air mata dan berkata seperti itu padanya?


"Tuan Putri ... saya tidak mengerti."


"Kubilang pergi."


Suara tajam itu membuat Azalea bungkam. Emosi kompleks yang diberikan Stella padanya membuat wanita itu tidak bisa berkata apa-apa.


"Jangan bersikap seolah kau mengenalku," lanjutnya, setelah itu Stella berbalik dan berlari menuju istananya, meninggalkan Azalea yang membeku, sedangkan Suzy dibuat bingung dengan kejadian yang terjadi di depan matanya.


...―――...


Stella mengurung dirinya di kamar. Wajahnya yang cantik dibenamkan di atas bantal. Sejujurnya, dia sendiri juga tidak mengerti dengan perasaan yang dirasakannya saat ini.


Ini adalah pertama kalinya dia mendengar cerita tentang ibunya. Ia merasa senang, namun di sisi lain dia merasa sakit di bagian hatinya, seolah ada banyak benda tajam menancap di sana.


Ayahnya, yang tidak pernah memberikan kasih sayang padanya, mulai mengkhawatirkannya dan memberinya pendidikan sihir yang berkualitas.


Kakaknya, yang tidak pernah menemuinya dan selalu bersama Xylia, tiba-tiba bermain-main dengannya menggunakan kata-katanya yang terdengar konyol, seolah-olah mereka sangat akrab sehingga ia selalu bercanda padanya setiap kali bertemu.


Kemudian, teman ibunya, yang jelas-jelas tinggal di wilayah kerajaan tapi tidak pernah menanyakan tentang kondisinya, tiba-tiba mengunjunginya dan menjadi guru sihirnya, lalu mengatakan persamaan antara dirinya dan ibunya, kemudian membuat sumpah kesetiaan padanya.


Namun, setelah dia dilahirkan dan sebelum umurnya mencapai lima tahun, ke mana orang-orang itu?


Mengapa mereka tidak datang menemuinya di tahun-tahun sebelumnya?


Lalu, mengapa mereka sekarang mulai menunjukkan kepedulian padanya?


"Huh."


Stella mendengkus. Tanpa disadarinya, matanya yang berwarna ungu berubah menjadi merah gelap, tidak seperti sebelumnya yang berwarna merah cerah seperti buah delima.


"Apa mereka pikir hidup ini lelucon? Mereka dulu mengabaikanku, tidak pernah menganggap aku ada, tapi sekarang mereka bersikap seolah-olah mereka mengenalku dengan baik."


"Orang yang sangat dekat dengan ibuku tiba-tiba muncul dan menunjukkan kesetiannya padaku, tapi di mana ia dulu ketika aku masih bayi dan membutuhkan kasih sayang dari orang-orang terdekat?"


"Dan juga...."

__ADS_1


Stella terdiam, kemudian memegang dadanya yang masih berdenyut.


"Mereka kejam sekali tidak memperlihatkan potret ibuku padaku. Tapi sekarang, orang itu, Azalea Orma, tiba-tiba menceritakan tentang ibuku pada seorang anak yang belum pernah melihat wajah ibunya, tentu saja anak kecil mana pun akan menangis."


Perasaan yang dialami Stella hari ini mungkin mengenai kerinduan seorang anak pada ibunya.


"Mengapa aku repot-repot memikirkan mereka?" tanya Stella sambil mengusap air matanya yang masih mengalir, dia kemudian membalik badannya, menghadap langit-langit kamarnya. "Ingatlah, aku bukan "Putri Stella" yang mereka sebut. Aku adalah "Putri Stella" dari dunia lain," sambungnya dengan pelan, berusaha menghilangkan perasaannya yang mendambakan kasih sayang dari keluarganya di dunia ini.


Beberapa menit kemudian, Stella menutup kelopak matanya, kemudian tertidur.


...―――...


"Buka matamu, Nak."


Suara seorang wanita yang jernih dan manis tiba-tiba terdengar. Stella kemudian membuka kelopak matanya, menatap sosok wanita yang terlihat kabur di depannya.


"Ibu merindukanmu, sayang."


Suara yang manis itu kembali terdengar, membuat Stella membuka matanya lebar-lebar kala mendengar kata "ibu" keluar dari mulut wanita itu. Namun, anehnya, Stella tidak bisa mengatakan apa pun, seperti ada sesuatu yang bermasalah dengan pita suaranya.


"Tunggu Ibu."


Wanita itu kembali berkata, namun Stella tetap tidak bisa melihat wajahnya dengan jelas, yang bisa dilihat oleh matanya hanyalah tinggi badan wanita itu dan rambut pirangnya yang berwarna keemasan.


"Ibu akan segera kembali...."


Sosok itu semakin menjauh, bersamaan dengan suaranya yang semakin mengecil. Stella ingin berteriak untuk menghentikannya, namun tak ada satu pun kalimat yang keluar dari mulutnya.


Samar-samar, aroma wanita itu melekat di indra penciumannya.


"... Bersama kakakmu."


...―――...


"Haahh...!"


Stella membuka kelopak matanya, terkejut.


Mimpi apa itu tadi?


――――――――――――――


gais, mau tanya, mingdep crazy up 5 eps gak? yang mau komen yaaa!!!


TBC!

__ADS_1


__ADS_2