Reincarnation Of The Poor Princess

Reincarnation Of The Poor Princess
Thirty Two (32)


__ADS_3

Itu benar.


Sampul buku itu berwarna merah muda, di bagian tengahnya ada sebuah tulisan berwarna emas dengan kalimat "The Poor Princess", lalu di sekitar tulisan itu dihiasi dengan ornamen-ornamen bunga berwarna putih dan kupu-kupu berwarna hitam.


Tidak salah lagi, itu adalah buku dongeng yang diberikan kakeknya pada Stella.


Namun, mengapa buku itu bisa berada di sini?


Sayangnya, Stella tidak mengetahui mengapa buku itu bisa berada di sini. Setelah itu, dengan tangan yang bergetar, Stella membuka halaman pertama dari buku itu. Lalu, kalimat pertama yang ada di buku itu membuatnya mematung.


[Hari ini, di ulang tahunku yang ke-5, aku melihat Ayah pergi bersama anak kecil berambut pirang dengan kereta kuda yang sangat mewah. Hah, kira-kira, kapan aku bisa pergi ke suatu tempat bersama Ayah?


Selamat ulang tahun untuk diriku sendiri, Stella Al-Teona Evergard.]


Deg!


Stella terdiam seperti patung. Dia mengenali tulisan tangan itu. Itu adalah kalimat pertama sebagai pembuka dari buku dongeng itu. Kalimat itu sangat persis dengan yang dibacanya ketika dia berada di kehidupannya sebelumnya. Kemudian, Stella membalik halaman kedua dari buku itu.


[Setelah lima tahun berlalu, aku akhirnya bertemu dengan ayahku. Ini adalah pertemuan pertama kami. Tapi, dia bersama dengan gadis berambut pirang itu lagi. Aku menemui mereka, tapi aku diusir dari sana. Saat itu, aku menangis di bawah pohon rindang sambil memanggil ibuku, berharap Ibu datang dan membawaku ke tempatnya.]


Sekali lagi, Stella mematung, mata merahnya bergetar, ada kilat kesedihan dan kemarahan melintas di sana.


"I-ini ... buku dongeng itu!"


Stella bergumam dengan nada tidak percaya. Lalu, tangannya dengan cepat membuka halaman terakhir dari buku itu, berharap bahwa dia tidak salah mengenali buku dongeng yang diberikan sang kakek padanya.


"Kalau tidak salah, di halaman terakhir bercerita tentang pengeksekusian Putri Stella yang saat itu berumur 15 tahun...."


Menurut ingatan Stella, halaman terakhir dari buku dongeng itu menceritakan tentang Putri Stella yang dituduh meracuni Xylia dan akhirnya dieksekusi setelah dipenjara selama seminggu.


Ketika Stella membuka halaman terakhir, pupil matanya membesar, ekspresi wajahnya dipenuhi dengan keterkejutan. Apa yang ditulis di sana tidak sesuai dengan yang dibacanya ketika dia berada di kehidupan sebelumnya.


[Setelah Putri Stella dieksekusi di hadapan semua orang, berbagai bencana besar mulai melanda wilayah Kerajaan Evergard. Rakyat beranggapan bahwa wilayah kerajaan dikutuk karena telah membunuh penerus Dewi Kematian, yang pada saat itu adalah Putri Stella. Pada saat itu, peperangan antara Kerajaan Evergard dengan Kerajaan Aelo pecah, dan berlangsung hingga bertahun-tahun. Pangeran Xander, yang diketahui berhubungan dengan putri Duke Fictin, menculik Xylia dan menjadikannya tawanan perang....]


"Apa ... apa-apaan...?"


Kening Stella berkerut, matanya kembali membaca kalimat selanjutnya, setelah itu wajahnya dipenuhi keheranan yang mendalam.


"Ini tidak seperti yang kubaca waktu itu...."


Tepat ketika Stella akan membaca bagian yang lainnya, suara seseorang terdengar, memanggilnya.


"Stella! Apa kau tidak ingin pulang?"


Itu adalah suara Dhemiel.


Dengan segera, Stella membalas, "I-iya! Tunggu aku!" katanya, kemudian Stella menutup buku dongeng itu, secara otomatis mata merahnya berubah warna menjadi ungu, aura hitam yang menguar dari tubuhnya juga secara bertahap menghilang, lalu Stella berjalan ke arah pria tua yang merupakan pemilik toko buku ini.


"Oh, apa kau sudah memilih buku yang ingin kaubeli, Nak?"


Pria tua itu bertanya ketika melihat Stella menghampirinya sambil membawa sebuah buku di tangannya. Kemudian, mata hitam pria tua itu menyipit, memerhatikan buku yang dibawa Stella.


"Ternyata kau membeli buku itu. Apa kau bisa membaca tulisan yang ada di buku itu?"

__ADS_1


"Ya," jawab Stella sambil mengangguk pelan. "Aku ingin membeli buku ini. Berapa harganya?"


"Harganya tiga koin perak," jawab pria tua itu.


"Baik."


Stella kemudian menatap Dhemiel, yang juga sedang menatapnya, lalu Stella tersenyum dengan manis.


"Bayarkan aku, Kak!" ucapnya dengan riang.


Melihat senyum manis itu, hati Dhemiel menjadi tergerak, dia kemudian menghampiri pria tua itu dan memberikan sekeping koin emas, membuat mata pria tua itu melebar karena terkejut.


"Ini adalah bayaran karena sudah membuat adikku tersenyum ke arahku," kata Dhemiel, menjelaskan mengapa dia memberi sekeping koin emas itu pada pemilik toko.


Pria tua itu lantas tersenyum.


"Kau adalah kakak yang baik, Nak. Kuharap kau selalu menjaga adikmu," ucapnya dengan tulus.


Mendengar ucapan pria tua itu, Stella langsung membatin sambil menatap ke arah Dhemiel, 'Dia? Kakak yang baik? Konyol.'


Di sisi lain, Dhemiel langsung tersenyum dengan gembira ketika mendengar pujian dari pria tua itu. Tidak ada yang pernah memujinya seperti itu, jadi secara alami dia merasa gembira ketika mendengar seseorang memujinya.


Setelah itu, Stella kembali mengarahkan tatapannya menuju pria tua itu, hingga perhatiannya mengarah pada sebuah rak buku kecil yang ada di belakang pria tua itu.


Stella, yang merasa penasaran dengan buku-buku yang ada di sana, tanpa ragu mengajukan pertanyaannya.


"Buku apa yang ada di sana, Kek?"


Mendengar pertanyaan Stella, pria tua itu membalik badannya, kemudian menjawab, "Oh, itu adalah rak berisi buku-buku sihir."


"Apa kau tertarik membelinya?"


Stella langsung mengangguk.


"Ya! Carikan aku buku sihir yang paling tebal!" jawabnya dengan penuh semangat.


Setelah itu, pria tua itu mencari buku sihir yang paling tebal. Di sisi lain, Dhemiel, yang berada di samping Stella, menyenggol lengan gadis itu.


"Bukannya kau punya banyak buku-buku sihir di istanamu?" tanya Dhemiel, bingung.


"Itu benar," jawab Stella.


"Lalu kenapa kau ingin membeli buku sihir yang ada di sini? Aku tidak mengerti."


"Aku ingin saja membeli buku sihir yang ada di sini. Lebih tepatnya, aku ingin menghabiskan uang yang kaubawa."


"Heh, kau licik juga," balas Dhemiel sambil tersenyum miring, sedangkan Stella hanya membalasnya dengan wajah tidak peduli.


Beberapa menit kemudian, pria tua itu membalikkan badannya, menghadap Stella, kemudian memperlihatkan sebuah buku tebal berwarna cokelat dengan ornamen-ornamen garis berwarna-warni di sekitarnya.


"Ini adalah buku sihir yang paling tebal," katanya.


Stella menatap buku sihir itu dengan kagum.

__ADS_1


"Tidak usah dibayar, anggap saja koin emas tadi sebagai bayarannya," lanjutnya sambil memberikan buku tebal itu pada Stella.


Ketika Stella akan mengambil buku sihir itu, Dhemiel sudah terlebih dahulu mengambilnya.


"Biar aku saja yang bawa. Ini berat."


"Ya? Oh ... terserah Kakak saja."


Menyaksikan pemandangan di depannya, pria tua itu tersenyum. Setelah itu, Stella dan Dhemiel mengeluari toko itu.


"Sampai jumpa, Kek!" kata Stella sambil melambaikan tangannya, lalu menutup pintu toko itu.


Di dalam toko yang sunyi itu, pria tua itu mengelus janggutnya, senyumnya belum menghilang dari wajahnya, sedangkan mata hitamnya berbinar dengan kerinduan.


'Rupanya Tuan Putri sudah besar. Kuharap Yang Mulia merawatnya dengan baik,' batinnya dengan penuh harapan.


...―――...


Stella dan tiga orang anak kecil lainnya akhirnya sampai di depan gerbang Istana Everstell. Sama seperti sebelumnya, mereka pulang dengan menggunakan portal teleportasi yang dibuat Zhio.


"Hei, Stella. Aku ingin beristirahat di istanamu sebentar."


Dhemiel secara mengejutkan mengatakan hal itu. Stella menatapnya dengan tatapan menyelidik, membuat Dhemiel melakukan gerakan seperti orang yang kelelahan.


"Ugh, tanganku sangat pegal. Buku ini berat sekali. Ugh ... aku butuh istirahat!" katanya dengan dramatis.


'Kakakku ini licik sekali. Lihat itu, wajah dramatisnya terlihat menyebalkan,' Stella membatin sambil menatap Dhemiel dengan pandangan mencemooh, lalu dia menghela napas. 'Hah ... tapi dia sudah membawa buku itu cukup lama, pasti terasa berat. Ya sudah, kubiarkan saja dia beristirahat di istanaku.'


Setelah membuat keputusan, Stella akhirnya berkata, "Kakak―"


Namun, perkataannya terhenti.


'Hah? Kenapa aku memanggilnya "kakak"? Ah, sudahlah! Mari kita bermain drama "adik-kakak",' batinnya.


Setelah itu, Stella melanjutkan perkataannya, "Kakak boleh beristirahat di istanaku."


Mendengar itu, wajah Dhemiel langsung menjadi cerah.


Sementara itu, Xylia berjalan ke arah Stella dan berucap, "Kalau begitu, Tuan Putri, aku dan Zhio pulang dulu. Sampai jumpa besok!"


Kemudian dia tersenyum cerah, setelah itu sosok Xylia dan Zhio menghilang dari pandangan mereka.


"Ayo, kita pergi, Stella."


Belum sempat Stella bereaksi, Dhemiel sudah terlebih dahulu menyeretnya. Mereka akhirnya tiba di depan pintu utama Istana Everstell. Ketika pintu Istana Everstell terbuka, Stella mendapati seseorang yang dikenalnya ada di istananya. Pemandangan itu terasa familier.


Di ruang tamu itu, yang dihubungkan dengan pintu utama Istana Everstell, seseorang duduk di sana. Mata ungu orang itu menatap Stella dan Dhemiel dengan tajam.


"Apa kalian sudah puas bersenang-senang?"


Seketika Stella dan Dhemiel terdiam, mulut mereka terkunci dengan rapat, tidak tahu harus menjawab dengan kalimat apa.


――――――――――――――

__ADS_1


Author butuh dukungan dan semangat dari kalian semua, wahai para pembaca ceritaku😭 jadi gini, aku lagi bad mood dan gk bisa fokus nulis ini cerita pdhl udh ada ide numpuk di kepala smpe kebawa mimpi😭 ugh, aplgi aku cuma punya stok smpe eps 34, habis itu eps 35 blm kelar dari seminggu yg lalu😭 i really need you, my readers~😭 help meee😫😭😢


TBC!🤧


__ADS_2