
Selesai membaca selalu tinggalkan like ya kakak² ❤️
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Saat ini, Romeo dan Juliet sudah berstatus sebagai suami istri di atas kertas. Pernikahan keduanya sangat sederhana. Sebelum acara pernikahan berlangsung, Juliet meminta pada Lily untuk mengadakan acara pernikahan tanpa pesta atau pun resepsi mewah. Mengingat pernikahan yang ia lakukan hanya sementara.
Kini, Romeo dan Juliet duduk di kursi tengah mobil, keduanya duduk bersebrangan, menghadap keluar jendela menikmati pemandangan kota Metropolitan yang nampak semrawut. Tak ada binar bahagia terpampang di raut wajah keduanya. Entah sadar atau tidak keduanya bersamaan menopang dagu. Diam tak bersuara, hanya terdengar tarikan dan hembusan nafas yang keluar dari indera penciuman mereka.
Pemandangan ini tak luput dari penglihatan Leon dan Lily yang berada di kursi depan kemudi. Empat pasang mata itu saling melirik satu sama lain, memberikan kode morse, yang hanya dapat dipahami pasutri tersebut.
"Romeo, Juliet, malam ini kalian tidur di mansion ya!" Lily memecah keheningan.
"Tidak mau Mom, aku mau tidur di apartment saja!" protes Romeo cepat.
"Jangan membangkang, Rom! Turuti perintah istriku!" Leon bersuara membuat Romeo bungkam.
Romeo menoleh sekilas ke arah Juliet yang terdiam membisu mendengarkan obrolan Romeo dan mertuanya. Secara bersamaan pula kedua mata Juliet melirik ke samping. Sejenak keduanya bersitatap satu sama lain, tanpa membuka suara.
Awas kau, Jul! Aku akan membuat kau menderita selama 1 tahun ini!
Kenapa sih, aku harus selalu berurusan dengannya, tapi mau bagaimana lagi, ini semua demi Gabriel, bertahan lah Jul hanya 1 tahun saja.
...***...
Menempuh kurang lebih 25 menit lamanya, sebuah mobil mewah merk Rolls Royce, berhenti tepat di ambang pintu mansion.
Kedua mata Juliet enggan berkedip melihat bangunan yang besar dan megah berdiri kokoh di depan.
Aku tidak tahu kalau Romeo begitu kaya, tapi mengapa dulu dia berkerja ya.
Juliet ingat betul sewaktu SMA, Romeo berkerja di salah satu cafe sebagai waitress. Aneh saja baginya, Romeo bergelimang harta dan memiliki rumah bak istana, lantas mengapa Romeo masih berkerja.
Apakah dia sudah bosan hidup kaya raya? Juliet bertanya dalam hati.
"Hei, Ireng. Ayo cepat masuk!" Sedari tadi Romeo melihat tingkah laku Juliet yang menatap penuh takjub ke arah pilar-pilar mansion milik Daddynya.
Juliet segera tersadar, tanpa membalas perkataan Romeo. Ia membuka pintu mobil dengan cepat, melangkah perlahan mengikuti langkah kaki Romeo.
Leon dan Lily mengulum senyum, mana kala melihat kepatuhan Juliet pada Romeo. Keduanya mengekori pengantin baru tersebut dari belakang.
__ADS_1
............
Juliet menapaki lantai keramik berwarna putih gading itu, ia mengedarkan pandangan ke setiap sudut ruangan, mengamati setiap keindahan yang tercipta di dalam mansion. Lampu di atas ruangan sangat besar dan mewah, seperti di negeri dongeng. Lagi, lagi dia di buat terkesima, dengan tata letak furniture yang di susun begitu apik oleh si pemilik, benar-benar memanjakan mata bagi siapa pun yang memandangnya.
"Jul, beristirahat lah di kamar Romeo ya." Lily menepuk pundak Juliet perlahan.
"Iya Aunty," ucap Juliet pelan.
"Eitz, Mommy!" ralat Lily.
Juliet mengaruk tengkuknya yang tidak gatal. "Iya Mommy." Ia belum terbiasa dengan panggilan tersebut. Bagi dirinya, ini adalah pertama kalinya menyebutkan kata "Mommy".
Mendengar ucapan Juliet, Lily tersenyum simpul, lalu mengelus perlahan rambut panjang menantunya.
"Mommy antar ya, maaf Romeo meninggalkanmu, mungkin dia keletihan karena dari pagi ikut sayembara."
Lily tak enak hati dengan perlakuan Romeo terhadap Juliet. Putra bungsunya itu sudah pergi ke lantai atas meninggalkan Juliet.
"Tidak apa-apa, Mom," sahut Juliet menebarkan senyuman.
"Honey, aku antar Juliet dulu ya." Lily meminta izin pada Leon.
"Aku tunggu di atas!" Leon mengedipkan mata pada Lily.
"Ayo, kita ke atas ya," ajak Lily pada Juliet.
...***...
Sementara itu, di lantai dua.
Romeo duduk di tepi ranjang. Ia tengah menyelami isi pikirannya yang berkecamuk di dalam benaknya, mencoba legowo dengan keadaan sekarang, bahwa dirinya saat ini telah berstatus menjadi seorang suami.
Rasanya cukup aneh, di masa muda, dia sudah berkeluarga, sesuatu yang tidak sesuai perkiraannya, terlebih lagi ia harus menikahi musuhnya, Juliet. Walau pun hanya di atas kertas. Akan tetapi beban dan tanggung jawabnya akan bertambah. Memikirkan hal tersebut, membuat kepala Romeo serasa akan meledak.
Ia menghela nafas sejenak. Menoleh ke samping, melihat Hiro yang sedari tadi duduk di samping tanpa menyalak atau bersuara. Anjing bertubuh munggil itu seakan mengerti kegundahan Romeo.
"Kau tahu Hiro, aku benar-benar lelah hari ini. Seandainya saja, aku tidak terkena kutukan. Mungkin aku tidak akan menikah." Suara Romeo terdengar pilu.
Tanpa aba-aba, satu tangan Hiro menempel di paha Romeo. Ia menatap lekat Romeo, menampilkan wajah yang ikut bersedih dengan keresahan Romeo. Namun di penglihatan Romeo, wajah Hiro terlihat imut dan menggemaskan, ia mengelus perlahan bulu halus anjing tersebut.
__ADS_1
"Aku mandi dulu, sebentar lagi Juliet akan datang kau bermain lah dengannya. Aku malas berbicara padanya." Romeo beranjak dari tempat tidur, ia menyambar cepat handuk dan melangkah menuju toilet.
Hiro tak menyahut, hanya menjulurkan lidah, kedua matanya menatap kepergian Romeo yang menghilang di balik pintu.
...***...
Suara pintu terbuka, mengusik indera pendengaran Hiro. Daun telinganya seketika melebar, ia menoleh ke ambang pintu.
"Guk, guk!" Ia melompat ke bawah, berjalan cepat menghampiri Lily dan Juliet.
"Ini Hiro, Jul. Anjing kesayangan Romeo." Lily memperkenalkan Hiro pada Juliet.
Semula Lily harap-harap cemas, takut jika Hiro mengigit Juliet, mengingat beberapa tahun yang lalu, Hiro pernah menyerang seorang gadis yang hendak mendekatinya. Akan tetapi kecemasan itu sirna saat melihat Hiro melompat-lompat kegirangan.
"Hehe, ya Mommy." Juliet berjongkok dan mengelus-elus perlahan badan Hiro.
"Baiklah, Mommy tinggal dulu ya. Sepertinya Romeo sedang mandi," ucap Lily sembari memutar gagang pintu.
"Oke, Mom." Lily bangkit berdiri.
...***...
Juliet mengedarkan pandangan di kamar Romeo, yang terlihat rapi dan nyaman menurutnya. Ternyata Romeo suka bermain musik. Hal itu dapat terlihat dari beberapa gitar dan drummer terpampang di sudut ruangan.
Mengapa Romeo tidak pernah menampilkan bakat bermain musiknya sewaktu SMA ya. Lagi dan lagi Juliet menerka di dalam hatinya.
Ah, kenapa aku kepo sih, biarkan saja. Toh tidak ada untungnya bagiku.
"Hai Hiro, Tuanmu lama juga mandinya!"
"Guk, guk, guk!" Hiro mengikuti langkah kaki Juliet. Ia melompat-lompat, ekornya mengibas-ibas ke segala arah.
Juliet menghentikan langkah kaki, lalu membungkukkan badan, tangan kanannya mengelus lagi bulu-bulu lebat Hiro.
"Lucu sekali dirimu!" Juliet tersenyum simpul tanpa menghentikan gerakan tangan.
Ceklek.
Suara Pintu terbuka.
__ADS_1
Kedua mata Juliet reflek menghadap ke sumber suara.
Deg.