
"Romeo!" pekik Queen sembari mendongakkan kepala ke atas.
Beberapa detik yang lalu, Reza menampar Queen hingga ia tersungkur ke lantai dan bersamaan pula Romeo beserta Duo Biang Keladi menghampiri mereka. Tadi, mereka mendengar suara keributan, di lorong A6. Lantas ketiga pria itu pun berjalan menuju sumber suara.
Ayunan kaki Romeo terhenti, ia berjarak dua langkah dari Queen yang masih tertelungkup di lantai.
Queen tentu saja mengenali sepatu yang Romeo kenakan, Sang pujaan hatinya.
"Rom, lihat Juliet memukulku!" Tuduh Queen sembari bangkit berdiri.
Romeo tak menanggapi ucapan Queen. Kedua bola mata Romeo beralih memandang Juliet yang tengah merapikan pakaian Reza.
"Rom, sakit!" Rengek Queen lagi, menunjukkan wajah memelas.
Romeo memutar mata dengan malas melihat sikap Queen. "Kai, bawa Queen ke ruang kesehatan!" titah Romeo sembari berjalan, menghampiri Juliet dan Reza.
Queen membeku di tempat, kala Romeo mengacuhkan dirinya dan melewati saja tubuhnya.
"Whats?! Aku tidak mau!" protes Kai jenggah dengan perintah Romeo yang seenak jidat.
Detik kemudian. "Rom!" Queen membalikkan badan hendak berjalan menghampiri Romeo.
"My love, Romeo!" Queen menempelkan dada di lengan Romeo.
Romeo tersentak kaget saat merasakan biji jambu menempel di tangannya. "Mundur kau Queen!" serunya sembari mendorong kasar tubuh Queen.
"Queen, kau gila atau apa ha?!" sentak Juliet saat melihat wajah Romeo terlihat tegang dan mulai meringis tipis. Juliet tentu saja ingat jika tubuh Romeo akan gatal-gatal jika berdekatan dengan kaum hawa.
"Apa urusanmu? Dia kekasihku?!" seru Queen.
"Aku bukan kekasihmu!"
Romeo mulai jenggah dengan sikap Queen, bukannya berubah malah semakin menjadi-jadi. Padahal kemarin, ia telah memberikan ultimatum pada Queen, bahwa dirinya sudah memiliki pacar di luar negeri sana. Romeo berbohong demi menghindari terkaman Queen. Namun, Queen seakan tuli atau memang tidak tahu malu, tetap tak gentar mendekatinya.
__ADS_1
"Rom, kenapa kau tak mengakuinya pada semua orang di sini, bukan kah kita akan bertunangan?"
Suara Queen terdengar lembut dan mendayu, seakan merayu Romeo berharap pujaan hatinya akan luluh.
Kai dan Kei terperangah mendengarkan penuturan Queen yang halu tingkat Dewa Hades. Sedari tadi Duo Biang Keladi itu, terdiam menyaksikan layar lebar bertajuk genre Romansa Fantasi. Tadi malam, mereka diberitahu oleh Mommynya, bahwa Romeo sudah menikah pada salah satu teman kampusnya, bernama Juliet. Yellow tentu saja mendapatkan kabar tersebut dari Lily.
Juliet dan Reza acuh tak acuh terhadap perkataan Queen, mereka tak mau ikut campur urusan Queen dan Romeo.
Lain halnya dengan Romeo, dia mendengus sebal menanggapi ucapan Queen yang berkhayal tinggi. Ia mulai tersulut emosi dan menahan sabar.
Sementara itu, teman-teman seangkatan di sekitar menerka-nerka di dalam benaknya. Kala mendengar pernyataan Queen.
Para senior sudah tak berada di sekitar koridor, mereka masuk ke kelas masing-masing. Mereka tak mau mencampuri urusan mahasiswa baru tersebut.
Suasana hening!
Hanya terdengar hembusan angin di gendang telinga mereka, semua terdiam membisu.
Puttttt...
Suara nan syahdu namun nyaring keluar dari bokong padat Reza.
"Reza!" seru Juliet sembari menutup hidung. Sungguh, aroma gas yang di keluarkan Reza sangat lah bau, menusuk indera penciuman Juliet. Sampai-sampai nyamuk yang berkeliaran di sekitar mereka mati di tempat.
"Hehe, maaafin akika bok!" sahut Reza tanpa rasa bersalah sambil mengedarkan pandangan pada semua teman-temannya.
"Ih bau! Hoek!"
"Baunya nyengat banget! Ampun dah!"
Seloroh sebagian teman satu angkatan seraya menutup hidung, dan mengibas-ibas tangan di udara agar jejak kentut Reza menghilang.
"Oh my God!"
__ADS_1
Kai dan Kei geleng-geleng kepala melihat kelakuan Reza yang tidak tahu tempat.
"Kau makan apa ha?!" tanya Romeo sambil mengapit batang hidung.
Reza terkekeh-kekeh. "Tadi pagi, akika makan pete," jawabnya seraya menggerakan tangan dengan gemulai.
Secara sadar atau tidak, Romeo dan Juliet menepuk jidat bersamaan. Hal itu tak luput dari penglihatan Queen, dia cemburu buta ketika melihat Juliet melakukan hal yang serupa seperti Romeo.
"Kenapa kau mengikuti gerakan tangan Romeo?!" tanya Queen sembari menunjuk Juliet.
Dahi Juliet berkerut. "Kau kenapa sih Queen, ada masalah apa!? Wanita aneh!" Juliet tersulut emosi jika selalu di sangkutpautkan dengan Romeo. Dia heran pada sikap Queen yang aneh bin ajaib.
"Tadi kau meniru gerakan tangan Romeo?" Kedua tangan Queen terkepal kuat.
Juliet menarik nafas panjang, lalu melirik sekilas pada Romeo yang sedang menatap risih Queen.
Kenapa kau selalu membuat onar, Rom. Lihat lah, karena dirimu aku selalu bertemu dedemit, seperti Queen. Batin Juliet bermonolog, lalu ia mengalihkan pandangan ke depan.
"Itu reflek Queen, tidak bisa kah kau berpikir lebih logis lagi!" Juliet menahan geram.
"Tidak ada reflek-ref-"
"Diam!"
Suara lengkingan Romeo di koridor kampus mengelegar nyaring, membuat kumpulan manusia disekitarnya tersentak kaget. Secepat kilat Juliet membekap mulut Reza agar ia tidak latah dan tak menganggu interaksi Romeo. Kali ini, Juliet dapat melihat pancaran mata Romeo berkabut merah. Ia memahami gestur tubuh Romeo yang akan meledak seperti bom nuklir.
"Sudah aku katakan padamu Queen! Aku sudah memiliki seorang kekasih di luar negeri sana! Kau itu gila atau apa ha? Kau bukan tipeku! Kekasihku seorang model! Dia cantik, pintar dan tentu saja lebih dewasa darimu! Jadi, berhenti mengangguku! Jika kau kembali berulah! Aku tidak akan segan-segan menghancurkanmu!" seru Romeo berapi-api membuat Queen terdiam.
Deg.
Lain halnya dengan Juliet. Ia merasa jantungnya di remas oleh sesuatu yang tak kasat mata, mana kala mendengar Romeo mengatakan dia memiliki pacar. Padahal, Juliet sudah mengetahui Romeo mempunyai kekasih di luar negeri tempo lalu. Namun, entah mengapa sekarang perasaan aneh mulai membuncah di relung hatinya.
"Hei! Kalian! Berhenti!"
__ADS_1