
Cafe One One.
Sebuah mobil mewah merk Ferrari 488 Pista Rosso Corsa berwarna merah, berhenti tepat di parkiran Cafe. Romeo menyembul keluar dari dalam kendaraan. Ia menghela nafas sebab jarak tempuh ke tempat tujuan, terbilang lama karena kemacetan di jalan tak dapat terhindari.
Kedua tungkai kaki Romeo bergerak memasuki cafe. Semua mata kumpulan manusia, tertuju pada Romeo kala ia sudah berada di dalam. Sejenak kaum hawa terpesona dengan ketampanan Romeo. Romeo acuh tak acuh melihat gelagat wanita-wanita tersebut. Kedua netranya bergerak mencari sosok yang ia cari. Di sudut ruangan Cafe, Duo Biang Keladi melambaikan tangan padanya ala-ala Miss Universe.
"Lama sekali kau ha!" Kai menatap dingin kala Romeo menghempaskan bokong di kursi.
"Macet!" Romeo berkata ketus.
"Alasan!" Kei menimpali.
Romeo membalas dengan memutar bola mata malas.
"Kita nongkrong dulu, Lai. Aku lapar ini." Kai menyeruput coffe latte dingin di atas meja.
Dahi Romeo berkerut."Lai?"
"Belalai Tunduk, ambil akhiran biar lebih mudah, haha!" ejek Kai sambil tertawa pelan.
"Sia-lan!" Romeo mendengus kasar.
"Mbak cuantik!" Kei menyalakan pemantik sebagai tanda memanggil waiters. Seorang wanita yang bertugas segera berjalan ke meja 006 dan menyodorkan daftar menu.
"Mana istrimu?" tanya Kai sembari membuka satu-persatu lembaran daftar menu.
Romeo menarik nafas. "Apa urusanmu? Tidak tahu!"
"Yakin?" Kai tersenyum tipis.
"Yakin!"
Kai dan Kei saling menatap satu sama lain.
"Tapi tadi kami tidak sengaja melihat Juliet dan Reza bersama seorang pria tampan masuk ke Mall One One. Dan mereka berpegangan tangan. Kau tidak cemburu Rom?"
Seketika jantung Romeo berdetak kencang seperti lomba pacuan kuda. Dia kebingungan dengan respon tubuhnya. "Tidak, untuk apa aku cemburu!" Romeo berseru tegas.
Kai dan Kei membalas dengan beroh ria.
"Mbak, saya pesan yang ini ya, sama ini, ini, terus ini!" Kai menunjuk list daftar makanan.
Waiters mengangguk dan segera mencatat pesanan.
"Banyak banget kau pesan!" Romeo geleng-geleng kepala dengan kerakusan Kai.
"Suka-suka aku lah, duit-duit aku!" Kai memutar bola mata malas.
Romeo lagi-lagi mendengus kasar.
__ADS_1
"Sudah lah kalian berdua ini berdebat terus! Sini aku juga mau pesan! Yang ini ya mbak, pesan satu mangkok bakso jumbo, tapi nggak pakai bakso!"
"Ha?" Waiters melonggo. "Bisa ulangi pesanannya Mas?" Ia kebingungan takut salah dengar.
Kei membuang nafas pelan. "Fiuh, pesan satu mangkok bakso jumbo, tapi nggak pakai bakso!" Kai mengulangi pesanan.
Dahi Waiters semakin berkerut. "Nggak pakai bakso?"
Romeo menghela nafas merutuki kebodohan Kei.
"Mungkin maksudnya kau pesan satu mangkok, yang di dalamnya ada kuah bakso, sayur, mie dan lain-lainnya, tapi tanpa bakso, ya, Kan?" jelas Romeo agar waiters cepat berlalu pergi.
"Bingo!" Kei menjentikkan jari jempol.
Waiters tampak mangut-mangut sembari menggelengkan kepala. "Untung ganteng!" ucapnya dalam hati.
Sembari menunggu pesanan datang, ketiganya bercengkrama ria, dan berkeluh kesah.
"Rom, aku penasaran kau yakin tidak cemburu. Kalau aku sih akan cemburu jika milikku di ganggu gugat. Juliet cantik dan manis, kau yakin tidak mencintainya? Juliet dari tadi di rangkul sama seorang pria, loh," Kai berkata serius.
"Untuk apa aku cemburu, aku sangat membenci Juliet. Jadi, terserah dia mau berpegangan tangan dengan siapa!" Kedua tangan Romeo terkepal kuat kala mendengar Juliet di rangkul seorang pria.
"Kenapa kau sangat membencinya, apa sih kesalahan Juliet?" Kei amat penasaran. Dia mendapatkan informasi dari saudara kembarnya. Bahwa sewaktu SMA Romeo dan Juliet saling membenci. Ia tidak tahu menahu, penyebab rasa benci yang tertanam di hati Romeo. Karena dia bersekolah di Jakarta. Bertanya pada Kai pun percuma, ia juga tidak tahu.
"Kalian tidak perlu tahu! Cukup hanya aku yang tahu! Kenapa sih kalian membahas Juliet, tidak bisakah membahas yang lain saja." Nafas Romeo memburu.
"Kami hanya penasaran saja, Rom. Ya, kalau kau tidak cemburu, tidak usah marah!" Kai menatap sinis.
"Wah, berarti Kakak ada kesempatan menunggu Juliet menjanda!" Kei berkata tegas sembari menepuk pelan pundak Kai.
"Kau benar," balas Kai tersenyum simpul.
"Apa maksudmu, Kei?!" Romeo terkejut mendengar penuturan Kei.
"Katanya kalian hanya nikah kontrak selama 1 tahun, kan, jadi nanti aku akan melamar Juliet setelah kalian bercerai!" jelas Kai serius.
"Siapa yang mengatakan aku menikah kontrak dengan Juliet?"
"Mommyku yang cantik jelita," Kai berucap cepat. "Kenapa kau marah?" Satu alis Kai terangkat. Kala melihat raut wajah Romeo menahan geram.
"Aku tidak marah!" Lain di mulut, lain di hati. Kenapa Mommy memberitahu Aunty Yellow? Argh! Awas kau Juliet! Aku akan menghukummu nanti malam!
"Bagus lah kalau kau tidak marah. Aku menyukai Juliet sejak dulu." Kai menatap serius.
"Terserah, aku tak peduli. Ambil saja barang bekas itu!"
Rahang Kai mengeras. "Apa kau bilang?!" Kai beranjak berdiri menarik kerah baju Romeo.
Romeo melototkan mata sembari bangkit berdiri, ia memegang kedua tangan Kai. "Apa kau tidak terima pujaanmu dikatakan barang bekas?" ejek Romeo menyeringai tipis.
__ADS_1
"Hei kalian berhenti, jangan buat keributan. Nanti kita masuk lam-lam turah. Aku sih tidak mau!" Kei melerai Romeo dan Kai dengan mengibaskan tangan Kakaknya. Ia melihat para pengunjung cafe memusatkan perhatian pada mereka.
Romeo dan Kai mendengus kasar lalu kembali duduk.
"Kenapa kau mengatakan Juliet barang bekas?" tanya Kai setelah ia bisa meredam emosi.
"Sudah jelas bukan, dia itu wanita malam, kau lupa atau amnesia?!"
Kai geleng-geleng kepala. "Rom, kau percaya dengan kabar burung yang tidak jelas itu?" Kai bertanya serius.
"Kau masih bertanya, tentu saja aku percaya."
"Hanya gosip murahan, kau percaya begitu saja tanpa bukti yang jelas, ckckck. Aku yakin, dia bukan wanita malam! Kalau pun dia wanita malam, aku tetap menerimanya."
"Cih, munafik! Atas dasar apa kau menerima barang bekas?"
Kai menahan sabar. "Atas dasar ketulusan cinta, Juliet' wanita yang berbeda, dia cantik, manis, pintar, pandai berkelahi, dan terkesan cuek. Aku suka dia apa adanya."
Brak.
Romeo mengebrak meja.
"Kau kenapa sih?!" tanya Kai jenggah dengan sikap Romeo.
Romeo tak menyahut. Ia mengertakkan gigi, dia tak menyukai sorot mata Kai yang memuja Juliet. Ia tak suka! Dadanya bergemuruh dan tanpa sadar melayangkan pukulan di atas meja.
Romeo memalingkan muka, menahan amarah yang menjalar di dalam hati.
"Sudah, sudah! Ayo kita makan!" Lerai Kei kembali kala melihat waiters membawa makanan pesanan mereka.
Keduanya terdiam tak membalas perkataan Kei.
Suasana terasa canggung di antara mereka, saat menyantap makanan.
"Hei, jangan seperti ini," ucap Kei memecah keheningan.
"Rom kalau kau tidak mencintai Juliet ya sudah jangan marah, Kakakku siap mengambil Juliet untuk menjadi Kakak iparku! Jadi bersikaplah dewasa, Kai akan menunggu hingga Juliet menjadi janda." Kei menyentuh pundak Romeo.
Romeo tergugu.
Ya ada apa dengan dirimu, Rom? Seharusnya kau senang! Biarlah Kai mendapatkan barang bekasan, itu bukan urusanmu.
"Iya, maaf Kai. Aku tidak marah, hanya sedang tidak badmood membahas dia melulu."
"Hmm." Kai hanya berdeham.
"Kau masih marah padaku?" Romeo bertanya hati-hati. Ia sangat tak enak hanya karena seorang wanita mereka hampir saja berkelahi.
"Tidak. Aku meminta padamu, jaga dia untukku. Akanku ambil jika waktunya tiba."
__ADS_1
Deg.