Romeo Dan Wanita Malam

Romeo Dan Wanita Malam
Terbakar


__ADS_3

Keesokan harinya.


Matahari nampak malu-malu keluar dari persembunyiannya. Sama seperti mahasiswa-mahasiswi masih tertidur pulas. Udara pagi membuat mereka malas menggerakan tubuh.


Terdengar suara sirine memekakkan telinga.


"Bangun!Bangun!Bangun!" Panitia bertubuh kekar berteriak di toa besar membangunkan maba.


Suara panci, kuali, sendok besi, spatula saling beradu. Kelontang-kelontong, begitu suaranya. Penabuhnya tentu saja panitia-panitia. Mereka berjalan dari satu kamar ke kamar Maba lainnya. Tak lupa juga mereka memercikkan air di wajah Maba, jika yang dibangunkan tak kunjung bergerak dari tempat tidurnya.


Kamar 008.


Di dalam kamar yang berukuran 4×4 m itu, terdapat dua ranjang bertingkat, satu lemari kayu mini dan meja kecil berbahan plastik. Kamar itu di huni oleh Romeo, Kai, Kei dan Reza. Romeo satu ranjang bersama Kai. Ia berada di bawah, sementara Kai di atas. Lalu Reza dan Kei juga satu ranjang. Kei di atas, dan Reza di bawah. Keempat manusia itu masih tertidur pulas.


Semalam Panitia sudah membagi siapa saja yang satu kamar. Tiga orang diantaranya sudah saling mengenal satu sama lain, lain halnya dengan Reza. Ia baru saja bergabung.


Ternyata kehadiran Reza membuat kepala Romeo meledak, sebab semalam, Duo Biang Keladi dan satu pria gemulai itu bernyanyi-nyanyi tidak jelas. Romeo tidak tahu sejak kapan mereka menjadi akrab. Ia pun tak mau ambil pusing. Dan tanpa di duga-duga, ketiganya bercengkrama sampai lupa waktu. Akibatnya Romeo baru bisa tertidur menjelang dini hari.


"Bangun!" Panitia berteriak nyaring di telinga Reza, yang masih asik menyelami ruang mimpinya. Entah apa yang diimpikannya, sebab Reza tak bergeming sama sekali, walaupun sudah dipercikan air berkali-kali. Panitia menahan sabar kala Reza malah memeluk bantal guling amat erat, sangat erat, sampai-sampai benda berbentuk panjang itu mungkin saja sesak jika ia makhluk hidup, tapi beruntungnya ia benda mati.


Sungguh malang nasibmu bantal guling. Sabar ya.


Sementara itu, Romeo dan Duo Biang Keladi sudah siuman, mereka duduk di tepi ranjang. Menguap sesaat, mengumpulkan nyawanya dengan terpaksa. Mereka diam tak bersuara, karena memang benar-benar keletihan. Enam pasang mata itu melihat Panitia bertubuh jangkung kewalahan membangunkan Reza.


"Astaga, bisa gila aku!" Panitia mendesah kasar. Lalu menaruh ember di lantai. Ia beralih menatap Romeo, Kai dan Kei. "Kalian cepat bangunkan teman kalian sekarang!" Panitia berkata tegas.

__ADS_1


Ketiganya hanya mengangguk lemah.


"Tiga menit dari sekarang, bangunkan dia! Setelah itu pergi ke wc! Hanya cuci muka dan sikat gigi lalu berkumpul di lapangan! Tidak boleh ada yang terlambat satupun! Kalau sampai terlambat, poin grup kalian akan dikurangi!" Panitia berjalan cepat ke ambang pintu sembari membawa ember, lalu memutar gagang, dan menutup pintu dengan kuat.


Romeo masih menahan rasa kantuknya, dengan gontai ia bangkit berdiri lalu berjalan lurus ke depan. Sesampainya di dekat Reza, ia mengguncang-guncang tubuh Reza sembari memanggil-manggil namanya. Bukannya bangun, Reza hanya bergumam kecil dengan mempererat pelukkan.


Kai dan Kei menguap lagi, melihat Romeo sudah berulang kali membangunkan Reza, namun tak ada pergerakkan sama sekali. Keduanya melirik sekilas pada jam bulat yang bertengker di dinding. Keempat pasang mata itu terbelalak, ternyata sudah satu menit berlalu. Duo Biang Keladi baru saja teringat dengan perkataan Panitia, hanya diberikan waktu tiga menit untuk membersihkan wajah dan membangunkan Reza.


Mampus, poin dikurangi jika terlambat. Dengan tergesa-gesa keduanya serempak turun dari peraduan hendak membantu Romeo. Keduanya menghampiri Romeo yang sedang menggeram sebal.


Romeo menarik nafas panjang kala Reza tertidur seperti kerbau. "Aku menyerah! Sekarang giliran kalian!" Ia berkata sambil geleng-geleng kepala. Lalu berjalan kembali ke tempat tidur, menjatuhkan bokongnya, dan menatap punggung Duo Biang Keladi secara bergantian.


Kai dan Kei segera mengguncang tubuh Reza dengan kuat."Kak, bagaimana ini?" Kei bertanya panik. Tak ada tanda-tanda Reza akan terbangun.


Seakan mengerti kode alam, keduanya mengangguk patuh mengikuti perintah. Walaupun rencana Kai terkesan aneh dan mustahil, bagaimana dengan sebuah tas Reza dapat terbangun.


Kai membungkukkan badan. Ia mendekatkan bibir ke daun telinga Reza, lalu berkata pelan, "Za, tas gusimu akan kami bawa ke dalam wc, lalu akan kami rendam di air, jika kau tak bangun pa-"


Belum juga Kai menuntaskan perkataanya. Reza membuka cepat matanya. Dan secara bersamaan pula, Romeo dan Duo Biang Keladi keluar dari kamar menuju toilet. Mereka pun terheran-heran sesaat mengetahui keanehan Reza hanya karena sebuah tas. Reza terbangun dari tidurnya.


"Tidak!"teriak Reza kala melihat tas pinkynya di bawa Kai. Ia bangkit berdiri lalu mengejar mereka sembari menarik-narik celananya.


Ketiganya terkikik-kikik melihat Reza kesusahan berlari sebab celananya melorot, karena tadi sebelum Kai berbisik, Kei menurunkan celana Reza terlebih dahulu. Hitung-hitung hukuman karena membuat mereka kelimpungan.


Sepanjang langkah kaki, Panitia-Panitia dan Maba tertawa- tawa keras melihat boxer Reza bermotif barbie.

__ADS_1


***


"Grup Manis Manja! Poinnya dikurangi ya, terlambat 1 menit!" Panitia menulis sesuatu di buku berwarna hitam. Ia berdiri tegap di barisan Romeo, Juliet, Kai, Kei, Reza, dan beserta maba lainnya yang berjumlah lima orang.


"Ini semua karena kau!" Romeo menoleh ke belakang. Karena ulah Reza poin kelompok mereka dikurangi, Romeo yang di pilih sebagai ketua grup tentu saja berang.


Reza hanya menanggapi dengan mengerucutkan bibir setinggi 100 cm. Tanpa sengaja kedua mata Romeo bertabrakan dengan bola mata Juliet yang berada di belakang tubuh Reza.


Juliet memalingkan muka ke samping. Teringat akan kejadian semalam. Kedua bola matanya bergerak tak tentu arah. Pipinya sudah merah merona membayangkan bibirnya hampir saja bersentuhan dengan Romeo.


'Jangan lihat ke sini!' gerutu Juliet di dalam hati.


Romeo tersenyum penuh arti melihat Juliet salah tingkah. Lalu beralih menatap ke depan.


Kini, mahasiswa-mahasiswi berkumpul di lapangan terbuka. Panitia tengah memberikan arahan, karena sebentara lagi mereka semua akan pergi ke bawah gunung sesuai rencana awal. Akan tetapi, rute untuk setiap grup berbeda-beda. Mereka hanya pasrah dan mengangguk patuh, karena latihan kepimpinan sudah di mulai dari sekarang. Setelah diberikan arahan singkat. Mereka mengambil barang perlengkapan di camp, dan bergerak cepat mengikuti satu Panitia, pemandu jalan yang sudah di pilih oleh Ketua BEM. Mereka tidak mandi, tadi hanya dibagikan sarapan satu buah roti dan sekotak susu murni cap kadal.


"Wah, gila keren banget!" Resa menatap penuh kagum pada pemandangan gunung di depan.



"Iya nih, keren banget! Berasa My Trip My Adventure!" Kei berada di depan Reza terpana sesaat. Kedua matanya enggan berkedip sedikit pun. Melihat maha karya Sang Pencipta, benar-benar mengagumkan.


Lain halnya dengan Romeo. Sedari tadi raut wajahnya nampak masam. Kala melihat Juliet dan Kai berjalan beriringan di belakang sana. Sebagai seorang Ketua tentu saja ia berada di depan, memimpin teman-temannya. Entah mengapa, melihat kedekatan Juliet dan Kai, dadanya terbakar.


Romeo mendengus kasar, sesekali menengok ke belakang. 'Aku ini kenapa sih!? Kenapa mereka harus dekat-dekat begitu jalannya!'

__ADS_1


__ADS_2