Romeo Dan Wanita Malam

Romeo Dan Wanita Malam
Bukan Sinetron Naga Terbang


__ADS_3

Plak.


Juliet membalas balik, dengan menampar lebih kuat pada si pelaku, si pelaku meringis pelan sebab tamparan membuat darah mengalir di sudut bibirnya.


"Kurang ajar kau berani melawanku?!" pekik wanita yang disinyalir senior kampus.


Juliet mencibir. "Tentu saja aku berani! Kakak pikir ini kayak di sinetron naga terbang, yang nggak ngebalas sama sekali, terus nangis gitu! Cih, lagian Kakak ada masalah apa sih sama aku?!" tanyanya sambil menahan rasa amarah yang bergejolak didadanya.


Wanita di depan terkekeh pelan, lalu tersenyum sinis. "Lu nggak usah belagu jadi Maba! Dasar ja**ang! Elu kan yang godain Bima!"


Juliet berdecih, ternyata kekasih Panitia yang melecehkannya sewaktu jurik malam ingin membuat masalah padanya. Entah apa, yang membuat wanita itu naik pitam, tapi Juliet dapat menebak jika Bima telah menyiram bensin di atas bara api. Juliet enggan menyahut, kedua matanya malah menatap tajam dan dingin.


"Sebenarnya yang di sini ja**ng, siapa?! Aku nggak pernah godain Kak Bima, cowok kakak aja tuh yang genit, mirip buaya!"


"Iya, buaya gatal!" Reza menimpali, sedari tadi, melihat pertikaian antara Juliet dan Senior. Kedua matanya juga menatap sinis pada wanita di depan sembari melipat tangan di dada.


"Berani banget kalian ya! Ngatain cowok gue buaya gatal!"


"Terus apa kak? Buto ijo? Haha lagian ya Kak, mungkin saja Kak Bima senangnya sama bola basket! Bukan biji jambu kayak kakak!" Reza mengompori, lalu melirik sekilas pada area terlarang Juliet dan Senior secara bergantian.


Juliet geleng-geleng kepala mendengar penuturan Reza. Tanpa sengaja matanya melihat Romeo dan Queen beberapa langkah darinya. Rasa cemburu kembali membuncah di palung hatinya melihat kebersamaan Romeo dan Queen.


'Cukup! Aku akan membuat perhitungan denganmu, Rom! Karena kau sudah membuat hatiku sakit!' Lalu ia beralih menatap wanita dihadapannya. Entah mengapa, saat ini, dia ingin sekali melampiaskan kemarahannya.


Senior meradang, tak terima jika susu cap bendera miliknya dikatakan berukuran biji jambu, walaupun memang benar adanya. Kedua tangannya terkepal kuat, nafasnya memburu.


"Dasar banci!" Secepat kilat wanita itu menjambak rambut pendek Reza. Reza tak mau kalah, tentu saja membalas balik. Akibatnya terjadilah aksi tarik menarik antara Reza dan Senior.


"Argh, dasar biji jambu!" Reza menjulurkan lidah melihat Senior kewalahan mencengkram rambut pendeknya, apalagi wanita di depan tinggi badannya tak seberapa.


Pertikaian keduanya mengundang mahasiswa-mahasiswi mendekat, mereka ingin menyaksikan lebih dekat. Kantin dipenuhi dengan suara sorakan dari sebagian mahasiswa, menemani perkelahian Reza dan Senior.


Juliet berusaha melerai keduanya namun yang ada dia malah dijambak juga oleh Senior. Jiwa liar Juliet pun meronta-ronta, tanpa banyak pikir. Dia segera menghantam kepalanya ke kepala Senior.


Bugh.


Darah segar mengalir dari hidung Senior, seketika tubuhnya ambruk di tempat.


Suasana di kantin, tiba-tiba hening!

__ADS_1


Sebagian mahasiswa dan mahasiswi terdiam di tempat, mulutnya mengangga melihat aksi Juliet. Lain halnya dengan Reza.


"Yuhu, bola basket di lawan!" Reza membusungkan dada, kemudian melirik Juliet yang tengah menyeka darah di hidungnya.


Juliet menatap ke arah Romeo lagi, entah mengapa sang pujaannya selalu menjadi magnet baginya. Kini, Juliet sudah menganggap Romeo adalah pujaan hatinya. Ia menatap tajam, menyembunyikan kekesalan di dalam dada, kala melihat Queen menyenderkan kepala di bahu Romeo.


'Awas saja kau, Queen, kau salah bermain denganku!'


Juliet ingat betul kejadian sewaktu jurik malam, Queen ikut campur. Entah apa yang membuat Queen selalu berbuat ulah padanya. Ingin rasanya Juliet memisahkan Romeo dan Queen agar tak menempel seperti perangko. Namun, Juliet menahan diri.


"Hei buaya laut! Nih biji jambu you bawa ke ruang kesehatan. Akika malas bawa cewek you takut badan akika gatal-gatal!' Reza menunjuk Bima yang baru saja tiba di kantin.


***


Selepas kejadian di kantin, Reza dan Juliet dipanggil Dosen ke ruangan untuk meminta penjelasan atas keributan yang telah terjadi. Kini, keduanya duduk berhadapan bersama Dosen.


"Kenapa kamu menyerang Rosa?" Dosen bertanya pelan sembari membuka lembaran dokumen di atas meja.


"Saya tidak menyerang Kak Rosa, Bu. Dia yang menyerang saya dahulu. Saya mengaku salah karena telah balik menamparnya." Juliet mengatakan sebenarnya, dan mengaku salah telah membalas serangan. Tadi, dia tak mau harga dirinya di injak-injak. Sikap Senior sudah kelewat batas, dan menyerang tanpa alasan yang jelas.


Dosen menarik nafas panjang. "Baik saya maafkan kesalahan kamu. Tapi saya tetap akan memberikan kamu SP-1, kamu tahu, Kan, orangtua Rosa marah dan akan mencoreng nama kampus, jika saya tidak memberikan hukuman untuk kamu."


Dosen melebarkan mata. "Kamu tidak punya wewenang di sini, saya juga kasi kamu SP-1! Berani sekali kamu!"


"Silahkan! Tentu saja akika berani, karena Ibu pilih kasih, mentang-mentang Rosa keluarganya orang terpandang, Ibu malah membela orang yang membuat Juliet marah. Coba' kalau Ibu yang di tampar, Ibu bakal diam gitu!?"


Brak.


Satu tangan Dosen memukul meja dengan sangat keras, hingga menimbulkan suara yang kuat.


Juliet menarik nafas kasar, mendengar perkataan Dosen dan Reza. Dia tak mau menimpali, karena moodnya sedari tadi sangat tak baik. Pikirannya tengah kalut.


"Cukup! Saya kasi kamu SP-2. Etika kamu kurang sekali!"


"Terserah Ibu! Etika Kak Rosa juga kurang!"


"Kau!" Kedua tangan Dosen terkepal kuat, melihat Reza seakan menantangnya.


Reza mendelikkan mata, lalu mendengus kasar sembari melipat tangan di dada.

__ADS_1


"Awas saja kamu!" Dosen mengancam balik sambil mengerutu di dalam hati. Ia mengetik sesuatu di keyboard.


Lantas Reza segera menyambar ponselnya dan mengutak-atik cepat lalu mengetik sesuatu di layar benda pipih tersebut.


Drttt.


Bunyi getaran ponsel mengusik kegiatan Dosen. Keningnya berkerut melihat satu nama yang sangat diseganinya di kampus.


'Dekan? Kok nelepon ya?'


Dosen segera menyambar ponselnya, beranjak, dan berlalu pergi meninggalkan Juliet dan Reza. Dia mencari sudut ruangan yang nyaman untuk dirinya berbicara pada Dekan Kampus.


"Jul, tenang saja ya, serahin sama akika nggak ada tuh SP-1 segala!" Reza mengelus punggung tangan Juliet. Juliet menanggapi perkataan Reza dengan tersenyum tipis.


"Astaga, badan you panas banget. You pulang aja ya!" Reza gusar dan gelisah, saat merasakan suhu badan Juliet benar-benar panas. Ia dilanda kepanikan takut jika Juliet pingsan.


"Tenanglah, aku baik-baik saja," Juliet berucap pelan, menyakinkan Reza. Dia teramat bahagia karena mendapatkan teman yang perhatian seperti Reza.


"Ih, you mah keras kepala! Pokoknya akika bakalan izinin you nanti, biar nggak ikut kuliah!" Reza tetap bersikukuh.


Juliet menarik nafas pelan. "Za, please aku nggak mau ketinggalan kelas."


"Tapi-"


Juliet memelas sembari menyatukan tangan di dada. Akhirnya Reza terpaksa mengangguk setelah melihat tatapan Juliet nampak sedih.


"Hmm!" Dosen berdeham sembari menjatuhkan bokong di kursi.


Dosen melirik Reza. "Saya tidak tahu kalau kamu anaknya Pak Dekan," Dosen berkata hati-hati. Raut wajahnya tidak seperti tadi, terkesan segan dan takut pada Reza. Sedangkan Reza sama sekali tak menyahut, dia sudah malas berdebat dengan wanita bertubuh munggil itu.


Juliet beralih menatap Reza yang tak percaya dengan perkataan Dosen barusan.


.


.


.


Dekan: Kepala Fakultas di sebuah perguruan tinggi dan pemimpin administratif sekaligus pemimpin tertinggi di Fakultas.

__ADS_1


__ADS_2