Romeo Dan Wanita Malam

Romeo Dan Wanita Malam
Tatapan Penuh Arti


__ADS_3

...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Waduh, mampus aku. Leadership Camping, apaan ya? Udah ah jawab apa adanya aja.


"Apa itu Leadership Camping, Juliet?" Panitia mengulangi pertanyaan. Alis Panitia terangkat saat mengucapkan nama Juliet. Sorot matanya menatap penuh arti.


Juliet tak menyadari tatapan yang diberikan Panitia. Ia sibuk sendiri merangkai kata-kata di dalam benaknya, hendak menjawab pertanyaan.


Sementara itu, Romeo mengetatkan rahang, kala melihat pancaran mata Panitia berkabut gairah. Entah mengapa, Romeo tak suka dengan tatapan itu.


"Berdiri lah!" perintah Panitia, sembari menelisik tubuh Juliet dari atas sampai kaki.


Lantas Juliet bangkit berdiri. Menarik nafas dan menghembuskan pelan. "Leadership Camping adalah latihan kepemimpinan yang bertujuan untuk mengembangkan kemampuan soft skills maupun hard skills di alam terbuka," jelas Juliet singkat mengedarkan pandangan kumpulan manusia di dalam ruangan. Lantas MABA dan Panitia BEM yang mendengar nampak mangut-mangut.


Semula mereka mengira, Juliet tak bisa menjawab pertanyaan dari Panitia, tak sedikit dari mereka melayangkan tatapan remeh. Akan tetapi semua sirna dalam sekejap mata, saat Juliet mampu menjelaskan secara singkat dan lugas.


Kaum adam berdecak kagum pada sosok kontrovesi, di semester pertama kuliah, mereka jadi meragukan desas-desus yang beredar tempo lalu, mengenai Juliet adalah kupu-kupu malam.


Lain dengan kaum hawa, di dalam otak sudah terkontaminasi sifat iri dengki yang mendarah daging. Mereka tersenyum sinis, dan mengumpat di dalam hati.


Panitia tersenyum penuh arti, mendengar jawaban Juliet. "Benar sekali, lalu jelaskan apa saja kemampuan soft skils yang akan kalian kembangkan nanti?"


Tak ada angin, tak ada hujan. Romeo mengangkat satu tangan kanan. "Saya mau menjawabnya, Kak!"


Sontak seluruh Panitia dan MABA mengalihkan pandangan mata pada Romeo.


"Silahkan!" seru Panitia yang tadi bertanya pada Juliet. Ia menatap dingin dan tajam Romeo.


Kedua mata Romeo, menatap tak kalah tajamnya, entah mengapa pria di depan seperti tidak suka padanya. Dia beranjak dari tempat duduk, lalu mengedarkan pandangan di dalam bilik.


"Menurut saya Soft skils ada beberapa macam, seperti kemampuan berkomunikasi, kemampuan kepemimpinan, kerja sama menyelesaikan masalah, dan berkolaborasi bersama tim.


Mendengar penuturan Romeo, Panitia hanya mengangguk malas. Lalu ia mempersilahkan Romeo duduk kembali. Romeo pun menurut patuh.


Sedangkan, kaum hawa dan sebagian Panitia wanita, berdecak kagum di dalam hati, memuja-muji Romeo. Mereka menilai Romeo adalah sosok pria idaman. Sudah lah tampan dan cerdas pula.


**


Dua puluh menit berlalu, MABA keluar dari ruangan aula. Raut wajah seluruh mahasiswa-mahasiswi terlihat gembira, sebab lusa akan pergi camping selama empat hari di suatu tempat.

__ADS_1


Tapi tidak untuk, Juliet, ia dilanda kecemasan, sekarang pikirannya melayang memikirkan Gabriel. Ia tengah memikirkan jadwal cuci darah Gabriel yang ternyata, bentrok dengan jadwal keberangkatan kegiatan mereka.


Juliet teramat gelisah, sejak semalam, Messa susah sekali dihubungi, apakah Messa baik-baik saja? Tidak seperti biasanya. Saat ini pikirannya bercabang-cabang.


Juliet mendesah sejenak, memijit pelipisnya agar bebannya berkurang, namun semakin di pikirkan membuatnya semakin menggila.


"Jul! You kenapa sih? Kalau ada masalah cerita. Akika cuma punya teman you aja, tahu."Sedari tadi, Reza memperhatikan raut wajah Juliet nampak muram.


Kini, keduanya berada di kantin hendak mengisi kampung tengah. Juliet dan Reza duduk saling berhadapan sembari menunggu makanan di antarkan.


Juliet tersenyum tipis menanggapi ucapan Reza. Sorot mata Reza mengiba, serta suaranya terdengar pilu. Reza bagaikan teman yang dikirimkan Tuhan padanya.


Apa aku minta solusi sama Reza, aja ya. Tidak ada pilihan lain.


"Jul! Jangan melamun ah!" Reza mencondongkan tubuh sambil menepuk perlahan punggung tangan kanan Juliet.


"Eh, iy-a." Juliet tergagap, mengumpulkan rangkaian kata-kata yang akan ia lontarkan pada Reza.


"Cerita Jul, jangan mendam ah. Anggap saja aku saudaramu atau adikmu," kata Reza lalu terkikik.


Juliet tersenyum simpul. "Za, thank's. Sudah mau menjadi temanku." Bukannya menjawab pertanyaan dari Reza, Juliet malah mengucapkan kata terimakasih.


Reza mengerutkan dahi. "Jul, you kenapa melow sih? Nggak suka akika, kan teman you di sini ada Romeo juga, katanya teman sekolahmu dulu, Kan?"


Za, seandainya kau tahu. Dari SD sampai SMA aku tidak mempunyai teman sepermainan. Mereka hanya datang di saat butuh aku saja. Za, Romeo itu, musuhku, tahu!


Sedari dulu, Juliet memang tak memiliki seorang sahabat atau pun teman untuk berkeluh kesah. Sebab, ia selalu bertemu dengan orang yang bermuka dua atau bermulut bisa seperti ular. Jadi, dia memilih menyendiri daripada memiliki teman yang menusuk dari belakang. Namun, sekarang, di masa kuliah memiliki seorang teman yaitu Reza, walau pun kelakuannya aneh bin ajaib.


"Hehe." Juliet terkekeh pelan, satu tangan kanannya, mengaruk tengkuknya yang tidak gatal. "Hm, maksudku, teman pertama di sini."


Reza ber oh ria. "Jadi? You ada masalah apa?" Reza bertanya kembali.


Juliet menghela nafas. "Kau tahu, Za. Sejujurnya adik angkatku, saat ini terbaring lemah di rumah sakit..."


Juliet berucap lirih, ia melihat wajah Reza yang mulai terlihat mengiba. Sebab Reza tahu jika Juliet masuk jurusan Kedokteran lewat jalur beasiswa. Dan, kemarin Reza baru mengetahui Juliet, anak yatim piatu.


"Jangan mengasihianiku!" Juliet berkata ketus seraya mendelikkan mata.


"Nggak kasihan tuh! Akika cuma sedih aja sama you." Reza berkata serius.

__ADS_1


Di relung hatinya, Reza teramat bersyukur masih memiliki keluarga yang utuh dan hidup serba berkecukupan. Jika, ia berada di posisi Juliet, mungkin tak akan mampu menjalani dunia fana ini.


Dahi Juliet berkerut. "Kenapa sedih?" Satu alis matanya terangkat.


Reza mencibir. "Ih pakai di tanya segala!" Ia memutar bola mata dengan malas. "Udah lanjut, tadi you mau ngomong apa?" tanya Reza antusias.


"Namanya Gabriel, dia sudah aku anggap sebagai adik kandungku. Gabriel terkena penyakit gagal ginjal stadium akhir, saat ini Gabriel sedang menjalani cuci darah di rumah sakit. Za, tahu kan cuci darah harus rutin?"


Reza mengangguk cepat.


Bibir tipis Juliet kembali berucap, "Nah, jadwal cuci darah Gabriel bertepatan dengan keberangkatan kegiatan kita nanti."


"Lalu?" Reza mengambil satu piring nasi gila dari Mbak Kantin, yang baru saja mengantarkan pesanan mereka.


"Aku pernah menceritakan padamu, Kan, kalau tinggal bersama kak Messa. Dia yang biasanya mengantikanku menemani Gabriel, tapi sekarang Kak Messa ada urusan pribadi dan tidak tahu pergi kemana. Aku sudah mencoba menghubunginya, tapi nomornya tidak aktif. Jadi, aku bingung, siapa nanti yang akan menemani Gabriel." Juliet menyeruput teh es yang tergeletak di atas meja, membasahi kerongkongannya yang mulai kering.


Reza terdiam sejenak, kini dia mulai paham kegundahan Juliet. "Jul, jadi itu yang buat you kepikiran?"


"Iya," jawab Juliet pendek. Ia nampak sedih.


Senyum mengembang di bibir Reza. "Tenang saja, serahkan pada akika. Akika menemukan solusi atas kegelisahan you," sahut Reza cepat. Juliet tersenyum simpul tanpa sadar melihat raut wajah Reza.


"Terimakasih."


"Aish, biasa aja kali yaw." Reza mencebikkan bibir.


"Nanti kita jenguk Gabriel, aku akan mengenalkannya padamu." Juliet menyambar sendok, mengambil buliran nasi di atas piring, lalu memasukkannya ke dalam bibir dan mengunyah perlahan.


Reza mengangkat satu jempol sembari tersenyum sumringah.


***


"Za, tunggu sebentar aku mau ke toilet."


Kini, Juliet dan Reza berada di pelataran kampus. Keduanya berencana pergi ke rumah sakit menemui Gabriel.


Reza menolehkan mata ke samping. "Okay, akika tunggu di mobil, tahu mobil akika, Kan?" Reza bertanya sembari memoles bibir dengan lipbalm berwarna pink.


Juliet mengangguk. Lalu berlalu pergi meninggalkan Reza yang sibuk sendiri.

__ADS_1


**


"Rom," panggil Juliet lagi, celingak-celinguk di ruangan, menelisik seseorang. "Hei, siapa kau?!"


__ADS_2