Romeo Dan Wanita Malam

Romeo Dan Wanita Malam
Bukan Anak SMA Lagi!


__ADS_3

***


Sontak gelak tawa memenuhi seisi ruangan kala mendengar latahan Reza. Senior dan panitia menahan senyumnya saat melihat gestur tubuh Reza nampak gemulai seperti ulat bulu.


"Sudah, sudah berhenti tertawa!" perintah Ketua BEM membuat suasana di dalam bilik, seketika hening, saat melihat pancaran matanya sangat menyeramkan, dan memancarkan aura hitam pekat.


"Kamu! Maju ke depan!"


Ketua BEM menunjuk Reza yang terkesiap di tempat duduknya. Ketika mendengar perintah yang bernada dingin dan tajam.


Reza pun terpaksa, beranjak berdiri dan berjalan gontai ke depan. Ia teramat takut dengan sorotan bola mata senior menyala bagaikan kobaran api unggun


Setelah sampai di depan, Reza langsung menundukkan wajahnya, tak berani melihat ke depan. Kala teman-temannya menatap padanya, dengan berbagai macam ekspresi.


"Kamu tahu apa kesalahanmu?" tanya Senior.


Reza menggeleng lemah.


Senior menarik nafas panjang. "Tadi kamu, Kan, yang membuat keributan di lorong A6?" tanya Senior menyelidik.


Reza tak langsung menyahut, ia baru saja menyadari jika tadi menampar Queen. Dia merutuki dirinya karena tak mampu menahan diri.


Gawat, gimana ini. Akika nggak mau masuk buku kasus. Gara-gara nenek lampir sih, ih nyebelin banget!


"Cepat jawab!" Nada suara Ketua BEM naik satu tingkat, lebih nyaring dari sebelumnya. Ia jenggah sebab Reza tidak menjawab pertanyaannya.


"Saya membela diri, Kak. Karena tadi di serang, sama nenek lampir, Kak, bukan saya yang memulai, Kak," jawab Reza apa adanya.


Dahi Ketua BEM berkerut. "Nenek lampir? Siapa? Cepat tunjuk?" tanyanya penasaran.


Lantas Reza tersenyum tipis, lalu mengangkat wajah dan langsung menunjuk Queen yang duduk di barisan depan.

__ADS_1


Queen mengepalkan kedua tangan. Kala Reza kembali menantangnya.


"Kamu, maju!" perintah Ketua BEM menunjuk Queen. Queen pun mengangguk patuh, berjalan cepat mendekati Reza. Kedua matanya melotot, melayangkan tatapan radar permusuhan pada Reza, namun Reza acuh tak acuh dengan sorot mata Queen, ia menanggapi dengan tersenyum sinis.


"Kenapa kamu menyerangnya?" tanya Ketua BEM tanpa basa-basi.


"Dia yang menyerang saya dahulu, Kak. Lihat, Kak. Wajah cantikku merah karena tamparannya." Queen menunjukkan bola mata puppy eyes, berharap Senior mempercayainya.


"Whats! Eh you nggak usah putar balikkan fakta ya, lihat ini muka akika juga di cakar-cakar sama you!" protes Reza membela diri.


"Eh ulat bulu! Diam kau! Senior men-"


"Diam!" potong Ketua Bem, membuat Reza dan Queen bungkam.


Hening sesaat!


Ketua Bem mengedarkan pandangan di ruangan. Ia melirik-lirik panitia BEM sejenak, lalu melangkah ke depan. "Saya peringatkan ya! Jangan pernah membuat keributan di kampus! Kalian itu di sini kuliah, menuntut ilmu, jadi tinggalkan sifat kekanakan-kenakakan kalian saat di SMA! Paham?!"


"Paham, Kak!" Mahasiswa-mahasiswi baru menjawab dengan serempak.


"Iya, Kak!" sahut Reza dan Queen serempak.


"Sekarang kembali ke tempat duduk!"


Reza dan Queen mengangguk, sebelum melangkah mereka bersitatap sejenak, dan menatap tajam satu sama lain.


Ih, jambu biji! Awas aja you, kalau cari gara-gara lagi. Akika benamkan ke lumpur lapindo!


Cih, dasar banci! Cocok banget sama pela-cur Juliet! Aku akan buat perhitungan!


"Reza udah nggak usah ditanggapin, si ratu halu," kata Juliet pelan, setelah Reza menjatuhkan bokong di kursi.

__ADS_1


"Akika udah nandain dia, awas aja kalau nyari gara-gara lagi." Reza menarik nafas panjang.


Juliet menggelengkan kepala perlahan menanggapi ucapan Reza. "Za, pindah tempat duduk donk."


"Kenapa?"


"Nggak kenapa-kenapa. Mau pindah aja," kata Juliet melirik sekilas ke samping, beberapa menit yang lalu ia baru menyadari Romeo berada di sisi kanannya.


"Aish, udah ah di situ aja, mager tahu."


Mood Reza sangat tidak baik, semenjak ia berseteru dengan Queen, di tambah lagi kejadian barusan membuat moodnya semakin berantakan. Ia malas sekali menggerakan anggota badannya.


"Please, Reza, aku mau pindah." Juliet menunjukkan wajah memelas.


"No," kata Reza sembari melipat tangan di dada.


Juliet mendengus kesal sembari mendelikkan mata, melihat Romeo tersenyum penuh arti. Sedari tadi, ia mendengar obrolan Juliet dan Reza. Dan sel-sel kecil Romeo jua tengah memikirkan rencana untuk membuat Juliet menderita.


Romeo berharap Juliet tidak tahan terhadap sikapnya, dan meminta padanya agar bercerai secepat mungkin. Begitulah rencana picik Romeo terangkai dibenaknya. Bukan apa, ia tidak mau memiliki istri yang sudah di jamah oleh banyak pria, terlebih lagi Juliet adalah musuhnya. Romeo bertekad akan memusnahkan kutukan dengan caranya sendiri, tanpa bantuan Juliet.


"Kalian sudah tahu, kenapa di kumpulkan di sini?"


Panitia BEM bertanya, sedari tadi ia berbincang sejenak dengan Ketum dan beberapa panitia lainnya.


"Tahu, Kak!" sahut MABA serempak, lain halnya dengan Juliet hanya terdiam. Ia tak mengetahui alasan mereka berada di ruangan aula, padahal, seingat ia kemarin, jadwal hari ini adalah seminar.


"Bagus, coba jelaskan apa itu Leadership Camping?" tanya salah seorang panitia pada Juliet, sedari tadi ia mengamati tingkah laku Juliet.


Juliet tergugu. Ia menelan saliva dengan kasar.


Gleg!

__ADS_1


...----------------...


...Fyi, author menggunakan panggilan saya dan kamu antara senior ya, bukannya nggak konsisten sama panggilan aku dan kau. Tapi, panggilan saya dan kamu digunakan untuk menghargai senior di kampus, apalagi mahasiswa/i baru harus memiliki etika berkomunikasi dengan kakak tingkat. Rasanya kurang etis, panggilan aku dan kau. Dulu, sih author pas jadi maba kayak gitu. Jadi, jangan heran hehe. ...


__ADS_2