
Sementara itu, Juliet menghentikan langkah kakinya kala merasa perjalanan mereka ke pos 3, di luar batas jurik malam. Ia tentu saja teringat bagian mana yang harus dilalui dan tidak. Dahinya berkerut hingga tiga lipatan. Ia nampak tengah berpikir, berusaha mengusir pikiran negatif yang berkecamuk didalam benaknya.
Tungkai kaki Panitia terhenti saat tak mendengar derap langkah kaki di belakang. Ia memutar tubuhnya. Matanya memicing, lalu berkata, "Kenapa berhenti?"
Juliet menarik nafas pelan. "Kak, ini sudah keluar jalur, Kakak nggak bohong Kan?" Ia mengamati respon pria dihadapannya.
"Astaga, untuk apa Kakak berbohong, ayo cepat! Nanti Kakak kena marah Kak Miguel! Kamu berjalan di depan saja kalau tidak percaya, padahal Kakak ini ngantuk eh di suruh-suruh Miguel," Ia berkata sambil mendengus.
Juliet tergugu.
'Ah sudah lah, kalau dia macam-macam, awas saja!' Juliet masih was-was antara percaya dan tidak.
"Ayo!"
Juliet mengangguk.
Keduanya kembali berjalan, kali ini Juliet berada di depan. Sedari tadi, ia sedang mempersiapkan diri akan suatu hal yang tidak diinginkannya.
Juliet berbalik."Kak, masih lama?" tanyanya penasaran sebab sudah berapa menit berlalu namun pos 3 belum juga kelihatan.
Panitia tak langsung menjawab. Ia menggerakan kepala ke kanan dan ke kiri, seperti sedang memastikan sesuatu.
Juliet mulai siaga. Ada sesuatu yang menjanggalnya sedari tadi, tapi tak tahu apa. Ia takut berprasangka buruk.
"Kak!" Juliet memberanikan diri memanggil Panitia lagi. Kedua mata Juliet sangat tajam, muka jutek dan judes terpampang amat jelas.
Seulas senyum licik terbit di wajah Panitia. Ia membasahi bibirnya berulang kali, melihat Juliet seakan makanan lezat yang siap disantap.
"Cih!" Juliet berdecih. "Sudahku duga!"
__ADS_1
Panitia malah tertawa melihat mimik muka Juliet."Haha, sepertinya kau tahu apa yang aku mau. Aku dengar dari Queen kau adalah wanita malam, maka dari itu puaskan aku malam ini. Guamu beberapa hari pasti minta dimasuki, Kan?!" Satu alisnya terangkat.
Juliet terkekeh mengejek. "Sampah sepertimu, pasti badannya sangat bau! Aku tak sudi!" Juliet mengintimidasi lawan bicaranya. Dia tak peduli lagi jika masuk ke dalam buku kasus, karena tindakan Panitia tidak dibenarkan dan dia akan melawan. Amarah di hati Juliet meletup-letup kala mendengar nama Queen tadi di sebut.
'Awas saja kau, Queen!'
Mendengar perkataan Juliet. Panitia meradang. "Kau!" Ia berlari ke arah Juliet, hendak menyerang wanita dihadapannya.
.
.
.
"Si-al, pakai jatuh segala lagi!" Romeo mengibas-ibaskan sweaternya yang sudah nampak kotor. Tadi ia tak sengaja terpleset saat menapaki batu di atas air.
Bentuk air permintaan, seperti kolam kecil, amat kecil, akan tetapi airnya berwarna biru bening. Kedua mata Romeo enggan berkedip melihat bias wajahnya di atas air. Rembulan di atas sana menampakkan air kolam yang indah. Tak mau membuang banyak waktu. Ia berjongkok lalu mengambil air dengan menangkup kedua tangannya.
"Seger!" Romeo berkata setelah menenguk air permintaan. Ia menunggu sejenak melihat reaksi air permintaan, namun gatal-gatal di tubuhnya belum juga menghilang.
Tak mau menyerah ia minum lagi, dan lagi hingga yang ke sepuluh kali. Ia merasa begah. Karena meneguk banyak air.
"Aduh! Kenapa bisa jadi begini!" Romeo berdiri sambil mengaruk tubuhnya, karena rasa gatal semakin menjadi-jadi.
Kedua tungkainya berlari meminta pertolongan takut jika ia akan pingsan, sebab dahulu ia pernah pingsan karena bentol-bentolnya sampai ke dalam kerongkongannya sehingga menyebabkan dirinya kesusahan bernafas.
"Juliet!" Satu nama itu yang terlintas dibenaknya. Ia memanggil Juliet berulang kali. Nafas Romeo terengah-engah, ia menahan rasa perih ditubuhnya.
Di sisi lain.
__ADS_1
Bugh.
"Awh!" Panitia terhempas ke tanah. Ia ambruk setelah Juliet menyerangnya membabi buta. Terdapat luka lebam di pelipis dan rahangnya.
"Cih, hanya segitu saja kemampuanmu! Haha sepertinya Queen lupa mengatakan padamu Kak, kalau aku pernah memenangkan lomba Muay Thai." Juliet mengejek-ejek pria yang sudah tak sadarkan diri itu.
"Julietttttttt!" Seseorang memanggil namanya.
Juliet tertegun sejenak. "Romeo," gumamnya pelan. Perasaan khawatir mulai menjalar di relung hatinya.
Reflek Juliet berlari mengikuti sumber suara.
"Juliet!" Romeo melihat Juliet beberapa langkah darinya. Lantas ia bergegas menghampiri Juliet.
"Jul, Queen membuat ulah!" Romeo langsung mengadu seakan Juliet'Mommynya. Ia meringis kesakitan.
Kedua mata Juliet melebar. "Astaga, kenapa dengan wajahmu!" Ia segera memeluk tubuh Romeo, siapa tahu saja ia dapat menyembuhkan sensasi gatal di tubuh Romeo.
Romeo pun segera mendekap erat. Cukup lama mereka saling menempel. Namun tak ada tanda-tanda rasa gatal di tubuh Romeo menghilang.
Romeo melonggarkan pelukkan. Ia melihat kedua mata Juliet. Ia nampak berpikir.
Juliet merasa kasihan melihat keadaan Romeo. Sorot mata Romeo amat pilu. Ia mengelus-elus dada Romeo.
"Tidak ada cara lain," Romeo berkata pelan.
"Ha?" Hanya itu jawaban yang dilontarkan Juliet.
"Selain..." Kedua tangan Romeo menangkup pipi Juliet, dan......
__ADS_1