
Juliet membeku di tempat, sedari tadi, kedua matanya masih mencari bercak ataupun noda merah yang menjadi tanda bukti kesuciannya sudah hilang. Tapi, mengapa tak ada sama sekali. Juliet di terpa kebingungan.
Wanita itu tengah menangis dalam diam, satu tangannya terulur menarik selimut di tepi ranjang. Kemudian menutupi tubuhnya dengan cepat. Ia merebahkan tubuhnya kembali, dan memejamkan kedua matanya.
Rasa rindu dan kecewa membuncah saat menyadari Romeo pergi begitu saja meninggalkannya sendiri. Juliet masih menerka-nerka apa yang membuat Romeo teramat berang. Apa kah dia melewatkan sesuatu. Kejadian barusan rasanya amat cepat. Dia masih berharap, itu semua hanya lah mimpi semata. Tapi dia tak bisa menampik, bahwa semuanya nyata. Juliet sudah lelah menangis, tanpa terasa ia masuk ke dalam ruang mimpi.
Keesokan harinya, mentari telah tiba. Juliet melenguh sejenak, rasa lelah dan letih mendera di sekujur tubuhnya. Matanya membuka perlahan, mengerjap-erjap berkali-kali, lalu menoleh ke samping, melihat jam weker di atas nakas belum berbunyi seperti biasa-biasanya. Mungkin ia terlalu cepat terbangun. Juliet menarik nafas panjang. Kedua matanya beralih menatap langit-langit kamar.
"Romeo..." Bibir Juliet menyebut satu nama yang telah terpatri dihatinya. Hari ini, ia akan bertanya langsung, mengapa suaminya itu teramat marah semalam. Dan akan meminta maaf atas kesalahannya sebagai seorang istri yang tak patuh pada suaminya. Namun, sebelum pergi ke kampus, Juliet akan pergi ke rumah sakit, hendak memastikan sesuatu yang membuat pikirannya berkecamuk sedari malam.
***
"Hai, Jul!" Reza berlarian menghampiri Juliet yang sedang berjalan perlahan memasuki kampus.
Juliet berbalik, seulas senyum tipis nampak diwajahnya. Dia geleng-geleng kepala melihat Reza memakai bando berwarna pink.
"Jul, you sehat?" Reza membenahi pakaian kuliahnya. Juliet mengangguk.
Reza memicingkan mata. Melihat kedua matanya Juliet terlihat pilu. Belum lagi penampilan Juliet yang aneh, Juliet mengenakan baju turtle-neck, menutupi seluruh leher dan tangannya. Padahal cuaca saat ini terik menderik.
"Tapi kenapa you, pakai baju yang buat akika gerah sih! Perasaan hari ini cuaca panas," Reza bertanya sembari meliukkan tubuh ke kanan dan ke kiri.
Juliet tergugu, tak mungkin menjawab jujur, sebab tanda percintaannya semalam, meninggalkan jejak yang membiru di sekujur tubuhnya termasuk lehernya. Dia menggaruk tengkuk yang tidak gatal.
"Aku kurang enak badan, soalnya kecapean karena Leadership Camping." Alasan yang masuk di akal, pikir Juliet, karena Reza amat kritis dan mungkin saja akan bertanya lagi. Namun, respon Reza di luar dugaan.
"Ha? You sakit, aduh! Ya udah mending you pulang saja!" Reza meraba-raba kening Juliet ingin memastikan sendiri. Juliet hanya terdiam melihat kelakuan Reza yang perhatian padanya.
Mata Reza melebar. "Astaga, badan you benar-benar panas!"
'Apa benar badanku panas, padahal aku berbohong."
"Jul, pulang aja ya, entar akika izinin you sama dosen!"
Juliet menggeleng lemah. "Nggak usah, lagian kelas hari ini bentar aja, aku nggak apa-apa kok. Nanti juga sembuh."
"Tapi-"
"Sudahlah, ayo kita ke kantin temanin aku sarapan bubur, aku lapar banget," Juliet memotong cepat ucapan Reza sembari menarik tangan Reza dan melangkah dengan cepat.
__ADS_1
***
"Eh, Jul itu bukannya Romeo kok sama siluman ular?" Reza bertanya sembari menunjuk menggunakan bibirnya. Lantas Juliet memutar kepala.
Deg.
Dada Juliet bergemuruh, melihat Queen bergelayut manja di lengan Romeo. Juliet amat kecewa, bisakah Romeo sebagai seorang suami menghargainya, walaupun keduanya hanya menikah di atas kertas, mengingat sekarang rasa cinta telah hinggap dihatinya. Ia tak dapat memungkiri, saat ini rasa cemburu membuncah di dadanya, kala melihat Romeo dan Queen berjalan bersamaan layaknya pasangan kekasih.
Juliet memalingkan muka. Rasa ingin meminta maaf menguap seketika. Tadi, Juliet ingin berkata jujur semuanya pada Romeo, namun sikap Romeo membuat Juliet mengurungkan niatnya.
'Kau bodoh, Jul. Berharap Romeo memiliki perasaan yang sama sepertimu! Sadar lah Jul, Romeo membencimu! Dia tidak mungkin mencintaimu! Kubur semua angan-anganmu! Lebih baik kau fokus mengenyam pendidikan!' Juliet menjerit di dalam hati, berusaha menyemangati diri sendiri.
"Jul, you nggak apa-apa? Itu kan suami you." Reza dapat melihat pancaran mata Juliet menyimpan banyak kesedihan.
Juliet menggeleng.
Dahi Reza berkerut, hari ini Juliet lebih banyak terdiam tidak seperti biasanya. Apa mungkin karena dia sakit, jadi Juliet malas berdebat dengannya. Pria gemulai itu tak lagi bertanya.
Di belakang sana Romeo dan Queen duduk di meja yang lumayan jauh letaknya dari Juliet dan Reza. Romeo menyadari keberadaan Juliet di kantin. Dia menatap punggung istrinya dari kejauhan, matanya tak berkedip sedikitpun. Sorot matanya tersirat dan sulit diartikan.
"Za," panggil Juliet setelah menghabiskan setengah bubur di mangkok. Reza menoleh sembari menyambar air putih dan menenguknya cepat.
Juliet menarik nafas panjang. "Kau pernah jatuh cinta?"
"Hmmmm, pernah...."
Juliet mengerutkan dahi melihat perubahan raut wajah Reza. Semula ia mengira Reza tak pernah jatuh cinta, mengingat kelakuan Reza aneh bin ajaib.
"Maaf!" Juliet menatap Reza tengah melamun dan hanya mengaduk-aduk bubur.
"Ya ampun Jul, santai aja. Itu dulu kali, akika pernah jatuh cinta, sama cewek ya, bukan sama cowok!" Reza mendelikkan mata, tak mau memperlihatkan kesedihannya perihal cinta monyetnya dahulu dan mengatakan dia masih normal.
Juliet tersenyum tipis.
"Teyus, kenapa you tanyain akika pernah jatuh cinta?"
Juliet menarik nafas panjang lagi.
"Aku jatuh cinta pada seseorang, tapi cintaku bertepuk sebelah tangan...."
__ADS_1
Reza mencondongkan badan, entah mengapa ia sangat antusias mendengarkan curahan hati Juliet. Jarang-jarang wanita dihadapannya ini berkeluh kesah padanya.
"Siapa?"
Kedua bola mata Juliet bergerak tak tentu arah. Apakah keputusannya bercerita pada Reza, benar, takut jika seandainya Reza membeberkan rahasia hatinya. Namun, ia ingin sekali berbagi uneg-uneg agar hatinya lega. Secepat kilat, Juliet menepis pikiran negatif tentang Reza.
"Suamiku..." Juliet berucap pelan dan lirih, wajahnya menunduk tak mau melihat respon Reza yang mungkin saja sedang menertawakannya tapi praduga Juliet ternyata meleset.
"Yuhu, akika senang banget you akhirnya sudah menyadarinya!"
Juliet mengangkat wajah. "Maksudnya?"
Reza mendelikkan mata. "Akika uda tahu kali you suka sama Romeo, dan yakin you cinta you bertepuk sebelah tangan?"
"Yakin!"
Satu alis Reza terangkat, ia nampak berpikir. "Romeooooooo!" panggilnya sembari bangkit berdiri, kedua tangannya melambai-lambai mengisyaratkan untuk menghampirinya. Di ujung sana, Romeo bangkit berdiri dan mengayun kakinya.
"Reza, apa yang kau lakukan!?" Kedua mata Juliet melebar, menatap tajam pada Reza yang telah duduk kembali. Ia dilanda kepanikan, reaksi Reza benar-benar tak sesuai ekspetasinya.
Reza tak mengubris ucapan Juliet, malah senyam-senyum sendiri.
"Kau gila atau apa?" Juliet bertanya kembali sebab Reza tak menghiraukannya.
"Ya, nanyain langsung ke orangnya lah! Gitu aja susah!" celetuk Reza seenak jidat.
"Bukan begitu konsepnya!" Juliet beranjak, lalu memutar tumit kaki.
Plak.
Tamparan kuat mengenai pipi kanan Juliet. Juliet tersentak kaget, tangannya reflek mengusap perlahan pipinya. Lalu menoleh pada si pelaku.
"Dasar ja**ng!" Si pelaku berseru nyaring.
.
.
.
__ADS_1
Maafkan saya yang tidak update rutin, bukannya tidak mau tapi kondisi kesehatan saya menurun. Penyakit saya kambuh lagi. Jangan lupa tinggalkan jejak ya kakak²