
Kurang lebih delapan jam lamanya, 4 bus besar berhenti tepat di portal'selamat datang Hutan Anggora. Di atas portal tersemat sebuah tulisan 'Welcome to Paradise', Nampak guyuran hujan di luar sana masih belum reda sepenuhnya.
Sang supir bus nomor 01 meregangkan sejenak otot-otot badannya. Ia mendesah sejenak, rintik hujan mengalun lembut masuk ke dalam gendang telinganya. Kedua netranya terlihat sayup dan keletihan, ia menguap perlahan lalu menoleh ke belakang. Sudut bibirnya melengkung ke atas membentuk sebuah senyuman, kala melihat mahasiswa-mahasiswi tertidur pulas.
Enam jam yang lalu mereka masih bersenda gurau, dan bernyanyi satu sama lain, tapi sekarang sunyi senyap bagai tak berpenghuni. Beberapa di antaranya memeluk badannya sendiri, berusaha menghangatkan badannya, sebab suhu di luar dan di dalam terasa sejuk.
Tuk tuk tuk
Bunyi ketukan kaca.
Lantas Sang Supir mengalihkan pandangan ke pintu utama bus.
Seorang pria bermata sipit' di sinyalir Panitia acara memberikan kode meminta padanya untuk membukakan pintu. Sang Supir mengangguk, lalu menggerakkan tuas di sisi kirinya. Seketika pintu pun terbuka lebar.
"Sunyi senyap ya Pak?" tanya Panitia sambil mengedarkan pandangan di dalam bus.
"Iya nih, kecapean kayaknya mereka, hehe. Padahal tadi ribut banget, serasa nonton konser dangdut nyanyi sudah 1 album kayaknya tadi." Sang Supir menceritakan dengan begitu antusias.
Panitia terkekeh pelan. "Ya sudah, Pak. Kita tunggu saja hujannya benar-benar reda, baru kita bangunkan mereka."
Sang supir mengangguk setuju sembari mengulum senyum.
"Ini untuk bapak." Panitia menyodorkan segelas minuman hangat berwarna hitam pekat, apa lagi kalau bukan kopi hitam, asap mengepul ke udara menandakan bahwa kopi baru saja di seduh.
Sang supir mengambil cepat. "Wah, terimakasih," ucapnya gembira.
Panitia tersenyum simpul. "Sama-sama, kalau begitu saya permisi' Pak." Ia mengayunkan kaki dengan pelan menuju pintu.
***
Juliet melenguh pelan saat sesuatu yang berat menimpa pahanya. Ia membuka kelopak matanya, dan mengerjapkan matanya beberapa kali, lalu menoleh ke bawah. Kedua matanya melebar dengan sempurna, dan tanpa sadar tak berkedip, menatap Romeo yang kini tertidur pulas di atas pahanya.
Juliet tergugu, jantungnya kembali berdegup kencang. Paras Romeo membuat nafasnya tercekat, wajahnya yang teduh dan damai, seandainya saja Romeo tak menyebalkan mungkin saja ia akan bersikap biasa saja pada Romeo. Tapi apa, Romeo adalah pria yang paling menyebalkan menurut Juliet.
Entah dorongan dari mana, satu tangan Juliet mengelus kepala Romeo.
Halus. Sebuah kata singkat yang ia gambarkan mengenai rambut Romeo. Ia menyisir-nyisir kecil helaian rambutnya. Seulas senyum tipis terpatri di wajah Juliet. Puas memainkan rambut, ia mencubit gemas hidung Romeo.
Deg.
Juliet membeku di tempat, kala Romeo tiba-tiba membuka mata. Keduanya bersitatap satu sama lain sesaat.
__ADS_1
Juliet menelan saliva dengan kasar, ia tertangkap basah. Juliet malu, amat malu merutuki kebodohannya sendiri. Dengan setengah sadar, Juliet memalingkan wajah menghadap jendela sembari menurunkan tangan.
"Kenapa berhenti?" Romeo bertanya pelan. Ia masih merebahkan kepala di atas paha Juliet.
Juliet tak menyahut, menyibukan diri melihat tetesan air hujan mengalir di kaca bening. Ia tak berani menatap Romeo, sebab sekarang wajahnya benar-benar terasa panas.
"Jul," panggil Romeo dengan nada yang tak seperti biasanya. Juliet enggan menjawab dan tak bergeming sama sekali.
Romeo tersenyum penuh arti. Ia segera mengubah posisi badannya menjadi duduk. Ia mengedarkan pandangan, melihat teman-temannya masih tergolek tak berdaya. Samar-samar ia mendengar suara orokan di kursi paling belakang. Dia tak mau ambil pusing. Lalu ia beralih menoleh ke samping.
"Jul." Romeo menyambar tangan Juliet, kembali menyatukan jari-jemarinya.
Juliet membeku di tempat. Telapak tangannya seketika menghangat.
"Kau tuli atau apa sih?" Romeo bertanya sambil mencondongkan badan.
Radar S.O.S di otak Juliet mendeteksi adanya ancaman, satu tangan Juliet mendorong pelan dada Romeo. Tapi sayang seribu sayang tak sesuai ekspetasi. Romeo malah menarik kuat tangan satunya, alhasil tubuh keduanya menempel. Otomatis wajah keduanya menghadap satu sama lain.
Juliet tersentak kaget. Tatkala kedua bola mata Romeo beradu pandang dengannya. Ia memberontak tapi tubuhnya di kunci, ia ingin berteriak tapi takut teman-temannya akan terbangun jika mendengar suaranya.
"Kenapa kau menghindar?" Romeo menatap lekat.
"Iya, aku tahu." Romeo semakin menyudutkan Juliet ke tepi jendela, sembari mendekatkan wajahnya.
Reflek Juliet menutup kedua matanya. Entah dorongan dari mana, otak dan otot-otot anggota tubuh Juliet tak terkoneksi, bukan kah dia mempunyai banyak peluang untuk menyundul atau melayangkan pukulan pada Romeo tapi mengapa ia tak melawan.
Sungguh aneh!
Hembusan angin menerpa bagian mata sebelah kiri Juliet.
"Kenapa kau menutup matamu?" Romeo bertanya pelan, deru nafasnya begitu hangat.
Lantas Juliet membuka kelopak matanya.
Romeo terkekeh pelan."Pfftt.. Haha, tadi ada bulu matamu jatuh, apa kah kau mengharapkan aku menciummu," katanya sambil mengubah posisi tubuh.
Lagi dan lagi, Romeo membuat Juliet salah tingkah, ia semakin malu saja. Juliet memalingkan wajah kala Romeo mempermainkannya. Rona merah nampak di kedua pipi Juliet.
Aku membencimu,Rom! Apa ini tak tik darimu? Oke! Perang akan di mulai! Juliet menetralisir rasa gugup yang melandanya. Ia bertekad tak mau terjebak dalam permainan Romeo. Sekarang, ia yakin sekali, jika Romeo tengah merencanakan sesuatu.
"Hmm." Dehaman keras di kursi depan mengusik lamunan Juliet.
__ADS_1
"Kai," panggil Juliet sambil bangkit berdiri.
Kai pun beranjak berdiri lalu berbalik. "Jul, kau tidak kedinginan?" Sebuah pertanyaan basa-basi, namun Juliet membalas dengan mengulum senyumnya saat mendengar perhatian dari Kai.
"Tidak, lihat aku pakai jaket." Juliet menyilangkan tangan seperti memeluk diri sendiri.
Kai tak menyahut, malah merentangkan sweater coklatnya dan menaruh di pundak Juliet.
"Wah, wah seperti di drakor-drakor ya!" Romeo berseru dengan menarik cepat sweater Kai dari tubuh Juliet. Sedari tadi ia terdiam mengamati interaksi Juliet dan Kai.
"Romeo kembalikan sweaterku!" Juliet melebarkan mata sembari mengambil kain berwarna coklat itu. Akan tetapi tidak semudah itu ferguso, sebab Romeo jua menarik sweater Kai.
"Sweater ini milik Kai! Bukan milikmu!" protes Romeo tak mau kalah. Akibatnya Romeo dan Juliet tarik-menarik sweater sambil beradu mulut.
Kai mendesah kasar, saat melihat keduanya tak ada yang mengalah.
"Hei, berisik suara siapa sih?!"
"Nggak tahu tuh, ganggu aja! Masih mau mimpiin Miyabi nih!"
"Bro, kalau mau berdebat tunda dulu. Gue mau tidur nih!"
Seloroh teman-teman. Mereka terusik dengan suara Romeo dan Juliet yang berdebat tak jelas.
Seketika Romeo dan Juliet menghentikan gerakan tangannya. Tanpa aba-aba Juliet menarik kuat sweater Kai, dan ia berhasil. Juliet tersenyum penuh kemenangan.
"Cih," Juliet berdecih dengan memakai sweater Kai.
"Kau berani melawanku?" Romeo bertanya pelan namun tajam, ia tak mau suaranya menimbulkan keributan lagi.
Juliet tak menyahut, ia malas berdebat.
"Sudah lah Rom. Sweater itu memang untuk Juliet. Dia pasti kedinginan." Kai mulai membuka suara. Ia tak mau karena sweter miliknya. Romeo dan Juliet kembali beradu mulut.
"Tidak perlu sok perhatian dengannya." Kedua tangan Romeo terkepal kuat kala melihat, Kai menatap lekat Juliet.
"Dasar egois!" Juliet mendorong kasar tubuh Romeo, ia keluar dari tempat duduknya, dan kedua tungkai kaki Juliet mengayun dengan cepat.
Dugh.
"Juliet! Kai!"
__ADS_1