Romeo Dan Wanita Malam

Romeo Dan Wanita Malam
Tak Terkendali


__ADS_3

Jantung Romeo serasa di hujam belati, tatkala mendengar sebuah kalimat yang di lontarkan dari bibir Kai. Dia bingung pada dirinya sendiri. Bukan kah seharusnya ia tak marah, bukan kah seharusnya ia senang, karena Juliet tak akan ada lagi dalam hidupnya nanti. Lantas mengapa dirinya berang? Apa haknya?


"Rom, suara garpumu membuat telingaku sakit! Bisa tidak jangan kau gesekan di piring?" Kai menegur, dentingan garpu milik Romeo mendengungkan telinga.


Romeo menggeleng pelan. Tersadar dari lamunan. Gara-gara memikirkan Juliet, sampai-sampai tangannya tak sengaja menorehkan sentuhan kuat di piring putih.


"Maaf," ucap Romeo pelan. Ia kembali memotong daging steak, berusaha fokus. Agar garpu dan pisau tak menimbulkan suara lagi.


"Kau memikirkan apa?" Kei bertanya sambil menyeruput kuah bakso. Sedari tadi, ia mengamati tingkah Romeo.


"Hm, aku bingung nanti camping mau ikut atau nggak." Romeo menetralisir rasa aneh yang masih menjalar di relung hati. Sepintas kalimat pamungkas itu, ia ucapkan karena memang saat ini jua ia dilanda kecemasan akan kegiatan Leadership Camping.


Kai menghentikan gerakan tangan. "Rom, kau masih trauma?" Kai menatap sendu. Dia tahu betul kegundahan yang dirasakan Romeo. Entah mau di katakan apa mereka ini, teman, sahabat, saudara atau keluarga. Sedari bayi di lahirkan di satu ruangan rumah sakit yang sama pula, jadi dapat di tebak Romeo pasti akan bercerita pada si Duo Biang Keladi, perihal insiden camping pertamanya dulu. Yah, Walau pun si kembar selalu mengerjainya. Begitu lah pertemanan kumpulan lelaki apa adanya, tidak seperti pertemanan para perempuan yang lebih banyak drama.


Romeo memang tak memiliki banyak teman sepermainan, dia amat selektif dan pemilih, bukan karena kasta, tapi karena memilih mana yang terbaik dan setia. Zaman sekarang teman baik susah untuk ditemukan. Lebih baik memiliki teman sedikit tapi berkualitas daripada banyak tapi bermuka dua dan pengkhianat, sebuah kalimat' pepatah lama, tapi memang benar bukan?


Romeo menarik nafas. "Entah lah, Kai."


Kai dan Kei saling lirik. Mereka mengiba, dengan teman kecilnya itu.


"Rom kau benar-benar tak...."


Bibir Kai kelu, perkataan Kai terhenti, sejenak hampir lupa dengan kejadian tadi. Ia menelan ludah dengan pelan. Kai tak mau Romeo kembali berang.


Dahi Romeo berkerut, menunggu Kai melanjutkan ucapan. "Benar-benar apa?"


"Ah sudah lah lupakan saja." Ia melirik sekilas pada Kei.


Romeo tak mau ambil pusing, ia menyeruput air putih dengan pelan.


"Rom, ikut saja lah. Aku dengar-dengar di Hutan Anggora ada air permintaan!" Kei menyeka bibir dengan tisu.


Romeo dan Kai mengernyitkan dahi. "Apa tuh?" Entah karena sudah terlalu lama berteman, sampai-sampai ucapan yang dilontarkan pun bersamaan pula. Keduanya saling pandang, lalu tersenyum tipis, menyadari gelagat mereka.


"Katanya jika kita meminum air itu, apa pun permintaan yang kita inginkan akan terkabul."


"Kau mendapat informasi itu dari mana?" Romeo antusias.


"Dari senior farmasi, tadi pagi aku tidak sengaja menguping. Mereka mengatakan di sana ada satu kolam besar yang isinya air permintaan, jika meminta apa pun pasti dikabulkan." Layaknya presenter gosip Kei menerangkan secara singkat dan lugas berdasarkan informasi yang dia dapatkan tanpa sengaja.


Romeo mangut-mangut. "Termasuk menghilangkan kutukan?"


"Iya, apa pun itu katanya."


"Aish, benar atau tidak?!" Romeo mulai meragu, jawaban Kei tak memuaskan, kalau memang benar ia mau meminum air itu dan meminta agar kutukan yang melekat pada tubuhnya segera musnah.


"Hmm, sepertinya benar."

__ADS_1


"Ah kau membuatku bingung Kei." Romeo hilang semangat, ia tertunduk lesu.


"Tapi boleh kau coba, Rom. Siapa tahu saja memang benar. Setidaknya kau berusaha," ucap Kai menepuk pundak Romeo, berusaha menenangkan kegusaran Romeo.


"Iya, kau benar! Di mana letak kolam itu?" Romeo beralih menatap Kei.


"Di bawah gunung, dekat air terjun. Tapi aku tidak tahu air terjun yang mana, karena di Hutan Anggora kan banyak air terjun." Kei berkata serius.


Romeo mendengus kasar.


"Saran aku, lebih baik kau ikuti senior yang mau pergi ke sana!" celetuk Kai seakan mudah sekali.


"Bukannya kita akan dipantau terus." Kei menimpali.


"Maka dari itu, cari celah dan waktu yang pas." Kai menyeringai tipis.


Romeo mengangguk, sebagai tanda setuju. Ia akan mencoba.


Semoga air itu dapat memusnahkan kutukanku! Romeo melirik sekilas ke bawah.


"Heh, Itu bukannya Juliet!" Kei menunjuk dengan bibirnya seperti bibir anak itik.


Romeo dan Kai memutar kepala ke belakang.


Romeo menatap dingin lalu memalingkan muka, kembali menyeruput air putih, membasahi kerongkongan yang mulai serasa panas. Dia kebingungan dengan reaksi tubuhnya. Dia beralibi dalam hati mungkin karena cuaca di luar panas.


"Bedebah, cari kesempatan memegang tangan Julietku!" seru Kai berapi-api.


"Aku sudah menahan diri dari tadi." Kai beranjak berdiri. Ia di landa cemburu buta.


"Stop, Kak. Kakak gila atau apa?!" Kei menahan tubuh Kai. "Jangan, nanti Juliet pasti bingung, Kakak kan tidak pernah mengutarakan isi hati Kakak, Kakak tak mempunyai hak untuk marah."


Seketika jantung Romeo serasa diremas kuat. Ingin sekali melayangkan pukulan wajah seseorang, di sana dan di sini. Yah, bukan hanya pada pria di belakang sana tapi di samping pun jua. Tapi atas dasar apa!? Pikirnya lagi dan lagi.


Reflek Romeo bangkit berdiri, berjalan cepat hendak menghampiri Juliet, meninggalkan Kai dan Kei yang masih adu mulut.


Di ujung sana Juliet duduk di meja, tengah melihat daftar menu makanan bersama Reza dan Bimo.


"You pesan apa Jul? Pesanlah yang banyak, Kak Bimo akan mentraktir kita." Reza tersenyum sumringah dan meliukkan badannya gemulai.


Bimo geleng-geleng kepala dengan kelakuan aneh Reza.


"Iya, Za. Aku pesan yang ini saja!" Juliet tersenyum tipis sambil jari telunjuk menunjuk list makanan.


"Juliet!" Suara seseorang yang ia kenal.


Juliet mengangkat kepala, langsung bersitatap pada Romeo yang berdiri tegap di hadapannya.

__ADS_1


Deg.


Aduh, kenapa dia di sini. Mana ada Reza lagi. Dia lupa atau apa sih! Juliet beralih menatap Reza yang kebingungan melihat Romeo muncul di sini.


"Pulang ke rumah!" Romeo menyambar tangan Juliet.


"Rom, apa yang kau lakukan!? Sakit!" Juliet terpaksa berdiri.


"Hei, lepaskan kau siapa?" Bimo mulai tersulut emosi, pria yang tak dikenalnya mencengkram kuat tangan Juliet.


"Aku suaminya!" Romeo berkata tegas dengan melototkan mata.


Bimo tersentak kaget. Reza tanpa sadar membuka mulut sedikit, menatap ke arah Juliet meminta penjelasan.


"Ayo, cepat pulang. Mommy menyuruh kita pulang!" Romeo menarik paksa sebelum Juliet membuka suara.


***


Romeo dan Juliet berjalan tergesa-gesa menuju parkiran.


"Romeo, lepas!" Juliet menggerakkan tangan ke segala arah.


Romeo tak mengubris permintaan Juliet, dia terus bergerak cepat.


"Rom, please ini sangat sakit!"


"Masuk!" Romeo membuka pintu mobil mempersilahkan Juliet masuk tanpa melepaskan cengkraman tangannya.


Juliet naik pitam."Tidak mau!"


Romeo menahan sabar, ia menarik paksa tangan Juliet hingga tubuh Juliet bersentuhan dengan dadanya.


Deg.


Sensasi aneh mulai merasuk lagi ke dalam tubuh Juliet. Seketika darah Juliet berdesir naik seperti sengatan listrik.


"Kau ini selalu saja membantah!" Romeo mengangkat Juliet seperti karung beras, dan mendudukkan di kursi depan.


Juliet memekik sembari memberontak. "Romeo, kau gila!"


"Aku gila juga karena dirimu!" Romeo segera memasangkan seatbelt di badan Juliet. Lalu menutup pintu dan tidak lupa mengunci pintu mobil sisi kiri Juliet agar ia tak bisa keluar.


Dahi Juliet berkerut. Lalu geleng-geleng kepala. "Romeo, buka! Kurang ajar kau!" Juliet menepuk kaca dan menggerakkan handle pintu mobil.


Romeo berjalan cepat mengitari mobil, membuka cepat, dan menjatuhkan bokong di kursi kemudi.


"Rom, turunkan aku sekarang!" Nafas Juliet memburu.

__ADS_1


Romeo geram, lalu mengapit kedua pipi Juliet, dan...


"Rom...Hmff!"


__ADS_2