Romeo Dan Wanita Malam

Romeo Dan Wanita Malam
Markas Q


__ADS_3

Romeo tertegun, mobil berhenti sejenak di depan gerbang berwarna hitam yang menjulang setinggi tiga meter. Di depan' dua orang pria bersetelan jas hitam berdiri tegap di sisi kanan dan kiri pagar. Maximus tengah berbicara dengan keduanya menggunakan bahasa isyarat. Seketika pagar terbuka otomatis.


"Guk!" Hiro menyalak sembari menjulurkan lidah, kala mobil melesat pelan ke tempat yang asing bagi Romeo.


Romeo menoleh ke samping, lalu berkata,"Apa kau pernah ke tempat ini Hiro?" Romeo bertanya sebab Hiro nampak girang. Seakan pernah ke sini sebelumnya. Dia sangat penasaran, bagaimana bisa di hutan belantara terdapat mansion megah.


Hiro mengonggong sebanyak tiga kali, mengatakan bahwa dia pernah ke sini. Dahi Romeo semakin berkerut kuat. Entah mengapa dia merasa seperti orang asing. Lalu dia beralih menatap ke depan melihat tulisan di atas tertera 'Markas Q'.


'Ini markas? Tidak mungkin lelucon Mommy dulu saat mengatakan Daddy ketua mafia memang benar?'


Sewaktu Romeo belia, Mommynya pernah bercerita jika dahulu mendiang Kakek dan Daddynya adalah seorang mafia. Kala itu dia hanya menanggapi dengan kekehan pelan, karena itu tidak lah mungkin dan hanya menganggap informasi itu hanya angin lalu saja. Lantas pria itu menggeleng pelan, mengusir semua pikiran negatifnya.


Romeo masih di dalam mobil, ketika Maximus sudah berada di luar pintu kendaraan. Pria berusia matang itu sedang berbicara lagi bersama seorang pria di ujung sana.


Kedua mata Romeo mengamati tempat asing itu. Suasana di sekitar amat sunyi senyap hanya ada suara unggas munggil bersenandung kecil. Lagi dan lagi, Romeo berdecak kagum dengan ornamen-ornamen yang terpampang di Mansion, membuat matanya enggan untuk berkedip. Berbeda sekali dengan Mansion gaya eropa milik kedua orangtuanya. Mansion di depan lebih klasik, dan elegan.


Maximus membukakan Romeo pintu. "Tuan muda silahkan keluar, ikuti saya," katanya sembari memberi kode pada Hiro untuk juga keluar.


Romeo mengangkat perlahan tubuh sang istri, lalu melangkah dengan pelan keluar, diikuti Hiro melompat ke bawah.


"Mari ikuti saya." Maximus menuntun Romeo masuk ke dalam.


Romeo mengangguk pelan.


*


*


"Uncle tempat apa ini?" Romeo berjalan berdampingan bersama Maximus di lorong mansion.


Romeo baru saja keluar dari kamar. Tadi, dia sudah memakaikan Juliet pakaian. Sang istri masih beristirahat di kamar, dia merutuki kebodohannya sendiri karena semalam begitu bersemangat membawa Juliet ke puncak nirwana surga. Dan sampai lupa waktu, sebab tubuh Juliet membuatnya di mabuk kepayang.


"Markas Q, milik mendiang Kakekmu tapi sekarang sudah milik Mommy dan Daddymu, Tuan sudah tahu, Kan kalau Tuan Leon' seorang mafia?" Maximus menoleh ke samping ingin melihat reaksi majikannya. Karena dia mendapatkan informasi dari Lily, bahwa Romeo tak mempercayai fakta mengenai latar belakang Daddynya.


Ayunan kaki Romeo terhenti. "Jadi benar? Kalau Daddy seorang mafia?" Pria itu seakan tak percaya dengan kebenaran tentang Daddynya. Pikiran Romeo sudah melanglang buana entah ke mana.


"Tuan muda, Daddy anda bukan lah mafia seperti yang anda pikirkan. Dia adalah seorang mafia yang baik dan bisnisnya bersih dari narkoba, ataupun perdagangan manusia. Malahan di LA, Montero melakukan banyak kegiatan beramal. Bahkan p*merint*h membantu mereka," jelas Maximus saat melihat raut wajah terkejut nampak di garis muka Romeo.


Romeo hanya terdiam, nampak berpikir sesaat. Dia kembali melangkahkan kaki, dia enggan membalas ucapan Maximus barusan.


"Saya jadi merindukan masa-masa bertempur bersama Tuan Leon waktu itu, pertempuran memberikan hukuman pada pembunuh mendiang Kakek anda." Pikiran Maximus menerawang dengan kejadian dua puluh tahun silam. Lagi dan lagi Romeo hanya diam saja.


"Tuan muda, beristirahat lah dulu di kamar, Tuan Leon sebentar lagi akan tiba di markas Q." Maximus melirik sekilas arloji di pergelangan tangan.


"Benarkah? Daddy dan Mommy sudah sampai di Indonesia," Romeo bertanya dengan raut wajah senang.


"Iya, Tuan. Mereka sedang dalam perjalanan kemari, saya ada urusan sebentar Tuan muda," pungkas Maximus cepat, lalu berlalu pergi meninggalkan Romeo seorang diri.

__ADS_1


Terdengar suara alarm di luar, memekakkan telinga bagi siapapun yang mendengar. Romeo mengerutkan dahi sejenak. Kemudian berbalik pelan, melangkahkan kaki menuju kamar.


***


"Di mana dia?" Leon menyembul dari dalam mobil bersama sang istri. Sedari tadi Lilly masih menautkan tangan di lengan suaminya.


"Tuan muda ada di kamarnya, Tuan," ucap Maximus sembari menutup pintu di mobil.


Leon melepaskan kaca matanya lalu menatap Maximus lagi. "Apa mansion sudah disterilkan?"


"Masih dalam proses Tuan, tim Wolfi sedang menggeledah kamar Tuan muda, apartment Lexus dan setiap sudut mansion."


"Baiklah, besok mansion sudah harus sudah bersih! Aku tidak mau ada satu kesalahan sedikitpun!" Leon menatap tajam Maximus.


Maximus menanggapi hanya dengan mengangguk pelan.


"Honey, bersabar lah. Yang terpenting Romeo dan Juliet baik-baik saja," Lily berkata sembari mengelus dada sang suami kala raut wajahnya mulai memerah.


Leon enggan menyahut, pria itu memijit pangkal hidungnya yang pening. Dia mendengus kasar.


"Ayo, Honey. Kita ke kamar dulu setelah itu kita menemui mereka," Lily berusaha menenangkan Leon. Karena dia tahu suaminya tengah banyak pikiran saat ini. Pasalnya masalah datang bertubi-tubi.


Leon menoleh, seulas senyum penuh arti mengembang."Iya, Honey. Sekalian kita mandi bersama."


Lily mendelikkan mata, walaupun pusing masih sempat-sempatnya berpikiran mesum.


"Iya," kata Lily ketus, padahal wanita masih keletihan karena pertempuran beberapa jam yang lalu membuat tubuhnya remuk.


*


*


Leon tengah berdiri menghadap jendela, mendengar panggilan' pria itu berbalik, kemudian matanya memindai tubuh Romeo."Kau baik-baik saja?"tanyanya dengan raut wajah datar.


"Baik, Dad. Ada yang mau aku tanyakan pada Daddy," Romeo bertanya sembari menghempaskan bokong di sofa.


"Tahan dulu pertanyaanmu," kata Leon tegas.


Romeo menelan saliva dengan kasar, melihat aura Leon mencekam. 'Apa aku melakukan kesalahan?'


"Baik, Dad."


"Apa kau mencekik seorang wanita?" Leon menatap tajam ke arah Romeo seraya memasukkan kedua tangan ke dalam saku celana.


Romeo menarik nafas pelan. "Iya, Dad." Lalu ia menundukkan kepala. Dia tak berani menatap mata Daddynya. Romeo baru saja mengetahui apa kesalahannya. Sedari dulu Daddynya mengajarkan padanya untuk tidak boleh berbuat kasar terhadap seorang wanita. Seketika perasaan bersalah merasuk sedikit di relung hatinya.


"Kau tahu kan Kakakmu Kendrick memiliki trauma, karena ulah ayah kandungnya dahulu yang pernah melakukan kekerasan fisik padanya."

__ADS_1


Romeo mengangguk. Dia teringat dengan Kakak pertamanya setiap malam pasti akan ketakutan jika petir ataupun guntur menyambar di luar. Benak Romeo mengingat lagi cerita dari Mommynya, tentang perlakuan mantan suaminya terhadap Kendrick yang meninggalkan trauma mendalam.


"Daddy tidak mau kau menjadi seorang pria pecundang melampiaskan kemarahan dengan berlaku kasar pada seseorang, Daddy tidak pernah mengajarkan hal itu padamu, termasuk ketiga kakak laki-lakimu!" jelas Leon tegas.


Romeo memilih tak bersuara, kala ruangan terasa semakin sesak sekarang. Jelas dia ingat betul ajaran yang diberikan Daddy padanya dan ketiga kakak kembar' namun lain Ayah itu. Semarah apa pun kalian' jangan pernah melayangkan pukulan pada seorang wanita, ucap Leon kala itu.


"Apa saja yang wanita itu lakukan pada istrimu?" tanya Leon.


Romeo mengangkat wajah, dan mulai bercerita. Leon mendengarkan dengan seksama tanpa menyela sedikitpun.


"Apa Juliet baik-baik saja?" Leon bertanya kembali setelah Romeo menutup rapat bibir. Pancaran matanya mulai meredup, tak seperti tadi.


"Baik, Dad."


"Kalian harus berhenti kuliah untuk sementara waktu! Dan tetap di sini, jangan sampai Juliet melihat sosial media." tegas Leon sembari berbalik, dan kembali menatap ke arah jendela.


Romeo tersentak. "Dad? Jangan bilang....."


"Iya, foto istrimu sudah tersebar di sosial media dan situs XXX, orang kepercayaan Daddy sedang menghapus semua foto dan video Juliet."


"Bedebah!" teriak Romeo tanpa sadar. Nafasnya memburu, "Di mana Queen?" Dia beralih menatap Maximus mencari jawaban.


"Wanita itu pandai bersembunyi, sampai sekarang tim Wolfi masih mencari, Tuan muda."


Romeo mengepalkan kedua tangannya, rahangnya mengeras kuat.


"Kalian berdua di sini saja dulu, seharusnya kau bunuh saja dia kemarin." Raut wajah Leon datar. Pria itu menebak jika wanita yang tergila putranya bisa saja menjadi bibit-bibit psikopat. Hal itu dapat dia simpulkan dari cerita Romeo barusan.


Romeo terhenyak mendengar perkataan Daddynya. Alih-alih menasehati namun malah menyuruhnya membunuh Queen. Suasana di ruangan seketika hening.


Maximus memperhatikan ayah dan anak itu secara bergantian karena tak ada pergerakkan bibir dan tubuh sama sekali. Raut kebingungan terukir jelas di wajahnya.


"Haha, Daddy cuma bercanda. Salah kau sendiri mempunyai wajah tampan seperti Daddy!" Leon menyeringai tipis.


Romeo mendelikkan mata. "Menurutku, aku lebih tampan dari Daddy!"


Leon berbalik, lalu berkata," Cih kalau bukan karena kecebongku juga kau tidak setampan itu!" Pria itu tak mau kalah dari anaknya.


Romeo mendengus kasar, malas untuk berdebat.


'Astaga, masih sempat-sempatnya mereka menyombongkan diri!' Maximus mendengar dari ujung sana.


"Apa yang kau pikirkan, Max? Kau menggunjingku?" tanya Leon, memicingkan mata.


Maximus menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.


"Tidak, Tuan."

__ADS_1


"Haaaaaaaaaaaaaa!"


Terdengar jeritan seseorang dari luar. Seketika Romeo, Leon dan Maximus mematung di tempat.


__ADS_2