Romeo Dan Wanita Malam

Romeo Dan Wanita Malam
Cie Cie Cie


__ADS_3

Suasana di dalam bus masih riuh, padahal kendaraan besar tersebut belum melaju ke tempat tujuan.


Ada yang mengipas-ipaskan tangan mereka berusaha menetralisir perasaan membara di dalam hati. Ada yang mencak-mencak sendiri mengumpati Juliet di dalam hati, mereka menatap dingin dan tajam ke arah Juliet.


"Rom, lepas aku mau duduk bersama Reza!" Juliet menyentak kasar tangan Romeo sehingga terlepas paksa.


"Kenapa kau tidak menurutiku ha?! Ayo duduk denganku, di sini!" Tunjuk Romeo di bangku sisi kiri.


Juliet semakin menggeram sebal kala ciwi-ciwi menatap lebih tajam dari sebelumnya.


"Rom, sebenarnya ada hubungan apa antara kau dan Juliet?" tanya seorang gadis berhati-hati. Sedari tadi, ia memperhatikan tingkah laku Romeo dan Juliet, sebab ia penasaran mengapa Romeo dan Juliet sepertinya sangat dekat. Padahal informasi yang ia dapatkan bahwa Romeo dan Queen menjalin kasih.


Romeo mengalihkan pandangan mata. "Juliet sepupuku!" sahutnya enteng.


Mendengar ucapan Romeo. Ciwi-ciwi menarik nafas lega. Akan tetapi rasa iri dengki masih tetap berada di relung hati mereka.


Lain halnya dengan Queen, ia berusaha mencerna ucapan Romeo barusan. "Sepupu?" gumamnya pelan.


Cih, awas kau Juliet. Aku akan membunuhmu nanti, lihat saja! Tangan Queen terkepal kuat menatap tajam Juliet yang tak menyadari tatapan yang diberikan padanya.


"Ayo sini!" Romeo menyambar lagi tangan Juliet memaksanya duduk di bangku.


Juliet menatap ke arah Reza, seakan meminta pertolongan padanya. Akan tetapi Reza malah berpura-pura menaruh ranselnya di bagasi atas bus.


Za, nyebelin banget dah! ucap Juliet di dalam hati kala Reza tak menghiraukannya.


"Kalian semua duduk di tempat masing-masing, perjalanan kita sangat panjang! Yang mau ngemil, silahkan! Mengerti?" Senior baru saja masuk ke dalam bus, ia berdiri tegap di sela-sela bangku supir.


"Siap, Kak!" sahut Maba serempak.


***


"Duh, duh!" Reza mengedip centil mata pada Juliet. Kini, Reza berdiri tegap di tengah-tengah, satu tangannya ia tautkan di atas tali pegangan. Reza menatap penuh arti ke arah Juliet.


Sementara itu, Juliet menanggapi dengan menggeram sebal.


"Eh, endut bisa geser dikit nggak?" Kei berada di samping tubuh Reza. Sedari tadi, ia juga berdiri.


"Akika punya nama ya, Resa! Bukan endut!" protes Reza seraya menyelipkan rambut ke telinga.


"Aish, dasar alien?!" Kei mendelikkan mata.


"Whats?! Akika cantik-cantik gini di bilang alien, asal you tahu ya, akika pernah menang masterchef di RCTI OKE!"


Kei seketika loading. "Heh markonah apa hubungan masterchef sama cantik?!"


Reza terdiam sesaat mencoba mencerna perkataannya yang meluncur tanpa filter tadi. "Cih, pokoknya akika pernah ikut masterchef!"

__ADS_1


Kei geleng-geleng kepala. "Dasar alien?!"


"Daripada you dasar mesyum!" Reza tak mau kalah.


"Kau berani denganku ya?!" Kei mulai tersulut emosi dengan tuduhan Reza. Gara-gara hari pertama masuk tempo lalu, ia terkenal seantero kampus, karena memiliki hobi bermain sabun. Padahal dia benar-benar bermain sabun di bak mandi dengan busa. Bukan main sabun dalam artian negatif.


"Iya akika berani! Kenapa ha?" Reza melebarkan mata.


"Stop, kalian bisa diam tidak!" sentak Kai sedari tadi terdiam memperhatikan interaksi Kei dan Reza. Ia duduk seorang diri, di depan bangku Romeo dan Juliet.


Sontak Kei dan Reza bungkam kala melihat pancaran mata Kai seakan menusuk ke dalam bola mata mereka. Keduanya pun segera memalingkan muka.


"Sorry, Kak!" Kei menepuk pundak Kai. Ia mengerti dengan kegundahan Kakaknya, bagaimana tidak gadis pujaannya saat ini duduk bersama teman akrabnya. Kei dapat melihat raut wajah Kai terbakar api cemburu. Kei mengalihkan pandangan ke arah Romeo dan Juliet sedang beradu mulut.


"Rom bisa geser sedikit nggak?" Juliet jenggah sebab semenjak bus bergerak Romeo menguasai tempat duduknya.


"Tidak bisa!" sahut Romeo lebih mendekat lagi.


"Rom, sempit sekali. Sesak tahu!" Juliet menahan sabar, ia menggeser-geser lengan Romeo.


"Kau sesak?" Romeo bertanya serius.


"Iya, sesak kalau kau himpit seperti tadi!" Juliet mendelikkan mata.


"Oh," jawab Romeo beroh ria. Ia semakin bergeser lagi.


Seulas senyum licik terbit di wajah Romeo. Lalu ia mendekat ke arah daun telinga Juliet dan mulai berbisik. "Ada syaratnya," ucapnya menatap sinis.


"Apa?" Juliet memalingkan muka kala hembusan nafas Romeo menerpa kulit wajahnya, lagi, dan lagi ia kebingungan dengan respon tubuhnya.


Akhir-akhir ini, mengapa aku selalu seperti ini sih, kalau bersama Romeo. Apa aku mempunyai penyakit jantung? Juliet dapat merasakan jantungnya berdetak amat cepat berkali-kali lipat.


"Hmm," balas Romeo, ia nampak berpikir. "Kau mempunyai syal?"


Lantas Juliet menoleh ke samping. "Syal? Untuk apa?"


"Tidak usah banyak bertanya, kau punya atau tidak?" Romeo menatap intens ke dalam bola mata Juliet.


Jantung Juliet semakin tak karuan. "Ad-a,"jawabnya tergagap sembari mengumpati dirinya sendiri di dalam hati.


"Kalau begitu, ambil sekarang!" titah Romeo tak ingin di bantah. Seperti sebuah sihir Juliet mengangguk tanpa sadar dan segera mengambil syal di dalam totebag yang ia letakkan di bawah bangku.


Juliet menyodorkan kain bermotif bunga. "Ini." Romeo segera menyambarnya. "Lalu?" tanya Juliet penasaran' syal akan digunakan untuk apa.


Romeo melirik ke kanan dan ke kiri, mengamati keadaan sekitar. Lalu beralih menatap Juliet. "Ikuti intruksiku. Jangan membantah, kalau membantah aku akan membuatmu benar-benar sesak nantinya!" Romeo mengancam.


Juliet menarik nafas panjang. "Iya, cepat katakan apa?"

__ADS_1


"Letakkan tangan kananmu di atas pahamu, lalu buka seperti ini." Romeo memberi arahan dengan menengadahkan tangan.


Juliet patuh sembari melakukan apa yang dikatakan Romeo, tanpa aba-aba, Romeo menyelipkan jari-jemarinya pada Juliet. Dan sekarang tangan keduanya saling menyatu, saling berpegangan tangan, layaknya lem prangko yang tak bisa lepas. Romeo segera menutup tangan mereka dengan cepat menggunakan syal.


Juliet tersentak kaget. Otaknya linglung, bibirnya kelu, ia terdiam seperti patung manekin. Degup jantungnya amat berisik di dalam. Telapak tangan Juliet seketika menghangat dan nyaman. "Rom," panggil Juliet tersadar dari lamunan.


"Iya," jawab Romeo singkat melirik ke samping.


"Haruskah seperti ini?"


"Harus!" Romeo mencondongkan tubuh lebih mendekat.


Juliet menatap ke arah Reza yang sedang menyantap coklat beng-beng. Ia tak berani melihat Romeo, ia semakin heran terhadap dirinya sendiri. "Kenapa?" Juliet bertanya tanpa menatap lawan bicara.


"Kau tahu tadi ada seorang gadis menyentuh tubuhku, dan tubuhku sekarang gatal-gatal jadi kau harus menyembuhkannya." Romeo semakin mengeratkan jari-jemarinya.


Juliet tak menyahut. Akan tetapi ia teringat perkataan Mommy Lily kemarin yang meminta Juliet untuk menjaga Romeo dengan baik di Hutan Anggora, takut-takut terjadi sesuatu di sana. Yah, mertuanya menceritakan insiden Romeo yang pernah gatal-gatal akibat seorang wanita nekad memeluknya.


Juliet tergugu kala merasakan sentuhan kulit Romeo membuat darahnya berdesir naik. Ia memalingkan muka menghadap jendela bus menyembunyikan semburat merah di kedua pipinya.


"Jul! Kenapa kau diam?" Romeo bertanya menunggu jawaban dari Juliet.


"Iya, aku akan menyembuhkanmu." Juliet menutupi kegugupan yang mendera. Kepala Juliet tak bergeming dari posisi semula.


Seulas senyum tipis terbit di wajah Romeo. "Oke. Aku mau tidur, ngantuk." Tanpa aba-aba Romeo menyandarkan kepala ke pundak Juliet. Ia memposisikan badannya senyaman mungkin dan mengatup kedua matanya perlahan.


Nafas Juliet tercekat. Kala Romeo menaruh kepala di bahunya. Degup jantungnya berdetak lebih kencang, mungkin-mungkin bisa saja meloncat keluar sekarang juga. Ia mematung di tempat mencoba memahami sikap Romeo yang tiba-tiba aneh. Tanpa sadar ia menoleh ke samping.


Deg.


Astaga, Rom. Apa yang kau lakukan? Jangan membuat jantungku seperti ini. Lebih baik kau membentakku saja. Aku sangat tidak suka.


Semula Juliet ingin memarahi Romeo, akan tetapi melihat raut wajah Romeo yang teduh. Ia mengurungkan niatnya. Apa lagi sekarang, ia dapat mendengar dengkuran halus Romeo. Juliet sejenak terpana dengan paras Romeo. Detik kemudian Juliet geleng-geleng kepala.


Kemudian Juliet beralih mengedarkan pandangan di dalam bus, dan tanpa sengaja bola matanya bersitatap dengan Reza.


Reza menatap penuh arti. Lalu mulai membuka bibir, tapi mode silent alias diam' tak bersuara. "Cie, cie, cie." sahutnya sembari mengedipkan mata centil.


Juliet paham betul apa yang dikatakan Reza. Ia terlihat salah tingkah. Rona merah di wajah Juliet semakin nampak jelas. Ia memalingkan mukanya kembali ke jendela.


Rom, kau membuatku bingung terhadap sikapmu! Juliet berusaha melonggarkan sedikit jari-jemarinya tapi tidak bisa, seperti lem saja.


.


.


.

__ADS_1


Cie cie cie yang nungguin, sabar ya hahaha.


__ADS_2