
Masih di basement Mall. Kini, Juliet dan Reza berada di dalam mobil. Reza membiarkan Juliet menumpahkan semua luapan emosinya. Pria gemulai itu duduk di kursi kemudi, menyibukkan diri memainkan ponsel, kedua matanya melirik sekilas, melihat tubuh Juliet masih bergetar pelan.
Cukup lama Juliet menangis, entah mengapa rasanya amat sesak. Romeo sudah mengoreskan luka dihatinya. Bayangan Romeo dan Queen sedang berpelukkan dan mencium satu sama lain, berputar-putar di dalam benaknya. Juliet tak habis pikir, setelah melakukan dua kali berhubungan badan. Romeo mencumbu wanita lain, selain dirinya. Sempat terpikirkan, apakah Romeo dan Queen sudah pernah berhubungan badan, selayaknya suami istri. Juliet hanya bisa menerka-nerka. Pikiran negatifnya sudah melanglang buana entah ke mana.
Juliet berharap rasa suka, rasa sayang, dan rasa cinta ini bisa sirna sekarang jua. Ternyata perasaan cintanya pada musuh sekaligus suami di atas kertasnya itu, sudah terlalu dalam. Hingga ia pun sakit sendiri. Dia berharap Romeo dapat membalas cintanya. Tapi apa? Romeo malah mencintai Queen. Sosok primadona yang selalu membulinya dahulu.
Puas menangis, Juliet menyeka jejak tangisnya. Kedua matanya nampak sembab akibat terlalu lama menangis.
Wanita bermata hitam legam itu, menarik nafas panjang setelah tangisnya benar-benar mereda. Ia melirik Reza. "Za," panggilnya dengan suara serak.
Reza menoleh sembari menghentikan gerakan tangan di layar ponsel. Secepat kilat ia menaruh benda pipih itu di dashboard mobil.
"Hmm." Balasan pendek Reza. Jarang-jarang dia mengucapkan kata hmm.
"Za, benar katamu benci dan cinta itu sangat tipis."
Reza mendesah pelan. "Akika udah bilangin, Kan kemarin. Benci dan cinta itu setipis kulit ari, semula you membenci tapi lama' kelamaan you cinta. Begitu pula sebaliknya Jul, cinta bisa jadi benci." Satu tangan Reza menyambar tisu di atas dashboard. Kala melihat Juliet sesenggukkan.
"Nih lap tuh ingus you!"
Juliet tersenyum tipis dan mengambil lembaran putih itu. Lalu mengusap pelan hidungnya.
"Aku mencintai, Romeo, Za. Aku mau banget hilangin rasa cinta ini kalau bisa. Tapi...."
Perkataan Juliet menggantung di udara. Bibirnya kelu, buliran air kembali meleleh.
"Aduh, iya udah. Kalau you memang cinta sama Romeo. You harus perjuangin. Asal you tahu ya, akika pikir Romeo juga suka sama you pas di dalam bus, waktu Leadership Camping, dia pegang-pegang tangan you." Reza menjeda ucapan sambil menarik nafas.
'Seandainya saja kau tahu, Za. Romeo memegang tanganku karena dia gatal gara-gara kutukan itu."
"Tapi, setelah akika perhatikan. Tebakan akika salah. Akika bisa lihat sendiri tadi, Romeo cemas banget pas you dorong Queen. Queen juga tuh lebay, padahal tadi akika lihat you nggak sengaja dorong dia. Uhh ular kayak Queen mah harus dibasmi."
Juliet memberikan ruang pada Reza untuk berbicara.
"Jadi, akika saranin you rebut Romeo dari Queen! You istrinya lebih berhak atas Romeo, walaupun kalian menikah kontrak. Sebelum masa kontrak habis you harus memperjuangkan Romeo. Jangan kayak akika, akika mundur dulu sebelum berjuang..." Pikiran Reza menerawang pada sosok wanita' cinta monyetnya. Suara pria gemulai itu terdengar sedih.
Tangis Juliet mereda, mendengar perkataan Reza. Benar kata Reza, ia harus memperjuangkan cintanya. Mungkin saja, Romeo akan luluh suatu saat nanti. Wanita berparas manis itu, menoleh. "Za," panggilnya sambil menyentuh pundak Reza.
"Hehe, sudah jangan nangis lagi. Tenang akika udah move on kok, kita fokus sama you dan Romeo. Nah sekarang you ikut rencana akika!" Raut wajah Reza berubah dratis, senyum iblis terpatri jelas diwajahnya.
Juliet bergedik ngeri, sejenak. Lalu meraba lehernya, entah mengapa bulu kuduk berdiri.
"Bagaimana caranya?" Juliet teramat penasaran. Semoga saja rencana Reza berhasil. Walaupun sebenarnya Juliet sedikit meragu. Takut, jika rencana Reza nyeleneh.
***
Sebuah mobil mewah berhenti di kediaman Lamington. Queen menyembul dari balik pintu mobil. Senyum manis terukir diwajahnya. Romeo juga turun dari mobil.
"Babe, aku masuk dulu ya. Besok jemput aku lagi."
__ADS_1
Romeo mengangguk.
"Queen, sudah pulang, Nak?" Mama Queen melihat Romeo dan Queen di teras depan.
Lantas wanita setinggi 160 cm itu menoleh. "Iya, Ma."
Mama Queen tersenyum, lalu melirik Romeo. "Nggak masuk dulu, Rom?"
"Nggak, Tante. Sudah malam saya permisi dulu Tante."
"Wah kamu memang calon menantu idaman, Tante. Ya sudah, pulangnya hati-hati ya. Queen ayo masuk!"
"Tunggu sebentar, Ma!"
Queen memegang kedua tangan Romeo lalu berjinjit, kemudian melabuhkan kecupan di pipi kekasihnya.
***
Setelah, mengantarkan kekasihnya selamat sampai tujuan. Romeo melajukan kendaraan menuju Mansion. Tak butuh waktu lama, mobil berwarna hitam pekat berhenti di pelataran parkiran. Romeo bergegas turun lalu melangkah dengan gontai masuk ke dalam Mansion.
"Sudah pulang, Den." Mbok Inah menyapa ramah.
"Iya, Mbok. Ada apa?" tanya Romeo heran, tidak biasanya Mbok Inah di jam segini masih terjaga.
Mbok Inah tersenyum simpul. "Hehe, ada Non Juliet di atas," kata wanita paruh baya itu.
Lantas Romeo segera mengayunkan kaki tanpa membalas perkataan Mbok Inah. Sesampainya di pintu kamar. Romeo memutar gagang. "Juliet!"
Juliet berbalik. "Aku kangen, Hiro. Lagian tadi aku sebenarnya hanya sebentar ke sini tapi-"
"Aku tidak menyuruhmu ke sini!" kata Romeo ketus.
"Memangnya kenapa? Aku tidak boleh ke sini. Aku ini istrimu!" Juliet hendak berjalan menuju ranjang.
Romeo mendengus. Ia malas berdebat. "Kenapa selimutku kau pakai?!" Tangannya menarik selimut di tubuh Juliet.
Juliet memekik. "Haaa! Jangan Rom!"
Deg.
Romeo terpaku, melihat Juliet memakai pakaian yang amat transparan berwarna dustypink. Lekukan tubuh Juliet nampak seksi dan menggoda, aroma parfum bernuasa lembut menguar dari tubuh Juliet. Dia menelan saliva dengan kasar.
Juliet berdiri sembari menutup dua gunung Himalaya miliknya. Dia merutuki rencana picik Reza, yang membuatnya hilang akal sehatnya. Tadi, Reza memerintahkan dirinya, menggoda Sang suami dengan memakai pakaian dinas dan menyemprotkan parfum yang Juliet sendiri tidak tahu apa kegunaan parfum itu.
Tanpa pikir panjang Juliet pergi ke Mansion dan memakai pakaian yang dibelikan Reza tadi sebelum mereka ke Mansion. Namun, setelah dikenakan Juliet dilanda kebingungan, pakaian yang diberikan Reza amat transparan. Ia berniat mengganti pakaian, akan tetapi sebelum pergi ke toilet. Dia mendengar suara pintu dibuka. Panik, Juliet berjalan cepat, mendekati tempat tidur dan menyambar selimut.
Gleg!
Lagi, dan lagi Romeo menelan saliva kasar.
__ADS_1
"Kenapa kau memakai baju itu? Kau mau menggodaku?" tanya Romeo tersenyum penuh arti.
"Tidak! Siapa juga yang mau menggodamu! Aku lupa membawa baju, tadi aku meminta Mbok Inah pakaian tidur. Tapi yang diberikannya baju si-alan ini!" Juliet berkilah, hanya kalimat itu yang terlintas dibenaknya.
'Maafkan aku, Mbok Inah.'
Romeo mencibir. "Baiklah, karena hari ini cuaca dingin, hangatkan tubuhku! Asal kau tahu saja, kutukanku belum hilang sepenuhnya. Hanya gatal-gatalku saja yang hilang. Jadi..." Romeo melangkah cepat sambil menarik tangan Juliet dalam satu kali hentakan.
Juliet memekik. "Ha! Romeo!"
Romeo malah mendorong Juliet ke atas kasur. Dan segera menindih tubuh ramping Juliet. Kemudian melahap habis bibir ranumnya.
"Romeo! Sesak tahu!" Juliet berkata setelah Romeo melepaskan tautan bibir.
"Kenapa? Bukankah kau sudah biasa dengan banyak pria di luar sana?"
Juliet menahan sebal mendengar kalimat yang terlontar dari bibir Romeo. "Iya, sudah banyak! Tapi, tetap saja sesak!"
Romeo tak mengubris perkataan Juliet. Lantas kembali mema-gut bibir sensual Juliet. Ia melancarkan serangan dengan merobek paksa pakaian transparan Juliet, tanpa menghentikan lidahnya yang sudah bermain liar di rongga mulut Juliet.
"Aku menbencimu, Rom. Ini sangat perih!" Juliet berseru kala Romeo mengigit bibir bawahnya hingga keluar darah sedikit.
Nafas Romeo memburu. "Kau bilang apa tadi?!"
"Aku bilang, aku membencimu! Kau tuli atau apa?!"
"Ulangi lagi!"
"Aku membencimu!"
"Lagi!!!"
Juliet mulai tersulut emosi, kala mendengar suara Romeo meninggi.
"Aku sangat membencimu, Romeo Andersean!"
"Sangat mem-"
Dengan cepat Romeo memotong perkataan Juliet dengan meraup habis bibir Juliet. Tubuh keduanya sudah polos. Tanpa menunggu lama, Romeo mendorong ular piton ke dalam gua berhantu Juliet. Ranjang kembali bergoyang untuk ketiga kalinya.
Sudah dua jam berlalu. Erangan dan des@han masih terdengar di kamar luas Romeo. Juliet terperangkap pada permainannya sendiri. Romeo semakin menggila kala Juliet memanggil namanya berulang kali.
"Ahhh!" Tubuh keduanya bergetar hebat. Romeo menjatuhkan kepala di dada Juliet.
"Kenapa kau mengeluarkannya di luar?"tanya Juliet melihat Romeo malah mengeluarkan susu kental asin di atas perutnya.
"Memangnya kau mengharapkan apa? Hamil? Jangan mimpi!"
Deg.
__ADS_1
'Juliet, kau harus kuat! Ini baru permulaan perjuanganmu!'