
Masih di ruang teater. Selama lima belas menit, film telah diputar. Film yang sedang hangat diperbincangkan khalayak ramai, menjadi pilihan Reza. Walau pun dia sangat takut. Tapi pria gemulai, bertubuh gempal itu amat penasaran. Takut, tapi kepo tingkat Dewa. Sedari tadi, dia menjerit-jerit bersama Duo Biang Keladi. Juliet hanya bisa menghembuskan nafas pelan kala tubuh Reza bergerak bagaikan cacing kesiram air panas. Tubuhnya terguncang ke kanan, kala Reza kembali menjerit. Dia tak menikmati film yang disuguhkan di layar depan.
Juliet mendengus. Lalu melirik ke samping. Tangannya masih di genggam Romeo. Kedua matanya menatap sinis.
'Lepaskan tanganku!'
'Pegang saja tangan kekasihmu itu!'
'Kau tuli atau apa ha?!'
Ungkapan suara hati Juliet, berharap Romeo mengerti melalui pancaran matanya. Tapi, Romeo hanya menatap datar dan tak mengubris sama sekali tatapan tajam Juliet. Apakah lelaki itu tak mengerti, atau sedang berpura-pura? Juliet mulai tersulut emosi.
'Ish!'
Tak kehabisan akal. Lantas Juliet segera menggerakkan genggaman ke arah mulutnya, lalu mengigit kuat punggung tangan Romeo.
Romeo meringis?
Oh tidak!
Lelaki itu tak bergeming, meski Juliet sudah mengukir jejak di tangannya. Romeo kembali menoleh ke layar depan tanpa mengendurkan tautan sedikit pun.
Dahi Juliet berkerut, ia menurunkan tangannya. 'Kenapa dia nggak kesakitan sih?!'
"Haaaaaaaaaa!" Reza dan Si Kembar mulai menjerit lagi.
Juliet tersentak kaget. 'Astaga!'
"Juliet, seram banget!" Reza menutup matanya padahal jemari gempalnya masih ada cela, tidak sepenuhnya tertutup.
Juliet mencibir. "Seram apanya!?" Wanita manis itu menahan sabar akan situasi sekarang. Bagaimana tidak, di kedua sisi, Reza dan Romeo membuat dirinya sebal. Apalagi Queen sekarang semakin menempel dengan Romeo.
Tanpa banyak pikir. Juliet mengeratkan genggaman dengan sangat kuat. Romeo tersentak sembari mengibaskan cepat tangannya.
Senyum penuh kemenangan terukir di wajah Juliet.
"Kau pikir aku tidak berani?!" Melirik sinis sambil memalingkan muka.
***
Lampu teater dinyalakan. Reza masih menutup mata sembari mendekatkan punggung ke tubuh Juliet.
"Za!" Juliet mendorong Reza. Sebab badan pria gemulai itu menghimpit tubuhnya, hampir saja dia sesak nafas. Bukan apa, badan Reza melebihi kapasitas.
"Eh ayam ayam ayam!" Reza latah, lalu menoleh ke samping. Ia menyengir kuda. "Hehe, maaf Jul. Akika syok tahu. Boneka Annabellenya serem juga ternyata."
Mata Juliet mendelik. "Seram dari Hongkong, biasa aja, Za."
__ADS_1
"Iya, seram ya, Babe. Aku takut banget!" Queen berbicara pada Romeo. Seakan ingin dimanja, dan dibelai oleh Sang kekasih. Namun, Romeo hanya mengelus-elus punggung Queen.
Juliet tersenyum smirk. Menoleh sekilas pada Queen. "Cih, manja dan penakut!" Matanya tak sengaja menatap Romeo. Darahnya kembali berdesir, melihat Romeo memperlakukan Queen bak ratu.
Queen beranjak, sembari menggepalkan tangan.
"Kau!"
"Sudah, sudah! Lebih baik kita keluar dulu, film juga sudah habis," sergah Kai cepat, takut jika Queen menjambak atau melakukan hal di luar batas pada Juliet. Walaupun pria blasteran itu tahu, Juliet pasti bisa membalas balik. Tapi, dia tak mau pujaan hatinya terluka sedikit pun.
Juliet mendengus. "Iya, ayo. Kita pulang, Za!"
"Eh, jangan, lebih baik kita makan malam. Ingat ini malam minggu kita santai-santai saja dulu, tenang Kakakku akan mentraktir kita semua! Hehe," ajak Kei sambil memperlihatkan gigi putihnya pada Kai' yang hanya melonggo mendengar perkataan Kei.
"Terserah!" Juliet menarik lengan Reza.
***
"Eh, kenapa kalian ikut?!" Reza jenggah dengan Romeo dan Queen yang ternyata masih mengekori mereka.
Sepasang sejoli itu tak mengubris pertanyaan Reza, asik dengan dunia milik berdua.
Lantas Reza, menoleh pada Kai. "Akika nggak jadi makan, kalau mereka ikut. Bisa muntah akika, lihat muka wewe gombel yang jelek itu!" seru Reza, melirik tajam Queen.
Queen meradang. Lalu berjalan mendekat.
"Heh, banci! Kau berani sama aku?!" Tangannya terangkat ke udara, hendak melayangkan tamparan.
"Kau berani denganku?!" tanya Queen mengebu.
Plak. Tamparan dilayangkan di pipi kanan Juliet. Tanpa sengaja Juliet mengibaskan tangan Queen hingga Queen terjatuh ke bawah.
"Awh!"
"Apa yang kau lakukan, Juliet?!" bentak Romeo sembari membantu Queen bangkit.
Juliet mematung di tempat. Romeo memarahinya di tempat keramaian. Tadi, Juliet tak berniat sedikit pun membuat Queen terjembab ke lantai. Padahal gerakan tangannya tadi tidak lah kuat. Apakah Queen tengah bersandiwara? Agar menarik perhatian kekasihnya. Juliet tergugu, tak menjawab sama sekali, dia hanya menatap nanar Romeo, sedang mengusap perlahan punggung Queen.
"Kau kasar sekali!" Gurat kekhawatiran terukir diwajah Romeo.
Apa? Juliet tidak salah dengarkan? Kasar? Dan Romeo lebih mengkhawatirkan Queen daripada dirinya?
Entah apa maksud Queen. Kedua mata wanita itu mulai menetes. "Babe, kita pulang saja yuk. Lihat lah sepupumu itu kasar sekali!" Queen merengek sambil menyembunyikan wajah di dada Romeo.
Romeo mengangguk, tanpa menatap ke arah Juliet, lelaki itu berlalu pergi bersama Queen.
Juliet masih terpaku. Hatinya di tancap ribuan belati lagi. Sebisa mungkin ia meredam rasa cemburunya. Romeo memperlakukan dirinya seperti seorang penjahat!
__ADS_1
Dia menarik nafas panjang, lalu melirik Reza, Kai dan Kei.
"Ayo, kita makan!"
"Kau nggak apa-apa, Jul?" Kai dan Kei nampak cemas, melihat pipi Juliet memerah.
Reza memegang pundak Juliet. "Jul, maafin aku. You nggak apa-apa, Kan?" tanyanya, cemas.
Juliet tersenyum getir.
"Nggak apa-apa kok. Tenang aja, dulu juga aku ikut Muay Thai lebih parah dari ini." Sebisa mungkin Juliet menampilkan raut wajahnya baik-baik saja. Terkekeh pelan, sembari mengedarkan pandangan kala pengunjung Mall melihat kejadian barusan. Ia membungkuk sedikit sebagai tanda permintaan maaf.
'Seandainya saja kau tahu, Za. Hatiku yang perih dan sakit.'
***
Setelah selesai menyantap makanan di Restaurant Jepang. Reza dan Juliet memutuskan untuk bergegas pulang. Kai dan Kei pun jua pulang ke Mansion.
Basement Mall. Juliet melangkah perlahan menuju kendaraan Reza. Sementara, Reza sudah berada di dalam mobil. Tadi, Juliet membuang air kecil dahulu ke toilet.
Tungkai kaki Juliet terhenti. Matanya melebar kala melihat pemandangan yang kembali membuat jantungnya teriris lagi. Romeo dan Queen tengah berciuman di luar mobil.
Juliet memalingkan muka lalu bersembunyi di balik pilar basement. Dadanya bergemuruh. Ingin melabrak keduanya sekarang jua. Tapi, sayang seribu sayang. Keinginan hatinya tak selaras dengan otaknya. Ia mengigit bibir bawahnya.
Entah datang dari mana seseorang menyambar cepat tangannya. Juliet terlonjak kaget, tubuhnya berputar. Sebelum melayangkan pukulan, gerakan tangannya berhenti kala melihat ternyata orang itu adalah Romeo.
"Pergi kau sana!" Juliet mendorong kasar tubuh Romeo.
Romeo tak gentar. Ia hendak menarik pinggang Juliet. Wanita itu tak mau kalah, Juliet memberontak.
"Apa yang kau lakukan?!" Nafasnya memburu, bisa-bisanya suaminya ingin memeluknya setelah mencumbu wanita lain didepannya.
Plak.
"Aku membencimu, Romeo!" Juliet menjerit.
Romeo meringis pelan. Ia tak mengubris hanya melayangkan tatapan yang sulit diartikan.
"Aku membencimu!" Untuk kedua kalinya Juliet berteriak. Dia berlalu pergi meninggalkan Romeo mematung di tempat. Pria itu sama sekali tak mengejarnya, kedua matanya hanya menatap datar punggung Juliet dari kejauhan.
Juliet melangkah cepat. Tanpa sadar kedua matanya mulai berembun. Dia tak mampu lagi. Kepalanya menunduk ke bawah.
'Tapi aku juga mencintaimu!'
Kedua mata Juliet sudah menganak sungai. Jari-jemarinya menyeka cepat air yang menetes. Ia mengigit bibir bawah lagi, agar berhenti menangis. Tapi bukannya berhenti malah mengalir semakin deras.
"Juliet!"
__ADS_1
Reza menatap sahabatnya di depan. Mengangkat wajah, ayunan kaki Juliet terhenti. Sedari tadi tangannya tak berhenti bergerak mengusap pelupuk matanya.
"Berhenti lah menangis! Simpan saja air matamu itu. Kau tak boleh menangis, karena ulah si ular kadut itu! Akika akan mengajarkanmu, menjadi istri rasa pelakor!" seru Reza, tersenyum licik.