
Di atas pintu ruang operasi, lampu berwarna merah masih menyala. Romeo tengah duduk di kursi tunggu sembari menundukkan kepala. Sementara, Leon, Lily, Reza, dan Maximus duduk pula tak jauh dari Romeo. Yellow dan Marco baru saja tiba, keduanya barusan pulang dari kantor polisi, mengurus Queen yang sudah mendekam di penjara. Kei mengekori kedua orangtuanya dari belakang. Ketiganya langsung duduk, di samping Leon dan Lily.
Dari kejauhan Kai berada di balik pilar. Dia dapat melihat begitu terpukulnya Romeo, dengan keadaan istrinya sekarang yang kritis. Dari informasi yang dia dapatkan dari Kei. Tusukan di perut Juliet lumayan banyak. Pikiran negatifnya melanglang buana entah kemana. Dia berharap pujaannya baik-baik saja.
Sewaktu di markas Q, ia dan Romeo berbincang mengenai Juliet. Romeo berkata jujur, jika dia mencintai Juliet dan meminta dirinya tak menaruh rasa lagi pada istrinya. Bagai di tikam beling, harapan untuk memiliki Juliet sirna begitu saja. Walau bagaimana pun, dia tak mau menjadi perusak hubungan sahabatnya itu. Dia mengatakan pada Romeo akan menghapus nama Juliet di hatinya. Akan tetapi, itu hanya di mulut saja, sebab tak semudah itu, menghilangkan Juliet dari hati dan pikirannya.
Seketika kedua mata Kai berembun, rasanya sakit, dan sesak secara bersamaan menjalar di relung hatinya. Cukup lama dia berdiri, memperhatikan lampu di atas ruangan, tak jua padam.
"Juliet..." desis Kai pelan sembari menyeka jejak tangisnya.
"Rom." Lily menyentuh pundak sang anak, yang sedang melamun.
Romeo tak bergeming, masih menunduk. Mengapa tidak dia saja yang ditusuk Queen, mengapa harus Juliet? Dia membenci dirinya sendiri karena tak bisa melindungi istrinya.
Lily menghela nafas, saat tak mendapatkan balasan, melirik sekilas pada Leon yang juga mengamati putra bungsunya. Keduanya berbicara melalui gerakan mata.
Seketika Lily beranjak, berdiri di depan sang anak, kemudian membungkukkan badannya sedikit, lalu menyentuh kedua pundak Romeo.
"Bersabar lah, Nak. Operasinya pasti berhasil!" Lily menyemangati Romeo, walaupun sebenarnya dia tahu luka yang didapatkan Juliet cukup parah.
Romeo mengangkat wajah. Matanya mulai berkaca-kaca lagi. Dia merengkuh dan mendekap Mommynya. Lily membalas memeluk anaknya.
"Juliet, Mom..." Tubuh Romeo bergetar pelan di dalam dekapan Lily.
Semua orang yang menyaksikan terhenyuh mendengar isakan tangis Romeo. Dari kejauhan Kai juga masih menitihkan air mata. Dia tak sanggup, jika berada di posisi Romeo. Pria blasteran itu tak berani mendekat.
"Marco, bagaimana dengan wanita gila itu?" tanya Leon pelan.
Marco mulai mendekatkan bibirnya di daun telinga Leon.
"Sudah kami tangani, wanita itu benar-benar gila, dia sudah menyiapkan semuanya, dan berkerjasama dengan seorang narapidana yang menjadi DPO juga. Tadi, di kantor polisi, dia juga menyerang polisi wanita."
"Lalu? Bagaimana dengan pria itu, sudah ditangkap juga?"
"Sudah."
Leon membuang nafas pelan.
"Aku tak tenang, walau wanita itu sudah di tahan. Apakah keluarganya sudah diberitahu polisi?"
"Sama, dia benar-benar psikopat. Seperti Arnold dulu. Kelurganya sudah tahu, mereka menyerahkan semuanya kepada penyidik."
*
*
Empat puluh lima menit berlalu, tangis Romeo sudah mereda. Dia duduk tanpa ekspresi, memikirkan operasi yang berlangsung cukup lama menurutnya. Sudah satu jam, Juliet masih berada di ruang operasi. Namun tak ada tanda-tanda, lampu akan padam. Rasa gelisah dan resah masih melandanya.
Tiba-tiba lampu di atas ruangan padam. Reflek, Romeo beranjak, lalu berjalan cepat ke daun pintu.
Bersamaan pula, pintu ruangan terbuka.
"Bagaimana keadaan istri saya, Dok? Dia baik-baik saja, Kan?" cecar Romeo pada sang Dokter.
Dokter membuka masker mulut, tersenyum sesaat, lalu berkata,"Operasinya berhasil tapi karena kehilangan banyak darah, kondisi pasien kritis, dia akan dipindahkan ke ruang ICU. Bapak tenang saja, istri anda orang yang kuat dan tangguh." Dokter menyemangati Romeo, kala melihat pancaran mata Romeo nampak sedih.
Semua orang yang mendengarkan, menarik nafas lega. Mereka berdoa agar Juliet dapat segera pulih.
"Terimakasih, pak." Romeo menghela nafas pelan.
"Oh, ya pak. Bisa ikut saya ke ruangan, ada yang ingin saya sampaikan, ini mengenai kondisi istri anda." Raut wajah Dokter terlihat serius.
Lantas, Romeo tak langsung menjawab. Dia menoleh langsung ke arah Mommynya. Keduanya saling melemparkan pandangan.
*
*
__ADS_1
*
Kini, Romeo dan Lily berada di ruang kerja Dokter. Keduanya duduk berhadapan dengan Dokter Veer. Dokter spesialis bedah yang baru saja menangani langsung operasi Juliet. Dokter menarik nafas pelan, melihat guratan kecemasan terpatri jelas di wajah keluarga pasien yang ia tangani.
"Begini, Pak, Buk. Suatu keajaiban pasien dapat bertahan, luka yang didapatkan Juliet sangat parah, hingga melukai bagian perut bawahnya."
Romeo berkedip pelan, entah mengapa perasaannya tak karuan.
"Lalu, Dok? Masalahnya apa?" tanyanya tak sabaran. Di samping, Lily menenangkan putra bungsunya dengan mengelus perlahan punggung belakang.
Bibir Dokter mulai membuka kembali.
"Karena luka yang didapatkan pasien mengenai dinding rahim lumayan dalam, kecil kemungkinan Juliet bisa memiliki anak."
Jedar. Bagai di sambar petir, Romeo terpaku di tempat mendengar penuturan Dokter. Begitu juga dengan Lily.
"Jadi, sebaiknya, anda sebagai seorang suami mendampingi istrinya. Kebanyakan pasien yang mengalami serangan akan mendapatkan trauma berlebihan. Semangati dia, dampingi dia dan selalu berikan dukungan kepada istri anda."
Romeo termenung, lelehan air mata kembali menetes.
*
*
Sudah satu minggu berlalu, Juliet akhirnya melewati masa kritis. Romeo setiap hari mengunjunginya, berbicara padanya, walau Juliet tak membalas ucapannya sama sekali. Pria itu setiap hari pula mengecup kening sang istri, memberikannya kekuatan agar sang istri dapat membuka matanya. Juliet juga sudah dipindahkan ke ruang rawat inap khusus VIP.
Romeo tengah duduk di samping bed sembari mengenggam erat tangan sang istri.
"Sayang, cepat lah bangun, aku menunggumu." Jari-jemarinya mengelus punggung tangan Juliet. Kedua matanya tak bergeming sedikitpun, memperhatikan wajah Juliet yang tak terlihat pucat lagi. Romeo meminta izin pada sang ayah menunda dulu kegiatan perkuliahannya. Dia ingin menemani sang istri hingga benar-benar pulih.
Terdengar bunyi pintu terbuka, lantas Romeo menoleh sekilas, melihat kedua orangtuanya baru saja tiba.
"Bersabar lah, Nak. Juliet pasti sebentar lagi sadar." Lily mendekati Romeo dan memegang pundak putranya. Romeo membalas perkataan Mommynya dengan mengangguk.
"Rom, kau sudah tahu Queen bunuh diri," desis Leon tanpa ekspresi. Mendengar sebuah nama yang sangat dia benci, Romeo mengalihkan pandangan mata ke arah Daddynya.
"Iya, Nak. Dia loncat dari gedung, kemarin sempat melarikan diri dari kantor polisi. Televisi ramai dengan pemberitaannya, Nak," jelas Lily singkat.
"Hmm," Romeo hanya berdeham, malas untuk bertanya lagi. Setidaknya wanita itu tak akan menganggu Juliet lagi.
Tiba-tiba jari telunjuk Juliet bergerak pelan. Romeo tertegun, melihat pergerakan tangan sang istri. Dengan sigap, tubuhnya beranjak dari kursi.
"Sayang," panggil Romeo pelan.
Kelopak mata Juliet seketika terbuka pelan, dia meringis sesaat kala merasakan rasa perih di bawah perutnya. Penglihatan pertamanya wajah Romeo yang selalu hadir di mimpinya. Seulas senyum tipis terpatri di wajahnya.
"Romeo..." panggilnya lirih.
Tanpa aba-aba Romeo memeluk tubuh sang istri sejenak, kemudian melabuhkan kecupan berkali-kali di kening Juliet.
"Sayang, jangan pernah tinggalkan aku, dengar!" sahut Romeo tegas sambil tetap memeluknya.
"Ya ampyun, mata akika sakit deh!" Reza menyelonong masuk ke dalam ruangan tanpa ketukan, tanpa permisi.
Lantas, semua orang yang berada di ruangan menoleh ke sumber suara.
"Mata sakit periksa sana!" kata Romeo ketus sambil mendengus.
"Dasar bucin!" Reza menggerakkan badan bagai ulat bulu.
"Oh my God, Jul. You lama banget sih tidurnya. Akika sampai kurus tahu, nih lihat perut akika kempis 1 cm!" sahut Reza berapi-api. Menunjukkan pula lemak perutnya yang menyembul keluar.
Leon dan Lily geleng-geleng kepala melihat tingkah Reza. Sedangkan Romeo malas berdebat karena fokusnya hanya satu, istrinya.
"Tapi kau masih tetap gembul Za," ucap Juliet pelan.
"Whats?! You bilang akika gembul, enak aja. Body mirip model gini di bilang gembul, akika smackdown nanti you." Reza memberengut kesal.
__ADS_1
"Kau yang akan aku smackdown!" Romeo menatap tajam.
Juliet tersenyum tipis, melihat tingkah Reza dan Romeo, lalu tiba-tiba raut wajahnya berubah."
"Sayang, apa benar aku tak bisa memiliki anak?"
Deg.
Romeo mematung, dari mana Juliet tahu. Padahal dia baru saja terbangun. Dia tak langsung menjawab, kedua matanya melirik Leon dan Lily secara bergantian, begitu pula Reza jadi terdiam tak seperti tadi. Suasana di ruangan menjadi hening.
Leon dan Lily mengisyaratanak Reza keluar bersama mereka. Reza paham, ketiganya berjalan pelan ke arah pintu, memberikan ruang untuk sepasang suami istri itu berbicara.
"Sayang? Kenapa diam?" tanya Juliet lagi, kala tak mendapatkan balasan. Wanita itu ingin duduk di bed. Dengan sigap Romeo mengubah pengaturan bed, agar Juliet dapat setengah duduk di brangkar.
Setelah, Juliet nyaman dengan posisi tubuhnya. Bibir Romeo mulai membuka.
"Dari mana kau mendengarkan hal itu?"tanyanya sambil menangkup kedua pipi Juliet.
"Semalam aku mendengar suara Aunty Yellow berbicara bersama Mommy," sahutnya pelan sambil menunduk.
Mendengar hal itu, Romeo segera merengkuh tubuh istrinya. Dia memeluk erat sang istri. Rencanaya dia ingin memberitahukan keadaan Juliet setelah dia keluar dari rumah sakit. Namun, siapa sangka, Juliet sudah mengetahui. Bibir Romeo benar-benar kelu. Dia tak tega melihat istrinya menangis, sekarang Romeo dapat merasakan tubuh Juliet bergetar pelan.
"Berarti benar aku tidak bisa mempunyai anak," sahutnya di dalam dekapan Romeo.
"Aku takut kau akan meninggalkanku...."
Romeo melonggarkan pelukkan.
"Shft, aku tak akan meninggalkanmu sayang, mau kau mempunyai anak ataupun tidak, aku tak peduli."
"Tapi, aku pernah membaca novel-novel, para suami akan berubah pikiran setelah menjalani kehidupan pernikahan, mereka akan membeli rahim seseorang, lalu..."
Romeo terkekeh pelan. "Lihat lah istriku, di tipu oleh novel." Romeo menjepit gemas hidung sang istri.
"Tapi aku tak bisa menjadi seorang ibu sesungguhnya." Suara Juliet terdengar serak.
"Siapa yang bilang, kita bisa mengangkat seorang anak, aku hanya ingin kau selalu bersamaku itu sudah lebih dari cukup sayang."
"Tapi, bagaimana dengan Mommy dan Daddy?"
"Hei, dengarkan aku, mereka mendukung apa pun keputusan kita." Romeo menyeka jejak tangis Juliet. Juliet tak membalas ucapan Romeo, hanya terdiam.
"Sayang, jika orang bertanya siapa yang paling aku cintai, antara anak dan istri. Aku pasti akan memilih istriku ini, mau tahu kenapa?"
Juliet menggeleng pelan, menunggu jawaban sang suami.
"Jika kita mempunyai seorang anak, mereka akan tumbuh dewasa, menikah dengan istri atau suaminya dan akan pergi meninggalkan kita. Sedangkan kau akan selalu bersamaku, di sisiku, kita akan menua bersama hingga menutup mata."
Juliet membenamkan wajahnya di dada Romeo, dia kembali terisak.
"Masalah keturunan sudah di atur oleh Sang Pencipta, rezeki sudah di atur sayang. Apa kau sudah tahu kalau keempat kakakku semuanya bukan kakak kandungku. Terutama Kak Lunna, dia tak ada ikatan darah sama sekali denganku. Tapi Daddy dan Mommy menyayangi Kak Lunna seperti anak kandungnya sendiri, mereka tak pernah membeda-bedakan kami." Romeo mengelus pelan punggung Juliet.
Juliet terhenyuh dengan perkataan Romeo. Dia semakin menengelamkan wajahnya di dada Romeo.
Seketika Romeo melepas pelukkan dan menangkup kedua pipi Juliet.
"Sayang, kau jangan membaca novel-novel aneh itu lagi, ini di zaman modern banyak cara untuk bisa mendapatkan anak. Hmm biar aku tebak judulnya, menitipkan rahim, salah rahim, apa lagi ya," kata Romeo mencoba menggoda sang istri.
"Membeli rahim pembantu," jawab Juliet sambil tersenyum.
"Nah itu, pintar." Romeo segera melabuhkan kecupan sekilas di bibir Juliet.
"Jadi, jangan berpikir yang aneh-aneh. Karena aku mencintaimu, kita akan selalu bersama."
Juliet mengangguk pelan. "Aku juga mencintaimu."
***
__ADS_1
Sebentar lagi tamat, nanti ada bagi² pulsa ya 😉