Romeo Dan Wanita Malam

Romeo Dan Wanita Malam
Queen Meradang


__ADS_3

Pos 1.


"Oke, selanjutnya, Juliet!" Panitia berkata ketus kala melihat wanita berparas manis itu berada dihadapannya. Ia menatap tajam dan dingin pada Juliet. Seakan Juliet adalah musuhnya.


Juliet acuh tak acuh melihat sorotan mata Panitia. Ia bersikap cuek dan jutek.


'Ada masalah apa sih ini nenek lampir!' gerutu Juliet di dalam hati.


Ia mengangguk cepat, saat mendengar perintah dari Panitia. Kedua tungkai kakinya berjalan pelan sembari menyalakan senter kecil yang bertengker di tangan kanannya.


"Lumayan," desisnya pelan mulai masuk lebih ke dalam lagi. Kedua matanya menelisik dan mengamati tanda panah.


"Juliet!" panggil seseorang menyembul dari balik pohon dengan cepat.


Juliet sontak terkejut, tanpa sadar mengelus-elus dadanya. Ia menarik nafas panjang lalu menghembuskan perlahan. "Ada apa, Kak?" tanyanya penasaran.


Juliet teringat sosok pria didepannya adalah Panitia yang tempo lalu menanyakan tentang pengertian Leadership Camping. Setahu Juliet Panitia di depan jurusan Farmasi. Ia kebingungan mengapa pria itu menghentikan langkah kakiny.

__ADS_1


Kedua mata Panitia mengamati penampilan Juliet. Tatapannya penuh arti, sudut bibirnya terangkat sedikit memandangi tubuh Juliet. Sedangkan Juliet tak menyadari tingkah Panitia tersebut, ia asik memindai kaki Panitia, ingin memastikan apakah orang didepannya manusia atau makhluk astral.


"Hm, kamu ikut Kakak langsung saja ke pos 3, Kak Miguel tadi mengatakan pada Kakak," Panitia memberikan perintah cepat.


Begitu mendengar ucapan Panitia. Juliet mengernyitkan dahi. Lalu berkata, "Kenapa langsung ke pos 3 Kak, bukannya setiap pos harus dilalui?"


"Iya, memang tapi karena kau berhasil menjawab di pos 1. Tadi Kak Miguel barusan memberikan perintah pada kakak lewat walkie talkie."


Juliet nampak berpikir. "Hmm." Ia keheranan, dan bertanya-tanya mengapa langsung ke pos 3. Rasanya cukup aneh dan janggal, pikirnya.


"Ayo, cepat waktu kita tidak punya banyak waktu. Ikuti Kakak!" Ia mengayunkan kaki ke arah Selatan.


.


.


.

__ADS_1


"Dua langkah dariku!" Romeo berkata ketus. Sebab, sedari tadi Queen ingin menempel padanya. Romeo tentu saja mode siaga. Ia benar-benar tak habis pikir mengapa Queen tak ada kapok-kapoknya. Selalu saja mau mendekatinya. Sikap Queen membuat Romeo semakin jenggah.


"Ah, my love. Aku kedinginan tahu. Kenapa kau tidak memeluk ku saja? Mumpung kita hanya sendirian, Rom." Suara Queen terdengar mendayu dan mendesah, berharap Romeo akan terpancing. Pikiran nakalnya menari-nari dibenaknya.


Bukannya terpancing dengan perkataan Queen. Romeo malah bergedik ngeri. Bulu kuduknya berdiri bukan karena makhluk halus tapi karena mendengar ucapan Queen ngalor ngidul.


'Benar-benar berbeda dengan Juliet!" Romeo tanpa sadar berkata di dalam hati membandingkan sikap Juliet dan Queen, jika berada didekatnya. Kalau di pikir-pikir Juliet tak pernah bertingkah aneh padanya dan terkesan menghindari. Hanya Juliet lah yang tak pernah mengejar-ejar dirinya. Iya, Juliet, musuh sekaligus istrinya.


'Juliet, kau di mana? Dia baik-baik saja kan?' Lagi dan lagi tanpa sadar memikirkan Juliet. Seingat dia Juliet berjalan mendahului mereka.


"Romeo! Kenapa diam?" Queen bertanya sebab tak mendapatkan balasan dari Romeo. Queen dapat melihat Romeo malah asik mengarahkan senter ke segala arah. Kedua mata Queen mengamati tingkah laku Romeo seakan berada didunianya sendiri.


"Hmm, terserah kau, Juliet!"


Deg.


"Juliet!" Nafas Queen mulai memburu. Kala mendengar satu nama yang sangat ia benci. Seketika langkah kakinya terhenti. Tanpa sadar senter yang bertengker di tangannya terhempas ke tanah.

__ADS_1


"Haa aku mencintaimu Romeo!"


"Queen! Lepaskan aku! Wanita gila!"


__ADS_2