
"Rom!" Queen hendak mendekati Romeo. Romeo dengan sigap mundur dua langkah.
"Apa?!"Romeo berkata ketus. Emosinya belum mereda sepenuhnya. Kehadiran Queen membuatnya semakin jenggah.
"Ayo, kita bersama-sama kesana!" Queen ingin menggapai tangan Romeo. Namun Romeo segera menepis kasar tangannya dan berlalu pergi meninggalkan Queen.
Queen terperangah dengan sikap Romeo, ia berdecak kesal di dalam hatinya. Kedua netranya masih menatap punggung Romeo dari kejauhan.
'Ini semua karena wanita murahan itu. Awas saja kau Juliet aku akan membuatmu menderita!' Tangan Queen terkepal kuat.
Reza yang melihat drama aca-aca nehi nehi di depan matanya tertawa pelan. "Haha, duh kasihan deh di tinggalin babang Romeo. Makanya jadi cewek jangan ganjen."
"Diam kau banci!"gertak Queen melototkan mata.
"Heh titisan nek lampir, walaupun akika banci! Tapi akika cantik muka dan cantik hatinya, daripada you cantik muka doang, tapi hatinya busyuk, iyuh!" Reza mengejek sembari menggerakkan tubuhnya dengan luwes dan lentur bak karet.
"Kurang ajar kau banci! Kau bilang aku apa ha?!" Nafas Queen semakin memburu.
Reza mencibir. "Ya ampyun, you udah hatinya busyuk, tuli lagi, haha!" Ia sengaja memanasi Queen sebab kejadian tempo lalu masih membekas di ingatannya saat Queen menyerang wajahnya.
"Kau!" Queen hendak mencakar wajah Reza, akan tetapi Reza menangkis serangan dengan memutar tubuhnya ala-ala balerina.
Tubuh Queen condong ke depan dan ia kehilangan keseimbangannya, lalu..
Bruk.
Tubuhnya terhempas ke tanah dan tanpa sengaja wajah Queen terciprat air hujan yang mengenang di lubang kecil.
"Arghhhhh! Kurang ajar kau banci!" jerit Queen histeris.
Teman-teman tertawa keras, melihat wajah Queen cemong. Begitu pula dengan Reza dan Kei. Sedari tadi Kei mengamati interaksi Reza dan Queen yang menjadi hiburan tersendiri baginya.
"Kei, udah yuk kita nyusulin Juliet sama Kai," ajak Reza sebelum Queen meradang dan kembali menyerang.
Kei mendelikkan mata. "Cih sejak kapan kita berteman?"
__ADS_1
"Mulai dari sekarang!" Reza berkata sambil menyelipkan rambut pendeknya ke telinga.
Kei malas berdebat, ia menanggapinya dengan geleng-geleng kepala.
***
Sementara itu Juliet dan Kai berada di bawah pohon besar. Keduanya berdiri tegap, menghadap pelataran Hutan Anggora. Suasana begitu canggung, sedari tadi tak ada yang membuka suara. Keduanya sibuk menyelami isi pikirannya masing-masing.
"Kai, aku minta maaf. Karena diriku kau berkelahi dengan Romeo." Juliet tak enak hati sebab karena dirinya, Romeo dan Kai berseteru.
"Tidak apa-apa Jul, palingan nanti kami baikkan lagi." Kai memberikan pengertian. Memang benar sedari kecil ia dan Romeo selalu berdebat dan berkelahi tapi tak pernah lama. Entah lah, Kai pun bingung model pertemanan mereka. Akan tetapi hari ini dia keheranan terhadap sikap Romeo. Apakah Romeo menaruh rasa pada Juliet, Kai hanya bisa menerka-nerka di dalam benaknya.
"Hmm, baguslah. Terimakasih sudah berakting tadi Kai!" Juliet melirik sekilas.
Dahi Kai berkerut. "Akting?"
"Iya, saat kau mengatakan aku pemilik hatimu."
Kai tersenyum tipis. "Aku tidak berakting, memang benar hatiku adalah milikimu."
Melihat Juliet hanya mematung di tempat dan tak membalas ucapannya. Kai menyambar tangan Juliet lalu menggenggam tangannya dengan begitu erat. "Jul, sebenarnya-"
"Juliet! Kai!" Romeo berteriak histeris, di depan sana ia berjalan cepat sembari mengaruk lengannya.
Juliet dan Kai beralih menatap ke sumber suara. Tanpa sadar Juliet menarik tangan dari genggaman Kai.
"Kau kenapa Rom?"Juliet terlihat panik, ia segera menyentuh kedua tangan Romeo.
"Tadi Queen menyentuh tanganku!" Romeo menahan sensasi gatal yang menjalar di kulitnya.
"Queen?" Kai menimpali.
"Iya, ratu halu itu," sahut Romeo cepat tanpa menatap lawan bicara, ia sibuk menggaruk tangannya.
"Kau tak membawa obat gatal?" Kai bertanya lagi.
__ADS_1
"Aku lupa menyimpannya di mana."
"Astaga, kenapa kau ceroboh sekali sih!" Juliet melebarkan mata kala mendengar perkataan Romeo.
"Aku sedang sakit, kau malah marah-marah. Seharusnya sebagai seorang istri, kau sembuhkan aku, lebih baik peluk aku sekarang." Romeo menampikkan wajah meringis. Itu satu-satunya alternatif singkat untuk menyembuhkan gatal-gatalnya.
Juliet memutar bola mata dengan malas. "Iya, iya. Kai, kau bisa membantuku menghalangi tubuh kami agar orang lain tak melihat kami berpelukkan."
Nafas Kai tercekat mendengar kata berpelukkan.
"Kai!" Juliet menggerakan tangan di wajah Kai saat melihat Kai malah melamun.
Kai segera tersadar. "Baiklah," jawabnya lesu. Ia segera memposisikan badan di depan tubuh mereka.
Mendengar perkataan Kai, tanpa aba-aba Romeo segera merengkuh erat tubuh Juliet. Keduanya matanya terpejam, berharap rasa gatalnya menghilang. Juliet terkejut dengan gerakan Romeo. Ia pasrah sembari mengelus punggung Romeo, memberikan ketenangan padanya.
Deg.
Kai mematung di tempat, hatinya serasa nyeri, melihat pemandangan di depan mata. Dadanya bergemuruh kuat, detak jantungnya berdegup lebih cepat. Tanpa sadar ia berbalik tak mampu melihat interaksi Romeo dan Juliet.
'Aku sudah lama menyukaimu Jul, itu yang mau ku katakan tadi. Aku berharap kau juga menaruh hati padaku.'
Nafas Kai semakin memburu. Ia menatap lurus ke depan. Sejak dulu ia sudah memendam rasa pada Juliet. Sosok wanita yang pintar dan tangguh menurutnya. Juliet amat berbeda dengan wanita yang lainnya. Juliet manis dan apa adanya.
'Tenanglah Kai, Juliet hanya memeluk Romeo untuk menyembuhkan gatal-gatalnya.''Kai menghibur diri.
'Lebih baik aku bernyanyi saja,' "Aku bisa membuatmu jatuh cinta kepadaku. Meski kau tak cinta kepadaku. Beri sedikit waktu. Biar cinta datang karena telah terbiasa."Kai bersenandung kecil berharap rasa nyeri di palung hatinya mereda.
...----------------...
...Guys, sebenarnya saya mau upload banyak bab minggu ini. Tapi karena keadaan bapak saya sedang sakit keras minggu ini. Beliau mengalami stroke. Mohon doanya teman-teman😇...
...Saya menulis juga curi-curi waktu pas subuh, maaf kalau tulisan saya berantakan. Terimakasih. Semoga kita selalu diberikan kesehatan....
...Amin...
__ADS_1