
Kini, Queen menindih tubuh Romeo. Ia duduk di atas perut Romeo. Beberapa detik yang lalu, Queen menyerang Romeo.
Romeo yang sedang melamunkan Juliet, tak siap dengan serangan tersebut. Bukan main, ia amat terkejut terhadap terkaman Queen.
Sesuatu yang tak diinginkan pun akhirnya terjadi pula. Kejadian beberapa tahu silam, membuat Romeo trauma. Apa lagi posisi Queen seperti ingin memperkoas dirinya. Sedari tadi dia berusaha melepaskan jeratan tubuhnya dari ular berbisa di atas, itu lah Queen, sekarang nama Queen bertambah satu, ular berbisa. Secara bersamaan pula sensasi gatal mulai menjalar ditubuhnya.
"Aku mencintaimu Rom! Sentuh lah tubuhku ini! Ayo kita main kuda-kudaan, aku lebih lihai dari Juliet!" Queen meracau sembari menggesekkan dadanya di tubuh Romeo. Kedua tangganya hendak membuka celana Romeo.
"Queen, lepaskan aku. Kau gila!" Kilasan memori berputar-putar di dalam benaknya. Nafas Romeo memburu, darahnya berdesir naik ke otak, jantungnya berdetak sangat cepat, seakan siap meledak seperti bom Nagasaki. Ia menahan gejolak amarahnya, sikap Queen di luar batas. Queen harus disingkirkan, segera!
Bugh.
"Awh!" Queen terhempas jauh ke tanah. Ia merasakan perih didadanya karena tendangan Romeo barusan. Wanita itu meringis kesakitan sejenak. Darah segar mengalir pelan dimulutnya.
"Kenapa kau memperlakukan ku seperti ini Rom?! Kenapa?!! Apa karena wanita murahan itu ha, Juliet!" jeritnya berapi-api. Kedua mata Queen berkilat menyala. Ia menatap Romeo meminta penjelasan.
__ADS_1
Romeo bangkit berdiri tergesa-gesa, sembari mengaruk tangan dan lehernya. Ia naik pitam mendengar ucapan Queen.
"Jangan pernah mengatakan Juliet adalah wanita murahan di depan ku! Hanya aku yang boleh! Mulut berbisamu itu tidak pantas menyebut Juliet, wanita murahan! Bukan kah kau juga murahan ha!? Kau memang pantas diperlakukan seperti itu!" Romeo membentak berharap Queen sadar.
Namun tanggapan Queen di luar nalar, ia malah tersenyum smirk.
"Haha, Romeo. Juliet itu sudah menjajakan tubuhnya bersama banyak pria. Berbeda dengan diriku! Aku wanita normal! Tentu saja aku harus memuaskan hasratku! Di zaman modern ini semua wanita sudah tidak ada yang perawan lagi! Tenang lah Rom, aku sudah putus dengan laki-laki yang ada di video itu, sekarang aku hanya milikmu! Hanya milikmu, mari kita main kuda-kudaan, mumpung sepi dan gelap! Jamahlah tubuhku, Rom!"
Romeo berdecih. "Cih, menjijikkan! Aku tak sudi menyentuhmu! Jelas Juliet berbeda denganmu. Dia di bayar! Tidak gratis! Lalu kau apa?! Haha, gratis! Murahan sekali! Ckk!" Kedua mata Romeo menyiratkan kebencian mendalam. Ia memperlihatkan ketidaksukaannya pada Queen. Seulas senyum ejekan terpatri diwajahnya.
Queen tergugu melihat pancaran mata Romeo. Menyiratkan dirinya bagaikan seonggok daging busuk.
"Diam kau!" Sedari tadi kedua tangan Romeo tak berhenti menggaruk tubuhnya.
'Si-al tubuhku makin gatal, bagaimana ini? Ah lebih baik aku ke air terjun saja sekarang!' Tak ada pilihan lain, ia mencoba' mencari air permintaan untuk menghilangkan kutukannya. Walaupun ia tidak tahu letak air permintaan tersebut.
__ADS_1
"Romeo, kau kenapa?" Queen baru saja menyadari terdapat bentol-bentol kecil di wajah, leher dan kaki Romeo. Ia hendak mendekat.
Sinyal bahaya terdeteksi, Romeo mundur beberapa langkah. Dengan cepat ekor matanya melihat senter tergeletak empat langkah darinya.
'Aku harus lari dari wanita gila ini! Semoga air permintaan itu berada di air terjun yang kemarin!'
Secepat kilat Romeo melangkah sembari menyambar senter kecil dan berlari, meninggalkan Queen yang mencak-mencak sendiri, memanggil-memanggil namanya.
"Romeoooooooo!" Queen memekik nyaring hingga binatang kecil terbangun dari tidurnya.
.
.
"Aku harus bisa mendapatkan air permintaan!" Romeo berlari kencang sembari mengarahkan senter ke segala arah, menerangi perjalanannya ke tempat tujuan.
__ADS_1
Berbekal ingatannya, tak butuh waktu yang lama, Romeo telah tiba di air terjun. Ia tak peduli lagi dengan keadaan kakinya yang sudah luka-luka akibat goresan rumput-rumput tajam saat ia berlari tadi.
"Awh!"