
"Kalian bubar semua! Setengah jam lagi berkumpul di aula!" teriak salah satu panitia Ospek. Tadi, ia mendapatkan informasi ada keributan di koridor A6.
Tanpa aba-aba, mereka mengangguk patuh seraya berjalan meninggalkan tempat kejadian.
"Jul! Kemari ikut aku!"
Romeo menyambar tangan Juliet dan berjalan cepat meninggalkan Reza, Queen, dan Duo Biang Keladi.
Reza tergugu melihat Juliet di tarik paksa Romeo, Duo Biang Keladi biasa saja, sementara Queen mencak-mencak sendiri dan hendak mengejar Romeo dan Juliet. Namun segera di tahan oleh Kai dan Kei agar tak menganggu mereka.
"Rom, pelan-pelan! Sakit tahu, ini kaki!" gerutu Juliet nafasnya tersengal-sengal mengikuti langkah kaki Romeo yang lebar itu.
Romeo enggan menyahut, ia celingak-celinguk mencari suatu tempat.
"Rom, mau kemana sih?"
Juliet keletihan, sebab Romeo berjalan sangat cepat seperti lomba lari marathon.
"Diam lah, ada yang mau aku bicarakan sebentar denganmu!"
Juliet terpaksa menurut, saat ini merasa kondisi tubuhnya tak baik-baik saja.
Seketika langkah kaki Romeo terhenti, setelah mereka berada di lorong paling ujung. Tempat yang jauh dari keramaian.
"Cepat balik badanmu!" titah Romeo sembari melepaskan cengkraman tangannya.
Mendapatkan perintah dari Romeo, Juliet mengernyitkan dahi. "Untuk apa?" tanyanya bingung.
"Kau ini banyak bertanya!"
Romeo memegang pundak Juliet dan memutar cepat tubuh Juliet ala ballerina.
"Aish, kau kenapa sih?! Aku bukan oreo di putar-putar!" gerutu Juliet mengerucutkan bibir dengan tajam.
Sementara itu, Romeo tengah sibuk mengamati tengkuk leher Juliet. "Di mana tandanya?" tanya Romeo saat tak melihat ukiran kupu-kupu terpatri di belakang leher Juliet.
__ADS_1
Juliet membalikkan badan. "Aku pikir apa? Tentu saja aku tutup, pakai conclear sama foundation. Kenapa sih?!" Juliet berkata dengan ketus seraya mendelikkan mata.
Mendengar penuturan Juliet, Romeo menarik nafas panjang. Duh nggak ada alasan nih mau bercerai dengannya. Batin Romeo bermonolog.
"Kenapa kau sembunyikan?"
"Oh my God, Rom. Kau lupa atau apa ha?! Kita ini kuliah, kalau sampai dosen dan teman-teman tahu. Bisa mampus aku masuk buku kasus, aku ini masuk jalur beasiswa, jadi ada peraturan khusus. Terlebih lagi kita kuliah jurusan kesehatan!" jelas Juliet mengebu-gebu. Kala mendengar pertanyaan konyol dari Romeo. Tadi, dia mengira Romeo ingin membicarakan hal penting. Namun, kini obrolan mereka tak sesuai ekspetasi Juliet.
"Hm." Romeo menanggapi perkataan Juliet dengan berdeham.
"Sudah, Kan? Aku mau menyusul Reza dulu," ucap Juliet hendak berjalan.
Namun, Romeo menahan pergerakkan Juliet dengan mencengkram pergelangan tangannya. "Tunggu!"
"Apa lagi?" tanya Juliet mendengus sebal.
"Jangan dekat-dekat Reza, dia itu cerewet dan bisa saja membeberkan hubungan kita!" seru Romeo menyeringai tipis.
"Terserah aku mau dekat dengan siapa pun! Kenapa kau yang mengaturku, lagipula aku tidak akan memberitahunya jika kita sudah menikah. Kau tenang saja Romeo Andersean?" protes Juliet cepat.
Romeo bingung pada dirinya, mengapa tak suka melihat keakraban Juliet dan Reza. Ia takut jika Reza mengetahui status hubungan mereka.
"Idih, suami di atas kertas!" sela Juliet sembari mengibaskan tangan Romeo dengan kasar.
***
Koridor Aula.
Nampak mahasiswa-mahasiswi baru, berada di luar ruangan aula. Mereka bercengkrama ria sejenak, sebab sebentar lagi akan ada kegiatan lanjutan yang diselenggarakan oleh panitia BEM.
"Bok, you kemana sih!?" tanya Reza cepat saat melihat Juliet baru saja tiba menghampirinya.
"Sorry, Reza, aku tadi ada urusan sebentar sama Romeo," tutur Juliet sembari mengatur ritme pernafasan yang tersengal-sengal akibat berlari untuk sampai ke lorong aula.
"Jul, you ada hubungan apa sama Romeo?" tanya Reza menyelidik. Dia penasaran sebab Juliet sepertinya dekat dengan pria tertampan di kampusnya.
__ADS_1
"Dia teman satu sekolahku dulu," jawab Juliet cepat agar Reza tak menaruh curiga padanya.
"Oh." Reza menanggapi perkataan Juliet dengan ber oh ria. "Kirain akika, you pacaran sama Romeo, soalnya kalian berdua cucok meong!" seru Reza tersenyum centil.
"Tidak mungkin lah, kami hanya berteman saja kok. Tidak lebih, dia sudah punya pacar!" Juliet menyangkal dengan bersikap tenang agar Reza percaya padanya. Namun, saat mengucapkan kata pacar, hatinya berdenyut, ia keheranan sendiri dengan respon tubuhnya.
"Sebelum janur kuning melengkung, masih bisa di tikung bok!" celetuk Reza terkekeh-kekeh sembari meliuk-liukkan badan gemulai.
"Aku bukan PHO ya! Perusak hubungan orang. Lagian Romeo bukan tipeku!" protes Juliet cepat.
"Whats?! Bukan tipe you? Ampun bok, ganteng, tinggi, putih, macho gitu bukan tipe you, yakin bukan tipe you?"
Reza tak percaya mendengar perkataan Juliet barusan saat mengatakan Romeo bukan tipenya. Desas-desus yang beredar, mengatakan bahwa 99% mahasiswa-mahasiswi di kampus, senior bahkan dosen sekali pun. Terpana dan terpesona dengan paras Romeo, begitupula, dirinya mengagumi Romeo.
Menurut Reza, wajah Romeo bagaikan sebuah mahakarya yang sangat langka. Tampan, dan manis pula, a h paket komplit.
"Yakin!"
Juliet berdecak kesal melihat pancaran mata Reza, seakan mengagumi paras Romeo, yang baginya terlihat biasa saja.
Kenapa semua orang memuja-mujanya! Juliet mendengus.
Sebelah alis mata Reza terangkat. "Ish, you mah aneh!? Jadi tipe you-"
"Kalian anak maba cepat masuk ke aula!" seru salah satu senior memotong ucapan Reza.
Lantas Reza dan Juliet, mengalihkan pandangan, dan tanpa sadar mengangguk seraya berjalan ke dalam ruangan bersama teman-teman angkatannya.
"Reza, kenapa kita kumpul di aula?"
Juliet penasaran, tanpa sadar ia menjatuhkan bokong di kursi sebelah Romeo. Romeo hanya terdiam memandangi Juliet yang tak menyadari keberadaannya. Kai dan Kei berada di samping Romeo, tersenyum penuh arti.
"Ya ampyun, pusiang kepala akika. Jadi you nggak tahu? Katanya dengar-dengar ada-"
"Diam semuanya! Jangan berisik!"
__ADS_1
"Eh ayam ayam ayam ayam ayam ayam ayam ayam ayam ayam ayam!"