
Romeo mengembangkan senyuman, kala Lily mengecup singkat keningnya. "Terimakasih, Nak. Mommy tak sabaran menunggu kabar bahagia dari kalian berdua."
Romeo tersenyum tipis menanggapi ucapan Lily.
"Mom."
"Iya."
"Lusa, aku ada kegiatan camping di luar kampus."
Romeo baru saja teringat kegiatan Panitia BEM. Ia dilanda gundah gulana, untuk kedua kalinya akan pergi camping. Bukan apa, camping pertamanya sewaktu SMP mengingatkan Romeo akan insiden gatal di tubuhnya, sebab dahulu ada seorang gadis gila yang memeluk Romeo tiba-tiba.
Jadi, Romeo tak sengaja mendorong kuat tubuh gadis tersebut. Gadis gila itu amat tak terima akibat penolakan Romeo, dan melaporkan pada guru bahwa Romeo ingin melecehkannya, padahal sebaliknya. Romeo pun di hukum berlari mengelilingi tenda besar di tengah malam sebanyak 20 kali putaran, dengan kondisi tubuh yang bentol-bentol.
Sepulang dari camping, ia tak memberitahukan pada orangtuanya mengenai kejadian naas yang ia alami. Dia membuat alibi, mengatakan ia tak sengaja bersentuhan dengan kaum hawa.
Akan tetapi, semenjak kejadian itu, Romeo teramat membenci kaum hawa. Ia merasa semua makhluk hidup berjenis kelamin perempuan, sungguh rumit dan merepotkan, terkecuali, Mommy, kedua Kakak, dan teman masa kecil.
"Benarkah? Berapa lama?"
"Hm, 3-4 hari Mom."
"Berhati-hatilah, Nak. Berarti Juliet juga ikut?"
"Iya, Mom," jawab Romeo singkat.
"Kalian pergi ke sana menggunakan apa?" Leon menimpali obrolan anak dan istrinya, sedari tadi dia mengelus-elus rambut panjang Lily.
"Katanya pakai bus sih, Dad."
"Kenapa kau tidak bersemangat?" Nickolas menghempaskan bokong di sofa berhadapan dengan kedua orangtuanya. Ia dapat melihat raut wajah Romeo yang tidak bersemangat sama sekali, kala menceritakan kegiatan camping.
"Aku bersemangat, Kok."
"Mungkin dia tidak bersemangat karena di sana tidak bisa bercocok tanam dengan Juliet!" cetus Samuel tersenyum tipis.
Romeo melebarkan kedua netra, tatkala mendengar ucapan Samuel.
"Sudah, sudah jangan berdebat." Leon melerai kedua anaknya. Agar tak beruntun panjang seperti rel kereta api.
Romeo mendengus kasar.
Getaran gawai di celana Romeo, mengusik interaksinya. Ia mengeluarkan gawai dan membaca meminta izin pada kedua orangtuanya untuk mengangkat panggilan.
"Hallo."
"Kau di mana kampret?!"
"Di bumi!"
"Aku serius bang sat, kembalikan mobilku sekarang! Aku tunggu di Cafe One One!"
Yaps, Kai menghubungi sebab kendaraan miliknya masih di pakai Romeo.
"Iya, iya aku otw!"
Romeo segera mematikan sambungan telepon.
"Siapa?" Lily bertanya setelah Romeo menaruh gawai di saku celana.
"Kai. Aku izin nongkrong di Cafe ya, Mom. Sekalian mengembalikan mobil Kai." Romeo terkekeh pelan.
__ADS_1
Lily geleng-geleng kepala terhadap sikap Romeo. Padahal di mansion banyak mobil terparkir di basement, tapi Romeo tak mau membawa, dan memilih di antar supir pribadi.
"Astaga, kau ini! Ya sudah pergi lah, jangan lama-lama."
Romeo mengangguk cepat, ia pamit undur diri pada kedua orangtuanya dan kedua kakaknya.
Selepas Romeo menutup pintu kantor Nickolas, Lily dan Leon saling menatap satu sama lain. Seulas senyum licik terbit di wajah keduanya. Tak terkecuali Nickolas jua menyeringai tipis, lain dengan Samuel mengerutkan dahi saat melihat perubahan raut wajah kedua orangtuanya dan Kakaknya.
"Akting Mommy sangat keren, Dad!" Nickolas mengangkat satu jari jempol.
"Tentu saja, istriku memang pantas mendapatkan piala oscar," ucap Leon sembari mengecup sekilas bibir Lily.
Nickolas memutar bola mata, kala melihat keuwuan kedua orangtuanya yang tak memudar sedikit pun sedari dulu.
Samuel di landa kebingungan. "Kalian sedang membicarakan apa?" Samuel menatap serius Nickolas.
"Nanti aku akan mengatakannya padamu!" cetus Nickolas menghela nafas.
"Aish, aku maunya sekarang! Bagus ya kalian merencanakan sesuatu tanpa melibatkanku!" Samuel berkata ketus meminta penjelasan. Terlebih lagi, Mommynya sekarang bersikap biasa saja, dan tidak seperti orang sakit seperti tadi. Dia teramat yakin ada yang mereka sembunyikan darinya. Hal itu pasti menyangkut Romeo.
"Tanpa sadar kau sudah terlibat, Sam." Nickolas menghela nafas, merutuki kebodohan Samuel.
"Iya, tapi aku kan tidak tahu. Dan Mommy tidak sakit, Kan?" Samuel beralih menatap lekat Lily yang sedari tadi hanya terdiam, sembari meresapi setiap sentuhan, jari-jemari Leon di kepala, hari ini ia sangat keletihan karena acara pembukaan Restaurant baru.
"Tidak!" seru Nickolas jengah.
"Nick, jelaskan pada adikmu itu," pinta Leon geleng-geleng kepala dengan perdebatan anaknya yang tak berkesudahan. Padahal tadi ia sudah memberikan bahasa isyarat pada Samuel, akan tetapi sepertinya Samuel tak memahami.
Nickolas pun menceritakan secara singkat dan jelas mengenai asal muasal mengapa Mommynya berakting. Samuel mendengarkan dengan seksama tanpa menyela sedikit pun.
"Whats?! Jadi rencana kita semalam tidak berhasil?" tanya Samuel setelah Nickolas menutup rapat bibir.
"Bagaimana bisa? Apa karena dosis obatnya kurang banyak?" Samuel mendengus.
"Tidak, karena Romeo pintar dan mampu menahan hasratnya!" Lily membuka suara.
Samuel menarik dan membuang nafas.
"Lalu Mommy yakin dengan insting Mommy?" Samuel meragu.
"Insting Mommymu selalu benar, Sam!" Leon membuka suara. Ia sudah tahu dari Lily insiden semalam antara Romeo dan Juliet.
Lagi, lagi Samuel menghela nafas.
"Dan sekarang, Mommy berpura-pura sakit agar Romeo mau memberikan Mommy cucu, begitu? Tapi kan dia membenci Juliet, Mom. Tadi malam saja mereka berkelahi di tempat tidur!" Samuel berkata tegas tanpa jeda. Bagaimana mungkin Romeo mau berhubungan badan dengan Juliet, yang jelas-jelas adalah musuh Romeo. Entah rencana apa yang sedang di lakukan Mommynya itu. Dia teramat penasaran.
Suasana hening. Tak ada yang menanggapi perkataan Samuel.
Samuel menghela nafas. "Mom, katakan padaku? Apa rencana Mommy?"
Lily beranjak berdiri, berjalan pelan menghadap kaca yang berada di belakang meja kerja Nickolas. Ia melihat lalu lalang kendaraan di bawah sana melalui kaca bening, menarik dan membuang nafas perlahan.
"Kalau sudah tahu rencana Mommy. Kau mau membantu Mommy?" tanya Lily tanpa menatap lawan bicara.
"Tentu saja. Aku mau membantu Mom." Samuel menahan sabar ingin mendengar rencana dari Lily.
Lily tersenyum simpul mendengar ucapan Samuel.
"Honey, Maximus menelponmu!" Leon menyela, ia bangkit berdiri sembari membawa gawai milik Lily. Ia berjalan cepat menghampiri, dan menyodorkan benda pipih tersebut.
"Halo!"
__ADS_1
"Nyonya, saya masih berada di Rumah Sakit. Saat ini, menantu anda bersama satu orang pria sejati dan satu orang pria gemulai," sahut Maximus di ujung sana.
"Bagus, Max. Selalu pantau terus pergerakan Juliet. Ada lagi yang mau kau sampaikan?"
"Ada, Nyonya. Saya sudah mendapatkan semua informasi penting mengenai latar belakang Juliet."
"Kirimkan ke emailku!" perintah Lily cepat.
"Baik, Nyonya."
Panggilan terputus. Ia segera mengusap layar gawai, membuka email dan membaca dengan seksama informasi yang diberikan Maximus.
Raut wajah Lily nampak serius, dan kedua matanya tak berkedip.
Benar dugaan Lily, Juliet tak benar-benar menjual tubuh. Dia mempunyai feeling yang kuat, satu fakta telah terkuak.
Semula terbersit di dalam benaknya bahwa Juliet memang lah wanita malam seperti yang dikatakan Romeo. Akan tetapi dia berusaha menepis pikiran negatif itu, ia yakin terkadang karena tak ada pilihan, seseorang akan memilih jalan yang salah.
Lily teramat berterimakasih pada sosok wanita, bernama Messa yang mau berkorban demi Juliet. Ia penasaran siapa kah Messa? Namanya sangat tak asing. Lily menggeleng berusaha fokus pada Juliet dahulu.
"Gabriel," desis Lily pelan kala membaca nama seorang gadis kecil, merupakan adik angkat Juliet, yang menjadi penyebab Juliet tak takut namanya tercoreng akan tindakan yang bukan ia lakukan.
Satu senyuman mengembang terpampang di wajah Lily saat membaca informasi paling penting tersebut. Ia semakin tersenyum membaca Juliet ternyata anak yang cerdas dan mengikuti lomba Muay Thai di kancah Internasional.
Tadi pagi, selepas kepergian Romeo dan Juliet ke kampus, ia menyuruh asisten rumah untuk tidak usah membersihkan kamar Romeo. Lily menaruh curiga sebab di meja makan sikap Romeo tidak berubah pada Juliet.
Ia pun masuk ke kamar, melihat jejak-jejak air dari toilet hingga ke tempat tidur, dan penyangga tempat tidur Romeo yang retak bukan seperti hentakan akibat permainan ranjang, melainkan karena beban yang berat. Lily menebak pasti keduanya melakukan perkelahian diatas kasur.
Kedua mata Lily nampak muram kala membaca status Juliet dan Gabriel adalah anak yatim piatu yang melarikan diri, akibat ulah si empunya melakukan kekerasan fisik padanya. Ia menarik nafas kasar.
"Kasihan sekali dia." Leon ikut membaca latar belakang Juliet. Sedari tadi dia memeluk tubuh istrinya dari belakang dan menaruh dagu di pundak Lily.
"Iya, Honey."
"Aku penasaran kenapa Romeo membenci Juliet?"
"Apa kau sudah bertanya pada Kai?"
"Sudah, Kai juga tidak tahu Honey. Penyebab Romeo membenci Juliet. Informasi itu yang belum aku dapatkan."
"Hmmm, lalu apa rencanamu?"
"Aku akan membuat mereka jatuh cinta!" Lily berkata tegas.
Leon mengerutkan dahi. "Bagaimana caranya? Mereka kan bermusuhan, Honey." Leon semakin kepo, karena Romeo dan Juliet saling membenci satu sama lain. Lalu bagaimana mengubah rasa benci itu menjadi rasa cinta, hal yang mustahil bagi Leon.
"Bisa kah kalian tidak berbisik-bisik, kami juga ingin mendengarkan!" Samuel menimpali sedari tadi dia melihat interaksi kedua orangtuanya.
"Iya, itu benar. Kami seperti nyamuk saja dari tadi di sini!" Nickolas menarik nafas sembari melihat statistik saham di aplikasi bi bit.
Lantas Leon dan Lily menoleh, kemudian tersenyum simpul. Lily mengajak Leon untuk duduk di hadapan kedua anaknya, hendak mengutarakan rencana picik yang sudah tersusun rapi di benaknya.
Namun tiba-tiba, suara getaran gawai Lily kembali terdengar.
Lily menyambar cepat, setelah melirik sekilas kontak nama yang tertera di layar gawai.
"Hai, ada apa?"
.....................
"Lakukan saja tugas kalian, hadiah akan di berikan jika kalian berhasil!" Lily menyeringai tipis.
__ADS_1