Romeo Dan Wanita Malam

Romeo Dan Wanita Malam
Sudut Pandang Romeo (1)


__ADS_3

Masih Sudut Pandang Romeo.


"Apa maumu?!" tanyaku to the point.


"Jadi lah pacarku! Jangan dekati Juliet! Tunduk padaku! Kita harus bersandiwara, layaknya sepasang kekasih di depan semua orang termasuk Mamaku!"


Aku tergugu, namun kedua tanganku terkepal menahan amarah yang siap mengeluarkan lahar dari dalam gunung. Bukannya menjawab aku melengos pergi.


"Baik! Aku akan mengirim semua fotonya ke situs!" teriaknya, aku pun berbalik cepat, melihat Queen mengotak-atik ponsel. Lalu dia tersenyum sinis padaku.


"Lihat di situs XXX!"


Aku dengan cepat mengambil handphone, sibuk mengetik di google chrome. Lalu mataku seketika terbelalak melihat 50 buah foto Juliet nampak jelas. Dan aku lah orang pertama yang melihatnya.


"Hapus!!!" teriakku sambil mendekat.


"Turuti keinginanku dulu!" kata Queen tersenyum picik.


Tanpa pikir panjang aku menjawab, "Baik, aku turuti semua keinginanmu!"


Setelah itu, aku benar-benar menuruti perkataan Queen. Menghindari Juliet! Dadaku sakit saat tak bisa menyentuhnya, menyapanya, menjahilinya dan tak bisa bersamanya. Queen benar-benar selalu menempel padaku.


Hingga waktu kepulangan kami, Queen masih mengikutiku kemana pun kaki ku melangkah, dia bagaikan anak itik. Dari jauh aku melihat Juliet berbincang-bincang dengan Reza. Untung Reza pria gemulai, kalau tidak mungkin aku sudah cemburu luar biasa. Aku sedikit bingung di dalam bus tak melihat Juliet. Walaupun Queen duduk disebelah, mataku tak berhenti meneliti kumpulan manusia di dalam bus.


Sesampainya, di Jakarta. Aku mencari Juliet dan bertanya pada Kai. Aku membara kala Juliet malah memberi kabar pada Kai. Bukan padaku! Tapi mau bagaimana lagi, ini semua salahku juga. Aku menghindar, dia juga menghindar. Pasti dia berpikir aku pria breng-sek.

__ADS_1


Aku tak pulang ke Mansion namun ke apartment karena yakin Julietku di sana. Setelah singgah sejenak' menaruh tas dan mandi di apartment Kak Kendrick. Aku bergegas keluar ke lobi hendak menunggu Juliet karena aku tak tahu dimana nomor apartmentnya. Informasi yang kudapatkan pula dari resepsionis, Juliet belum tiba.


Cukup lama aku menunggu hingga melihat kedatangan Juliet bersama seorang pria. Aku meradang! Pikiranku sudah melanglang buana entah kemana.


Dan malam itu aku melontarkan kata-kata pedas karena hilang kendali. Mulut dan hatiku tidak selaras. Sesuatu yang tak aku inginkan terjadi, aku menyentuh tubuhnya dan menelan kekecewaan yang membuncah di relung hati, tatkala Juliet tidak perawan lagi. Batinku berperang malam itu, ternyata Juliet tak mencintaiku, dia masih membenciku.


Rasa resah dan gelisah bercampur aduk, di satu sisi menerima dia apa adanya namun aku juga dadaku sesak saat Juliet berkata,"Aku membencimu, Rom!" Kalimat itu terngiang-ngiang dibenakku.


Subuhnya aku dikejutkan dengan pesan dari nomor tak dikenal lagi dan pesan ini dari Mama Queen, mengatakan Queen mau bunuh diri.


Lalu hubungan denganku apa? Pikirku. Sejurus panggilan dari Mama Queen yang pernah aku temui sekali di sekolah dulu. Dengan nada cemas Mama Queen memintaku datang kesana melerai Queen agar tak melakukan percobaan bunuh diri. Aku terpaksa mengiyakan.


Kepulangan dari latihan Leadership Camping. Aku keletihan bukan main. Subuh ke rumah sakit, pagi langsung ke kampus.


Dan satu lagi yang membuatku meradang dan tertekan. Queen memintaku memblokir nomor Juliet. Ha? Wanita ini benar-benar gila! Semalam mengetahui jika aku bersama Juliet. Dia marah, makanya dia bunuh diri. Aku tentu saja bingung, bagaimana bisa dia tahu. Bahaya?! Apakah dia memiliki mata, atau kamera pengintai. Aku harus lebih berhati-hati bertindak.


Saat di kantin pula aku hanya bisa menatap nanar punggung istriku. Namun tiba-tiba Reza memanggil, entah karena senang, aku langsung ke sana tanpa menoleh sedikit ke belakang. Sebab Queen sepertinya mengikutiku.


Dan betapa syoknya aku melihat Juliet ditampar seorang wanita. Aku ingin membantu, namun Queen melototiku dengan ponsel yang bertengker di tangannya menunjukkan foto-foto Juliet yang bersiap untuk dia unggah ke situs itu lagi. Aku mendesah berat, pasrah.


Jam terus berputar, aku masih memikirkan Juliet yang sekarang diruangan dosen. Aku berharap dia baik-baik saja. Tak di sangka-sangka, saat aku hendak ke toilet dia berada di taman duduk di bangku. Dengan perlahan aku melangkah mendekati. Aku berdeham cukup keras, hingga ia pun menoleh.


Kami berbincang-bincang sedikit. Jiwa jahil ku menguar seketika. Kenapa aku selalu bertingkah seperti anak kecil jika bersamanya. Pikirku sesaat. Aku duduk di samping, ku rangkul dia dan ingin sekali aku cium dia. Namun aku urungkan ada banyak pasang mata memandang. Pipinya bersemu merah karena ulahku mungkin karena dia malu.


Aku hendak ke tempat Queen karena sedari tadi, ponselku berbunyi. Aku yang risih meminta izin. Namun dia bertanya apakah aku pacaran dengan Queen. Benakku jahil lagi, ingin melihat responnya. Responnya di luar dugaan. Cemburu kah? Apakah dia juga menyukaiku. Bibirku terangkat sedikit, melihat punggung Juliet bergerak menjauhi ku.

__ADS_1


Saat perkuliahan selesai, aku mengajak Juliet pulang, namun lagi dan lagi Queen berbuat ulah, minta di antar. Sikap wanita yang paling tidak aku suka! Julietku saja selalu mandiri!


Di mobil, aku melirik-lirik Juliet melalui kaca di tengah. Kalau di lihat-lihat wajah Juliet sangat manis hingga tak bosan untuk aku pandang. Rambutnya hitam, alis matanya rapi, hidungnya munggil dan bibirnya tipis, nampak menggoda sekali. Ingin sekali ku raup sekarang juga. Tapi aku agak heran kenapa dia lebih banyak terdiam. Apa karena semalam.


Setelah Queen pulang, aku memerintahkan Juliet duduk disampingku. Aku was-was di dalam mobilku apakah ada kamera pengintai Queen jadi aku berinisiatif untuk membawa mobil ini ke suatu tempat hendak memeriksa kalau tidak besok atau ya lusa.


Sepanjang jalan, Julietku diam saja. Aku ingin bertanya, sudah makan belum? Apakah semalam sakit? Maafkan aku meninggalkanmu! Itu yang ingin aku ucapkan tapi semuanya tertahan aku tak boleh bertindak gegabah.


Hingga bibir munggilnya membuka.


"Rom, nanti berhenti sebentar ke apotik."


Apakah dia sakit? Batinku waktu itu.


Benar pradugaku. Julietku sakit. Aku sangat panik. Mommy pun ikutan panik. Sesampainya dikamar aku merebahkannya. Lalu terpaksa membangunkannya takut jika suhu tubuh istriku semakin tinggi. Aku perhatikan semua gerak-geriknya. Aku memberinya perintah untuk tidur. Dia menurut.


Siang menjelang sore, aku disibukkan dengan keberangkatan Daddy dan Mommy ke LA. Sepertinya mereka akan lama katanya Kak Darla dan Kak Lunna membuat ulah di sana, berkaitan dengan Gangsta Paradise. Aku tidak mengerti dan tak mau ambil pusing.


Hingga pukul 18.30 aku masuk ke kamar, sejenak memandangi Juliet tidur dengan damai. Dia tidur meringkuk bagaikan bayi.


Aku memutuskan untuk mandi, saat keluar dari toilet. Aku tak tahan menahan hasrat ingin menyentuh tubuhnya. Aku berjalan, melihat wajahnya dengan seksama lalu mata membuka tiba-tiba.


Senyum iblisku mengembang, aku suka sekali melihatnya ketakutan. Aku cumbu dia, bibir dn tubuhnya benar-benar candu. Namun ada gangguan sedikit dari Hiro! Sungguh si-al!


Tapi akhirnya keinginanku tercapai. Aku berolahraga malam bersama istriku. Aku ingin berhenti tapi tak bisa. Hingga aku terpaksa berhenti bergerak saat melihat Juliet kelelahan.

__ADS_1


Namun telpon dari Queen membuatku naik pitam. Apa sih maunya wanita ini. Memuakkan! Aku ingin muntah mengucapkan kata cinta pada wanita gila itu! Entah apa maunya. Lalu pesan singkatnya, aku bergedik ngeri. Sebuah ancaman, memintaku jangan menyentuh tubuh Juliet lagi! Yang benar saja dia istriku!


"Aku melihatmu bercumbu dengan ***-*** itu! Ini yang terakhir, jika tidak! Dia akan aku bunuh!"


__ADS_2