
Suasana di dalam kamar hening. Tak ada yang bersuara sama sekali seakan tak berpenghuni, padahal di atas ranjang tubuh kedua insan manusia berbeda gender saling menempel.
Sedari tadi, Juliet dapat merasakan sesuatu di bawah sana semakin mengeras. Kedua tangan Romeo masih melingkar di perutnya.
Degup jantung Juliet berdetak amat cepat. Dan punggung belakangnya dapat merasakan debaran jantung Romeo beradu kencang sama seperti dirinya. Hembusan nafas Romeo menerpa ceruk lehernya, Juliet tengah menahan sensasi geli yang melandanya. Juliet tergugu, ingin membuka suara, tapi bibirnya kelu. Ia sangat tak menyukai situasi saat ini.
"Rom," panggil Juliet pelan berusaha melepaskan kedua tangan Romeo.
"Hmm." Romeo hanya berdeham, dia tengah memejamkan kedua matanya.
"Rom, lepas aku mau-"
"Jul, jangan mengusikku yang berusaha untuk tidur, tubuhku juga semakin gatal gara-gara seseorang tadi." Sebuah kalimat kebohongan di lontarkan Romeo, dan kali ini suara Romeo terdengar pelan dan memelas, tidak seperti tadi.
"Tapi Rom, kenapa tidak pakai salep saja," ucap Juliet berhati-hati.
"Habis, rahangku juga sakit gara-gara kau tampar tadi," balas Romeo sangat pelan, tanpa membuka kelopak mata.
Juliet menarik nafas panjang. Ia malas berdebat, dan baru saja menyadari pukulan yang ia layangkan tadi, begitu kuat dan kencang. Salah kan saja Romeo yang membuatnya berang.
Duh, gimana nih. Posisi badannya, aku nggak suka! Dia bilang tidak mau menyentuh tubuhku. Tapi apa? Lihat tuh makin dieratin. Sebenarnya, maunya Romeo apa sih!? Gerutu Juliet dalam hati kala merasa tangan Romeo semakin erat.
Sudah sekitar satu menit berlalu, suasana di dalam kamar, benar-benar sunyi senyap.
__ADS_1
"Rom..." Juliet ingin membuka suara tapi diurungkannya. Tatkala mendengar suara dengkuran halus Romeo terdengar pelan.
Astaga, dia benar-benar tertidur. Memangnya semalam dia nggak tidur? Aduh, aku mau ganti posisi badan nggak bisa. Gimana nih? Juliet berucap di dalam benaknya.
Juliet melirik sekilas ke samping. Lucu juga ya kalau lagi tidur, kayak anak kucing. Juliet terkikik pelan.
"Cireng," gumam Romeo tiba-tiba, rahangnya bergerak seperti mengunyah makanan.
Dahi Juliet berkerut. "Ha, dia ngigau? Jangan bilang dia ngigau makan cireng." Juliet menggeleng pelan.
Juliet kembali menoleh ke depan. Ia menguap sejenak, kedua matanya serasa amat berat dan tanpa sadar ia pun ikut terlelap.
***
Secara tiba-tiba, Juliet berbalik, menghadap pada Romeo.
Deg.
Romeo membeku kala melihat wajah Juliet yang damai dan menawan. Untuk sesaat ia mengamati setiap inci wajah Juliet. Hidungnya yang mancung, alis dan bulu matanya terlihat lentik, bibir ranumnya yang amat tipis' nampak sexy dan menggoda. Ia tertegun sejenak menatap bibir Juliet.
Tanpa aba-aba pula belalai Romeo bangkit berdiri. "Damn!" umpat Romeo dalam hati.
"Kau memang wanita penggoda," desis Romeo sambil merapikan rambut panjang Juliet.
__ADS_1
"Kenapa kau membuatku gila? Aneh? Jangan-jangan kau menyihirku?" Romeo bertanya pelan pada Juliet yang sedang tertidur pulas. Romeo menghela nafas sejenak.
"Aku akan membuatmu menderita," desisnya lebih pelan dari sebelumnya, seulas senyuman penuh arti terbit di wajah Romeo.
Romeo melirik sekilas ke bawah perut.
"Heh belalai maumu apa ha?" tanya Romeo pada belalainya yang tak mengerti sama sekali' berada di balik celana.
Seandainya saja cacing bermata satu itu dapat berbicara, mungkin dia sudah beradu mulut dengan Romeo sepanjang abad.
"Ini semua gara-gara kau, mau tidak mau aku harus bermain solo seperti Jennie BlackPink." Romeo beranjak dari tempat tidur, kedua tungkai kakinya bergerak menuju toilet' hendak menuntaskan hasratnya yang sudah sampai di ubun-ubun kepala.
.
.
.
Rom, ada yang halal kenapa main solo sih? 😰
Herman deh Kak Nana 😒 , eh heran
__ADS_1