
Deg. Deg. Deg. Deg....
Bunyi detak jantung Romeo dan Juliet berdegup cepat. Sedari tadi tangan Romeo masih bertengker di kedua pipi Juliet. Hembusan nafasnya mulai tak beraturan. Dan kedua netranya menatap intens ke dalam bola mata sosok wanita didepannya. Ia menelan saliva pelan, kala mengamati lekukan bibir ranum Juliet yang nampak menggodanya.
Sementara itu, tubuh Juliet membeku di tempat kala melihat paras Romeo nampak mempesona. Walaupun di sekujur wajahnya terdapat bentol-bentol besar berwarna merah, namun tak mengurangi kadar ketampanan Romeo. Harus ia akui, Romeo memang pria yang amat rupawan.
Rembulan di atas pencakar langit membuat wajah Romeo nampak jelas. Matanya yang tegas, hidung mancungnya bak prosotan, rahangnya yang tegas, dan terakhir bibir tipisnya terlihat menantang. Pikiran mesum Juliet sudah melanglang buana entah kemana.
"Rom," panggil Juliet setengah sadar. Karena dilanda kebingungan, sebab ucapan Romeo mengantung di udara. Ia amat penasaran.
Romeo enggan menanggapi, kedua netranya berkedip perlahan. Dengan cepat ia mendekatkan bibirnya pada bibir Juliet.
Kedua mata Juliet melebar dengan sempurna. Nafasnya tercekat, bagaikan sengatan listrik. Ia ling-lung, terdiam seperti patung ketika Romeo mulai menge-cup-ecup pelan bibirnya. Ia ingin memberontak namun pikiran dan anggota tubuhnya seperti tak terkoneksi. Secara bersamaan pula matanya mengatup perlahan.
"Tadi aku bermimpi berciuman denganmu Rom, dan sekarang mimpiku menjadi kenyataan. Apa memang aku sekarang aku sedang bermimpi?'
Romeo memejamkan mata sembari me-***** pelan bibir Juliet. Sensasi aneh mulai membuncah didadanya seakan ada kupu-kupu yang terbang di atas kepalanya. Tanpa sadar tangannya sekarang memegang tengkuk Juliet. Hembusan nafasnya terdengar memburu. Ia menginginkan lebih dari ini.
'Manis' Romeo mengigit bibir bawah Juliet. Ia tengah mengikuti instingnya sebagai seorang lelaki.
Juliet meringis pelan, namun tersentak kala lidah Romeo bermain di rongga mulutnya. Duarrr seperti ada bom meledak di dalam otaknya. Jantung Juliet berdetak beribu-ribu kali lipat dari sebelumnya. Ia semakin mengeratkan pelukkan mengikuti alur permainan suaminya.
Seketika ribuan sinyal mengalir ke dalam otak mereka melepaskan tiga senyawa kimia berupa hormon, yaitu hormon dopamin, serotonin, dan oksitosin yang saling berkerjasama satu sama lain. Membentuk sebuah hormon cinta. Iya, itu lah yang dirasakan Romeo dan Juliet saat ini, namun dua insan manusia itu sama sekali tak menyadari, sebuah rasa yang entah sejak kapan hinggap di hati mereka.
Sepasang suami istri itu, tenggelam dalam 'dunia hanya milik berdua. Romeo masih meli-litkan lid-ahnya dengan cepat lalu menukar salivanya bersama Juliet. Sedari tadi ia mengulangi apa yang ia lakukan. Seketika ia melepaskan pagutan bibirnya. Tatkala mendengar nafas Juliet terengah-engah.
Romeo dapat melihat Juliet masih memejamkan matanya. Alis mata dan bulu mata Juliet tebal dan rapi. Dan rona merah terpampang amat jelas di kedua pipinya. Tanpa sengaja Romeo melihat dada Juliet tengah naik dan turun.
Gleg.
Kedua mata Romeo menatap penuh damba pada dua bola voli dihadapannya.
'Juliet, kau benar-benar wanita penggoda!'
Juliet membuka matanya cepat. Saat tak merasakan sentuhan lagi. Dua bola mata berwarna hitam legam itu bertubrukkan langsung dengan mata Romeo. Ia menghirup udara di sekitar berusaha menetralisir rasa malu yang menderanya.
'Tampannya," gumam Juliet dalam hati mengagumi paras Romeo.
Secara tiba-tiba kedua matanya teralihkan pada binatang kecil bercahaya, yang beterbang-terbangan di atas kepala Romeo. Tanpa sengaja Juliet lebih mendonggakkan kepalanya ke atas.
"Wah, kunang-kunang, indahnya." Juliet menggerakkan kepala ke kanan dan ke kiri, melihat ribuan kunang-kunang berada di sekitarnya. Ia mengagumi sejenak hewan munggil itu.
__ADS_1
Jika Juliet sedang asik memandangi kunang-kunang, namun lain halnya dengan Romeo. Ia malah menatap lekat kedua bola mata Juliet yang nampak berbinar. Ia tertegun sejenak melihat paras Juliet lebih indah dan menawan.
"Iya, indah, Kan?" Seulas senyuman manis merekah di bibir Romeo.
Juliet mengangguk cepat tanpa melepaskan pandangan matanya dari kunang-kunang. Seumur-umur baru kali ini, dia melihat kunang-kunang dari dekat. Begitu indah, dan menerangi kegelapan di dalam hutan.
Seketika satu tangan Romeo terulur, menghadapkan kembali wajah Juliet padanya. Juliet sedikit terkejut, kala dunianya terusik.
Deg.
Tanpa aba-aba Romeo mema-gut kembali bibir Juliet, kali ini lebih dalam dan kasar. Juliet benar-benar bingung mengapa tubuh dan benaknya tak melawan sama sekali. Ia tenggelam dalam sentuhan-sentuhan yang diberikan Romeo.
Suara gemercik air di ujung sana terdengar amat lembut, menemani sepasang manusia itu menggelorakan rasa cintanya. Dan suara jangkrik di sisi sana bersenandung juga, tengah mengiringi desiran aneh yang menjalar di kedua dada mereka.
Beberapa meter dari mereka juga masih terdengar suara jeritan malang Duo Biang Keladi dan pria gemulai.
Namun Romeo dan Juliet sama sekali tak peduli. Rasanya mereka enggan menghentikan kegiatannya. Keduanya tanpa sadar sudah cukup lama bermainnya.
"Ah h Romeo!" Juliet memekik saat kecu-pan turun ke leher jenjangnya. Ternyata hormon dopamin banjir di dalam otak Romeo, salah satu hormon yang berperan penting untuk menginginkan lebih dari ini. Ya, lebih dari sekedar ciuman!
Sementara itu, tubuh Romeo terbakar ketika suara Juliet terdengar mendayu di telinganya. Ia tengah menahan tubuh Juliet agar tak terhempas ke tanah sebab sekarang ia menyusuri leher Juliet dan tanpa henti melabuhkan kec-uupan-kecuupan cepat.
"Romeo, lepaskan aku." Juliet tak mampu, gelanyar aneh mulai membuncah di tubuhnya. Tanpa sadar ia mencengkram kuat rambut Romeo.
"Romeo!" Juliet memekik nyaring. Sensasi geli bercampur rasa aneh berdesir dikulitnya. Ia menggeliat sejenak.
"Romeo," panggil Juliet pelan. Ia dapat mendengar bunyi jantung Romeo begitu cepat seperti suara gendang yang ditabuh sangat kencang. "Ak-"
"Shfttt, diam lah!" Romeo berkata nyaring sambil mengeratkan pelukkannya.
'Juliet, kau sangat nakal!' Romeo berucap di dalam hati.
Hening!
Hembusan angin malam, membuat keduanya tak bergeming dari posisi semula.
Juliet masih memejamkan mata menelusupkan wajahnya ke dada Romeo. Ia tengah menikmati kehangatan tubuh Romeo.
Sementara itu, Romeo sedang melihat kunang-kunang masih berterbangan di sekitar menyaksikan perbuatan mereka barusan. Semesta seakan mendukung mereka untuk menyalakan percikan api cinta dihatinya. Tanpa sadar sudut bibir Romeo melengkung membentuk sebuah senyuman.
.
.
__ADS_1
.
Beberapa meter dari Romeo dan Juliet yang dimabuk asmara. Ketiga pria di pos 2 masih menjerit-jerit histeris. Padahal pocong sudah berhenti melompat-lompat karena mereka keletihan.
"Mommy! Aku mau pulang!" Kei berkata nyaring sambil menarik lagi ingusnya. Kedua tangannya sedari tadi tak diam menyeka buliran air mata yang mengalir dipipinya.
"Akika juga!" Suara Reza terdengar serak-serak basah. Seperti penyanyi rocker!
Kai enggan bersuara namun ia malah sesenggukkan.
Terdengar suara derap langkah kaki mendekat.
"Hei, bro, maaf aku terlambat!"
Lantas Reza, Kai, Kei, pocong, suster ngesot dan mba kunti menoleh ke sumber suara.
Reza dan si Kembar mengerutkan dahi melihat sosok siapa yang datang yaitu mba kunti namun versi berbeda.
Lain halnya dengan pocong-pocong dan suster ngesot.
"Gus, lu baru datang!" Suster ngesot bertanya nyaring.
Mba Kunti yang barusan datang' disinyalir bernama Agus mengangguk.
"Lah, bukannya kuntilanaknya cuma satu, terus ini siapa?" Pocong di sisi kiri menunjuk Mba Kunti dihadapan Kei.
Saat mendengar perkataan pocong tersebut. Seketika Duo Biang Keladi, Reza, suster ngesot dan pocong satu lagi menegang.
Dengan kecepatan menembus kilatan cahaya mereka melihat ke wajah Mba Kunti. Mba Kunti yang diperhatikan malah cekikikan.
"Hihihihihihi!"
Lalu secara bersamaan pula mereka melihat ke bawah kaki Mba Kunti.
Deg.
Tubuh Kei bergetar hebat, ia kembali kencing melihat tubuh Mba Kunti ternyata melayang dan tak menginjak tanah.
"Haaaaaaaaaaaaaaaaa!" Seketika mereka berlari terbirit-birit meninggalkan Reza dan suster ngesot yang masih berusaha untuk bangkit berdiri.
"Lepaskan akika, bodoh!" Reza menjambak rambut suster ngesot. Suster ngesot pun tak mau kalah dan tanpa sengaja menarik kuat celana Reza.
Reza menangis lagi, ternyata Mba Kunti asli masih di situ, dia segera bangkit berdiri begitu pula suster ngesot. Keduanya berlari gesit seperti kucing garong.
__ADS_1
Mba Kunti malah tertawa senang. "Hihihihi!" Tanpa sengaja ekor matanya melihat celana Reza tergeletak di atas tanah. Ia amat penasaran lalu mendekat dan mengendus-endus dengan cepat.
"Hoek, bau pesing!"