
Esok harinya. Mentari telah tiba. Juliet melenguh sejenak, kala sinar matahari menerpa wajahnya. Satu tangannya terangkat menghalau cahaya yang hendak masuk ke dalam bola matanya. Tubuh Juliet bergeser sedikit. Bibirnya menguap pelan sembari meregangkan perlahan otot-otot badannya yang terasa remuk.
Juliet terdiam sesaat, baru saja teringat kejadian semalam. Seulas senyum tipis terpatri dibibirnya. Lalu Kepala Juliet bergerak ke kanan dan ke kiri, menelisik keberadaan Sang suami. Kosong, hanya dirinya saja. Selalu begini, selalu di tinggal sendiri. Bayangan percintaan tadi malam berputar dibenaknya. Romeo benar-benar membuatnya keletihan hingga pukul satu dini hari. Pria itu tak henti-henti menghujam inti tubuhnya.
"Romeo ke mana?" tanya Juliet pada diri sendiri. Kini, wanita bersurai panjang itu duduk di tepi ranjang sembari mempererat selimut putih yang menempel ditubuhnya.
"Padahal ini hari minggu, apa dia olahraga?" Ia bergumam lagi. Tatapan mata Juliet lurus ke depan.
"Lebih baik aku mandi saja." Juliet beranjak, berjalan menuju toilet dengan tertatih-tatih. Rasa perih di bolu kukusnya masih mendera.
***
Ruang Makan. Kepala Juliet celingukkan, menoleh kesana kemari mencari seseorang.
"Mbok, Romeo ke mana ya?"
Mbok Inah tak langsung menjawab. Kedua bola matanya bergerak tak tentu arah. "Mm, ta-di ada temannya datang ke sini pagi-pagi sekali. Den Romeo pergi sama temannya, nggak tahu kemana."
Dahi Juliet berkerut. "Teman? Kai dan Kei?"
Mbok Inah menggeleng. "Bukan, Non." Dengan cepat wanita paruh baya itu menaruh sarapan' nasi goreng di atas meja.
"Terus siapa Mbok, padahal ini hari minggu loh kenapa Romeo pergi ya?" tanyanya, penasaran.
Mbok Inah tak berani menatap bola mata Juliet. "Saya kurang tahu, Non."
Juliet memicingkan mata. 'Kayaknya Mbok Inah, nyembunyiin sesuatu dari aku.'
"Kak Nick sama Kak Sam di mana Mbok? Nggak sarapan?"
"Kemarin mereka pergi ke Canberra (Australia), Non. Ada urusan perkerjaan."
Juliet nampak mangut-mangut. "Mommy sama Daddy juga masih lama ya ke LA?" tanya Juliet lagi. Guratan kesedihan nampak jelas terukir diwajahnya.
"Iya, Non. Masih lama," Mbok Inah menjawab seadanya. Wanita paruh baya itu dapat melihat Juliet dilanda kesepian. Ia nampak iba.
Juliet tak membalas perkataan Mbok Inah, sedang berpikir sejenak. Lalu tiba-tiba ia berkata, "Mbok, temenin aku makan ya!" Juliet menarik kursi agar Mbok Inah turut sarapan bersamanya.
Mbok Inah tersenyum sembari mengangguk pelan.
***
Waktu menunjukkan pukul sepuluh pagi. Kini, Juliet termenung di tepi' kolam renang. Sedari tadi ia sudah berkali-kali menelpon Romeo. Namun, tak terhubung sama sekali. Semenjak kepulangan dari Leadership Camping, Romeo seakan memberikan jarak dan batas untuknya. Juliet menebak Romeo telah memblokir nomornya. Wanita berambut panjang itu mendesah perlahan, heran.
"Ah, mending aku ketemu Reza saja. Jalan-jalan ke mana gitu," gumamnya pelan.
Dering ponsel berbunyi. Lantas Juliet menoleh ke layar lcd. Pucuk di cinta ulam pun tiba. Mungkin ungkapan itu yang pas saat ini. Reza menelpon dirinya dahulu. Jari jempolnya menggeser cepat.
"Bok, ikut akika nongkrong ke cafe yang lagi booming yuk!" Reza tak menyapa, langsung to the point. Juliet sudah terbiasa dengan tabiat Reza. Ia sudah tak heran lagi.
"Yuk, aku juga lagi bosan!"
__ADS_1
Di sebrang sana dahi Reza berkerut.
"Bosan? Babang Romeonya mana uhuk uhuk!"
"Di culik sama Mbak Kunti!" Juliet asal ceplas-ceplos.
"Ha? Cius?"
"Iya!"
Reza memekik. "Haaaaaaa!"
Seketika Juliet menjauhkan ponselnya lalu kembali mendekatkan benda mini itu. "Kenapa kau berteriak, Za?!" Menahan sebal karena telinganya berdengung.
"Akika trauma sama Mbak Kunti. Gara-gara Mbak kunti, burung pipit akika dilihatin teman seangkatan."
Juliet tertawa terbahak-bahak. Dia tentu saja tahu cerita penampakan burung pipit Reza membuat teman kampusnya menjerit. Reza di sebrang sana sudah menggerutu kesal mendengar tawa riang Juliet.
"Sorry, aku bercanda Kok. Ya udah, aku siap-siap dulu. Jemput aku di mansion ya. Bye!"
***
Cafe Cinta Ditolak Dukun Bertindak.
Saat ini, Juliet dan Reza sudah berada di dalam cafe. Keduanya sudah memesan makanan dan minuman. Kini, Juliet dan Reza duduk di bangku saling berhadapan, sambil menunggu pesanan tiba.
"Lumayan bagus tempatnya." Juliet menelisik interior di dalam cafe. Kedua matanya mengedar, mengagumi sejenak, penempatan pernak-pernik, meja, kursi dan beberapa spot foto yang cukup unik menurutnya.
Juliet mengangguk.
"Jul, jadi gimana semalam?" tanyanya, penasaran.
"Capek!" Juliet menjawab pendek. Lalu mendengus kasar.
Reza malah mengedipkan sebelah matanya. Bermaksud menggoda Juliet.
"Capek, tapi enak, Kan? Hehe!"
Pipi Juliet bersemu merah membayangkan pergulatan semalam. Ia tak berniat menjawab ucapan Reza barusan. Senyumannya merekah bak kelopak bunga yang mekar.
Reza terkekeh-kekeh. Lalu memperagakan gerakan temu bibir dengan tangannya.
"Jul, akika penasaran you sama Romeo baru semalam kan panjat pinangnya?"
Juliet menggeleng.
Gurat terkejut nampak jelas di wajah Reza.
"Terus berapa kali?" tanyanya kepo.
Malu. Juliet hanya membalas dengan mengangkat tiga jarinya.
__ADS_1
Reza melonggo. "Ha? Tiga kali esek-!?"
Kedua mata Juliet melebar sembari membungkam mulut Reza dengan tangan kanannya.
"Jangan teriak-teriak, Za!" Juliet berseru sambil menurunkan tangan.
Reza mengangguk cepat.
"Hehe, sorry. Akika syok tahu! Eh, gimana sakit ndak?" Reza sudah mengetahui seluk-beluk kehidupan Juliet. Ia teramat bersyukur Juliet dapat menjaga keperawanannya walaupun berkerja sebagai wanita malam. Ia tak habis pikir ide gila Kakaknya Juliet tercetus begitu saja. Namun berkat Kak Messa, Juliet terselamatkan dan masih segel.
"Hmm, sakit banget. Tapi punyaku tidak seperti kebanyakan wanita lainnya yang malam pertama..." Juliet berucap lirih.
Dahi Reza berkerut samar. Lalu berkata,"Maksudnya?"
Lantas Juliet membuka tas yang tergeletak di atas meja. Lalu mencari sesuatu di dalam. Di tangan kanannya secarik kertas menyembul keluar. Dengan cepat ia membuka dan menyodorkan kertas pada Reza.
"Apaan nih?" tanya Reza, penasaran.
Juliet mendesah berat. "Baca aja."
Reza segera menuruti perkataan Juliet. Kedua matanya fokus memperhatikan logo di atas kertas' tertera rumah sakit yang cukup terkenal di Jakarta. Cukup lama dia memahami keterangan di kertas. Kedua matanya melebar seketika.
Reza menatap ke dalam dua bola mata Juliet seakan tak percaya. "Juliet! Serius?"
Juliet mengangguk pasrah.
"Romeo sudah tahu?" Reza teramat penasaran dengan informasi yang baru saja didapatkan.
Juliet menggeleng pelan. "Belum sama sekali, memangnya dia perlu tahu?"
Reza menepuk jidatnya cepat. "You gimana sih, iya harus dikasi tahu lah!"
Juliet tergugu. Nampak berpikir, sejenak.
'Memangnya harus aku kasi tahu Romeo.' Sel-sel kecil berkompromi dibenaknya.
"Jul! Kapan you periksanya?" tanya Reza lagi penasaran.
"Setelah malam pertama, besoknya langsung aku periksa."
"Jangan bilang pas you sakit waktu itu!" cecar Reza curiga.
Lagi dan lagi Juliet mengangguk.
"Oh my God!" Reza mendengus kasar.
Sedari tadi, Juliet tak berani menatap ke dalam mata Reza, yang menyiratkan tatapan merah menyala.
"Jul, kenapa nggak kasi tahu Romeo. You lupa dia itu menganggap you wanita malam. Ah kacau deh akika pikir you belum panjat pinang!"
"Za, tapi kan dia nggak cinta sama aku. Walaupun aku kasi tahu pasti dia biasa aja. Apa untungnya bagi dia," Juliet berucap pelan. Baru kali ini, ia melihat Reza berang padanya.
__ADS_1
Reza geleng-geleng kepala. "Ckk! Terkadang cinta bisa membuatmu bodoh! Ceritakan semuanya ke akika sekarang!"