Romeo Dan Wanita Malam

Romeo Dan Wanita Malam
Semakin Membenci


__ADS_3

Bugh.


Juliet menyikut dada seseorang di belakang, kala kedua matanya di tutup tanpa aba-aba.


Secepat kilat sosok di belakang menurunkan tangan. "Awh!" desisnya mundur dua langkah.


Juliet membalikkan badan, kenal dengan suara yang bergema di gendang telinganya. "Romeo!" Juliet mulai tersulut emosi.


"Kau ini sangat kasar!" Romeo menarik dan menghembuskan nafas sembari memegang perut sisi kanan, yang terasa sangat sakit akibat pukulan Juliet.


"Aku itu bukan kasar! Tapi, membuat pertahanan diri. Salah kau sendiri menutup mataku!" protes Juliet.


Siapa yang tidak terkejut, jikalau berada di tempat yang sunyi senyap. Tiba-tiba, ada seseorang muncul di belakang tubuhmu, dan menutup kedua matamu. Jadi, wajar-wajar saja kan Juliet melayangkan pukulan.


Romeo mendelikkan mata. "Sudah lah! Apa yang mau kau bicarakan?" tanya Romeo menyelidik.


Juliet mendengus sebal, melihat sikap Romeo. Alih-alih meminta maaf, malah mengalihkan topik pembicaraan. Mungkin, stok kata maaf dari bibir Romeo terbatas!


"Aku mau pergi bersama Reza ke Mall!"


Juliet berbohong enggan membeberkan perihal Gabriel pada Romeo. Biarlah orang tertentu saja yang mengetahui Gabriel. Ia tak mau orang mengiba padanya, ia sangat tak menyukai hal itu, terkecuali Reza yang sudah menjadi teman akrab.


Tadi, Juliet mengirimkan pesan singkat melalui whatsapp pada Romeo mengatakan ingin pergi ke Mall. Namun, sebelum pesan terkirim, gawai Juliet low-battery. Beruntung ia berpapasan dengan Romeo di pelataran kampus. Juliet pun memberikan bahasa isyarat, mau berbicara empat mata di ruangan 501.


Di sini lah mereka sekarang. Bertegur sapa seperti tom dan jerry, tidak seperti kebanyakan orang.


Romeo berpikir sejenak. "Hmm, jangan lama-lama. Lalu apa alasanku jika Mommy menanyakanmu?"


"Tinggal bilang saja aku ke Mall! Susah sekali!"

__ADS_1


"Lalu aku juga akan mengatakan kau akan pergi bersama seorang pria begitu!?" Romeo melipat tangan di dada, tersenyum sinis.


Juliet berdecih. "Cih, yah bilang saja aku pergi dengan teman wanita!"


"Aku tidak terbiasa berbohong dengan Mommy!"


"Berbohong saja kali ini, ribet sekali! Aku pergi!" Juliet berlalu pergi, meninggalkan Romeo. Juliet malas berdebat, lebih baik dia bergegas ke rumah sakit. Biarlah Romeo yang mengatasi sendiri permasalahannya, lagipula Romeo hanya lah suami di atas kertas.


Aku curiga, dia bertemu Sugar Daddynya. Kedua mata Romeo menatap punggung Juliet menghilang perlahan dari pandangannya.


Lebih baik aku mengikuti Juliet. Seulas senyum licik terbit di wajah Romeo.


***


RSU MBA.


"Bok, ruangannya di mana tuch?" Reza menyambar tas ransel pink di belakang mobil.


"Lantai tiga, bangsal Mawar." Juliet membuka seatbelt.


Reza mengangguk, lalu membuka pintu mobil. Juliet jua melakukan hal serupa.


"Eh, di sini dengar-dengar banyak Dokter ganteng loh!" Reza tersenyum kala berpapasan dengan petugas kesehatan di lorong rumah sakit.


Juliet mendelik, tentu saja ia tahu pikiran Reza. "Jadi, sebenarnya ke sini, mau lihat Dokter? Atau lihat Gabriel?" Juliet bertanya ketus.


Reza terkekeh kecil. "Hehe, dua-duanya bok!"Juliet geleng-geleng kepala menanggapi perkataan Reza.


"Reza!" panggil seseorang di belakang.

__ADS_1


Juliet dan Reza menghentikan langkah kaki, lalu berbalik.


"Kak, cepat sekali kau datang!" Reza memeluk seorang pria berjas hitam, yang diyakini Juliet adalah Kakak Reza.


Sebelum sampai di rumah sakit. Reza mengatakan pada Juliet akan meminta bantuan Kakaknya, untuk menemani Gabriel cuci darah. Semula Juliet menolak, ia sungguh tak enak karena melibatkan Kakak Reza. Namun Reza memaksanya, setelah berdebat panjang lebar, akhirnya Juliet mengalah.


"Demi adikku, aku datang lebih cepat. Kau ini, semakin gembul saja ya !" Bimo mengurai pelukan.


Reza mengerucutkan bibir dengan tajam, saat mendengar ucapan Bimo.


"Aish, itu tandanya akika makan nasi," balas Reza kesal.


Bimo terkekeh pelan. "Jadi, ini temanmu yang kau katakan tadi." Bimo melirik Juliet, sedari tadi Juliet terdiam memperhatikan interaksi Reza dan Bimo.


"Iya, Kak. Kenalin ini Juliet!" Reza memperkenalkan Juliet pada Bimo.


"Juliet."


"Bimo."


Keduanya saling berjabat tangan satu sama lain.


Manis! Batin Bimo.


"Biasa aja kali mandangnya, Kak!" Reza berseru saat melihat Bimo tak berkedip menatap Juliet.


Juliet hanya tersenyum tipis menanggapi ucapan Reza.


Lain halnya dengan sosok yang berada di balik pilar rumah sakit, ia mengepalkan kedua tangannya. "Aku membencimu," desisnya pelan.

__ADS_1


__ADS_2