
...****************...
Romeo baru saja keluar dari kamar mandi, ia hanya mengenakan handuk yang di lilitkan di atas perutnya, tubuh atletisnya terlihat menggoda. Buliran air masih menetes di sekujur tubuhnya.
Romeo bersitatap sejenak dengan Juliet yang terpaku memandangnya. Ia tak peduli pada sosok asing yang berada di dalam kamarnya itu. Romeo acuh tak acuh, ia menyambar handuk kecil di atas meja. Kemudian menyeka rambutnya yang masih basah.
Sementara itu, Juliet tengah menyembunyikan rona merah di pipinya. Ia bingung pada dirinya sendiri, padahal ia sudah sering melihat pria lain bertela-njang dada di tempatnya berkerja dahulu. Namun, entah mengapa melihat Romeo bertela-njang dada, darahnya berdesir naik merespon syaraf-syaraf di otaknya. Ada apa kah dengan dirinya, pikir Juliet.
"Guk, guk, guk!" Hiro menyalak memecahkan keheningan di dalam ruangan.
"Ada apa Hiro?" Romeo telah selesai mengeringkan rambut.
Hiro mengarahkan mata pada Juliet, seakan berkata. Ada wanita di dalam kamarmu, kenapa diam, kenapa tidak di ajak bicara, kira-kira seperti itu lah bahasa kalbu Hiro.
Romeo menarik nafas panjang, mengalihkan pandangan mata pada Juliet. "Kalau kau mau mandi, mandi lah sekarang!" Romeo berkata ketus.
"Bajuku tidak ada," ucap Juliet pelan. Ia baru saja tersadar jika tak membawa pakaian.
Romeo mengerutkan dahi, mendengar nada Juliet yang lembut tak seperti biasanya. Ia tak mau ambil pusing, lalu berjalan menuju nakas, menekan satu tombol di telepon.
"Siapkan pakaian untuk menantu tercinta Mommy, antarkan ke kamarku!" titah Romeo seraya tersenyum sinis pada Juliet. "Sudah, kau mandi sana! Dasar bau!"
"Aku tidak bau!" protes Juliet menatap tajam.
Romeo tak menyahut, namun berjalan cepat menghampiri Juliet.
Juliet di landa kepanikan, saat melihat pancaran mata Romeo yang berkilat menyala. Begitu pula hentakan suara kaki Romeo terdengar cepat, beriringan pula dengan jantungnya yang berdetak kencang. Ia semakin heran dengan respon tubuhnya, tanpa sadar ia mundur dua langkah.
Kini, jarak Romeo dan Juliet hanya beberapa jengkal. "Kau itu tidak usah membuatku marah, sudah cukup kau membuat bebanku bertambah, tidak usah melawanku! Aku suamimu selama 1 tahun ini! Jadi, ikuti apa yang aku katakan! Paham!" Romeo menatap tajam dan dingin mengintimidasi Juliet.
Bagaikan sebuah sihir, Juliet mengangguk tanpa protes sedikit pun.
Seulas senyum licik terbit di wajah Romeo, kemudian ia berlalu pergi menuju walk in closet, meninggalkan Juliet yang berdiri mematung.
Detik kemudian, Juliet segera tersadar, ia menghirup udara di dalam kamar, berusaha menetralisir rasa gugup yang mendera.
"Ada apa denganku," gumamnya pelan.
....
Sementara itu.
"Pfft...." Romeo tertawa pelan.
"Lucu juga dia jika sedang ketakutan, sepertinya aku ada mainan baru!" Romeo membuka lilitan handuknya, dan menyambar piyama tidur.
"Apa lebih baik aku mengerjainya saja ya malam ini." Pikiran picik Romeo mulai terangkai di benaknya.
"Ya, aku akan memulainya malam ini!" Final Romeo, sembari memakai piyama di tubuhnya satu-persatu.
Romeo berjalan menuju cermin besar, dan mematut sejenak penampilannya, ia mengangkat satu alis mata. "Dengar, Rom. Kau tidak boleh kalah dengan wanita murahan itu!" Romeo berbicara dengan dirinya sendiri.
__ADS_1
***
Setelah selesai, mengenakan pakaian. Romeo melangkah keluar. Ia mengerutkan dahi saat tak melihat keberadaan Hiro di dalam kamar. Ia menoleh sekilas di atas nakas sudah tersedia beberapa makanan dan minuman.
"Apakah Mommy, menyuruh kami makan di sini?" Romeo bertanya pada diri sendiri.
"Ah sudah lah! Lebih baik aku menonton saja dulu!" Romeo menyambar remote tv di atas lemari buffet, lalu menjatuhkan bokong di sofa. Tanpa sadar melirik sekilas ke ambang pintu kamar mandi.
"Lama sekali wanita itu mandi!"
......................
"Duh, bagaimana ini mengapa baju seperti ini yang diberikan!"
Juliet masih berada di kamar mandi. Ia gusar sebab baju yang diberikan padanya, pakaian yang sangat transparan. Ia tentu saja tahu, baju apa yang ia kenakan sekarang, sebuah baju dinas untuk pengantin baru.
"Ah sudahlah, lagian Romeo tidak akan terangsang, kan belalainya tertunduk, haha!" Juliet baru saja ingat dengan kutukan Romeo. Jadi kemungkinan Romeo tidak akan mudah terpancing.
"Lebih baik aku keluar, aku sangat lapar!" Juliet memutar gagang pintu, tanpa rasa takut melangkah pelan keluar.
Daun telinga Romeo menangkap derap langkah kaki melangkah ke arahnya, secepat kilat ia menoleh ke samping.
Deg.
Nafas Romeo tercekat, melihat pemandangan di depan mata. Juliet menyembul dari balik kamar mandi. Ia memakai pakaian transparan yang berwarna merah maroon. Cahaya lampu di atas memperlihatkan lekukan tubuhnya, yang nampak begitu sexy dan menggoda. Kedua mata Romeo enggan berkedip, tanpa sadar sesuatu di bawah sana bangkit.
Romeo, sadar lah dia wanita malam, jangan kalah. Dia pasti mau menggodamu! Batin Romeo berperang.
"Rom!" panggil Juliet.
"Hmm."
"Aku lapar," gumam Juliet pelan, ia berdiri tegap dua langkah dari jarak Romeo.
Rom, kau lupa katanya kau mau mengerjainya. Bisikan setan tiba-tiba memasuki benak Romeo.
Benar juga, mungkin ini saatnya.
"Rom!" Juliet memanggil sekali lagi, sebab tak ada balasan dari Romeo. Ia masih tak bergeming dari posisi semula.
"Apa?!" tanya Romeo ketus sembari menahan sesuatu di bawah sana.
"Aku makan dulu!" sahut Juliet tak kalah ketus.
"Siapa yang suruh kau makan? Aku ini suamimu layani aku!" Romeo melirik sekilas.
"Kenapa aku harus melayanimu?! Memangnya aku babumu!" Juliet berjalan menuju nakas mengambil makanan yang telah disediakan.
Lantas Romeo bangkit berdiri, melangkah cepat, menghampiri Juliet yang sedang meminum jus mangga.
"Ini punyaku!" Romeo menyambar gelas dari tangan Juliet.
__ADS_1
"Kenapa kau mengambil punyaku?!" bentak Juliet mulai tersulut emosi sembari menyeka bibirnya, yang nampak belepotan sebab Romeo mengambil gelas miliknya secara paksa.
"Siapa bilang ini punyamu ha?!" Romeo segera meminum jus mangga dengan sekali tegukkan.
Juliet mengepalkan kedua tangan, saat melihat Romeo menghabiskan minuman kesukaannya. Padahal tadi asisten rumah tangga mengatakan padanya, minuman tersebut dibuatkan khusus untuknya. "Dasar rakus!" Juliet mendengus kesal, dan secepat kilat menyambar piring di atas nakas. Kemudian duduk di tepi ranjang.
Romeo menanggapi ucapan Juliet dengan menyeringai licik. Dia pun ikut mengambil makanan, dan tanpa sadar duduk di samping Juliet.
"Kenapa kau dekat-dekat ha?!" murka Juliet sembari mengenggam sendok.
"Suka-suka aku! Ini kamarku!" Romeo tak mau kalah, dia melirik sekilas tubuh Juliet. Aroma tubuh Juliet menyeruak ke indera penciumannya.
Wangi sekali!
Hei, Rom sadarlah. Sudah berapa banyak pria yang menjamah tubuhnya. Romeo mengelengkan kepala mengusir pikiran nakalnya.
"Orang aneh?!" celetuk Juliet kala melihat Romeo menggerakkan kepala. Ia memasukkan satu sendok makanan ke dalam mulut.
Duh, kenapa badanku panas ya. Batin Juliet. Saat merasakan sensasi yang aneh mulai menjalar di tubuhnya.
Romeo pun mulai merasakan badannya, terbakar panas seperti kobaran api.
Panas banget! Ia melirik sekilas pada AC di atas, tertera 16 derajat celcius.
Nggak mungkin rusak kan?!
Tanpa sengaja, kedua tangan pengantin baru itu saling bersentuhan. Sesuatu yang aneh tiba-tiba berdesir naik seperti tegangan listrik. Sontak keduanya bersamaan menoleh ke samping.
Deg.
Romeo dan Juliet saling bersitatap satu sama lain dalam diam.
Deg.. Deg .. Deg....
***
Sementara itu, di luar pintu kamar Romeo.
"Tadi kau sudah menaruh obat perangsang di minuman jus mangga kan?" bisik Nickolas di daun telinga Samuel.
Samuel membalas dengan mengangkat jempol.
Sepersekian detik.
"Ah Romeo! Apa yang lakukan?!" pekik Juliet.
.
.
.
__ADS_1