
Selang beberapa menit pun berlalu, Juliet menepuk-nepuk punggung Romeo. Sebab dekapan Romeo sangat lah erat membuatnya kesusahan untuk bernafas.
"Rom, sudah belum?" Juliet bertanya pelan tanpa menghentikan pergerakan tangan.
"Sebentar lagi,"jawab Romeo tanpa membuka mata. Mendengar ucapan Romeo, Juliet mengerutu di dalam hatinya. Ia mendorong sedikit dada Romeo memberikan kode agar melonggarkan pelukannya. Namun Romeo tak bergeming sedikitpun.
'Hangat sekali, aku kenapa sih? Kalau melihat Juliet berdekatan dengan orang lain selalu marah-marah tidak jelas' Romeo berucap di dalam hati.
'Apa Juliet benar-benar menyihirku? Awas saja kau ya Jul, aku akan membuatmu menderita' Romeo mengendus-endus rambut halus Juliet.
'Dia pakai shampoo apa ya, shampo pantene kah? Atau sunsilk? Wangi!' Romeo tanpa sadar mencium ceruk leher Juliet.
Seketika Juliet merasakan sensasi geli yang merasuk kulit lehernya."Romeo! Apa yang kau lakukan?!" Ia mengeliat sejenak.
Mendengar perkataan Juliet, Kai berbalik."Ada apa?" Guratan panik terpampang jelas di wajahnya.
"Geli," kata Juliet berusaha mendorong lagi tubuh Romeo. Ia tersenyum kikuk pada Kai.
Kai tanpa sadar menaikkan sudut bibirnya kala melihat senyuman Juliet semanis madu. Ia tenggelam dalam pikirannya. Dan tak mendengarkan panggilan Juliet yang sedari tadi meminta pertolongan padanya.
"Kai, Kai bantu aku!"
Detik kemudian, lamunan Kai buyar.
"Romeo, lepaskan Juliet. Dia kesusahan bernafas," Kai berkata sembari menepuk pundak Romeo.
Sementara itu, Romeo bagaikan tuli tak mendengar perkataan Kai. Ia asik meracau sendiri di dalam benaknya.
"Romeo!" panggil Juliet dan Kai serempak. Juliet pun mendorong kasar tubuh Romeo.
Romeo tersentak kaget. Ia terhuyung ke belakang, Kai dengan sigap menahan tubuhnya agar tidak terjatuh. "Kau kasar sekali!" sahut Romeo.
"Rom, Juliet tidak kasar. Kau yang melamun dari tadi, kau memeluk Juliet begitu erat, sampai-sampai dia kesusahan bernafas," Kai berkata cepat sembari menatap dingin.
Romeo enggan menyahut. Ia menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, merutuki kebodohannya. 'Bodoh sekali kau, Rom!'
"Hm." Romeo hanya berdeham menetralisir rasa malunya.
"Sudah tidak gatal lagi kan?" Juliet bertanya datar.
Romeo membalas dengan mengangguk.
Juliet beralih menatap Kai. "Kai, aku baru ingat, kau tadi mau berbicara apa padaku?"
__ADS_1
Kai tergugu.
'Aku cuma mau bilang, aku menyukaimu' Kai hanya mampu berucap di dalam hati.
"Kai, kau mau berbicara apa?" Romeo amat penasaran. Ia memicingkan mata.
"Aku cuma mau bilang, kalau kau kedinginan pakai saja jaketku. Aku membawa banyak jaket di dalam tas," Kai berkilah, tidak mungkin ia berkata jujur di saat Romeo berada di sini. Kai menebak jika Romeo mulai menaruh hati pada Juliet. Ia di ambang dilema.
Mendengar ucapan Kai, Juliet tersenyum simpul. "Terimakasih Kai atas tawarannya, aku sudah membawa banyak jaket."
"Benarkah?" Kai tersenyum sumringah kala melihat senyuman Juliet membuat dadanya berbunga-bunga.
Juliet membalas dengan mengangguk.
"Hmmmmmmmmmmm!" Romeo berdeham sangat keras, tatkala melihat Juliet dan Kai berbicara tanpa menghiraukannya. Ia berusaha meredam rasa aneh yang mulai merasuk ke relung hatinya.
Lantas Juliet dan Kai menoleh ke arah Romeo.
"Aku cuma berdeham, menyadarkan kalian kalau Senior menyuruh kita ke sana!" Romeo menunjuk ke sisi kanan dan memang benar Panitia tengah memegang toa dan memberikan kode agar mereka berkumpul.
"Iya." Juliet mengayunkan kaki menghampiri Panitia yang sudah berteriak memanggil teman-temannya.
Romeo dan Kai pun mengekori Juliet dari belakang.
Dahi Romeo berkerut. Ia mencerna ucapan Kai dan melirik sekilas. "Maksudmu?"
Kai menarik nafas panjang. "Kau menyukai Juliet?" tanyanya pelan.
Romeo tergugu.
"Rom?" Kai menoleh ke samping, menunggu jawaban dari Romeo.
"Ti-dak." Bibir Romeo kelu, ia menjawab dengan tergagap-gagap.
"Bagus, maka dari itu tetap pada pendirianmu. Kau tahu kan aku menyukai Juliet. Setelah satu tahun kalian bercerai, aku akan mengambil Juliet menjadi milikku. Maaf kali ini aku egois,"Kai berkata serius. Ia merasa lega tatkala mendengar pernyataan Romeo. Ia tak mau mengalah untuk masalah hati.
Romeo tak menyahut. Ia malah menatap punggung Juliet di depan sana.
'Juliet' Sebuah nama yang tiba-tiba ia ucapkan di dalam hatinya.
***
Panitia memberikan pengarahan pada mahasiswa-mahasiswi baru. Untuk sementara waktu, mereka akan menginap di camp khusus. Panitia menimbang-nimbang sesaat, karena curah hujan tadi siang membuat tanah menjadi lembab dan beresiko pada jarak tempuh ke tempat tujuan. Besok pagi mereka akan pergi ke bawah gunung untuk mendirikan perkemahan sesuai dengan rencana awal.
__ADS_1
Maba pun mengerti dan mengangguk patuh. Mereka bergegas menuju camp sembari menyeret koper, tas, dan barang-barang bawaan mereka masing-masing.
"Eh, nanti kita mandi di sungai?" Reza bertanya pada Juliet yang berada di samping tubuhnya. Pria bertubuh gempal itu tengah menyeret koper kuningnya.
"Iya, kau tidak mendengarkan Kak Miguel," Juliet berkata pelan sembari mengedarkan pandangan di sekitar.
"Dengar sih, terus mandinya gimana? Akika kan malu, nggak bawa kemben," kata Reza menampilkan wajah kebingungan.
Juliet mendesah panjang lalu mendelikkan mata. "Kau kan laki-laki! Tinggal pakai boxer atau apa?! Seharusnya aku yang bingung mandinya bagaimana?"
"Ih, galak amat sih! You kan tahu akika setengah wanita, setengah laki-laki."
"Ah sudahlah." Juliet malas meladeni Reza yang bisa saja dia berubah menjadi setengah laki-laki pula. Ia mempercepat langkah kakinya meninggalkan Reza yang kesusahan menyeret kopernya.
"Hei, tunggu akika!" panggil Reza menggerakan badannya dengan gemulai. "Ih, nyebelin banget sih!"
**
Tepat pukul tujuh malam, sebagian maba sudah menjalankan aktivitasnya masing-masing. Lain halnya dengan Juliet, ia gundah gulana sebab tasnya tidak berada di tempat semula.
Juliet berusaha mencari ke sana kemari. Tidak lupa ia juga bertanya pada teman satu kamarnya. Berharap mereka melihat tas miliknya, namun mereka juga tidak tahu sebab mereka baru saja tiba di kamar.
"Duh, aku mau mandi gimana ya," gumam Juliet tanpa menghentikan gerakan tangannya.
Tanpa sengaja, ekor matanya melihat tas ranselnya tergeletak di tempat sampah. Ia lega karena tasnya dapat segera ditemukan, akan tetapi ia keheranan mengapa tasnya berada di tempat sampah. Juliet melamun sejenak, lalu mengeleng-gelengkan kepala. Dia tak mau ambil pusing. Lebih baik melanjutkan aktivitasnya yang tertunda.
Ia segera membawa tas ranselnya, hendak pergi ke sungai terdekat yang di tunjuk Panitia. Ia pergi bersama teman satu kamarnya. Sebelum pergi ke tempat tujuan. Tidak lupa mereka meminta izin pada Senior terlebih dahulu. Senior memberikan batas waktu dua puluh menit untuk mereka membersihkan badan. Juliet juga diberikan bekal senter kecil untuk menerangi perjalanan mereka ke sungai.
Di sepanjang langkah kaki, Juliet terpana sejenak dengan pemandangan malam di daerah tersebut. Ia amat senang untuk pertama kalinya mempunyai pengalaman baru.
Tak lupa ia mengabadikan pemandangan di depan matanya menggunakan handphone mininya. Bermaksud mengirimkan potret pada Gabriel, walaupun di sini tidak ada jaringan.
Menempuh kurang lebih lima menit lamanya, Juliet dan temannya tiba di sungai kecil. Udara malam menusuk ke dalam kulitnya. Juliet terpana dengan aliran sungai yang cukup tenang dan tak terlalu dalam menurutnya. Rembulan di atas sana menyinari tempat tersebut, membuat sungai semakin terlihat indah di pandang. Air sungai pun berwarna biru bening hingga menampakkan makhluk air seperti kumpulan ikan kecil dan lumut-lumut yang menempel di bebatuan.
Tak mau menunggu waktu yang lama. Juliet segera menaruh tasnya di atas bebatuan besar dan memberikan kode pada temannya, untuk bergegas membuka pakaian dan memakai kembem yang ia pinjam pada Senior wanita tadi. Setelah selesai memakai kembem mereka berjalan perlahan di tepi sungai.
Namun tiba-tiba.
"Aaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa!"
***
Kembem : Sejenis sarung bisa di pakai untuk mandi di sungai
__ADS_1