
"Kau membuat kami jantungan Reza!" Kai berseru pada Reza. Sebab beberapa detik yang lalu, Reza menakut-nakuti mereka dengan mengangkat tangan tengkorak seolah-olah hidup. Tentu saja mereka terkejut. Belum lagi, Reza mengarahkan senter di mata tengkorak. Benar-benar menyeramkan, bagi Duo Biang Keladi.
"Ihhh, akika juga terkejut kali tadi. You nggak tahu aja akika ngompol!" Reza berkata jujur. Sebab, tengkorak itu menyembul dari atas pohon. Ia yang amat penakut, tentu saja terkejut, dan tanpa sadar terkencing-kencing di celana sambil menahan rasa takut yang mendera.
Duo Biang Keladi melonggo. "Ha?" Mereka tidak salah dengarkan kalau Reza mengompol. Lantas keduanya mengendus-endus tubuh Reza. Astaga, yang benar saja! Bau pesing di mana-mana.
Kai dan Kei hanya bisa menggeleng-geleng kepala. Keduanya tak ada hak menghakimi, mungkin saja mereka juga bisa mengompol di celana.
"Ya sudah, lebih baik kita bertiga bersama-sama saja ke pos 2!"
Ide brilian tercetus dari otak Kai. Setidaknya lebih banyak teman tidak akan membuat mereka takut. Tanpa banyak bantah, Kei dan Reza mengangguk setuju. Begitu lah kesepakatan ilegal terjadi di tengah hutan. Padahal tadi mereka sudah diingatkan Panitia, harus mengikuti perintah Panitia dengan benar, yaitu KALIAN HARUS BERJALAN KE POS SESUAI NOMOR UNDIAN!
Apakah ketiganya ingat? Sepertinya tidak? Mungkin saja ingat? Tapi sengaja! Karena rasa takut mereka amat besar. Fiuh....
Ketiganya pun memutuskan bergegas ke pos 2.
"Kenapa kau membawa tengkoraknya?" Kei melirik Reza. Ia amat penasaran mengapa Reza tidak meninggalkan tengkorak, malah membawanya bersama mereka.
"Hehe, biar banyak teman!" Reza mengapit tengkorak diketeknya. Ia nyengir kuda hingga menampakkan gigi-gigi putihnya.
Kai dan Kei mendengus kasar.
"Jangan sampai tengkorak itu menyulitkan kita!" Kai memperingati agar benda berwarna putih itu tak merepotkan mereka.
"Tenang saja, hehe!" Reza menyelipkan rambut pendeknya ke telinga. Ia berjalan begitu lentur bak supermodel.
Sekitar satu menit berjalan sesuai tanda panah, ketiganya berhenti sejenak.
"Masih jauh?" Reza bertanya karena kakinya pegal dan keletihan.
Duo Biang Keladi membalas dengan mengangkat bahunya menandakan mereka tidak tahu.
"Ayo, kita jalan lagi!" ajak Kai agar mereka segera sampai. Kei dan Reza berjalan kembali lurus ke depan.
"Kak, itu pos 2!" Kei mengarahkan senter ke pohon besar yang di bawahnya terdapat tenda kecil, dan di depan tenda terpampang kertas besar yang tertulis. "POS 2."
__ADS_1
Ketiganya bergegas menghampiri tenda. Sesampainya di dekat tenda. Mereka mengerutkan dahi tak melihat keberadaan satupun Panitia seperti di Pos 1.
Reza celingak-celinguk, lalu berkata, "Kok nggak ada Kakak Panitia ya, jadi kita ngapain nih?" Ia melirik Duo Biang Keladi sekilas sembari menaruh tengkorak di dekat pohon.
Kai menggeleng karena ia tidak tahu, akan tetapi Kei malah memicingkan mata, ia melihat di dalam tenda terdapat kardus kecil. Lantas Kei berjalan lalu menyambar kardus.
"Apaan tuh?" Reza amat penasaran.
"Nggak tahu, coba periksa." Kai menatap Kei agar memeriksa isi kardus, siapa tahu saja ada petunjuk.
Dengan cepat Kei membuka kardus. Ia mengernyitkan dahi melihat secarik kertas besar berwarna putih berada di dalam. Pria bertampang blasteran itu membaca dengan seksama isi kertas. Dan ternyata isinya tentang satu kasus kecelakaan dan bagaimana penanganannya? Ketiganya terpaku di tempat sebab jawaban harus di jelaskan dalam waktu 1 menit. Jika tidak kemalangan akan menimpamu, tertanda Panitia yang imut kayak marmur, begitu isi kertas tersebut.
Duo Biang Keladi dan seorang pria gemulai grasak-grusuk, mereka gelisah, mencari-cari jawaban di otak sembari mendongakkan kepala ke atas, siapa tahu saja ketemu jawabannya. Mereka was-was takut poin akan dikurangi. Dan bisa jadi Romeo akan meradang pada mereka.
"Duh, gimana nih!" Reza menghela nafas berat.
"Nggak tahu nih!" Kai berkacak pinggang berjalan mengitari pohon kecil. Begitu pula dengan Kei, bagai anak kembar siam mereka selalu saja tanpa sadar melakukan hal serupa.
"Si-al! Sudah satu menit berlalu!" Kei menghentikan langkah kakinya.
"Iya, nih sudah lah. Biarin aja Romeo marah! Udah yuk kita ke pos 3!"
Grep..
"Hei, siapa yang nahan kaki akika?!"
Lantas Duo Biang Keladi mengerutkan dahi sembari menghentikan langkah kaki. Keduanya memutar tubuh ke belakang. Seketika mata mereka terbelalak.
"Haaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa!" jerit keduanya. Lalu menutup matanya.
"Ken-apa?" Merasakan ada sesuatu yang tidak beres, Lantas Reza menoleh ke bawah.
"Aaaaaaaaaaaaaaaaaaa, suster ngesot!" Suster ngesot tersenyum sumringah pada Reza, matanya hitam, terdapat bercak darah di sekujur tubuh dan wajahnya. Ia tengah memegang kedua kaki Reza.
Reza hendak berjalan namun yang ada ia malah terjatuh karena tarikan tangan suster ngesot.
__ADS_1
"Aaaaaaaaaaaa, mamiiiiiiiiiiii!" Reza memekik meronta-ronta di atas tanah. Dengan cepat ia menyambar kaki Kai.
"Haaaa!" Kai menjerit kala kakinya di pegang seseorang. Sedari tadi ia masih memejamkan matanya. Begitu pula Kei.
"Kei, lari!" perintah Kai pada adiknya sembari membuka matanya dan memutar tumit kakinya.
"Haaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa!" Kai dan Kei berteriak nyaring kala melihat mbak kunti ada dihadapan mereka. Matanya putih semua, mukanya hancur dan bersimbah darah.
"Hihihiihihihihihihihihi!" Mbak kunti cekikikan riang. Ia menampakkan senyuman terbaiknya.
"Mommmyyyyyyyyyyy!" jerit Kai dan Kei frutrasi.
Keduanya ingin berlari ke sisi kanan dan ke kiri, akan tetapi ada pocong gondal-gundul melompat-lompat cepat mengepung mereka bertiga.
Tuing, tuing, tuing, tuing. Begitu bunyi lompatannya.
"Mamiiiiii!" Reza juga menjerit suster ngesot malah semakin mencengkram kakinya, ia beranjak berdiri tapi tak bisa karena beban tubuhnya amat berat. Alhasil dia hanya bisa menangis tersedu-sedu sembari menahan kaki Kai, meminta pertolongan.
Jadi, sekarang posisinya.
Reza di tanah, berbaring tertelungkup, kakinya di tarik suster ngesot. Ia masih menahan kaki Kai.
Kai berada di depan Reza, ia masih menjerit histeris sambil memegang pundak Kei. Matanya mulai berembun.
Sementara, Kei sudah terkencing di celana karena Mbak Kunti cekikikan terus sedari tadi dihadapannya. Kedua matanya menganak sungai sampai-sampai ingusnya pun keluar.
Srettttt.... Suara tarikan ingus Kei.
Tak ketinggalan pocong di sebelah kanan dan kiri masih melompat-lompat.
Tuing, tuing, tuing, tuing....
"Hihiiiiiiiiihihihihihihihihi!" Mbak Kunti membuka suara.
"Haaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa!!!" jeritan malang Duo Biang Keladi dan Pria Gemulai.
__ADS_1
Tengkorak said : Berisik banget dah! Mending aku selfi