
"Biar Daddy saja yang mengangkat Mommy!" Leon mengangkat tubuh istrinya dan merebahkan di atas sofa panjang.
"Mommy bangun!" Romeo bersimpuh di bawah. Ia mengguncang tubuh Lily, namun tak ada pergerakan sama sekali, kedua matanya mulai terlihat sendu.
"Hei, jangan di guncang!" Nickolas menyambar kotak P3K, membuka cepat dan mengambil minyak kayu putih. Lalu menyodorkan pada Daddynya.
"Mommy, kenapa Dad?" Romeo dilanda cemas, ia mengelus tangan Lily.
Leon tak menyahut, dia sibuk mengurut-urut kening istrinya.
"Dad," panggil Romeo lagi. Kala Daddynya hanya terdiam membisu.
"Shftt, diamlah Rom. Tunggu sampai Mommy sadar," Nickolas berkata sembari memegang pundak kanan Romeo.
Romeo menoleh ke atas. Dia mengangguk tanpa sadar. Ia teramat khawatir, pasalnya ini pertama kalinya melihat Mommynya pingsan.
Suara pintu terbuka.
Lantas ketiga orang di ruang, menoleh ke sumber suara.
Kedua mata Samuel seketika melebar, melihat Mommynya terbaring di atas sofa, ia berjalan cepat mendekati Lily.
"Mommy, kenapa?" Pertanyaan yang sama di lontarkan Romeo tadi. Samuel panik, kala melihat Lily terbaring lemah.
Tak ada satupun yang membuka suara.
__ADS_1
"Dad," panggil Samuel, meminta penjelasan. Ia grasak-grusuk sendiri.
Leon mengangkat wajah, lalu menghembuskan nafas perlahan, berbicara melalui gerakan mata pada putranya.
"Mom!" Romeo memanggil, tatkala melihat kedua mata Lily mulai terbuka perlahan.
Lantas Leon mengubah posisi tubuhnya, lalu memeluk cepat sang istri. "Honey, kita ke rumah sakit ya!" Leon mengecup kening Lily dan mendekapnya erat.
"Aku tidak apa-apa, Honey. Hanya keletihan saja."
"Benar kata Daddy! Mommy harus ke rumah sakit!" Nickolas dan Samuel berucap serempak.
Sementara itu, Romeo hanya terdiam menatap nanar Mommynya. Ia nampak melamun.
"Sudah Mommy baik-baik saja, mungkin karena stres, Mommy tidak ada teman bermain di mansion." Lily mengurai pelukan dan menyandarkan kepala di bahu suaminya.
"Menurutmu?" Lily malah balik bertanya.
"Aish, jangan menggunakan kode, Mom. Aku tidak mengerti." Nickolas berkacak pinggang, berjalan maju mundur di ruangan. Ia masih gelisah dengan keadaan Mommynya.
"Sopan dengan Mommymu, Nick!" Leon berkata dingin sembari mengelus pipi Lily.
Mendengar penuturan Daddynya, Nickolas bungkam, dan berhenti mengayunkan kaki.
"Romeo." Lily tak menjawab pertanyaan dari Nickolas, melainkan merentangkan kedua tangannya, memberikan kode, meminta Romeo untuk memeluknya.
__ADS_1
Romeo berhamburan mendekap Mommynya. "Nak, Juliet di mana? Apa yang tadi ingin kau bicarakan?" tanya Lily pelan sembari mengelus perlahan punggung Romeo.
Romeo tergugu.
Duh, kayaknya waktunya nggak pas deh, Mommy lagi sakit. Aku takut Mommy tambah stres.
Romeo mengurai pelukkan. "Juliet pergi bersama temannya ke Mall, Mom." Romeo berbohong. Ia tak mau menambah beban pikiran Mommynya. Untuk saat ini, ia akan menunda perihal hubungannya yang tidak dilandasi cinta itu. Otak kecil Romeo seketika berubah haluan, ia tak akan bercerai hingga satu tahun ke depan, akan tetapi ia mau membuat Juliet menderita dahulu.
Lily menarik nafas dalam sembari mengedarkan pandangan pada ketiga anaknya. "Nak, Mommy sudah tua."
Ketiganya menatap serius. Kala mendengar suara Mommynya terdengar pilu.
"Mommy menginginkan seorang cucu, dan menghabiskan sisa-sisa hidup.... "
Perkataan Lily mengantung di udara. Leon seketika merengkuh kembali tubuh istrinya.
"Mom! Aku tidak suka Mommy berbicara melantur!" Romeo berkata sembari menahan sesuatu yang akan keluar dari balik bola matanya. Ketakutan mulai merasuk ke palung hatinya. Takut akan kehilangan, dan takut akan ditinggalkan.
"Romeo! Pelankan suaramu!" hardik Samuel menatap tajam.
"Hei, sudah lah. Kalian jangan berdebat."
Nickolas melerai kedua adiknya agar tak mengusik interaksi kedua orangtuanya yang kini saling memeluk satu sama lain. Nickolas dapat melihat tubuh Mommynya bergetar di dalam pelukan Daddynya. Apakah Mommynya sakit? Ia hanya dapat menerka-nerka di dalam benaknya. Dia berharap Mommynya baik-baik saja.
Romeo dan Samuel mendengus pelan dan seketika terdiam menatap kedua orangtuanya di depan.
__ADS_1
"Maka dari itu, salah satu dari kalian harus memberikan Mommy cucu!" seru Lily tiba-tiba setelah menyeka air matanya.