Romeo Dan Wanita Malam

Romeo Dan Wanita Malam
You and I


__ADS_3

Beberapa tahun kemudian. Di sebuah sawah yang membentang luas. Seorang pria sedang mencangkul garapan sawahnya, terik matahari di atas pencakar langit, lantas tak membuatnya berhenti mengayunkan pacul. Jari-jemarinya menyeka cepat peluh yang membanjiri keningnya. Dia mendongak ke atas, melihat matahari masih meninggi, topi bambu yang bertengker di kepala, ia rapikan sesaat.


"Capek juga," desisnya pelan. Sambil menaruh cangkul di tanah. Ia menoleh ke belakang, ke arah rumah yang berada di tengah-tengah sawah. Seulas senyum tipis terpatri di wajahnya.


"Ya ampun ganteng banget!" seru seorang wanita di tepi sawah bersama dua teman wanitanya. Pria itu menoleh sekilas, menatap datar tanpa ekspresi sedikitpun. Kemudian beralih menatap rumah lagi, entah apa yang dilihatnya. Tiba-tiba kakinya berayun.


"Mas, sudah makan? Ini Aina bawain makan siang!" Wanita berkulit kuning langsat itu menyodorkan rantang pada si pria. Wanita itu memakai baju yang terbuka hingga menampakkan belahan dada, dengan genit dia membusungkan dadanya, berniat menggoda pria di depan.


Romeo melayangkan tatapan dingin, lalu berkata,"Saya baru tahu, menjadi wanita murahan tidak harus menjadi wanita malam. Memamerkan lekukan tubuh kepada suami orang sudah bisa dikatakan wanita murahan."


Deg.


Ketiga wanita itu terpaku tempat. Kala mendengar ucapannya. Sedangkan si pria berjalan menjauhi mereka.


'Si@l! Aku sudah cantik begini! Apa sih kelebihan istrinya? Hitam begitu!' desis si wanita dalam hati sembari mengepalkan kedua tangan.


Romeo berjalan ke arah rumahnya. Dengan langkah riang, memasuki teras rumah yang sudah ia tinggali satu tahun ini bersama sang istri.


"Sayang!"


Romeo mengambil air di ember dan membasuh kaki secara bergantian. Kemudian mengelap pelan di keset kain.


"Sayang!" panggil Romeo lagi, kala tak mendengar sahutan Juliet.


"Haa!" Suara teriakan Juliet terdengar di dalam. Dengan cepat Romeo masuk, berjalan ke arah dapur.


"Sayang, kenapa?" tanyanya sambil mematikan kompor dan menutup wajan dengan penutup.


Juliet memanyunkan bibirnya, saat Romeo telah pulang sebelum gorengan ikan lelenya matang. Bagaimana tidak, sedari tadi, dia masih berjilbaku di dapur, memasak ikan kesukaan suaminya. Pasalnya, dia tak terlalu pandai memasak. Tadi, percikkan minyak goreng, mengenai tangannya sedikit.


"Sudah pulang? Ikannya belum masak, tadi kena minyak goreng," katanya sambil menampikkan wajah cemberut.


Romeo mendekat, lalu menarik pinggang sang istri.


"Tidak apa-apa, nanti kita masak bersama," ucap Romeo sambil mengecup sekilas kening Juliet.


"Jangan dekat-dekat, bau bawang."


"Memangnya kenapa bau bawang?" Romeo mengapit gemes hidung Juliet. Lantas, Juliet memberengut kesal sembari mendorong pelan dada Romeo.


"Sayang! Udah ih, aku masak dulu. Biar kita cepat makan, mandi gih sana."


"Aku mau makan kamu dulu," desis Romeo sambil menarik pinggang Juliet lagi.


"Jangan Rom, masih siang ah!" Juliet sudah tahu betul perangai suaminya. Namun, Romeo tak mengindahkan perkataan Juliet. Lantas, mengangkat tubuh Juliet seperti karung beras dan membawanya ke kamar.


Setelah insiden, penusukan Juliet. Romeo dan Juliet kuliah online dari rumah. Mereka hanya lulusan sarjana kedokteran dan tak melanjutkan ke jenjang profesi kedokteran. Bagi, Romeo itu sudah cukup, lantas Leon dan Lily menghargai keputusan Romeo.


Kini, Gabriel bersama orangtuanya di pulau Kalimantan. Dia sudah sembuh berkat dukungan dari orang terdekat. Sedangkan Messa berada di Korea Selatan bersama sang suami. Sementara itu, Reza dan si duo biang keladi, melanjutkan pendidikan profesi strata 2 mereka ke luar negeri.


Demi, menghindar cibiran para manusia tentang foto Juliet yang tersebar di dunia maya. Romeo mengajak Juliet untuk tinggal di perkampungan di Kota XXX, jauh dari keramaian dan hiruk pikuk.


Romeo ingin membuat sang istri merasa nyaman dan tak stres. Romeo memilih menjadi seorang petani dan membeli satu hektar tanah dari hasilnya menabung saham sedari dulu. Sedangkan Juliet berdagang di warung kecil di dekat pemukiman warga.


Keduanya tinggal di rumah kayu berukuran sedang, di sisi kanan dan kiri dikelilingi hamparan padi yang menjulang tinggi. Rumah mereka berada di tengah-tengah sawah, nampak asri dan bersih, di depan terdapat berbagai macam tanaman bunga kesukaan Lily. Sang mertua, dua kali dalam sebulan pasti berkunjung ke rumah Romeo dan Juliet.


Saat ini, kedua insan berada di tempat peraduan, sedang bergulat panas. Tanpa tahu ******* mereka sekarang di dengar oleh seorang wanita yang berniat menggoda Romeo tadi.


"Argh!" Wanita itu memekik, berlalu pergi dari teras rumah. Kupingnya sangat panas mendengar erangan Juliet.


"Sayang, sudah ah, capek," ucap Juliet dengan nafas terengah-engah.


"Sebentar lagi, ya." Romeo bernegosiasi sambil mengecup bibir Juliet lagi.


"Tapi, aku sudah lapar," rengek Juliet seraya memanyunkan bibir.

__ADS_1


Romeo mengulum senyum, lalu berkata,"Baik lah kita makan, nanti malam lanjut lagi ya."


Juliet berdecak kesal mendengar perkataan Romeo yang tak ada bosan-bosannya menghujami tubuhnya. Walau pun begitu, dia teramat bersyukur memiliki Romeo dan mendapatkan mertua seperti Leon dan Lily yang tak pernah menuntutnya.


Keduanya pun menyudahi pergulatan, dan Juliet melanjutkan memasak sambil melirik pintu toilet yang di dalamnya Romeo tengah membersihkan diri.


Dengan hati-hati Juliet membalikkan ikan lele, setelah matang, ia taruh di piring. Menu pendamping irisan timun, tempe goreng, tahu goreng dan sambal sudah tertata rapi di atas meja.


Malam menyapa. Rembulan di atas pencakar langit terang benderang, menyinari hamparan sawah. Terdengar suara kodok bersenandung kecil. Hujan tadi sore, membuat mereka keluar dari tempat persembunyian.


Di sebuah rumah yang asri, jendela kamar terbuka cepat, kala terpaan angin dari di luar menghantamnya, gorden berwarna putih meliuk-liuk pelan.


Di peraduan sepasang suami istri, sedang menyatu satu sama lain. Menyalurkan cintanya dengan mengebu-gebu. Gesekan kulit membuat keduanya menggerang nikmat. Cahay lampu di kamar temaram, dan suara ******* memenuhi seluruh penjuru ruangan.


Juliet berada di atas tubuh Romeo, kedua tangannya menahan perut sang suami, sambil menggerakan pinggul dengan cepat. Rambut panjang yang tergerai, bergerak ke segala arah. Kedua matanya terpejam sembari kepalanya mendongak ke atas. Sang suami menatap penuh damba sambil merem@s dua gundukan di atasnya. kedua matanya tak bergeming memandangi Juliet yang sangat cantik menurutnya.


Seketika tubuh keduanya bergetar hebat. "Ah!" Juliet menjatuhkan diri di dada Romeo, nafasnya beradu dengan udara di dalam kamar. Degup jantung Romeo dapat ia dengar begitu jelas.


"Aku mencintaimu," kata Romeo sembari mengecup pucuk kepala sang istri. Dada Romeo nampak naik dan turun, meraup udara di sekitar.


"Aku juga mencintaimu." Keduanya saling memeluk erat satu sama lain.


"Sayang, kapan kita mengangkat anak?"


Sedari dulu, Juliet meminta Romeo untuk mengangkat seorang anak, tapi, Romeo menolak, dengan alasan masih ingin berpacaran dengannya. Lantas, Juliet berusaha memahami keinginan sang suami. Tapi sekarang, dia memberanikan diri ingin meminta pada Romeo. Karena akhir-akhir ini, ada rasa iri kala melihat beberapa warga di ujung sana menimang seorang anak.


"Hmm." Romeo hanya membalas dengan berdeham.


Juliet mengangkat kepala, menatap lekat Romeo. "Sayang, aku kesepian, boleh ya?"


Romeo tersenyum penuh arti, kala melihat mata Juliet memelas bak mata kucing.


"Baik lah, akan aku kabulkan, tapi kita lanjut lagi, sekarang aku yang di atas."


Seketika raut wajah Juliet berubah. Dengan terpaksa mengulangi pergulatan panas. Kali ini Romeo yang memimpin permainan.


Waktu menunjukkan pukul dua dini hari. Rembulan masih bersinar terang. Di sisi sana, terdengar bunyi tembakan melengking nyaring.


Dor!


"Lorenzo! Berhenti kau!" teriak seseorang sambil mengarahkan pistol ke punggung pria. Dia tengah mengejar seorang pria paruh baya dan wanita muda.


"Grace, cepat! Lari! Bawa anak itu!" sahut lelaki paruh baya bermata sipit itu.


"Tapi Tuan!"


"Sudah jangan membantah, berlari lah ke sana. Jangan sampai anak itu kenapa-kenapa, jaga dia. Apa pun yang terjadi padaku nanti. Jangan hirau kan aku!"


Wanita berambut panjang itu, terisak sembari melirik ke dalam kotak kayu yang di dalam ada seorang bayi munggil yang seluruh kulitnya berwarna putih, bahkan alis mata, dan bulu mata juga putih.


"Ayo lah Grace, ikuti perintahku!"


Dengan terpaksa, wanita itu berlari menjauhi pria paruh baya itu. Dan berlari sekencang-kencangnya. Tanpa menoleh ke belakang.


Dor! Dor!


Wanita itu menangis kala mendengar suara tembakan diiringi suara rintihan sakit bergema. Ekor matanya melihat rumah kecil di tengah sawah. Secepat kilat, Grace berlari masuk ke dalam sawah. Dengan susah payah, ia melangkah sebab tanah becek karena genangan air hujan.


Kepalanya celingak-celinguk, memastikan keadaan sekitar. Dengan cepat dia menaruh kotak kayu, di dekat ember besar di sisi kanan rumah.


"Tuan, maafkan aku. Aku harus pergi, kita akan bertemu lagi nanti Tuan. Bersabar lah, kami semua menyayangimu," ucapnya pada bayi munggil yang sedang tertidur pulas.


"Sampai jumpa, Tuan." Dengan cepat wanita itu berlari ke arah selatan.


Pagi menyongsong. Juliet melenguh, sejenak. Kelopak matanya membuka perlahan, lalu mengerjap beberapa kali. Menoleh ke samping, melihat Romeo masih tertidur pulas.

__ADS_1


"Oek, oek, oek, oek,...."


Samar-samar suara tangisan bayi terdengar. Kepala Juliet celingak-celinguk, menajamkan pendengaran, kali ini suara isakannya semakin jelas. Secepat kilat, Juliet menepuk dada Romeo.


"Sayang, ada suara bayi," kata Juliet setelah melihat Romeo terbangun.


"Hmm, apa sayang?"


"Suara bayi!"


Dahi Romeo berkerut samar kala mendengar suara bayi juga. Lantas keduanya saling melemparkan pandangan. Beranjak cepat, memakai pakaian sejenak, dan keluar mencari asal sumber suara.


Kedua mata sepasang suami istri itu membulat saat melihat kotak kayu besar, di dalamnya ada seorang bayi laki-laki yang kulit semuanya putih.


"Tega sekali orang membuangmu, Nak," kata Juliet sambil menepuk pelan punggungnya. Kini, bayi itu tertidur pulas di dalam dekapannya. Sedangkan Romeo pergi ke warung di kampung untuk membeli susu dan perlengkapan bayi.


"Sayang!"


Romeo menyembul sembari membawa lima kantong besar berwarna hitam. Juliet menoleh, ia terkejut melihat Romeo membawa banyak kantong.


"Kau membeli apa?"


"Semua perlengkapan bayi." Romeo meletakkan cepat barangnya ke atas meja. Juliet membalas dengan geleng-geleng kepala.


"Sayang, aku mau bayi ini, tadi kau sudah bilang Pak RT, Kan?" tanya Juliet, dia memutuskan untuk mengangkat bayi yang ditemukan di dekat rumahnya. Bagai mendapat durian runtuh, dia sangat senang. Sepertinya Tuhan mengabulkan doanya.


"Sudah, sayang." Romeo mendekat dan mengelus tangan bayi itu. "Lucu," desisnya.


"Iya, lucu, Kan?" Juliet tersenyum simpul.


"Apa karena dia albino, orangtuanya membuang bayi ini?"


"Tidak tahu sayang," kata Romeo tanpa mengalihkan pandangan mata dari bayi munggil di gendongan sang istri.


Bugh!


Tiba-tiba bayi itu menendang dada Romeo.


"Waduh, lihat dia menendang dirimu," kata Juliet diiringi kekehan pelan.


Romeo mendengus pelan. "Jadi siapa namanya?"


"Rocky!" tutur Juliet semangat.


Sudut bibir Romeo melengkung, membentuk seulas senyuman. "Bagus, Rocky Andersean."


...****...


Novel ini sudah tamat. Akhir kata terimakasih semuanya yang memberikan dukungan melalui like atau pun berkomentar. Nah sesuai janji author mau kasi hadiah kecil-kecilan nih. Sebelumnya author minta maaf karena masih banyak kekurangan di novel ini


Nah di bawah ada 5 nama yang mendapatkan pulsa 10 ribu. Sebenarnya author bingung mau pilih yang dapat GIVEAWAY, ada beberapa orang yang ngelike tapi nggak muncul di notif. Makanya author screenshoot komentarnya saja. Untuk nomor hpnya kirim ke facebook saja ya.


Fb : Nana Vinli


IG : Ocean Na Vinli






Sampai jumpa di novel author yang lain ❤

__ADS_1


__ADS_2