
Hari yang telah dinantikan telah tiba, hari di mana mahasiswa dan mahasiswi baru akan mengikuti kegiatan Leadership Camping di Hutan Anggora.
Kumpulan manusia tengah menunggu waktu keberangkatan. Mereka terlihat gembira sebab akan mendapatkan pengalaman baru di sana. Sebagian dari mereka membawa tas ransel dan beberapa perlengkapan camping.
Panitia penyelangara acara pun sibuk mengkoordinir maba, agar dapat mengikuti arahan mereka dengan baik. Tampak beberapa bus berjejer rapi di pelataran kampus, di depan kendaraan besar tersebut sudah terpasang spanduk besar pula.
Sebuah mobil mewah berhenti tepat di portal selamat datang. Romeo menyembul keluar dari balik mobil, wajahnya sangat angkuh, sorot matanya nan tegas, paras tampannya menarik perhatian kaum hawa, waktu seakan terhenti sejenak. Banyak pasang mata memandang tanpa mengedipkan mata, terpana dengan ketampanan Romeo.
Romeo mengenakan pakaian casual namun sopan, jaket jeans tercetak sangat pas di badannya. Sungguh amat sempurna, akan tetapi orang tidak tahu, jika Romeo tak sesempurna yang mereka pikirkan. Cacing bermata satu yang berada di balik celananya pun hanya bisa membatin' merutuki ketidakberdayaannya yang tidak bisa berdiri tegak. Bayangkan saja, saat buang air kecil saja, belalainya meleyot.
Romeo menggerakan kepala ke belakang, menoleh pada pintu mobil yang masih terbuka lebar.
"Ayo cepat keluar! Bawakan tasku juga!" titah Romeo terdengar bossy.
"Iya sabar!" Juliet setengah berteriak membalas ucapan Romeo. Dia bergerak sambil menyentak kasar tubuh Romeo, karena menghalangi dirinya untuk keluar. Romeo terpaksa bergeser sembari melototkan mata.
Pemandangan ini tak luput dari teman angkatan Romeo dan Juliet. Mereka amat terkejut dan mulai menerka-nerka dengan pertanyaan 5W+IH, apa, siapa, mengapa, kapan, di mana? Dan bagaimana mungkin Juliet bisa satu mobil bersama Romeo?! Begitu lah isi otak kaum hawa, sebagian dari mereka tentu saja penasaran.
"Ini!" Juliet melempar tas tepat di kepala Romeo. Namun Romeo dengan sigap menangkap tasnya, Juliet terpengarah karena usahanya untuk mengerjai Romeo gagal. "Cih." Juliet berdecih' menahan sebal, sembari menaruh tas ranselnya di belakang tubuh, lalu menutup bagasi mobil.
***
"Jul!" panggil Reza mencak-mencak kala melihat Juliet berjalan ke arahnya.
"Uhhh. so sweet banget sih! Akika nggak nyangka banget tahu! Kalau you sama Rom-"
"Stop!" Juliet menutup mulut Reza dengan cepat sebelum rahasia yang seharusnya di tutup rapat di beberkan oleh mulut bebek Reza. Reza menggerakan tubuh seperti ulat bulu, meminta dilepaskan.
"Jangan bawel, Za!" Juliet menggeram sambil melototkan mata. "Awas saja, kau keceplosan! Aku patahkan lehermu nanti!"gertaknya tanpa melepaskan bekapan tangan.
Reza mengangguk patuh, seketika Juliet menurunkan tangannya. "Ih, engap tahu!" sahut Reza mengerucutkan bibir setinggi 50 cm.
"Makanya jangan cerewet! Semalam kan sudah ku bilang, jangan sampai orang-orang tahu. Tuh lihat mereka dari tadi lihatin aku!" Juliet mencibir sambil mendelik, melihat ciwi-ciwi yang sedari tadi menatap penuh iri dan dengki padanya.
Reza terkekeh. "Ih akika ingat kok, sorry. Itu mah gara-gara you satu mobil sama Romeo. Lagian kenapa kalian satu mobil?"
__ADS_1
Juliet menarik nafas. "Hukuman untukku, mulai dari sekarang aku harus menjadi kacungnya!" Juliet melipat tangan di dada seraya menatap tajam Romeo yang berjarak empat meter darinya. Romeo tengah bersama Duo Biang Keladi.
Dahi Reza berkerut. "Hukuman? Memangnya you ngapain?" tanyanya sangat kepo tingkat Dewa.
Kini, akibat keteledoran atau kesengajaan Romeo. Reza sudah mengetahui hubungan antara keduanya. Kemarin, Reza meneror Juliet, dengan mengirim pesan bertubi-tubi sepanjang hari meminta penjelasan atas ucapan Romeo tempo lalu. Reza memekik kala Juliet membenarkan perkataan Romeo, bahwa Romeo adalah suaminya. Akan tetapi, Reza sedikit kecewa saat Juliet menceritakan status pernikahan mereka. Juliet juga mengatakan' ia dan Romeo saling bermusuhan sedari dulu.
"Nggak tahu tuh, nggak jelas banget dia! Hanya karena aku tidur di kamar lain. Dia marah-marah," jawab Juliet pelan, takut-takut ada seseorang yang mendengar perkataannya.
Yaps, setelah insiden tumpang-tindih dua hari yang lalu, selesai makan malam, Juliet memutuskan tidur di kamar lain. Tidak lupa pula ia meminta izin pada mertuanya. Semula ia takut Lily tak mengizinkannya, namun ternyata Lily memberinya izin. Juliet merasa di atas langit, kala Romeo menatap dingin padanya sewaktu itu di meja makan.
"Ha?" Reza melonggo. dahinya semakin berkerut 5000 kali lipat. Detik kemudian Reza merubah raut wajahnya tersenyum jahil. "Jul, jangan-jangan dia mau esek-esek sama you," jawab Reza seraya menoel tangan kanan Juliet.
"Idih, pikiranmu mesum ya! Nggak lah?! Hoek, membayangkannya saja aku mau muntah, nggak sudi tubuhku di sentuh-sentuh sama dia!"
Reza malah tertawa keras. menanggapi ucapan Juliet. "Lain di mulut, lain di hati yaw. Hayo kalian udah ngapain aja. Lihat tuh muka sama telinga you merah!" Reza mencubit gemes pipi Juliet.
"Apaan sih?! Nggak tuh, aku benci banget sama dia!" Juliet mencebik seraya menutup kedua telinga.
"Hahaha! Hati-hati loh, benci dan cinta itu setipis kulit bawang. Entar jatuh cinta baru tahu rasa!"
"Eh, you sudah tahu belum ada gosip kalau Romeo pernah ciuman sama Queen di ruang 003? You nggak cemburu?"
Deg.
***
Sementara itu.
"Rom!" Kai menepuk pundak Romeo.
Romeo terkejut. "Apa?!" tanyanya ketus.
"Galak amat bro!" Kai dan Kei berucap serempak.
Romeo menanggapi dengan mendelikkan mata. "Apa?" tanyanya namun kali ini intonasinya datar.
__ADS_1
Duo Biang Keladi terkekeh kecil.
"Kau lumayan liar juga ya!" Kei mencibir sembari menyenggol lengan Kai di samping. Kai menanggapi dengan geleng-geleng kepala.
Romeo kebingungan. "Maksu-"
"Kalian ayo masuk ke bus masing-masing!" perintah senior menggunakan toa, memotong ucapan Romeo.
Lantas Romeo dan Duo Biang Keladi menoleh ke sumber suara dan reflek mengayunkan kaki.
***
"Hai,Jul!" Kai menegur saat Juliet menaruh ranselnya di bawah bangku bus.
Juliet tersenyum kala Kai menyapanya. "Hai, Kai."
Kai ikut mengelum senyum, sesaat terpana dengan senyuman manis dari gadis yang dipujanya selama ini. "Kau duduk bersama siapa?"
"Aku duduk deng-"
"Juliet duduk bersamaku!" potong Romeo cepat sembari menyambar tangan Juliet.
Kai menatap dingin dan tajam pada Romeo. Ia tak menyahut namun mengepalkan kedua tangannya kala melihat jari-jemari Juliet dan Romeo saling menyatu.
Kei dan Reza mendelikkan mata melihat pemandangan di depan mata.
Sedangkan teman angkatan yang berada di bus. tercengang dan tanpa sadar membuka sedikit mulut mereka.
"Apa-apaan sih kau Rom. Aku kan duduk dengan Reza!" Juliet mengibaskan tangan Romeo tapi tak terlepas sama sekali.
"Kau lupa, Mommy bilang kita harus selalu bersama, setiap detik, setiap menit, setiap jam, dan setiap waktu!" Romeo menggeram sebal seraya melototkan mata pada Juliet.
"Haaaaaaaaa?!" Suara kaum adam dan hawa di dalam bus seketika riuh.
Juliet melongo, ingin rasanya dia sumpal mulut Romeo dengan kaus kaki busuk milik Reza.
__ADS_1