Romeo Dan Wanita Malam

Romeo Dan Wanita Malam
Hujan dan Berembun


__ADS_3

WARNING ~ 21+++++


Romeo mendengus kasar. Hasratnya yang sudah di ubun-ubun. Tertunda. Bersamaan pula geoduck di bawah sana seketika melayu.


"Siapa sih?!"


"Buka dulu, siapa tahu saja penting," Juliet berkata pelan. Setidaknya untuk sesaat, dia terselamatkan dari terkaman Romeo. Sejujurnya, badannya masih lemah dan amat letih.


Romeo mengecup sekilas bibir ranum Juliet. Pipi Juliet merah merona. "Jangan kau pikir! Malam ini kau akan selamat!" Senyum licik terpatri di wajahnya. Lalu dia beranjak, memakai handuk. Dengan muka di tekuk berjalan menuju pintu kamar.


'Mampus aku.'


Juliet menelan ludah kasar, melihat pancaran mata Romeo tadi seperti seekor singa yang tak akan membiarkan mangsanya lengah. Tangan kanannya menyambar selimut, menutupi tubuhnya. Ia bersembunyi di balik bantal. Takut, jika mertua atau siapapun itu, melihat dirinya tak memakai selembar kain.


"Siapa yang berani mengangguku?!" Romeo memutar gagang pintu.


Dahi Romeo berkerut melihat anjing munggil berdiri tepat di luar kamar, sembari mengibas-ibaskan ekornya.


"Hiro!"


Hiro tengah membawa gagang sapu dimulutnya. Kedua mata munggilnya berkedip-kedip tanpa rasa bersalah. Ia melirik sekilas ke samping.


Mbok Inah, Asisten Rumah menyembul pelan dari balik dinding. "Maaf, Den. Tadi Hiro minta tolong saya mengetuk pintu, sepertinya dia mau bermain sama Den Romeo." Dia tak enak hati, menganggu Romeo sedang beristirahat.


Sedari tadi, di lantai satu Hiro menyalak dan berlarian tak jelas sambil meraung-raung. Semula Mbok Inah tak menghiraukannya, namun dia mengerutkan dahi, melihat Hiro membawa gagang sapu ke lantai tiga. Dia pun mengikuti Hiro, dan berdiri di depan pintu kamar Romeo, berusaha mengetuk-etuk pintu dengan sapu. Mbok Inah penasaran lalu mendekati Hiro. Dengan jurus pamungkasnya, Hiro meminta tolong pada Mbok Inah. Wanita paruh baya itu nampak iba dan mengetuk pintu kamar Romeo.


Romeo menarik nafas. "Hiro! Dengarkan aku! Aku harus membuatkan Mommy' cucu! Jadi kau jangan mengangguku!"


Hiro malah menjatuhkan sapu lalu memiringkan kepalanya ke kanan, dia tak mengerti. Matanya memelas. Kaki munggilnya berayun dan menempelkan tubuhnya di kaki Romeo. Kepalanya mendongak ke atas. Terpatri mata sendu diwajahnya ingin bermain bersama Tuannya.


Sedangkan Romeo menatap dingin Hiro. "Mbok! Kurung dia!" Romeo berkata pada Mbok Inah yang merasa bersalah, karena mengusik kegiatan panas Tuannya.


Hiro cemberut!


***


'Astaga, Romeo. Mengapa dia begitu jujur sih?! Kasihan Hiro!'


Sedari tadi, Juliet mendengarkan perbincangan Romeo, dan Mbok Inah. Rasa malu membuncah di relung hatinya. Ia tengah membekap kepalanya dengan bantal.


'Eh, tunggu dulu. Tadi kata Romeo, Mommy mau cucu? Oke, aku akan mengabulkan keinginan Mommy dan akan berjuang' membuat Romeo jatuh cinta padaku.'


Keasikan membatin, Juliet tak tahu. Jika Romeo sudah di atas tempat tidur. Romeo menyambar selimut Juliet.

__ADS_1


"Juliet!"


Juliet memekik. "Aa a h!" Dengan cepat kedua tangannya menutup dua bola basket. Matanya melebar, melihat Romeo di ranjang. Pria itu menatapnya penuh arti.


"Kenapa di tutup?" Romeo menindih tubuh Juliet sembari menurunkan tangan Juliet.


"Aku, hmff!" Romeo kembali mencumbu Juliet, kali ini lebih dalam dan kasar. Dia menautkan jemarinya ke jemari Juliet. Lidahnya mengecap leher Juliet. Setelah puas. Lelaki itu beralih ke dua bola basket milik istrinya.


"Romeo!" Juliet menjerit merasakan sensasi geli bercampur nikmat, yang begitu memabukkannya. Perlakuan Romeo kali ini lebih pelan dan berperasaan. Suara syahdu Juliet memenuhi seluruh penjuru ruangan.


Romeo berganti posisi, lalu kembali mengecup bibir dengan begitu rakus. Satu tangannya membuka lebar paha Juliet, lalu jemarinya memainkan klit Juliet.


Bagaikan sengatan listrik, Juliet melenguh di dalam kecupan Romeo. Tangannya hendak memukul, namun, Juliet malah mengalungkan kedua tangannya di leher Romeo. Geli, dan nikmat melebur menjadi satu. Tubuhnya sudah bergerak ke mana-mana, mengikuti irama jari-jemari Romeo yang sedari tadi, tak henti bermain di bawah sana.


"Aa hh!"


Gumpalan keruh keluar dari bolu kukus Juliet. Inti tubuhnya berkedut. Pelepasan pertama. Dia terkulai lemas dan tak berdaya. Dadanya nampak naik dan turun, nafasnya memburu. Kedua matanya sayup. Ia melihat Romeo melepaskan lilitan handuk di pinggang.


Benda yang panjang menyembul keluar. Begitu padat seperti pisang ambon yang besar.


'Ya ampun pantas saja, semalam aku kesakitan. Rupanya pusaka Romeo... Arghh aku tak sanggup, aku mau lari saja! Hiro datangnya ke sini!' Juliet membatin, belalai Romeo ternyata amat big (besar).


Kedua mata Romeo sudah bergairah. Dia tak tahan melihat tubuh Juliet nampak seksi dan menggoda, belum lagi, dua bola basketnya benar-benar membuatnya di mabuk kepayang. Tanpa aba-aba Romeo mendorong tubuhnya ke inti tubuh Juliet.


Juliet memekik lagi. Dia memanggil-manggil nama Romeo berkali-kali' kala hentakan berubah cepat, dan amat cepat.


Punggung Romeo naik dan turun. Dia menatap, istrinya tengah memejamkan mata. Pria bertubuh atletis itu dapat melihat Juliet sudah terlena dalam permainannya. Dia menyeringai tipis. Kemudian kembali mencumbu bibir sensual Juliet.


Lama keduanya mengurangi samudra surgawi. Juliet sudah berapa kali org@sme. Dia tak berdaya di bawah kungkungan tubuh suaminya. Romeo tak henti-hentinya' menghujam inti tubuhnya. Apakah Romeo tidak lelah? Terbesit satu pertanyaan dibenaknya.


"Romeo..." Juliet menarik nafas kala gerakan tubuh Romeo berhenti.


"Hmm." Sebuah balasan singkat, nampak peluh keringat membasahi tubuh atletis Romeo. Nafasnya terengah-engah.


"Aku capek..." Juliet berucap lirih. Kedua tangannya menyentuh dada suaminya.


"Sebentar lagi." Romeo melabuhkan sebuah kecupan di kening, Juliet kembali tersipu malu. Rona merah terpatri jelas di kedua pipinya.


'Aku mencintamu, Rom."


Lalu, tanpa aba-aba Romeo berganti posisi dan menaruh kaki Juliet dipundaknya. Hentakan kali ini lebih dalam dan lebih cepat dari sebelumnya. Juliet menjerit lagi dan lagi.


**

__ADS_1


Hingga waktu menunjukkan pukul sepuluh malam. Tak ada lagi suara syahdu dari bibir Juliet. Suasana kamar Romeo hening!


Dua insan manusia tengah terlelap di tempat peraduan. Hujan di luar membuat keduanya saling menempel satu sama lain. Gigil, Juliet mempererat pelukannya.


Gesekan kepala Juliet di dada Romeo. Mengusik mimpinya. Dia membuka perlahan kelopak mata. Lalu menoleh pada Juliet. Seulas senyum tipis terukir diwajahnya.


Satu tangannya terulur mengelus rambut panjang Juliet. Lalu mengecup pucuk kepala Juliet, sejenak. Aroma mint menguar dari rambutnya. Romeo amat menyukai wangi lembut itu.


"Untunglah, badanmu tak panas lagi."


Romeo mempererat pelukkan. Dia mengelus punggung Juliet. Kulitnya amat halus walaupun tidak putih, tapi begitu terawat, benak Romeo kala tangannya sibuk bergerak.


"Kau bukan tipeku..." desis Romeo pelan sembari mengecup kening Juliet.


"Hah..." Romeo mendesah pelan. Bunyi getaran di atas nakas mengusik kegiatannya. Ia menoleh, dan menyambar cepat ponselnya.


"Queen." Sebuah nama wanita menghiasi layar ponselnya. Jari jempol Romeo menggeser tombol hijau.


"Hallo, Romeo my love, aku kangen, kau darimana saja? Apa yang sedang kau lakukan?" Queen memborbardir banyak pertanyaan. Padahal Romeo belum mengucapkan sapaan sama sekali.


Romeo menarik dan membuang nafas berat.


"Maaf, aku ketiduran, masih kecapean karena Leadership Camping kemarin," Romeo berkata pelan takut jika mengusik mimpi Juliet.


"Benarkah?" Queen tak enak hati di ujung sana. Dia dilanda kecemasan.


"Iya."


"Besok aku akan membawakanmu minuman penambah stamina agar kau kuat, My love."


"Hmm. Aku tidur dulu."


"Iya, tidur lah my love, aku mencintaimu Rom."


"Aku juga mencintaimu." Romeo mematikan sambungan telepon sepihak.


Tanpa disadari, Juliet mendengar perbincangan Romeo dan Queen barusan. Beberapa detik yang lalu, dia juga terbangun kala getaran di atas nakas mengusik tidurnya.


Jantungnya bagaikan ditusuk ribuan paku kala mendengar Romeo mengungkapkan kata cinta pada Queen. Dengan mata terpejam' pelupuk mata Juliet berembun. Derasnya hujan di luar menemani air matanya yang jatuh di kedua pipinya. Kepalanya bergerak sedikit agar buliran air matanya tak menetes di kulit Romeo.


"Tenanglah, Jul. Kau pasti bisa membuat Romeo jatuh cinta padamu. Jangan menangis, lebih baik kau tidur saja." Juliet mengigit bibir bawah agar matanya berhenti meleleh. Sembari mempererat lagi dekapannya.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2