
Sementara itu.
"Diam lah Jul!" Romeo mendengus kasar, tak kala mendengar samar-samar suara kedua kakaknya di luar kamar.
Kini, Romeo dan Juliet berada di atas ranjang. Di sekujur tubuh keduanya terlihat tetesan air mengalir perlahan di kulit mereka. Juliet tengah menindih tubuh Romeo.
Flashback on.
Deg.. Deg.. Deg.
Keduanya saling menatap satu sama lain, memikirkan situasi yang janggal saat ini.
Gawat sepertinya, jus mangga yang aku minum ada obat perangsangnya! Batin Romeo menerka sembari menahan hasratnya yang sudah bertumpah ruah, dan ingin segera menjamah tubuh Juliet.
Romeo jadi teringat dengan cerita kedua Kakaknya. Kala itu, Darla dan Lunna pernah membaca novel online, dan keduanya saling bertukar cerita mengenai novel yang telah mereka baca. Romeo sebagai seorang adik hanya bisa mendengarkan saja, duduk di tengah-tengah di antara Darla dan Lunna.
Keduanya bercerita mengebu-gebu padanya bahwa ada satu novel bertajuk salah ranjang, di mana sang wanita di beri obat perangsang oleh musuhnya, dia pun mencoba melarikan diri namun tak di sangka-sangka dia malah salah masuk kamar, akibat mabuk berlebihan dan tak terjadi lah percocokan tanam-tanam ubi bersama orang asing.
Romeo di landa kepanikkan namun pula butuh pelampiasan. Ia nampak tengah berpikir, kedua bola matanya bergerak tak tentu arah.
Ada yang tidak beres pada tubuhku!
Juliet menarik dan menghembuskan nafas berusaha menenangkan diri.
Secara tiba-tiba, Romeo menyambar tangan Juliet dan berjalan menuju ke kamar mandi.
"Ah Romeo, apa yang kau lakukan?!" pekik Juliet terkejut saat Romeo mengiringinya ke toilet. Pikiran nakal Juliet sudah melanglang buana entah kemana.
"Lepaskan tanganku!" Juliet hendak mengibaskan tangan Romeo, namun seperti sebuah lem cengkraman tangan Romeo tidak terlepas sama sekali.
"Diam!" Setelah sampai di ruangan toilet, Romeo segera mengambil gagang shower dan menyemprot tubuh Juliet tanpa jeda.
"Romeo! Hentikan! Kau gila atau apa ha?! Bajuku basah!" Juliet menunduk dan menyilangkan kedua tangan di atas wajahnya. Ia berusaha menghalangi air agar tidak masuk ke dalam bola matanya.
"Rom! Stop!" pekik Juliet sebab ia kedinginan dengan air dingin yang menusuk kulitnya.
__ADS_1
"Kau bisa diam tidak ha?! Kita di beri obat perangsang! Ini jalan satu-satunya!" Nafas Romeo memburu melihat lekukan tubuh Juliet terpampang jelas. Ia berusaha menahan hasratnya. Lalu mengalihkan gagang shower dan secara cepat menyirami tubuhnya.
Dahi Juliet berkerut. "Apa maksudmu?" tanya Juliet sembari menyeka air di wajah.
Romeo tak langsung menjawab, ia masih sibuk menguyur tubuh kekarnya.
"Rom!" seru Juliet setelah mengerti dengan perkataan Romeo barusan.
"Diam!" Suara Romeo menggelegar di dalam ruangan. Ia memejamkan kedua matanya, tanpa menghentikan gerakan tangan.
Juliet terlonjak kaget sembari mengelus dada. "Pasti kau yang menaruh obat perangsang itu kan?!" tanya Juliet berapi-api.
"Cih! Untuk apa aku menaruh obat perangsang ha?! Aku tidak sudi menyentuh tubuhmu itu! Melihatnya saja membuatku mual! Tubuhmu itu sudah di sentuh oleh banyak pria. Menjijikkan!" cela Romeo melototkan mata, ia benar-benar naik pitam sebab Juliet menuduhnya.
Namun detik kemudian Romeo menelan kasar salivanya melihat dua gundukan Juliet terlihat menggoda dan menantang. Lantas dia pun berjalan cepat meninggalkan Juliet yang sedang menahan amarah.
"Romeo!" Juliet berjalan cepat menghampiri Romeo yang berada di dekat nakas tempat tidur.
"Apa?!" Romeo menatap tajam dan dingin.
Juliet melayangkan bogeman tepat di rahang kanan Romeo, menyebabkan lelaki bertubuh kekar itu terjembab di atas kasur.
Romeo tersentak kaget dengan serangan Juliet. Ia menoleh pada Juliet. "Kau berani melawan ku ya?!" Romeo bangkit berdiri, memasang kuda-kuda selayaknya petarung di atas ring tinju.
Juliet tersenyum sinis, ia pun naik ke atas kasur memposisikan badan sama seperti Romeo.
Kini, keduanya saling menghadap satu sama lain, mengangkat kedua tangan di dada seperti petinju, tempat arena bertempur mereka tentu saja tempat tidur.
Kedua bola mata mereka menatap tajam dan dingin.
Detik kemudian.
Bugh.
Juliet memukul perut Romeo di sisi kanan.
__ADS_1
"Lumayan juga," desis Romeo menahan sakit.
Juliet menanggapi ucapan Romeo dengan tersenyum sinis. Ia hendak melayangkan pukulan di perut kiri Romeo, namun secepat kilat Romeo menangkis serangannya.
Alhasil perkelahian mereka memicu bunyi hentakan tempat tidur, sehingga orang yang berada di luar kamar, akan ambigu saat mendengar suara tersebut.
Keduanya saling menyerang satu sama lain. Nafas Romeo terengah-engah menangkis serangan Juliet yang gesit dan memba-bi buta. Sedari tadi, Romeo tak membalas pukulan Juliet, sebab pantang baginya menyerang seorang wanita, walau pun Juliet adalah musuhnya.
Bugh.
Bugh.
Bugh.
Tiga kali pukulan kuat mendarat bertubi-tubi di tubuh Romeo, menyebabkan Romeo terjatuh di atas kasur. Secara tiba-tiba penyangga tempat tidur Romeo di sisi kanan dan kiri retak.
Juliet yang tidak siap, badannya condong ke depan dan terjatuh tepat di atas dada Romeo.
"Rom sakit!" pekik Juliet saat Romeo mengigit bahunya.
"Ini balasan untukmu karena berani melawanku!" Romeo melototkan mata.
"Good Job Rom!" Terdengar suara duo Jablay dari luar pintu.
Dahi Juliet berkerut. "Siapa itu!?" tanya Juliet menoleh sekilas ke ambang pintu.
Flashback off.
"Diam lah, Jul! Itu pasti kedua Kakakku," ucap Romeo sembari membekap mulut Juliet. Ia mengarahkan bola matanya ke daun pintu.
Juliet tidak melawan, dia tergugu. Juliet baru saja tersadar jika dirinya sedari tadi berada di dekapan Romeo. Juliet dapat merasakan tubuh atletis Romeo bersentuhan dengan kulitnya. Kedua bola matanya enggan berkedip, sejenak terpana dengan ketampanan Romeo.
Merasa diperhatikan, Romeo mengalihkan pandangan pada Juliet.
Deg.
__ADS_1