
***
"Julietttttttttt!"
Sontak Juliet menutup indera pendengarannya, kala mendengar panggilan nyaring namun mendayu masuk ke gendang telinganya. Ia tentu saja hapal betul dengan suara khas itu, siapa lagi kalau bukan Reza.
"Bagus ya you, ninggalin eyke kemarin? Jadi gimana prianya tampan nggak? Teyus ada jerawatnya nggak? Teyus bau nggak? Teyu-?"
"Diam!" potong Juliet cepat, saat mendapatkan pertanyaan beruntun Reza, membuat kupingnya seketika panas.
"Eh ayam ayam ayam ayam ayam!" Reza sontak terlonjak kaget dan akhirnya latah sembari mengelus dadanya yang nampak cenat-cenut.
Juliet menghela nafas melihat tubuh Reza bergerak seperti ulat bulu.
"Ih, serem banget sih! Kaget tahu!"
"Habisnya nanya terus? Memangnya tukar parkir mundurin mobil?!" cetus Juliet jengah.
"Maaf deh akika, semangat soalnya bok. Hihi, jadi gimana? Berhasil nggak?"
Reza penasaran, kemarin Juliet mengirim pesan singkat padanya untuk jangan menunggu dirinya sebab sayembara akan berlangsung lama. Setelah selesai berbelanja sejenak di Mall seorang diri, Reza pun pulang ke rumah.
Ingat Jul, jangan sampai orang tahu hubunganmu dengan Romeo! Apalagi, Reza sepertinya tidak bisa menjaga rahasia!
Batin Juliet bernegosiasi sesaat.
"Jul! Kok malah diam sih?" Reza keheranan pada Juliet yang tak langsung menjawab pertanyaan darinya.
"Hmm, nggak lulus," ucap Juliet singkat.
"Yah, kirain lulus. Kalau dapat akika minta jamin di beliin gincu," sahut Reza lalu terkikik, membuat Juliet memutar bola mata dengan malas.
"Gincu aja mulu, di pikiranmu, Reza!" seru Juliet geleng-geleng kepala.
__ADS_1
"Eitz, Resa not Reza!" sergah Reza cepat.
"Ah terserah lah! Ayo kita ke kelas!" ajak Juliet sembari mengayunkan kaki.
"Okey, Kanjeng Ratu. Yuk, mari!"
Keduanya pun berjalan beriringan menuju kelas. Perbedaan gender dan gelagat mereka menarik perhatian senior di lorong kampus. Pasalnya Reza selalu menebarkan pesonanya dengan mengedipkan mata centil bak Dewi kecantikan, sembari menyesipkan rambut di satu telinganya. Padahal rambutnya pendek. Juliet yang melihat tingkah Reza, mendengus kasar.
Tiba-tiba ayunan kaki mereka terhenti, kala melihat teman seangkatannya, mengerubungi papan pengumuman.
"Apaan tuh bok, ramai banget. Kayak ngantri sembako aja?" tanya Reza kepo tingkat Dewa.
Juliet membalas dengan mengedikkan bahu, menandakan ia tidak tahu.
"Ke sana yuk, kita lihat!" ajak Reza sembari melingkarkan tangan di tangan Juliet. Keduanya berjalan perlahan mendekati teman-temannya yang lain.
Bruk.
Tiba-tiba tubuh Reza di tabrak kuat dari oleh seseorang. Beruntung Juliet menahan tubuh Reza agar tak terjatuh.
"Eh, jalan pakai mata!" hardik suara wanita.
Secepat kilat Juliet dan Reza menoleh ke sumber suara.
"Eh, you yang jalan pakai mata! Malah nyalahin orang! Dasar nenek lampir!" Reza melebarkan mata, menahan sabar. Karena memang betul wanita itu yang duluan menyeruduk dirinya, bukan kah seharusnya dia yang naik pitam. Lantas mengapa wanita itu yang balik memarahinya.
"Alasan! Aku sudah jalan dengan benar!" serunya tak mau kalah.
"Queen, kenapa kau menyalahkan Reza, jelas-jelas kau yang salah!"
Yah, sosok wanita itu adalah Queen. Juliet membela Reza, karena Queen memang bersalah.
"Kenapa suka-suka aku?! Aku selalu benar, kupu-kupu malam!" ejek Queen tersenyum sinis.
__ADS_1
"Heh, mulut you. Akika pites nanti ya!"
Reza tersulut emosi, sebab Queen mengatai Juliet tanpa bukti yang jelas. Sebelumnya, Reza memang mendapatkan kabar burung bahwa Juliet adalah wanita malam. Dia tentu saja tidak seratus persen percaya. Kalaupun Juliet wanita malam. Dia tetap akan berteman dengan Juliet. Reza tidak mau memandang orang hanya sebelah mata saja. Ia yakin Juliet pasti memiliki alasan tersendiri. Belum lagi, sikap Juliet sangat lah berbeda dengan kebanyakan wanita yang pernah ia temui. Juliet apa adanya, walaupun terkesan judes dan galak.
"Idih, lihat deh ulat bulu sama kupu-kupu malam bersatu, haha!" Queen tertawa keras, sengaja menarik perhatian teman angkatan yang berada di sekitar mereka. Sedari tadi maba baru memperhatikan interaksi ketiganya.
"Daripada you ratu gila, hahaha!" Reza malah ikut tertawa. Juliet tersenyum tipis menanggapi sindiran Reza.
"Apa kau bilang?!" Queen mengepalkan kedua tangan, saat Reza mengatakan dirinya ratu gila.
"Ya ampyun, you tuli ya? Ratu gila! Hahaha!" Reza tertawa cekikikan, ia teramat senang dengan Queen yang nampak berang menanggapi perkataannya.
"Kau berani denganku?!" Rahang Queen mengeras, nafasnya memburu, bola matanya melebar sempurna. Sampai-sampai tanduk sapi terpampang jelas di atas kepalanya.
"Ngapain akika takut sama biji jambu?!" tanya Reza sembari melirik sekilas da-da Queen.
"Kau?!"
Queen hendak menarik kerah baju Reza. Namun Reza yang memang tinggi darinya, menyentak kasar tangannya sehingga Queen terjatuh ke lantai.
"Awh!"
Queen mengaduh kesakitan, lalu dia bangkit berdiri tergesa-gesa, kembali melancarkan serangan dengan mencakar-cakar wajah Reza tanpa jeda.
Reza enggan membalas, dia takut masuk buku kasus di semester pertamanya. Dia hanya mengibas-ibaskan tangan Queen sembari menahan rasa perih, sebab kuku Queen mengiris kulit wajahnya.
"Queen! Lepaskan Reza!" teriak Juliet, saat melihat wajah Reza berdarah sedikit. Juliet tak tinggal diam, dia berusaha melerai Queen dengan menyusup di tengah badan mereka. Namun, Queen semakin menjadi-jadi bagai orang kesurupan.
Kumpulan orang di sekitar mereka, hanya terdiam menyaksikan pertempuran antara ulat bulu dan ratu gila.
Plakkk.
Tamparan kuat melayang di pipi Queen.
__ADS_1
"Romeo!" pekik Queen.