
Dengan setengah sadar, Juliet bangkit berdiri.
"Aku tidak apa-apa." Ia tak berani menatap ke dalam bola mata Romeo yang bisa saja membuatnya melayang kembali. Kedua tangan Juliet menepuk-nepuk pakaiannya.
Romeo enggan menanggapi, namun berdiri mengikuti gerakan tangan Juliet. Lalu beralih menatap Juliet lagi. "Yakin?" Ia ingin memastikan bahwa Juliet baik-baik saja.
Juliet mengangguk pelan.
"Hei, kalian kenapa?" Kei bertanya setelah di buat pusing dengan Reza yang sedari tadi menunjuk-nunjuk tidak jelas. Dan betapa bodohnya, ia mempercayai bualan Reza. Tanpa sengaja Kei melihat Romeo dan Juliet di luar jalur tangga, tepatnya di atas rumput. Ada apakah gerangan? Apakah ia melewatkan sesuatu.
Romeo membalas, "Tidak ada apa-apa, ayo kita jalan lagi." Seakan kejadian barusan tak terjadi sama sekali, Romeo bersikap biasa saja. Akan tetapi Romeo melirik sekilas, menatap penuh arti pada Juliet.
Juliet terdiam membisu, tak menyahut ucapan Kei. Ia terlihat salah tingkah. Dadanya masih berdebar-debar, tanpa sadar tangan kanannya mengelus dadanya dengan pelan.
Grup Manis Manja kembali bergerak lagi, takut-takut dimarahi Panitia yang akan mengeluarkan taringnya. Juliet memilih berjalan beriringan bersama Reza, takut jika kejadian terulang kembali.
Bagaikan imposter Reza hanya tersenyum-senyum tipis melihat tingkah dua insan manusia dihadapannya. Entah apa yang sedang direncanakan Reza. Hanya author dan Reza yang tahu hehe.
***
Menempuh kurang lebih lima menit lamanya, grup Manis Manja tiba di tempat di tujuan. Ternyata tidak hanya mereka yang baru saja sampai, ada banyak grup seperti grup Duo Macan, grup Keong Racun, dan lain-lainnya. Setelah semua grup berkumpul, Panitia memberikan mereka komando untuk mendirikan perkemahan sesuai nama grup, akan tetapi untuk wanita dan pria didirikan terpisah.
Setelah selesai dengan kegiatan pasang tenda, Panitia memberikan perintah pada Maba untuk membersihkan diri terlebih dahulu sebelum memulai kegiatan selanjutnya.
Tepat pukul 10 pagi, Leadership Camping di mulai. Latihan kepemimpian yang mereka lakukan berbagai macam, seperti melatih kemampuan softskill dan hardskill, berupa permainan-permainan kecil, yang bertujuan untuk mengasah kemampuan otak dan kerjasama diantara tim. Semua tim berusaha yang terbaik demi meningkatkan poin grup agar mendapatkan hadiah di akhir acara.
Dari siang hingga menjelang sore, latihan kepemimpinan lumayan menguras tenaga Maba. Mungkin Maba masih beradaptasi. Padahal kegiatan yang dilaksanakan terbilang mudah.
Waktu menunjukkan pukul empat sore, Ketua BEM memberikan perintah pada Panitia untuk menyudahi kegiatan.
Bagai angin segar, Maba bersorak-sorai karena kegiatan telah usai. Mereka di suruh Panitia membersihkan diri ke sungai terdekat secara bergiliran sesuai nama grup.
Kini, Romeo dan Kei tengah berjalan ke sungai yang di tunjuk Panitia. Keduanya hendak mandi, sembari mengedarkan pandangan ke seluruh Hutan. Udara di sekitar amat menyejukkan indera penciuman mereka. Dan jangan lupakan suara hewan-hewan kecil, sedari tadi bersenandung kecil seakan tengah menyapa kedatangan mereka.
__ADS_1
"Rom!" Kei menepuk pundak Romeo. Ia berada di belakang Romeo.
Romeo menoleh." Kenapa?" tanyanya sambil menyeka keringat di dahi.
"Kau ingat air permintaan?" Kei bertanya pelan, celingak-celinguk, mengedarkan pandangan takut-takut ada yang mendengarkan. Padahal, saat ini hanya mereka berdua berjalan menuju sungai.
Kedua tungkai kaki Romeo terhenti. Ia berbalik lalu berkata, "Iya, aku ingat, memangnya kenapa?" Ia amat penasaran mengapa Kei membahas lagi air permintaan.
"Hehe, dengar-dengar air permintaan di atas air terjun yang kita lalui tadi!"
Romeo tertegun sejenak. "Benarkah? Lalu?"
Kei menganggukkan kepala. "Dan nanti malam ada jurik malam!" Ia berucap semangat namun guratan cemas mulai muncul diwajahnya.
Romeo memicingkan mata. "Dari mana kau mendapatkan informasi itu, bukannya kata kak Miguel tadi, kita nanti malam tidak ada kegiatan." Yah, tadi Miguel, di sinyalir ketua Panitia mengatakan nanti malam mereka beristirahat saja dan tidak ada kegiatan lagi.
"Aish, mereka berbohong! Tadi aku tidak sengaja menguping," Kei berkata lesu. Kini baru saja menyadari sesuatu yang tidak ia inginkan akan terjadi.
Romeo geleng-geleng kepala. "Kau ini selalu saja menguping pembicaraan, lalu mengapa kau tidak bersemangat seperti tadi?" Ia heran dengan perubahan raut wajah Kei.
Romeo mendengus kasar. "Namanya juga jurik malam! Ya pasti lah malam, tidak mungkin siang. Ah sudah lah, ayo kita mandi dulu. Siapa tahu saja kau salah dengar, lagian agenda itu tidak ada di jadwal kita. Dan untuk air permintaan kita mencarinya di waktu yang tepat." Romeo kembali bergerak, berjalan lurus.
"Tapi..." Kei masih gusar. Ia menelan ludah kasar. Pikirannya sudah melanglang buana entah kemana, memikirkan pocong, kuntilanak dan teman-teman makhluk halusnya. Ia bergedik ngeri membayangkannya.
"Kei, ayo!" Romeo memutar ke belakang melihat Kei masih mematung di tempat.
***
Setelah semua Maba membersihkan diri dan makan malam bersama, menyantap makanan ala kadarnya. Mereka diperintahkan panitia untuk segera tidur karena kegiatan besok akan menguras tenaga. Maba pun menurut, lalu masuk ke dalam tenda masing-masing.
"Sudah aku bilang tidak ada jurik malam," Romeo berkata pelan, melihat Kei yang tengah merebahkan diri. Namun Kei tak menyahut. Ia enggan menanggapi. Kedua matanya menatap langit-langit tenda.
"Kenapa?" Kai tengah duduk menghadap Romeo dan Reza. Ia tak sengaja mendengarkan perkataan Romeo.
__ADS_1
Romeo beralih menatap Kai. "Kata Kei nanti malam ada jurik malam!"
"Ha? Apa? Jurik malam? Beneran?!" Reza merespon cepat mendengarkan penuturan Romeo. Ia terlihat panik dan mulai gelisah sembari menggerakkan tubuh dengan gemulai.
Sementara Kai tertegun, "Jurik malam?"
"Hm tapi nyatanya tidak ada, kak Miguel saja menyuruh kita untuk tidur kan. Biasa lah, Kei mungkin salah dengar, " Romeo berkata cepat.
Kai dan Reza mangut-mangut sekaligus merasa lega mendengar penuturan Romeo. Sedangkan Kei menanggapinya dengan acuh tak acuh. Ia malas berdebat.
"Sudah, lebih baik kita tidur sekarang!" Romeo menguap sesaat. Ia amat keletihan dan kurang tidur.
Kai dan Reza pun menurut. Keduanya segera merebahkan tubuh hendak mengistirahatkan diri.
"Aku berharap salah dengar, " Kei berdesis pelan sambil melirik sekilas ke arah Romeo. Saat ini Romeo, berada di samping tubuhnya. Ia tak menanggapi kicauan Kei, kedua matanya malah mengatup perlahan.
Suasana di perkemahan semakin malam semakin bertambah sunyi, Panitia kampus juga telah masuk ke tenda masing-masing. Dan hanya terdengar samar-samar suara hewan kecil di dalam Hutan. Api unggun yang semula menyala terang, meredup perlahan-lahan akibat terpaan angin di sekitar.
Hanya cahaya dari senter besar yang bertengker di dahan pohon, menerangi perkemahan tersebut, selebihnya tidak ada. Suara jangkrik bersenandung kecil menemani kumpulan manusia memasuki ruang mimpi.
Waktu menunjukkan pukul 23.45 WIB.
Di sebuah tenda yang besar, empat manusia mendengkur halus. Reza mengganti posisi tubuhnya, dengan mengangkat kaki kanannya dan menaruh di badan Kai. Ia memeluk Kai selayaknya bantal guling.
Kai tertidur amat pulas sampai-sampai tak menyadari jika tubuhnya sudah dijadikan sandaran kaki Reza.
Tiba-tiba...
"Haaaaaa hantu!" jerit seseorang di ujung sana.
Srek..
Kaki Reza di tarik seseorang dari luar tenda.
__ADS_1
"Haaaaaa!"