Romeo Dan Wanita Malam

Romeo Dan Wanita Malam
Wujud Queen


__ADS_3

Queen melempar sebilah pisau ke tong sampah. Tak ketinggalan pula kucing yang tergeletak di atas meja. Dia angkat lalu dimasukkan ke dalam kantong. Kedua netranya menatap datar plastik besar berwarna hitam tersebut. Kemudian dia menghempaskan kantong plastik itu di bawah meja belajarnya.


Dering ponsel berbunyi. Mengusik kegiatannya sesaat. Queen beralih menatap pada benda pipih yang berada di tempat tidur. Secepat kilat, kakinya berayun. Kemudian menyambar ponsel berlogo apel. Dengan satu kali usapan, panggilan segera terhubung.


"Hallo!" sapaan Queen sambil tersenyum smirk.


(....................)


"Baiklah, aku sebentar lagi ke sana, Baby!"


Panggilan terputus. Queen melempar asal ponselnya di atas kasur.


Hening sesaat. Tubuh wanita itu mematung di tempat. Tiba-tiba dia berjalan ke sudut ruangan, jari telunjuknya menekan tiga tombol di tembok secara bergantian.


Seketika ruangan bercahaya terang bersamaan pula dua buah monitor menyembul di balik dinding. Terpampang jelas ribuan foto menempel di sisi-sisi tembok. Menampikkan foto aktivitas seorang pria sedang berolahraga di taman, foto si pria tengah makan bahkan foto tertidurnya di ruang kelas dengan pakaian sekolah SMA yang masih menempel di tubuhnya dan masih banyak lagi.


"Romeo, kau hanya milikku!" Queen berseru sembari menatap penuh damba. Yaps, semua foto yang terpajang di dinding adalah foto Romeo Andersean. Sang pujaannya, belahan jiwanya, dan tentu saja pemilik hatinya, benak Queen.


Kedua matanya melotot melihat sebuah foto Romeo tengah menarik tangan Juliet di Cafe One-One.


"Kau harus mati j*-lang!!!" teriak Queen sambil merobek foto sisi Juliet saja.


"Kau tak pantas bersamanya! Oh my love, my Romeo! I love you!" Queen's membenamkan foto Romeo ke dadanya.


"Tenanglah, Romeo. Kita akan bersama sebentar lagi! Hahaha!"


Tawa Queen terhenti tatkala matanya beralih menatap layar monitor di depan, yang begitu gelap, seperti tak berpenghuni. Dahinya berkerut mengapa tak ada suara lagi di speaker.


"Apa dia sudah tahu kalau aku menaruh kamera di kamarnya?" gumamnya pelan.


"Hah sudahlah, lebih baik aku ke hotel saja!"


***


Hotel Moon.


Queen turun dari mobil menggunakan payung kecil. Wanita bertubuh langsing itu memakai hotpants dan pakaian sabrina yang menampilkan pundaknya. Padahal cuaca di luar masih hujan. Lantas tak dapat membuat ia kedinginan. Dengan langkah riang dia memasuki loby hotel. Berbicara sejenak pada resepsionis. Setelah mengobrol sebentar, dia melangkah menuju lift.

__ADS_1


Queen memutar gagang pintu dan menyelenong masuk ke dalam kamar. "Baby!" panggilnya sambil memeluk tubuh kekar seorang pria dari belakang.


Pria itu melepaskan tautan tangan Queen, lalu berbalik. Dia menaik sebelah alis matanya. "Kenapa lama Baby?" tanyanya sambil menghembuskan asap rokok ke udara.


Queen menampikkan mata puppy eyesnya. "Maafkan aku!"


"Haha, baik dimaafkan, kau sangat menggemaskan. Sekarang puaskan aku baby!"


Queen mengulas senyum sembari mengangguk.


Pria setinggi 179 cm itu menuntun Queen ke tempat tidur. Dia duduk di tepi ranjang sembari membuka retsleting celananya. Queen berjongkok di depan si pria. "Aku akan memuaskanmu!" Tangannya mengelus-elus otong tersebut.


Pria itu mencibir lalu mencengkram kuat rambut Queen sembari mengarahkan kepala Queen ke otongnya.


"Ough...ough..ough lebih cepat, Baby!" Erang si pria saat Queen memasukkan otongnya ke rongga mulutnya dan meng-ulum-ulu-m cepat seperti es krim.


***


Pagi menyapa. Matahari nampak malu-malu keluar dari peraduan. Hujan semalam menyisakan jejak kedinginan. Sebagian manusia masih bergelung di bawah selimut, menikmati kehangatan dari kain tebal, dan sebagian pula hanya bisa meringkuk sembari memeluk tubuhnya sendiri karena tidak memiliki selimut. Gambaran dua dunia yang berbeda dari kerasnya kota Metropolitan.


Tak berbeda pula dengan Romeo dan Juliet. Setelah melewati malam yang panas kala kulit keduanya saling bergesekkan dan, menyalakan api cinta mereka. Keduanya tidur berpelukkan satu sama lain.


Lalu beralih menoleh ke bawah, melihat Juliet masih mendengkur halus. Seulas senyum tipis terpatri jelas diwajahnya. Romeo melabuhkan ciuman sekilas di pucuk kepala Juliet.


"Beruntung dia tidak sakit," desisnya pelan.


Bunyi derapan langkah kaki munggil mengusik Romeo. Lantas dia menoleh ke sumber suara. Hiro berdiri tegap di sisi kanan sembari membawa sebuah kantong di mulutnya.


Romeo menebak Maximus berada di luar rumah kaca. Tak mau membuang banyak waktu. Dia beranjak perlahan, dan meletakkan kepala Juliet dengan pelan. Dia tak mau mengusik mimpi sang istri.


"Hiro, tunggu lah di luar," perintah Romeo setelah memakai pakaian yang dibawa Hiro tadi.


Hiro menurut, lalu mengayunkan kaki munggilnya keluar. Romeo beralih menatap Juliet yang tak bergerak sama sekali sedari tadi.


"Lebih baik aku gendong saja," Romeo berkata seraya mendekat dan menutup seluruh tubuh Juliet dengan selimut.


"Tuan Muda!" panggil Maximus sambil menunduk hormat saat melihat Romeo menyembul dari balik pintu rumah kaca.

__ADS_1


"Uncle, bisakah bersikap biasa saja," kata Romeo pelan. Dia sangat tidak nyaman dengan perlakuan Maximus barusan. Dia menganggap Maximus keluarganya.


Maximus tersenyum tipis, putra bungsunya majikannya berbeda dari kebanyakan orang. "Ini sudah menjadi tugasku."


Kedua mata Romeo mendelik. Dia malas berdebat.


"Uncle, ayo kita pulang." Sembari mengeratkan pegangan tubuh Juliet yang sedari tadi di gendong bridal style.


"Maaf, Tuan Muda. Mansion sedang disterilkan. Nyonya Lily menyuruh saya untuk mengantarkan Tuan dan Nona Juliet ke tempat aman."


Dahi Romeo berkerut samar, lalu berkata,"Baiklah, oh ya bagaimana dengan Queen?" tanyanya penasaran.


"Tenanglah Tuan, kami akan mengurusnya!" pungkas Maximus sambil berbalik, dan melangkah cepat menuju mobil.


"Kami?" Kening Romeo mengkerut tiga lipatan.


***


Cahaya matahari di atas pencakar langit terang benderang. Kendaraan roda empat membelah jalanan di sekitar hutan belantara.


"Uncle, kita di mana?" tanya Romeo penasaran kala melihat di sepanjang jalan sebelah kanan dan kiri pohon-pohon lebat menjulang tinggi. Jalan yang mereka lalui sekarang hanya satu jalur dan nampak kecil. Romeo teramat asing dengan tempat tersebut.


Maximus melirik sekilas di kaca tengah. "Tenanglah, Tuan. Ini tempat teraman, sebentar lagi kita sampai." Kedua matanya beralih menatap ke depan.


Romeo mendengus kasar. Lalu beralih melihat Juliet di gendongannya yang masih tertidur pulas dan tak ada tanda-tanda akan terbangun.


Romeo tersenyum simpul lalu mengecup pelan kening, pipi kanan dan pipi kiri Juliet secara bergantian.


"Pasti dia keletihan, maafkan aku sayang," Romeo berdesis pelan sambil mengecup sekilas bibir ranum Juliet.


Romeo menegakkan tubuhnya kembali. Kepalanya memutar ke samping, melihat Hiro juga telah tidur meringkuk dengan damai.


Maximus yang berada di kursi kemudi geleng-geleng kepala melihat tingkah anak majikannya, yang sedang di mabuk asmara.


"Dasar bucin seperti Tuan Leon!"


Lima menit berlalu. Kedua mata Romeo berkedip pelan, melihat hamparan danau terbentang luas di sisi kanan. Tak ketinggalan pula hewan berbulu kaki empat' singa di tepi danau, menatap datar ke arah mereka. Banyak jenis binatang yang nampak di penglihatan Romeo. Jerapah, harimau, cheetah, kijang, dan lain-lainnya. Dia berdecak kagum sekaligus bergidik ngeri. Romeo semakin di buat penasaran. Tempat apakah ini' yang kata Maximus tempat teraman. Romeo hanya bisa menerka-nerka di benaknya. Mobil semakin melesat ke dalam dengan pelan.

__ADS_1


Romeo tergugu, melihat pemandangan di depan. "Wow," desisnya tanpa sadar.


__ADS_2