
"Za, aku tidak menyangka kalau Pak Dekan adalah Ayahmu!" Juliet seperti mendapatkan seorang malaikat pelindung, dan itu adalah Reza.
"Sftt, diamlah, hanya kau saja yang tahu, jangan beritahu orang!" Reza mengangkat jari kelingking.
Juliet yang mengerti segera menautkan jemari kelingkingnya pada jari Reza. Keduanya terkekeh-kekeh pelan, melihat kelakuan mereka seperti anak kecil.
"Jul, kita duduk di taman dulu yuk, sambil nunggu jam kelas masuk!" ajak Reza sambil menarik lengan Juliet.
Kini, keduanya duduk di bangku kayu, menghadap bunga di taman. Kedua mata Juliet terpejam, dia tengah menghirup udara disekitar yang membuatnya tenang. Sedangkan Reza asik memainkan ponselnya, berselancar ria di media sosial.
"Za, menurutmu Romeo, ada hubungan apa ya sama Queen?" Juliet teramat penasaran. Matanya masih mengatup, menikmati semilir angin yang menerpa wajahnya.
Reza menoleh, lalu berkata,"Nggak tahu, tapi kayaknya dekat deh. Makanya tadi, akika tanya, you ngak apa-apa lihat suami you sama si ratu ular nempel gitu, kalau akika mah bakal akika labrak!"
"Iya, aku juga bakal labrak lah! Tapi posisinya sekarang, Romeo sama aku cuma nikah kontrak. Lagian Romeo juga nggak cinta sama aku!" Juliet membuka mata lalu membuang nafas kasar.
"Jul, you yakin Romeo nggak cinta sama you?" Reza mengubah posisi badan menghadap Juliet.
"Hmm, yakin lah soalnya dia semalam...." Juliet menggantung perkataannya di udara.
'Astaga, Jul. Mulutmu ini harus di jahit! Bahaya! Reza mah bocor!'
"Jul, hayo semalam kalian ngapain memangnya?!"
'Semalam aku bercocok tanam sama Romeo!' Juliet hanya berucap di dalam hati, tidak mungkin dia mengatakan sebenarnya, mengingat kejadian di kantin Reza malah memanggil Romeo. Justru sekarang Juliet akan berhati-hati dan lebih baik memendam apapun yang berkaitan Romeo.
"Kami semalam bertengkar, dan dia mengatakan padaku sangat membenciku!" Terlintas sebuah alasan yang masuk di akal dibenak Juliet.
Reza menghela nafas. "Hmmm, akika punya ide cemerlang!"
Juliet menoleh, kedua matanya memicing. "Apa?" Ia bertanya ketus, terkadang otak besar Reza benar-benar di luar prediksi dan tak bisa di tebak.
Bibir Reza mengerucut dengan sangat tajam.
"Ish, galak amat sih neng! Nih dengar ya, you kan istri sah Romeo tuh. Kenapa nggak buat Romeo jatuh cinta sama you!"
"Benar juga sih...."
Reza tersenyum kala mendengar idenya disukai Juliet.
__ADS_1
"Tapi gimana caranya buat dia jatuh cinta sama aku? Aku nggak punya pengalaman, Za. Kau tahu, kalau Romeo cinta pertamaku." Kedua pipi Juliet bersemu merah, mengingat ciuman bersama Romeo sewaktu jurik malam. Malam terindah bagi Juliet, karena suasana saat itu begitu romantis dan memabukkan.
"Itu mah gampil, serahin sama akika, sini deketin kuping you, akika mager!"
Juliet mendelikkan mata, lantas menuruti perkataan Reza. Reza mulai berbisik pelan.
"..............."
"Ha?! Ih aku nggak mau ah, Za! Nanti dia pikir aku cewek apaan!"
"Tenang deh, akika jamin Romeo pasti langsung klepek-klepek!"
Juliet mendengus.
"Eh, akika ke toilet bentar ya mau pipis!" Reza beranjak, tanpa mendengarkan balasan Juliet, ia berlalu pergi dan berjalan cepat menuju toilet seperti kucing mau kawin.
"Iya, jangan lama-lama!" Juliet menatap ke hamparan bunga di depan. Dia kembali terbuai dengan semilir angin di sekitar. Kedua matanya kembali terpejam.
"Hmm!"
Mendengar suara dehaman yang tak asing masuk ke gendang telinganya. Kedua mata Juliet terbuka perlahan, lalu menoleh ke samping, melihat Romeo berdiri tegap menatap bunga di depan sana.
Juliet menggeleng pelan. 'Apaan sih Jul, puitis banget! Kenapa sih mau dari samping, depan, belakang selalu tampan!?" Juliet melihat ciwi-ciwi di sekitaran taman, curi-curi pandang pada suaminya.
'Mereka kenapa sih, kayak baru lihat cowok aja. Woi, itu suamiku ya!' Juliet menatap tajam ciwi-ciwi.
Ciwi-ciwi di sekitar tak menyadari, fokus memperhatikan Romeo yang nampak tampan dan rupawan. Kedua mata mereka enggan berkedip, sebagian mengambil foto Romeo secara diam-diam.
Hati Juliet semakin membara. Lalu ia beralih menatap ke depan lagi, saat melihat Romeo sepertinya hanya menegurnya saja. Jadi, lebih baik dia meredam emosinya dengan mengalihkan pandangan.
Untuk sesaat, keduanya tenggelam dalam pikiran masing-masing. Juliet tak mau memulai pembicaraan, karena dia masih jengkel pada Romeo. Tanpa dia sadari, saat ini Romeo telah duduk di sampingnya.
"Kemarin Mommy mencarimu," Romeo berkata pelan sembari menggeser tubuhnya.
Juliet menoleh sekilas ke samping. Tubuhnya membeku kala Romeo merangkul, dan menaruh tangan di pundaknya. Bibir Juliet seketika kelu, namun hatinya saat ini tengah berbunga-bunga. Dengan mode cewek ngambek, Juliet menurunkan cepat tangan Romeo. Lalu tubuhnya bergeser ke kiri.
"Aku sudah beritahu Mommy, kalau aku menginap di apartment!" Juliet berkata ketus, teringat insiden semalam membuatnya mulai tersulut emosi.
"Oh!" Romeo menggeser lagi tubuhnya lalu merangkul Juliet kembali. Kepala Romeo menoleh ke samping, kedua matanya, melihat wajah Juliet dengan seksama tanpa berkedip.
__ADS_1
Juliet memalingkan muka, hembusan nafas menerpa wajahnya. Detak jantungnya berdegup kencang dan pipi Juliet sudah merah merona. Ia benar-benar bingung dengan sikap Romeo.
'Maunya apa sih?!'
"Rom, bisa geser dikit nggak! Tempat dudukku sempit!" Juliet berkata tanpa menatap lawan bicara.
"Aku nggak mau geser, kalau kau tak menatap lawan bicaramu, itu sangat lah tidak sopan, terlebih lagi..." Romeo menjeda ucapannya, lalu mendekatkan bibir ke daun telinga Juliet.
"Kau istriku," Romeo berucap pelan.
Bagaikan ada magnet, Juliet menatap ke arah Romeo.
Deg.
Kedua netra Juliet seakan terkunci. Keempat pasang mata itu saling beradu pandang. Mereka tak berkedip sama sekali. Waktu seakan berhenti. Tanpa aba-aba Romeo mendekat wajahnya, Juliet reflek memejamkan matanya.
Hembusan nafas Romeo yang hangat menerpa matanya. "Kenapa kau menutup matamu?" Juliet membuka cepat kelopak netranya.
"Pfft, hahaha!" Romeo malah tertawa keras. Lalu kembali berucap. "Kau mengharapkan aku mencium dirimu, Kan? Padahal tadi aku meniup bulu matamu yang jatuh." Romeo menyeringai tipis.
Juliet tergugu. Lalu memalingkan muka. Nampak semburat merah menghiasi wajahnya. Seandainya saja Reza dapat melihat kelakuan Juliet mungkin sudah mencak-mencak sendiri dan mengejek-ejeknya tak henti.
"Astaga, aku membencimu Rom! Kenapa pikiranku mesum sih! Memangnya ini drama kolera! Arghh memalukan, rasanya aku mau pindah planet saja!'
Romeo terkekeh-kekeh. Lalu berkata, "Hari ini kita ke mansion, ada yang mau Mommy bicarakan," Suara Romeo terdengar serius.
Juliet memberanikan diri menatap Romeo, dia sudah tak peduli dengan rona merah diwajahnya. "Mommy baik-baik saja, Kan?" Juliet mulai terlihat cemas.
"Baik kok, aku mau ke tempat Queen," kata Romeo.
Sebuah kalimat pendek, membuat darah Juliet berdesir naik kembali, jantungnya seakan di hujam ribuan belati lagi. Namun, dia mencoba terlihat biasa-biasa saja saat bibir Romeo berucap.
"Kau pacaran dengan Queen?" Juliet ingin memastikan sendiri, benar kata Reza. Lebih baik bertanya langsung daripada menerka-nerka sesuatu yang belum tentu pasti.
Satu alis Romeo terangkat. "Menurutmu?" Pancaran matanya membenarkan perkataan Juliet.
Pertanyaan balik yang membuat Juliet semakin meradang. Apalagi raut wajah Romeo terlihat datar. Berarti Romeo dan Queen telah menjalin kasih tanpa sepengetahuannya. Juliet ingin melarang namun dia tahu, dia tak ada hak sama sekali. Sesakit ini kah mencintai seseorang, namun cintanya tak dapat terbalaskan. Seandainya saja, rasa cinta ini tak tumbuh, mungkin Juliet tak akan marah ataupun cemburu saat ini.
"Kalaupun kalian berpacaran, kau harus tahu batasannya, Rom! Karena aku istrimu! Walaupun hanya di atas kertas..." Juliet beranjak, sembari berlalu pergi meninggalkan Romeo di taman' seorang diri.
__ADS_1
'Malam ini, aku akan mengikuti saran Reza!' Dengan langkah gontai Juliet mencari Reza ke toilet.