Romeo Dan Wanita Malam

Romeo Dan Wanita Malam
Reza ~ Si Penganggu


__ADS_3

"Aaaaaaaaaaaaa." Jeritan seorang wanita tulen, yang di sinyalir teman Juliet.


"Aaa aaaa aaa aa aaaaa aaaa aa." Terdengar suara setengah pria, setengah wanita. Ia berteriak tersendat-sendat seperti ketelan biji salak, suaranya sengau-sengau manja.


"Aaaaaaaaaaaaa."


Bukan satu teriakan, melainkan tiga jeritan yang sangat nyaring, hingga membuat burung-burung yang bertengker di dahan pohon, terbang keluar dari tempat persembunyiannya.


"Aaaaaaaaaaaaa." Teriakan masih terdengar dari dua orang manusia.


"Reza! Cepat pakai celanamu!" perintah Juliet saat melihat buyung pipit menyembul di bawah sana. Ia tertegun sejenak dan tanpa sengaja melihatnya. Yaps, benar satu orang itu adalah Reza. Reza berjarak beberapa meter dari Juliet. Entah apa yang dilakukannya di sungai, setahu Juliet sungai ini khusus untuk pemandian wanita. Lantas mengapa Reza berada di sini?


Reza bukannya langsung memakai celana masih menjerit histeris, sama seperti teman Juliet yang ikut berteriak. Teman Juliet pun bingung mengapa dirinya berteriak padahal ia sudah menutup mata.


"Rezaaaaa!" Juliet menggeram sebal. Ia ingin cepat membersihkan diri, tanpa banyak pikir ia segera mengambil tasnya dan dengan cepat melempar ke arah Reza, agar berhenti berteriak.


Bugh.


"Argh!" pekik Reza mengaduh kesakitan sebab tas Juliet mengenai buyung pipitnya. Ia segera tersadar dan bersembunyi di balik batu lalu berjongkok.


"Reza, mengapa kau ada di sini!?" Juliet bertanya nyaring. Ia teramat penasaran sekaligus heran.


"Iya, mandi lah!" sahut Reza sambil satu tangannya terulur ke atas, menyambar kain di batu, entah punya siapa itu. Ia pun tak tahu, yang terpenting saat ini mengamankan buyungnya yang sudah mengerucut karena kedinginan. Ia melilitkan handuk sampai ke batas dada.


"Iya, aku tahu kau sedang mandi! Tapi ini kan pemandian khusus wanita!" Juliet berseru nyaring.


Reza bangkit berdiri. "Ih, akika kan setengah wanita, setengah laki-laki. Jadi setengah mandi di sini, setengah mandi di sana!" Reza bergerak seperti ulat bulu.


Juliet menepuk kuat jidatnya, mendengar perkataan Reza yang nyeleneh. Lain halnya dengan teman Juliet otaknya loading, lelet seperti jaringan mekomsel yang semakin hari semakin lambat.


"Lebih baik kau cepat mandi! Kami juga mau mandi!" Juliet mendengus kasar.


Reza terkikik kuat melihat raut wajah Juliet menahan sabar.


.............


Setelah selesai membersihkan diri, Juliet dan temannya bergegas menuju camp khusus wanita. Ia kedinginan sebab angin malam menusuk kulit tipisnya.


Semakin malam suasana di camp semakin bertambah riuh sebab mahasiswa-mahasiswi berkumpul, bernyanyi-nyanyi riang gembira melantunkan lagu slebew sembari memetikkan gitar.


Berbeda dengan Juliet setelah menyantap makan malamnya. Ia menyendiri di bawah pohon yang berada tak jauh dari camp. Juliet bukanlah sosok wanita yang mudah bergaul. Ia tak mau menjadi bahan gunjingan teman-temannya saat mereka berkumpul. Walaupun mereka tidak mengatakan secara langsung di depan dirinya. Akan tetapi, Juliet dapat membaca gerak-gerik mereka, melalui gestur tubuh dan gerakan mata. Sedari tadi Juliet tak tahu apa yang membuat mereka memandang hina dirinya. Juliet pun tak mau ambil pusing.


Kini, Juliet sedang duduk di atas bangku besar. Angin malam membuat Juliet memeluk tubuhnya sejenak. Bersamaan dengan itu, semilir angin pula menerbangkan rambut panjangnya ke segala arah.


Juliet menarik nafas panjang. Ia melihat kembali gawainya yang terpampang foto Gabriel dan Messa. Tadi, secara tiba-tiba perasaan rindu membuncah di palung hatinya, pada dua sosok yang berarti dalam hidupnya. Juliet masih diliputi rasa khawatir pada Messa, sebab sampai sekarang Messa belum membalas pesan satupun darinya. Ia berharap Messa dan Gabriel baik-baik saja di sana.


Juliet menaruh kembali gawainya di dalam saku sweater. Ia mendongakkan kepala ke atas langit, melihat rembulan begitu terang. Kedua mata Juliet enggan berkedip mengagumi tata surya tersebut. Ia melamun sesaat.


Tanpa terasa buliran air bening menetes di kedua pipi Juliet. Ia menutup perlahan kelopak matanya, dan menangis dalam diam. Entah mengapa dadanya begitu sesak. Setiap saat, jika tanpa sengaja terlintas dua kata di benaknya. Ia pun bingung pada dirinya sendiri. Mengapa begitu lemah dan rapuh kala merindukan seseorang yang tak pernah menginginkannya. Siapa lagi kalau bukan kedua orangtuanya. Rasa rindu, dan rasa ingin bertemu, selalu saja hadir di saat ia sendiri. Cukup lama ia menumpahkan emosinya. Dada Juliet naik dan turun, bergetar pelan menandakan ia masih terisak.


"Hmm." Seseorang berdeham di belakang sana cukup keras.


Juliet tersentak kaget. Ia membuka kelopak mata. Dengan cepat jari-jemarinya menyeka jejak tangisnya.

__ADS_1


Juliet memutar kepala. Ia menarik nafas panjang, melihat Romeo tengah bersandar di dinding sambil melipat tangan di dada. Ia tak menghiraukan Romeo. Juliet beralih menatap lurus ke depan.


"Kenapa kau di sini? Mengapa tak berkumpul di depan?" Romeo bertanya sembari berjalan menghampiri Juliet.


Juliet enggan menyahut. Ia ingin sendiri tapi mengapa ada makhluk jadi-jadian ini mengusik kegiatan termehek-meheknya.


"Kau bisu?" Kini, Romeo berada tepat dihadapan Juliet. Ia memasukkan kedua tangan ke dalam saku celana.


Juliet tak membuka bibir sedikitpun, ia benar-benar tak berniat berbicara pada Romeo. Tatapan matanya lurus ke depan.


"Jul," panggil Romeo lagi, sebab tak mendapat balasan sama sekali dari Juliet.


Rasa sesal tadi pagi pada Romeo, masih menjalar di hati Juliet. Ia bangkit berdiri, menatap datar pada Romeo, dan hendak berlalu pergi. Namun, Romeo menahan pergerakkan Juliet dengan mencengkram pergelangan tangannya.


"Masih ada orang di sini? Mengapa kau tak membalas pertanyaanku?"


Juliet langsung menatap ke dalam bola mata Romeo. "Harus kah aku membalas?" Suara Juliet terdengar serak.


Romeo enggan mengedipkan mata. Ia tahu Juliet baru saja menangis. Hal itu nampak dari sorot mata Juliet yang sendu."Harus! Karena aku suamimu!" Romeo berkata tegas.


Juliet mencibir, lalu berkata, "Hanya suami di atas kertas! Lepaskan aku! Aku mau pergi!"


"Temani aku di sini!"


"Tidak mau!" Juliet menolak, karena ia malas bersama dengan Romeo.


Tanpa aba-aba Romeo menggerakan tangan Juliet dan memaksanya untuk duduk. Juliet berusaha memberontak, tapi tak bisa Romeo menekan pundaknya.


"Ini perintah!"


Romeo tak menyahut. Dia malah berjongkok dihadapan Juliet sembari mengenggam kedua tangan Juliet.


"Kau kenapa?" Bukannya menjelaskan apa keinginannya. Romeo malah balik bertanya.


Juliet tak berani menatap Romeo. Ia membuang muka ke samping. Juliet tak mau memperlihatkan kesedihannya. "Kau tidak perlu tahu!"


"Aku berhak tahu semua tentangmu!" Romeo mulai tersulut emosi kala Juliet tak mau menatapnya.


"Kau sama sekali tak mempunyai hak! Lepaskan aku!" Juliet menarik kuat cengkraman tangan Romeo. Ia bangkit berdiri namun Romeo secepat kilat merengkuh tubuh Juliet dan membawanya ke dalam pelukan.


"Lepaskan aku!" teriak Juliet di dada Romeo sembari memberontak.


"Aku tidak akan melepaskanmu!" Romeo mempererat pelukannya. "Menangislah," Romeo berkata pelan.


Juliet menggeleng. "Untuk apa aku menangis? Kurang kerjaan sekali." Pelukkan Romeo begitu hangat, entah mengapa bola mata Juliet mulai berembun.


"Aku tidak tahu, apa yang membuatmu menangis tadi. Menangislah, aku siap menjadi sandaranmu, walaupun kita menikah hanya di atas kertas." Romeo menaruh dagunya di atas pucuk kepala Juliet. Detak jantung keduanya beradu satu sama lain.


Juliet tak menyahut, dia sudah tenggelam dalam kesedihannya. Kedua matanya sudah menganak sungai dan tanpa sadar ia membalas pelukkan Romeo sembari menutup perlahan kelopak matanya.


Romeo dapat merasakan tubuh Juliet bergetar pelan. Ia tak tahu mengapa bersikap seperti ini pada Juliet. Hatinya terasa sakit melihat Juliet menangis.


Tadi, sebelum bertemu Juliet. Romeo ingin menyendiri dari hiruk pikuk teman-temannya. Ia pun pergi mencari tempat yang nyaman. Setelah berputar-putar tak tentu arah. Ia tak sengaja melihat Juliet duduk di bangku membelakanginya. Dari jarak yang cukup aman, ia melihat tubuh Juliet bergetar. Ia teramat penasaran mengapa wanita yang ia kenal jutek, judes, dan galak, ternyata sedang menangis. Apa penyebab Juliet menangis? Romeo hanya bisa bertanya-tanya di dalam benaknya.

__ADS_1


Di sini lah Romeo dan Juliet sekarang, saling mendekap satu sama lain. Cukup lama tubuh keduanya menempel. Suasana begitu sunyi dan senyap. Angin malam yang berhembus di sekitar, membuat keduanya semakin mempererat pelukannya.


Romeo melonggarkan sedikit pelukkan dan memegang dagu Juliet seraya mengangkatnya ke atas. Ia menatap dengan seksama wajah istrinya yang terlihat menyedihkan. Romeo menyeka jejak tangis Juliet dengan jari telunjuknya.


Juliet masih menutup matanya. Ia sesenggukkan akibat terlalu lama menangis. Ia mengatur nafasnya yang naik turun tak beraturan. Tanpa sadar ia membuka kedua matanya dengan pelan dan langsung bersitatap pada ke dua bola mata Romeo. Untuk sesaat keduanya saling menatap satu sama lain menyelami isi pikirannya masing-masing.


Hening!


Romeo tertegun sesaat dan tanpa sadar kedua tangannya menangkup pipi Juliet. Juliet hanya menarik nafas pelan menatap lekat Romeo. Sinar rembulan di atas memperlihatkan paras Romeo nampak menawan.


Sedangkan Romeo tengah melihat bibir ranum Juliet yang sexy dan nampak menggoda. Tanpa aba-aba ia menutup mata dan mendekatkan wajahnya pada Juliet. Entah dorongan dari mana Juliet juga mengatup kedua matanya.


Jantung keduanya berdetak cepat kala pangkal hidung mereka saling bersentuhan. Hembusan nafas keduanya tak beraturan.


"Julietttttt! Kau di mana?!" Terdengar suara derap langkah kaki mendekat.


Mendengar namanya di sebut. Juliet tersentak kaget, reflek membuka matanya dan mendorong kuat dada Romeo. Romeo pun terhuyung ke belakang sejenak.


Juliet terlihat salah tingkah. Ia mengigit bibir bawahnya. Rona merah terlihat jelas dipipinya.


"Aku pergi." Secepat kilat Juliet berlalu pergi meninggalkan Romeo yang belum membalas ucapannya.


Romeo ingin membuka suara tapi diurungkannya. Ia hanya menatap punggung Juliet dari kejauhan.


'Si-al padahal sedikit lagi. Juliet kau memang wanita penggoda!' Romeo berucap di dalam hati tanpa melepaskan pandangan matanya. Detik kemudian seulas senyum penuh arti terbit di wajah Romeo.


***


"Jul! Akhirnya akika ketemu! Kemana aja sih cyin?" Reza menggerakan tubuhnya dengan gemulai.


"Aku ta-di du-duk-du-duk di belakang." Juliet berkata tergagap-gagap sembari menyelipkan rambut panjangnya ke telinga.


Reza memicingkan mata."Oh my God. Pipi you merah. Kenapa? You sakit?" Ia mengamati gelagat Juliet.


Juliet menutup kedua pipinya dengan cepat.


'Astaga, apa kah semerah itu? Aduh hampir saja aku berciuman. Untung ada Reza. Kenapa aku diam saja sih tadi. Kau itu bodoh Juliet! Arghh, aku malu!" gerutu Juliet di dalam hati.


.


.


.


...Author : Aaaaa Reza!!! Kak Nana pentok lama-lama lu! Dasar Penganggu! Padahal sedikit lagi tabrakan bibir!...


...Reza : Whats?! Kenapa you nyalahin akika! Akika kan nggak tahu! Ih nyebelin deh!...


...Author : Banyak alasan, Kak Nana timpuk ntar!...


...Reza : You berani sama akika, awas ya akika sembur pakai gas beracun! 😈...


...Author : Au Ah Kak Nana pusiang! coba aja kalau berani 🤣...

__ADS_1


...Reza : Aaaaaaa awas you! Putttttttttt...


...Author : 🤢 (pingsan di tempat)...


__ADS_2