Romeo Dan Wanita Malam

Romeo Dan Wanita Malam
Berjumpa Gabriel


__ADS_3

"Honey." Lily mengelus dada Leon kala melihat suaminya tak bisa mengontrol emosi.


Romeo menjadi bingung, ingin bertanya tapi takut dengan aura Daddynya yang mencekam. Baru kali ini, dia melihat Daddynya naik pitam saat membicarakan orang lain. Dia menebak jika suami Kakaknya, membuat ulah pada kedua orangtuanya. Romeo melirik Juliet yang ketakutan melihat mertuanya. Dia mendekatkan bibir ke daun telinga Juliet.


"Sayang, bagaimana kalau kita ke rumah sakit menjenguk Gabriel." Romeo sudah mengetahui semua rahasia Juliet, dia ingin berjumpa Gabriel. Sekaligus menghindar dari Daddynya dahulu.


Juliet mengangguk, mengenggam erat tangan suaminya.


***


Setelah meminta izin, Romeo, Juliet, Reza dan Maximus hendak pergi ke rumah sakit. Juliet nampak kebingungan, kala Romeo menyuruhnya memakai masker, kacamata hitam, serta topi.


Dia seperti artis saja, belum lagi penampilannya sedikit nyentrik. Kaos ketat berwarna putih, jeans pas body, dan jaket kulit berwarna hitam menempel di tubuhnya. Romeo pun memakai jaket kulit khusus pria, sejenak tertegun melihat ketampanan Romeo bertambah berkali-kali lipat. Keduanya memakai baju dan celana yang serupa. Sementara, Maximus tetap memakai setelan jas hitamnya, Reza juga sudah berganti pakaian berwarna hitam dan jaket hoodie.


"Sayang, mengapa kita memakai baju seperti ini?" tanya Juliet penasaran, dia duduk disebelah Romeo. Kini, keduanya sudah berada di mobil.


"Biar terlihat keren," kata Romeo sambil merangkul tubuh istrinya.


Alasan yang dilontarkan Romeo tak memuaskan. Wanita itu semakin mengerutkan dahi. Banyak pertanyaan yang bersarang di kepalanya saat ini.


"Sayang, tidak usah dipikirkan. Aku tak mau kau kepanasan, takut kau semakin menjadi ireng!" Romeo mencoba mengalihkan pembicaraan dengan menggodanya.


Mendengar perkataan Romeo. Bibir Juliet mengerucut tajam dan kedua tangannya bersidekap di dada.


Romeo terkekeh-kekeh melihat raut wajah Juliet nampak menggemaskan dimatanya.


"Sayang, kau semakin cantik jika manyun seperti ini," kata Romeo sambil menoel-noel pipi Juliet.


Juliet membalas dengan mendelikkan mata. Lalu tanpa aba-aba Romeo melabuhkan kecupan kuat di lehernya.


"Ah!" jerit Juliet, terkejut dengan serangan mendadak barusan. "Romeo, apa yang kau-hmfff!"


Sebelum Juliet protes, Romeo membungkam cepat bibir ranumnya dan meraup habis hingga Juliet kesusahan bernafas. Dia geram dengan Juliet, ingin mengulang lagi percintaannya semalam dan membawa Juliet ke dalam kamar atau mengurungnya bila perlu.


"Romeo!"Juliet memukul pelan dada Romeo setelah pagutan terlepas. Romeo tertawa pelan, melihat pipi Juliet seperti kepiting rebus.


"Di depan masih ada Reza dan Maximus?! Kau tidak malu apa?" Juliet mendengus kasar. Romeo malah tertawa semakin keras.


"Iya, anggap saja kami patung atau nyamuk, Rom!" Reza mencibir, sedari tadi dia jenggah dengan sikap Romeo yang mesum dan tak tahu tempat itu.


"Sama-sama mesum seperti Tuan Leon," kata Maximus dalam hati sembari melirik sekilas di kaca tengah. Pria itu berada di kursi kemudi, mengendarai kendaraan dengan pelan. Dia ditugaskan Leon untuk menjaga Romeo dan Juliet di rumah sakit, mengingat Queen sampai sekarang belum ketemu. Kedua mata Maximus melirik kaca sisi kanan mobil, menatap mobil tim Wolfi di belakang sana mengikuti mereka.


Waktu menunjukkan pukul satu siang, mereka baru saja tiba di rumah sakit. Romeo menuntun Juliet masuk ke dalam, sembari mengenggam erat tangannya. Reza dan Maximus mengekori dari belakang. Dari kejauhan tim Wolfi sebanyak dua orang bersembunyi di tempat yang aman, lengkap dengan kacamata hitam dan bluetooth wirelles terpasang di kedua telinga.


"Sus, saya mau menjengguk Gabriel. Tapi kenapa, dia tak ada di ruangannya ya?" tanya Juliet pada perawat yang bertugas di ruangan.

__ADS_1


"Pasien bernama Gabriel Aguilera sudah dipindahkan keluarganya ke ruangan VIP, mbak."


Juliet terkejut. "Keluarga?" Setahu Juliet, Messa masih berada di pulau Jeju, Korea Selatan, tengah mempersiapkan pernikahannya. Lantas keluarga siapa yang dimaksud.


"Laki-laki atau perempuan ya, Mbak?"


"Pasangan suami istri, Mbak."


Juliet melirik Romeo, Reza dan Maximus sesaat.


*


*


"Gabriel!" Juliet menyelonong masuk ke ruangan bersama Romeo dan Reza. Sedangkan Maximus menunggu mereka di luar ruangan.


"Kakak." Gabriel tersenyum sumringah kala melihat Juliet, baru saja tiba. Juliet memeluk erat Gabriel, sungguh rasa rindu merasuk ke dalam relung hatinya. Cukup lama mereka saling mendekap. Hingga akhirnya Juliet melepas pelukan, menyadari tengah diperhatikan oleh dua orang asing di dalam bilik.


"Gabriel, mereka siapa?" tanya Juliet sambil tersenyum pada pasangan suami istri yang sudah memutih rambutnya itu, kendatipun begitu mereka masih nampak segar dan bugar.


"Kak, mereka orangtuaku!" Gabriel memposisikan badannya setengah duduk.


Juliet mengedipkan pelan matanya, lalu beralih menatap kedua orang asing itu.


"Apakah kamu Juliet? Menantunya Pak Leon?" tanya si Bapak dengan raut wajah segan.


"Owalah, saya sangat berterimakasih berkat Pak Leon saya bisa bertemu anak saya, maafkan kesalahan saya, dulu Gabriel ini di culik sama tantenya......."


Bapak Gabriel menjelaskan mengapa, Gabriel sampai ditemukan di panti asuhan. Selama beberapa tahun, pria paruh baya itu mencari sang anak.


***


Cukup lama, Juliet melepas rindu, hingga pukul dua siang, mereka menyudahi temu dengan Gabriel, melihat Gabriel sudah mengantuk. Romeo pun mengajak Juliet, Reza dan Maximus untuk pulang, sebelum kembali ke mansion. Romeo berencana mengajak mereka untuk makan di Restaurant Mint.


"Wah, aku tak menyangka, Gabriel sudah bersama orangtuanya. Terimakasih, sayang berkat kedua orangtuamu, pasti Gabriel akan selalu senang kata Juliet, melirik ke sebelah.


"Sayang, kau tak perlu berterimakasih, orangtuaku, juga orangtua mu, mereka sudah mengganggap dirimu putri mereka." Romeo menghentikan langkah dan menghadapkan wajah Juliet padanya. Lalu menangkup pipi istrinya.


"Aku yang seharusnya berterimakasih, kalau bukan karena dirimu, aku tak mungkin bisa sebahagia ini." Romeo mengecup pelan kening Juliet. Juliet mengulum senyum, mendapatkan perlakuan manis dari Romeo.


"Aduh, kalian ini, bikin mata akika sakit! Minggir-minggir!" Reza menerobos di tengah keduanya.


Romeo dan Juliet menyumpah serapah Reza sebab badan Reza membuat keduanya terhuyung ke belakang sejenak.


"Reza awas saja kau! Hadiah dari Mommyku akan aku rusak!" Romeo memperingati sembari menunjuk Reza yang sudah berjalan ke depan mendahului mereka.

__ADS_1


"Sudah lah, lebih baik kita cepat pergi ke restaurant, Tuan," kata Maximus memperingati Romeo agar berlalu pergi dari rumah sakit, sebab berlama-lama di luar, takut seseorang mulai mengenali Juliet.


Romeo mengangguk, menyetujui Maximus. Dengan jelas dapat melihat sorot mata Maximus terbersit rasa was-was. Lantas dia segera mengajak Juliet menuju lift.


"Ih, kalian itu lama, kayak siput deh!" Sedari tadi, Reza menunggu ketiganya di luar lift sembari memainkan ponsel. Secepat kilat, pria gemulai itu menaruh benda mini berlogo apel di dalam tas.


Romeo mendelikkan mata, malas untuk berdebat. Sedangkan Juliet menganggapi dengan menghela nafas pelan.


"Ayo, kita masuk!" Romeo menyambar tangan Juliet agar masuk ke dalam lift setelah terdengar bunyi dentingan lift. Di dalam lift hanya ada lima orang saja,


Juliet mengikuti langkah kaki Romeo, begitu sampai di dalam lift. Posisi badannya berada di belakang Romeo. Juliet serasa di perhatikan dan dijaga oleh sang suami. Dia teramat bersyukur, memiliki suami seperti Romeo yang perhatian walaupun terkadang menyebalkan, menurutnya.


Benda berbentuk kotak itu membawa mereka turun ke lantai tiga. Semua orang di dalam lift, keluar satu persatu, begitu pula dengan Maximus dan Reza.


"Ayo," ajak Romeo sambil menoleh ke belakang sekilas.


Belum sampai kaki Juliet melangkah, seseorang menarik kakinya hingga Juliet terjatuh. Romeo pun melihat ke belakang.


"Haa!" Juliet memekik.


"Queen!" Kedua mata Romeo terbelalak, melihat sosok di belakang berpakaian serba hitam, menarik kaki Juliet. Secara bersamaan pula lift mulai bergerak ke bawah. Sehingga Juliet berada di sela-sela pintu lift yang masih terbuka.


Romeo berada di luar lift namun tangannya masih tetap menggenggam tangan istrinya. Dia dilanda kepanikan begitu pula dengan orang di luar yang melihat kejadian, lift bergerak turun ke bawah perlahan. Maximus dan Reza dengan sigap menahan pintu lift agar tak tertutup, mereka panik bukan main.


"Queen! Lepaskan Juliet!" Romeo memohon kala celah di pintu lift sangat sedikit, hingga menghimpit tubuhnya.


"Tidak akan dia harus mati, kau hanya milikku Rom!" Queen melotot tajam seakan keluar bola matanya bisa saja keluar.


Romeo naik pitam. Kedua matanya merah padam. "Lepaskan dia wanita iblis!"


"Romeo! Lepaskan saja, aku tidak apa-apa, aku bisa mengalahkannya," kata Juliet memberikan Romeo ketenangan kala melihat Romeo begitu murka. Walau sebenarnya hati kecilnya juga takut, bagaimana tidak, lift saat ini bergerak perlahan-lahan dan bisa terjatuh ke bawah sana.


"Tidak akan! Aku mencintaimu, sayang." Romeo menahan tangan Juliet agar tak terlepas. Sementara Juliet menatap lekat sang suami.


"Bedebah! Romeo, kau hanya milikku!" Dengan cepat Queen memanjat tubuh Juliet dari bawah. Tangannya menggapai, kaki, paha, pinggang. Queen seperti monyet saja.


"Lepaskan dia!" Kepalanya mendongak ke atas. Queen menatap tajam pada Romeo.


"Tuan! Liftnya semakin merosot ke bawah!" Muka Maximus, Reza dan beberapa pria sudah merah padam. Mereka tengah berusaha menahan pintu dan lift tak turun ke bawah. Sebab, saat ini kepala dan badan Romeo terjepit di antara pintu lift.


Nafas Romeo semakin memburu,"Tidak!" Jari-jemarinya semakin mempererat lagi pegangannya.


"Baby! Aktifkan bom!" sahut Queen tiba-tiba, entah kepada siapa dia berbicara. Lalu tanpa aba-aba, tangan kanan Queen menyambar pisau kecil yang tersampir di celana jeansnya. Kemudian menusuk bahu belakang Juliet.


"Argh!"

__ADS_1


"Juliet!!!"


__ADS_2