
Waktu menunjukkan pukul satu siang, mahasiswa-mahasiswi semester pertama, baru saja keluar dari ruang laboratorium, mereka baru saja mengikuti mata kuliah Sistem reproduksi.
Binar bahagia terukir jelas di raut wajah para pria, lain dengan para wanita biasa saja. Bagaimana tidak, di dalam lab, beberapa phantom wanita dengan dada terbuka terpampang jelas. Tadi, para lelaki bermain-main sejenak layaknya anak kecil bertemu mainan baru.
Selesai dengan kegiatan perkuliahan, Juliet menunggu Romeo di depan pelataran kampus. Sedari tadi, Reza telah pulang dahulu. Sembari menunggu, ia duduk di bangku kayu sambil mendengarkan musik hip-hop. Salah satu lagu Eminem menggema di headsetnya. Kepala Juliet bergoyang sedikit mengikuti ritme musik, lose yourself, sebuah pilihan lagu yang selalu membuatnya bersemangat untuk menggapai mimpi.
You only get one shot, do not miss your chance to blow. This opportunity comes once in a lifetime
[Kamu hanya punya satu peluang, jangan lewatkan kesempatanmu. Kesempatan ini datang sekali seumur hidup]
Sebait lirik yang Juliet teramat sukai. Bibirnya melengkung, membentuk sebuah senyuman kala sang rapper bernyanyi.
"Juliet!" Seseorang memanggil dari samping.
Lantas Juliet menoleh, melihat Queen bergelayut manja bersama Romeo. Satu tangan Juliet menekan tombol pause.
"Hm." Juliet hanya berdeham, enggan untuk menyahut. Saat ini, ia menyembunyikan rasa cemburu. Dia akan bersikap biasa saja, walaupun, ribuan pedang sudah merobek jantungnya.
"Kau itu dari tadi di panggil! Kenapa tidak menyahut, dasar sepupu tidak becus!" Queen mendengus kasar sembari mendelikkan mata.
Juliet hanya menatap datar Queen. Tak berniat meladeni ucapan wanita bertubuh langsing itu. Lalu beralih menatap Romeo yang sedari tadi hanya terdiam membisu.
"Jadi? Atau nggak?" Juliet bertanya pelan menatap lekat suaminya.
"Jadi, kita antar Queen dulu." Juliet mengangguk, lalu menekan tombol play headset kembali.
Di dalam mobil. Juliet duduk bersidekap di kursi tengah. Hanyut dalam alunan musik Eminem yang mungkin sudah satu album didengarnya. Wanita itu menghadap jendela mobil, menopang dagunya. Rambut panjangnya yang tergerai, berterbangan tak tentu arah. Seulas senyum tipis terukir kala Messa mengirimkan pesan singkat barusan mengatakan padanya akan menikah bulan depan.
Di kursi kemudi. Romeo tak berhenti melirik kaca spion tengah, melihat tingkah Juliet nampak tenang dan tak berang sama sekali terhadap sikap Queen sedari tadi. Queen sekarang bersender di bahunya.
'Apakah Juliet tak cemburu?'
"Babe, tak masuk?" Queen melepaskan seatbelt, menatap penuh damba pada sang pujaan.
Romeo menggeleng.
"Baiklah. Kau hanya mengantar sepupumu ini ke apartment, Kan?"
Romeo mengangguk.
"Oke, sampai jumpa besok." Queen mengecup sekilas pipi Romeo. Lalu turun dari kendaraan hitam milik kekasihnya.
"Juliet, duduklah di depan!" Romeo berseru nyaring setelah melihat Queen sudah masuk ke kediamannya. Tanpa banyak bantah, Juliet menurut.
Mobil melesat pelan. Meninggalkan mansion Queen. Di sepanjang jalan, suasana di dalam mobil begitu hening. Juliet sudah mematikan musiknya. Kepalanya bersender ke kursi, matanya memandang jalanan perkotaan. Hari ini, Juliet lebih banyak terdiam. Mungkin, karena dia sakit.
Berbeda, dengan Romeo. Sedari tadi, sibuk memperhatikan Juliet. Namun, Juliet tak menyadarinya sama sekali.
"Rom, nanti berhenti sebentar ke apotik." Bibir Juliet berucap cepat.
Satu alis Romeo terangkat. "Iya, hanya ke apotik saja?"
Juliet mengangguk. Tak butuh waktu lama, Romeo memarkirkan mobil di apotik terdekat. Juliet turun dan bergegas membeli obat penurun panas.
***
Mansion Andersean. Mobil berwarna hitam masih terparkir di laman depan. Romeo menoleh, melihat Juliet masih tertidur pulas. Senyuman penuh arti terukir di wajahnya. Satu tangannya terulur, lalu membelai surai panjang Juliet. Tanpa sengaja ekor matanya melihat kantong berwarna putih gading bertengker di tangan Juliet.
__ADS_1
"Dia beli apa tadi?" Romeo menyambar kantong dan membuka cepat.
"Paracetamol... Dia sakit?"
Romeo mulai cemas. Dia memeriksa kening Juliet yang ternyata benar-benar panas seperti makanan yang baru disajikan. Secepat kilat Romeo bergegas keluar dari mobil dan mengangkat tubuh Juliet ala bridal style.
"Romeo! Juliet kenapa?"
Lily mengerutkan dahi, melihat raut wajah putranya nampak cemas dan panik.
"Dia sakit, Mom..." Romeo berucap lirih sembari melangkah menuju lift.
"Aduh, apa Mommy tunda dulu saja keberangkatan Mommy sore ini ke LA." Lily dan Leon sore ini berencana pergi ke Los Angeles, menghadiri pertemuan penting.
"Jangan Mom, tak apa, ada aku. Mommy pergi saja, aku akan mengurus Juliet. Mommy tenang saja ya," Romeo berkata tanpa menghentikan langkah kakinya.
***
Romeo merebahkan perlahan tubuh istrinya di atas kasur. Dan membuka cepat sepatu kets Juliet. Kemudian naik ke atas ranjang, membaringkan dirinya di sebelah Juliet. Kini, posisi badan Romeo menyamping.
"Kenapa kau selalu menyusahkan ku." Romeo mengelus pelan pipi Juliet. Kedua matanya mengamati wajah teduh istrinya dengan intens.
Bunyi ketukan pintu mengusik kegiatan Romeo, lantas dia bergegas membuka pintu. Asisten rumah membawakan semangkuk sup, segelas air putih dan buah-buahan yang sudah tersedia di nampan. Dia segera meletakkan semuanya di atas nakas.
"Jul, bangunlah." Romeo menepuk-nepuk pelan pipi Juliet. Dia terpaksa membangunkan Juliet. Karena tak mau suhu badannya semakin meninggi dan ingin Juliet cepat pulih.
Juliet melenguh sejenak, kedua matanya menyipit. Satu tangannya terangkat, melihat sinar yang masuk ke dalam bola matanya sangat menyilaukan.
Melihat pergerakkan Juliet, Romeo mematikan lampu kamar lalu mengubah dengan mode cahaya lampu menjadi temaram.
"Mudah, tinggal aku angkat. Makan dan minumlah dahulu," Romeo berkata datar sembari melirik makanan di atas nakas.
Juliet mengikuti arah mata Romeo. Tanpa menyahut, dia berjalan pelan dan menyantap sup dengan lahap. Selesai makan. Julit meneguk obat yang telah disiapkan Romeo. Sedangkan Romeo duduk di sofa single sembari memainkan ponsel, sesekali matanya melihat pergerakkan Juliet.
"Beristirahatlah, aku mau ke bawah." Romeo beranjak, lalu berjalan menuju pintu kamar.
Juliet mengangguk lemah.
'Apa aku harus sakit terus. Agar kau peduli padaku,' Juliet menatap sendu punggung Romeo menghilang di balik pintu.
***
Pintu kamar Romeo terbuka pelan. Pria berhidung mancung itu menyembul dari balik pintu. Dia menoleh ke kasur, melihat Juliet tidur meringkuk bagaikan anak kucing.
"Menyusahkan, semoga saja panasnya sudah turun," Romeo berkata sembari menutup pintu. "Tubuhku gerah, lebih baik aku mandi saja." Dia melangkah menuju toilet hendak membersihkan diri.
Sudah dua puluh menit berlalu, Romeo baru saja keluar dari kamar mandi dengan handuk yang masih terlilit di pinggangnya. Buliran air mengalir di dada bidang Romeo. Dia melangkah perlahan, mendekati tempat tidur. Kemudian menatap penuh arti pada Juliet yang tengah terlelap.
"Kau nakal, membuat aku membuang anak-anakku," desis Romeo menatap dingin sambil mengelus rambut panjang Juliet.
Seketika tetesan air jatuh di pipi Juliet. Kedua mata Juliet membuka perlahan kala merasakan kulit wajahnya basah.
Deg.
Juliet membeku matanya bertubrukkan langsung dengan Romeo. Ia menelan saliva dengan kasar melihat roti sobek Romeo membuat jiwa nakalnya berdesir naik. Dia ingin memalingkan muka namun secepat kilat Romeo menyentuh pipinya dan menghadapkan kembali wajah istrinya.
Romeo tersenyum smirk.
__ADS_1
"Badanmu sudah tidak panas lagi, tidak ada yang gratis di dunia ini. Tubuhmu berat sekali tadi, jadi...."
Romeo mendekatkan wajahnya. Juliet dilanda kepanikan namun tenaganya belum terkumpul sama sekali.
Kening Romeo dan Juliet bertemu. Nafas keduanya memburu. Detak jantung sepasang pasutri itu berdegup kencang. Saling beradu pandang tanpa berkedip.
Suasana hening, sejenak.
"Malam ini, bayarlah dengan tubuhmu." Romeo berkata sembari menangkup kedua pipi Juliet.
"Tapi- hmmff!"
Romeo membungkam Juliet dengan cepat. Lalu me lu mat pelan bibir ranum istrinya, nafasnya memburu. Kemudian mengigit bibir bawah Juliet, dan mengeksplor rongga mulut Juliet. Kedua tangan Romeo sudah menjalar ke mana-mana.
Tubuh Juliet masih lemah, serangan tersebut membuatnya hanya bisa pasrah. Dia teramat bingung pada sikap Romeo, namun ada rasa senang di relung harinya, setidaknya Romeo tetap memberikannya nafkah batin. Walaupun Romeo masih menganggapnya hanya pemuas nafsu belaka. Kedua mata Juliet terpejam menikmati sentuhan bibir suaminya. Ciuman kali ini berbeda, pelan dan menuntun, tak kasar seperti semalam.
"Romeo," Juliet berkata kala Romeo membuka pakaian atasan dan kaca mata pinkynya.
"Hmm." Kedua bola mata Romeo berkabut gairah. Sejenak, mengamati area favoritnya. Seketika dia men yes ap biji kacang hijau sembari membuka restleting celana jeans Juliet.
"Aku... a h ....." Mata Juliet terpejam. Punggungnya melengkung ke atas. Sensasi aneh menjalar dikulitnya. Tanpa sadar, tangannya mencengkram rambut Romeo. Lidah Romeo berselancar ria, mengigit kecil, dan meng ulum pelan. Juliet tak henti-hentinya meracau nikmat.
"Romeo, please, aku...." Suara mendayu Juliet membuat pipa berlubang kecil di bawah sana menegang. Tangan Romeo sudah bertengker di mana-mana.
"Shftttt." Romeo meloloskan pakaian bawah Juliet, kini yang tersisa hanya kain berbentuk segitiga. Jakun Romeo naik dan turun, melihat paha dan betis Juliet begitu menggoda. Lekukan tubuh Juliet membuat Romeo berkali-kali menelan ludah. Kabut gairah sudah menyelimuti tubuhnya.
Tok...tokk...tok
Suara pintu di ketuk pelan.
"Rom, ada yang mengetuk." Nafas Juliet tak beraturan.
"Biarlah!" Romeo hendak melepaskan kain terakhir. Tangannya terhenti kala mendengar bunyi ketukan semakin nyaring.
Tok. Tok. Tok.
'Arghhhh! Si al!'
.
.
.
Xixixi siapa yang mengetuk pintu ya? š¤£
Tebak-tebak kuis.
A. Samuel
B. Nickolas
C. Kai dan Kei
D. Leon dan Lily
E. Hiro
__ADS_1