Romeo Dan Wanita Malam

Romeo Dan Wanita Malam
Juliet vs Queen


__ADS_3

Akibat tak mampu menahan rasa perih, tangan Juliet terlepas dari genggaman Romeo. Secara bersamaan pula pintu lift tertutup dan kotak besi itu bergerak turun ke bawah perlahan.


Romeo dilanda kepanikan, terdengar bunyi sirine di rumah sakit, sepertinya ada bahaya. Petugas kesehatan bersama para pasien' berhamburan keluar.


"Juliet!"


Sebelum pintu lift tertutup, Romeo dapat mendengar Queen meminta seseorang menghentikan lift. Setidaknya sedikit lega, berarti lift sedang di sabotase oleh seseorang.


"Tuan. Kita harus segera keluar. Di rumah sakit ada bom!" Maximus berucap cepat kala suasana di rumah sakit begitu riuh, sebab kerumuman manusia berusaha menyelamatkan diri.


"Tidak, aku tetap di sini!" Romeo tak mau meninggalkan Juliet seorang diri, dia cemas, dan takut, jika Queen membunuh Juliet. Belum lagi tadi, pisau kecil menembus kulit istrinya. Membayangkannya saja membuat Romeo murka.


"Tuan, kita akan berusaha menyelamatkan Juliet. Sekarang kita keluar dulu. Penyidik menuju kemari!"


"Iya, Rom. Kita keluar dulu. Semoga Juliet baik-baik saja, nanti akika pencet itu si biji jambu!" Reza kesal bukan main, Queen benar-benar psyco. Dia resah dan gelisah, sebab, semua orang panik keluar.


Maximus menarik paksa lengan Romeo, kala putra majikannya tak menurut. Reza pun mengekori dari belakang. Sedari tadi, Romeo meronta-ronta, meminta dilepaskan. Cairan bening lolos begitu saja, Romeo tak peduli dengan tatapan aneh dilayangkan padanya. Juliet, dalam marabahaya di sana.


"Lepaskan aku!" sentak Romeo setelah berada di luar.


"Aku mau masuk ke dalam!" Romeo hendak mengayunkan kaki.


"Stop! Mari kooperatif! Di dalam ada bom!" Penyidik berseragam abu-abu tua, menghalangi jalan Romeo.


*


*


Sementara itu, Juliet membuka mata perlahan, tadi, kepalanya terbentur sesaat, rasa perih dan sakit menjalar di sekitar pundaknya.


"Kau sudah bangun!" sahut Queen, menatap tajam, pisau kecil masih di bertengker di tangan kanannya.


Kepala Juliet mendongak ke atas, lalu beranjak pelan. "Sebenarnya apa maumu, Queen?!" tanya Juliet jenggah, dia mengambil posisi, berjaga-jaga jika Queen menyerangnya tiba-tiba. Juliet mengatur nafas, berusaha bersikap tenang.


Queen mulai tersulut emosi, mendengar pertanyaan Juliet. "Aku mau Romeo!" Ia memekik nyaring.


Juliet berdecih sesaat. "Cih, dia suamiku, kau pikir dia barang! Bersikaplah dewasa Queen, kau cantik cari lah pria yang mau menerimamu," kata Juliet mencoba berbicara dengan kepala dingin. Padahal Juliet tak menaruh dendam padanya tapi mengapa Queen selalu menganggu.


"Tidak! Hanya Romeo yang pantas untukku!" Tangan Queen melayangkan ke udara, hendak menusuk Juliet lagi.


Dengan sigap, ekor mata Juliet melihat pergerakkan Queen. Secepat kilat, tangannya menangkis, hingga pisau terjatuh ke bawah.


"Argh! Si-al!" Queen murka sebab pisau terlepas dari tangannya. Dia ingin mengambil, namun Juliet mengunci tubuh Queen dari belakang.

__ADS_1


"Caramu sangat kotor! Lebih baik kita duel!" Juliet bernegosiasi, ide nyeleneh tercetus di otaknya.


Tanpa mengiyakan, Queen menghantam wajah Juliet dengan membenturkan kepalanya ke belakang.


'Si-alan! Karena marah, biasanya kekuatan seseorang bertambah. Dia amatir, tapi lumayan kuat."


Juliet mengamati gerakan Queen barusan. Dia tak boleh meremehkan Queen. Wanita di depan benar-benar gila dan nekad. Nafas Queen memburu, ingin menghabisi Juliet segera. Sedangkan Juliet bersikap tenang, berhadapan dengan lawannya. Ciri khas petarung sejati, mengamati dulu sebelum menyerang.


Keduanya saling melemparkan pandangan lalu tiba-tiba. Perkelahian sengit terjadi di dalam lift.


Bugh.


Queen hendak meninju pipi kanan Juliet, tapi secepat kilat Juliet menepis pukulan. Juliet maju satu langkah, menyambar tangan Queen dan memelintir tangannya ke sesaat. Kemudian melepaskan tangan Queen.


"Argh!" jerit Queen kala tangannya di pelintir seperti origami. Queen mundur perlahan.


"Mati kau ******!" Queen mencekik leher Juliet, Juliet cukup terkejut serangan Queen sangat cepat.


Juliet membenturkan kepalanya ke wajah Queen. Tangan Queen terlepas lagi, darah segar mengalir di indera penciumannya. Secepat kilat, jari-jemarinya menyeka tetesan darah yang mengalir di hidung.


Dan selanjutnya perkelahian tidak seimbang terjadi, entah mengapa, apa karena Queen kuat atau karena Juliet terluka, tiba-tiba Juliet terjatuh kala Queen menarik kakinya sehingga dia terjembab ke bawah.


Tak mau membuang kesempatan. Queen segera duduk di perut Juliet lalu kembali mencekik Juliet. Juliet terbatuk-batuk, sembari satu tangannya menahan tangan Queen. Ekor mata Juliet tak sengaja melihat pisau kecil yang digunakan Queen tadi berada beberapa cm dari tubuhnya. Tangan kiri Juliet terulur lalu menyambar cepat kemudian menusuk bagian depan pundak Queen. Lagi dan lagi, Queen memekik sesaat.


Begitu lift terbuka. Queen segera mendorong tubuh Juliet hingga keduanya keluar dari lift. Sepi, keadaan koridor rumah sakit sunyi senyap. Akan tetapi, kegaduhan terjadi diantara Juliet dan Queen. Keduanya masih bertarung sengit.


Entah dari mana, tiba-tiba pisau besar terjatuh dari atas. Queen segera mengambil pisau dan berlari ke arah Juliet. Namun Juliet tak diam. Dia berusaha menangkis serangan sebisa mungkin.


"Ssfff!" Juliet meringis sejenak, saat ujung pisau mengores pipinya. Tiba-tiba dia terkekeh kecil.


"Wah, aku tak menyangka ternyata kau lumayan gesit, apa tak ada taktik lain? Apa harus menggunakan pisau?" Juliet tengah mengelabui lawan dengan mempermainkan emosinya.


Queen meradang, dengan nafas tersengal-sengal kembali menyerang. Lantas, Juliet sudah ancang-ancang. Seketika pisau terlepas dari tangan Queen, kala Juliet menendang tubuh samping Queen.


Dor! Dor!


Terdengar dua kali tembakan bergema mengenai, punggung belakang Juliet. Juliet terhempas ke lantai. Entah siapa pelakunya, yang pasti, orang itu berkerjsama bersama Queen. Juliet hendak beranjak namun tiba-tiba tusukan sebanyak tiga kali menghujam perut bawahnya membuatnya memekik kesakitan.


"Hahaha! Mati kau! Mati! Romeo hanya milikku! Milikku!"


Kaki Juliet terangkat ke udara lalu mendorong kasar dada Queen. Saat ada celah, dia berlari ke arah tangga darurat. dia berlari ke tempat jangkauan yang terdekat dengannya. Di belakang, Queen mengejar Juliet bagai orang kesetanan.


'Queen benar-benar gila!' Benak Juliet sambil menoleh ke belakang sesekali.

__ADS_1


Darah menyucur di lantai, Juliet tak peduli. Dia tengah menahan rasa sakit yang mendera di perutnya, dia berusaha berlari sekuat tenaga. Dengan sisa tenaga Juliet mencari sesuatu dinding-dinding rumah sakit. Ekor matanya, melihat tabung pemadam kebakaran yang dilapisi kaca menempel di tembok. Dia meninju kaca, hingga pecah dan mengambil cepat tabung kecil berwarna merah.


Brak!


Juliet menghantam tubuh Queen tanpa perhitungan, sebab dia benar-benar keletihan berlari dari lantai atas ke lantai bawah.


"Sialan kau ******!" jerit Queen sambil menahan tubuhnya agar tak terjatuh. Juliet tergugu, tak percaya jika wanita itu masih bisa berdiri.


Juliet kembali berlari lagi, ke lantai bawah, dan Queen kembali mengejarnya.


"Kemari kau ******!" teriak Queen beradu dengan suara langkah kaki keduanya. Tangga darurat sudah penuh darah Juliet.


Pandangan Juliet mulai buram. Kakinya tetap berayun meski tak secepat tadi. Dengan sisa tenaga dia, berusaha menapaki tangga.


Bugh!


Queen menendang ekor pantat Juliet, hingga dia tersungkur ke depan.


"Haha!" Queen membalikkan tubuh Juliet. Wajah Juliet sudah pucat, kedua matanya menyipit.


"Kau harus mati!" Queen menancapkan pisau berulang kali di perut Juliet. Wanita itu seperti orang kerasukan. Nampak darah segar keluar dari mulut Juliet.


"Romeo...." Sebuah nama yang melintas di benaknya. Dengan pelan kelopak mata Juliet menutup.


Bugh!!


Terdengar hantaman kuat di tengkuk Queen, membuat wanita itu pingsan seketika.


"Juliet!" jerit Romeo sambil mengangkat tubuh Juliet yang telah bersimbah darah.


"Romeo bawa Juliet ke rumah sakit sekarang!" Lily melempar asal batu besar yang dia bawa tadi.


*


*


*


Romeo mondar-mandir di depan pintu ruang operasi, lampu masih menyala. Rasa cemas dan takut kehilangan, seketika merasuk ke relung hatinya.


"Julietku..." desis Romeo pelan. Tiba-tiba buliran air mata menetes' di pelupuk matanya. Seandainya saja wajahnya tidak tampan, mungkin saja Queen tak akan terobsesi padanya. Ternyata, memiliki wajah tampan tak membuatnya merasa bangga, benak Romeo. Karena kegilaan Queen padanya, membuat istrinya terluka.


"Jangan tinggalkan aku sayang..." Kedua mata Romeo berembun, kala mengingat kejadian beruntun dalam beberapa hari ini. Dia merutuki kebodohannya.

__ADS_1


__ADS_2