
Mendengar suara yang tak asing, lantas Romeo beranjak dari sofa dan berjalan keluar menuju sumber suara. Begitupula Leon dan Maximus mengekori Romeo. Penasaran, dengan apa yang terjadi di luar.
Dahi Romeo berkerut kuat, melihat Juliet dan Mommynya berpelukan secara bergantian, bersama seseorang yang sangat dia kenal. Semalam orang itu pula lah yang mengirimkan pesan singkat mengenai keberadaan Juliet. Kaki Romeo berayun cepat menghampiri ketiganya yang sedang berbicara.
"Apa yang kau lakukan di sini?" Romeo langsung bertanya tanpa menyapa terlebih dahulu. Dia amat penasaran mengapa lelaki gemulai ini berada di markas Q. Lalu mengapa pula Mommy mengenalinya dan mereka terlihat begitu dekat, layaknya teman lama.
Reza, Juliet, dan Lily menoleh ke arah Romeo.
"Kenapa you terkejut ya? Haha!" Reza tersenyum sinis sembari menyikut lengan Lily.
"Reza!" Leon berada di belakang Romeo, segera menyapa Reza, sebelum bibir Romeo melontarkan pertanyaan lagi. Dia bertambah heran. Mengapa Daddy-nya mengenali Reza. Raut kebinggungan terpatri jelas di wajahnya. Romeo terdiam sesaat.
"Hai, Uncle!" Reza mendekati Leon.
"Mom, Dad! Bisa jelaskan mengapa Reza ada di sini?" tanya Romeo, penasaran.
Leon dan Lily saling melemparkan pandangan. Sedangkan Juliet menghampiri Romeo, berdiri tepat di sisinya.
"Sayang, kalau bukan karena Reza mungkin kita tidak akan seperti saat ini," kata Juliet tersenyum tipis.
Romeo melirik,"Memangnya dia melakukan apa? Aku benar-benar bingung."
Lily menghela nafas. "Reza mata-mata Mommy, yang Mommy tugaskan untuk berusaha dan menyadarkan kalian itu! Dia anaknya Professor Aditama."
Mulut Romeo mengangga sedikit. Juliet terkekeh kecil sembari mengatup rahang bawah suaminya.
"Ha? Dia si pria gemulai ini anak pak Dekan? Profesor Aditama?" Romeo seakan tak terpecaya informasi yang baru didapatkan.
"Iya, Nak. Mommy meminta padanya agar kalian berdua lekas sadar dan mendekat kalian dengan caranya," ucap Lily sambil berjalan ke arah Leon, lalu menaruh langsung kepalanya di pundaknya sang suami.
Romeo mengerlingkan mata ke atas. "Ah, tidak perlu minta bantuan dia, aku juga akan tetap mencintai Julietku," katanya sambil menoleh ke samping, Juliet tersipu malu mendengar panggilan Romeo' Julietku.
"Ckckck, eh kalau nggak ada akika, si Juliet kagak bakalan kasi tahu you kebenarannya, Kan? You juga nggak jujur sama Juliet, kalau Queen buat ulah. Coba you jujur! Nggak akan ada tuh drama-drama tumara-tumere main hujan-hujan semalam, Ish! Kan you bisa akting sama Juliet!" cerocos Reza panjang lebar.
Romeo tergugu mengaruk tengkuknya yang tidak gatal. Dia tak mau mengiyakan perkataan Reza, memilih diam. Karena ucapan Reza memang benar, mengapa dia tak jujur saja.
Sementara, Juliet terkekeh pelan, karena melihat gestur tubug Reza semakin lewus. Bukan karena perkataan temannya barusan.
"Sudah, sudah lebih baik kita makan dulu. Matahari sudah mulai meninggi." Leon mengajak mereka untuk makan bersama.
"Hehe, Uncle tahu aja deh. Akika belum makan!"
"Dasar rakus!" Romeo berseru nyaring, melihat lemak perut Reza menyembul sedikit.
"Ish, nyebelin banget sih! Suka-suka akika!" Reza mendelikkan mata.
"Sudah, jangan berdebat terus, lebih baik kita makan dulu." Lily melerai agar perdebatan Romeo dan Reza tak berkepanjangan.
Sebelum kaki mereka berayun, deruan mobil membuat mereka menoleh ke depan.
__ADS_1
"Kai, Kei," desis Romeo pelan melihat si Kembar bersama kedua orangtuanya menyembul keluar. Reflek tangan Romeo menggengam tangan erat Juliet.
"Kenapa sayang?" tanya Juliet keheranan, merasakan cengkraman tangan Romeo teramat kuat.
Romeo menoleh, "Sayang, aku sangat mencintaimu, jangan tinggalkan aku," katanya sambil menyelipkan rambut Juliet ke belakang telinga. Lagi, dan lagi rona merah di wajah Juliet bertambah jelas. Dia membalas dengan mengangguk pelan.
"Ih, dasar bucin!" Sedari tadi, Reza memperhatikan gelagat Romeo dan Juliet.
Romeo berdecih. "Bilang aja iri!"
"Hai, semuanya!" Marco menyapa Leon sembari memeluk sesaat pria bertubuh tinggi itu.
"Tumben kau kemari?" Leon bertanya sebab Marco sangat sibuk akhir-akhir ini.
"Begitu mendengar insiden Romeo, aku langsung kemari, sekaligus ingin menanyakan tentang masalah Lunna," kata Marco sembari melirik Maximus yang berada di belakang mereka sedari tadi.
Leon dan Lily menghela nafas, mendengar ucapan Marco.
"Lunna baik-baik saja, Kan?" Yellow menimpali, melihat raut wajah Leon dan Lily nampak sedih. Lantas Leon dan Lily saling melemparkan pandangan.
"Nanti kita cerita saja di dalam, kita makan dulu ya," tutur Lily sambil mendekat ke arah Yellow, Mommy si Kembar.
"Aku harap Lunna baik-baik saja." Yellow mengelus pelan lengan Lily.
Lily mengangguk.
"Mom, Dad, Kak Lunna kenapa?" Romeo tak berani menyela perbincangan kedua orangtua barusan, melihat Daddy dan Mommy-nya begitu lesu mendengar perkataan Daddy dan Mommy si duo biang keladi.
Romeo mengangguk, lalu melirik sekilas Kai yang dari tadi termenung.
"Kai, aku juga mau berbicara denganmu nanti."
Kai membalas dengan mengangguk.
"Ayo, sekarang kita ke ruang makan!" ajak Leon sembari merangkul Lily.
*
*
Selesai menyantap makanan. Mereka bersenda gurau di ruang tengah sembari menonton televisi. Leon, Lily, Marco, dan Yellow bercengkrama ria. Sementara, Maximus dan Kei sedang bermain game's di sisi kanan. Sedangkan Juliet dan Reza sedang duduk di sofa bulat, menghadap kaca raksasa, memperlihatkan binatang-binatang liar di hutan.
Juliet celingak-celinguk mencari keberadaan Romeo, yang sedari tadi tak kunjung muncul, tadi Romeo dan Kai pergi berdua ke suatu tempat. Juliet penasaran, apa yang mereka bicarakan sampai-sampai, Kei, Reza dan dirinya tak di ajak.
"Bok, you kenapa?" Reza menghentikan polesan nail art-nya.
"Aku penasaran aja, Romeo sama Kai ngomong apaan? Kok lama banget." Juliet melirik Reza sekilas, benaknya dipenuhi tanda tanya saat ini. Entah mengapa aura yang dipancarkan Kai dan Romeo sewaktu di meja makan teramat berbeda, tak seperti biasa-biasanya.
Reza menghela nafas pelan. "Jul, itu masalah dua orang pria, biarkan saja, sebentar lagi juga mereka akan ke sini." Dia tentu saja tahu obrolan apa di antara Romeo dan Kai. Cinta segitiga, itu lah tebakan Reza. Sebab, selama menjadi mata-mata Romeo dan Juliet. Dia dapat melihat pancaran mata Kai tersirat rasa kagum pada Juliet' saat berbicara dengan wanita itu.
__ADS_1
Juliet mengangguk, menunggu kedatangan sang suami dengan melihat ke arah pintu.
**
"Nah itu Romeo." Reza menaikkan dagu sedikit ke arah pintu. Juliet menoleh ke sana, melihat Romeo baru saja tiba di ruangan.
"Di mana, Kai?" tanya Juliet setelah Romeo duduk di sebelahnya.
"Dia sudah pulang, ada urusan sebentar."
Juliet nampak mangut-mangut.
"Sayang kita bergabung, bersama Mommy dan Daddy ya." Romeo beranjak lalu, menyambar tangan istrinya. Dengan patuh, Juliet mengekorinya.
"Tinggalin aja akika sendiri di sini!" gerutu Reza, sebab sepasang suami istri itu melupakan keberadaannya. Dia tetap melanjutkan aktivitas memoles kuku pendeknya dengan warna putih bening.
"Mom, Dad. Aunty, Uncle. Kami boleh ikut bergabung," pinta Romeo. Lantas, keempat manusia itu menoleh, lalu mengangguk pelan.
"Aku tidak menyangka, Romeo melangkahi kakak-kakaknya." Yellow memulai pembicaraan, setelah melihat Romeo dan Juliet menghempaskan bokong di sofa. Wanita berambut kuning itu tersenyum simpul, sembari menyikut Marco di sebelahnya.
"Ya benar, Yellow. Triplet saja sampai sekarang masih ingin bebas. Aku tidak mengerti dengan pikiran mereka. Entah sampai kapan akan menjomblo," kata Lily sembari geleng-geleng kepala.
"Tapi setidaknya, sudah ada dua anakmu yang menikah, Kan?" Marco menimpali sambil menyambar kue cookies di atas meja.
Romeo mengerutkan dahi. "Dua? Memangnya siapa satu lagi?" tanyanya kebingungan. Juliet disebelah diam tak bersuara, mendengarkan dengan seksama obrolan mereka.
"Astaga, Leon, Lily, kalian belum memberitahu Romeo kalau Lunna sudah menikah juga," kata Yellow menatap Leon dan Lily secara bergantian.
"Hanya menikah kontrak!" Leon berkata ketus.
"Whats?! Nikah kontrak? Daddy dan Mommy tidak bercanda, Kan?" Romeo tergugu, sebab Kakaknya Lunna, tipe wanita yang ingin kebebasan. Mengingat profesi Lunna adalah artist terkenal di luar negeri. Dia tentu saja terkejut. Romeo teringat perangai Lunna yang susah di atur.
"Mommy tidak bercanda, Nak. Makanya kemarin kami membawa hampir semua tim Wolfi ke LA, untuk berperang. Dan karena ulah Mommy pula, kalian berdua jadinya-"
"Sudah yang berlalu biarkan saja Mom, yang terpenting kami tidak apa-apa!" Romeo mengenggam erat tangan Juliet, dia tak mau menyalahkan siapa pun. Dia berharap tim Wolfi dapat menghapus semua foto dan video Juliet di situs XXX segera. Dan Queen juga dapat segera ditemukan.
"Tapi, Mom, aku penasaran kenapa Mommy dan Daddy sampai berperang, memangnya kenapa?"
Leon, Lily, Marco, dan Yellow, saling melemparkan pandangan.
"Suami Lunna orang yang keji!" Leon berucap cepat sebelum bibir Lily membuka. "Daddy, tak suka padanya! Walaupun mereka saling mencintai! Sampai mati pun, Daddy tidak akan merestui hubungan mereka!" sahut Leon berapi-api.
......................
Selamat untuk Kakak ya
Dapat kouta 1GB. Kirim saja nomor Kakak ke facebook atau ig saya.
__ADS_1
FB : Nana Vinli
IG : Ocena Na Vinli