Romeo Dan Wanita Malam

Romeo Dan Wanita Malam
Aku Mencintaimu


__ADS_3

"Juliet..." desis Romeo sesaat, sembari memegang keningnya yang terbentur pada airbag kemudi. Dia meringis pelan karena rasa pusing masih menderanya.


Beberapa saat lalu mobil Romeo menghantam pohon berukuran kecil di sisi kiri. Dia berniat menghindar dari Hiro yang muncul di depan. Beruntung mobil mewah miliknya dilengkapi dengan tingkat keamanan yang memadai. Jadi, tubuh Romeo tak lecet sedikitpun.


Kepala Romeo menoleh ke jendela. Kedua matanya menyipit, melihat Hiro masih berlari-lari di luar sambil menyalak. Dia mendobrak paksa pintu di sisi kanan. Lalu dengan pelan berjalan keluar. Romeo tak peduli pakaiannya telah basah semua.


"Hiro!"


Hiro mengibas-ibaskan bulu-bulunya. Lalu menyalak, "Guk, guk, guk, guk!" Dengan cepat kaki munggilnya berayun mendekati Romeo. Kepalanya mendongakkan ke atas.


"Di mana Juliet?" tanyanya, penasaran.


Hiro menggerakan kepala ke kanan dan ke kiri. Lalu mengangkat kedua tangannya meminta di gendong, ia tengah berdiri.


Romeo tersenyum tipis, lalu mengangkat tubuh munggil Hiro dan menggendongnya.


"Di mana dia?"


Hiro menyalak ke arah lapangan golf milik keluarganya. Romeo tertegun sesaat, karena tempat yang dikirimkan tadi tak jauh dari Mansion.


***


Juliet masih mencari Hiro, padahal sedari tadi Hiro tengah duduk bersamanya. Juliet bercerita banyak pada Hiro walaupun anjing itu tidak mengerti sama sekali. Dan Hiro hanya diam saja disebelah, mendengarkan dengan seksama layaknya seorang sahabat sembari menampikkan wajah menggemaskan.


Wanita itu cemas sekali, takut, jika Hiro hilang atau apa. Dia juga heran mengapa Hiro keluar mengejarnya. Dia tak mau ambil pusing. Jadi, keduanya duduk di bangku sambil memandang hamparan hijau di depan sana.


Juliet teringat tempo lalu, di sepanjang jalan menuju mansion, kedua matanya berbinar melihat lapangan golf yang begitu luas. Dia pernah sekali ke sini bersama Lily hendak mengantarkan minuman untuk mertuanya. Sejenak ia merutuki kebodohannya sendiri, mengapa pula harus berlarian keluar. Jadi, tanpa pikir panjang Juliet pergi ke lapangan golf.


"Hiro! Kau di mana?" panggil Juliet lagi, kepalanya masih bergerak ke sembarang arah.


"Aduh! Nanti Romeo malah semakin membenciku, kalau Hiro hilang..." lirihnya sambil menyeka buliran air mata yang tiba-tiba menetes lagi.


Juliet memeluk tubuhnya sendiri. Dia teramat kedinginan. Tubuhnya basah kuyup. Bayangan wajah Romeo berputar-putar dibenaknya. Dia berjanji harus kuat, jika pulang nanti bertemu Romeo karena cintanya terbalaskan. Lama dia berdiri sambil menundukkan kepala.


"Aku merindukanmu." Bibir Juliet bergetar, menahan rasa gigil.


"Merindukan siapa?"


Deg.


Juliet terpaku di tempat. Dia tidak salah dengarkan ada suara Romeo. Apa itu halusinasinya saja.

__ADS_1


"Bahkan aku pun sudah gila mendengarkan suaranya sekarang, aku sangat merindukan semua tentangmu Rom," ucap Juliet. Tubuhnya bergetar pelan, kedua matanya mengalir buliran air dengan deras. Mengalahkan air hujan yang menerpa di wajahnya.


"Juliet, istriku!"


"Guk, guk, guk, guk!" Hiro menyalak di belakang.


Lantas Juliet memutar tubuhnya. Kedua matanya membola melihat sosok yang dirindukan berada tepat dihadapannya. Dia tidak sedang bermimpi kan?


"Romeo..." desisnya pelan.


"Kenapa kau di sini?"


Juliet menatap sambil menyeka cepat air matanya walapun tak nampak pikirnya karena guyuran hujan masih terjatuh ke bawah.


Romeo tak menyahut namun malah menurunkan Hiro.


"Pergilah, Queen pasti mencarimu!" Suara Juliet terdengar bergetar. Dia mengigit bibir bawahnya tak berani menatap Romeo. Dia takut menangis lagi.


"Aku tak mau pergi meninggalkan istriku di sini sendiri!"


"Aku bilang pergi!"


"Tidak!" Dengan cepat Romeo berjalan lalu menyambar tangan Juliet, dan merengkuhnya.


"Apa maumu?! Lepaskan aku! Aku membencimu!" kata Juliet sambil menangis di dada bidang Romeo. Namun wanita itu malah mendekap erat Romeo. Hati dan ucapannya tak selaras.


"Yakin? Membenciku?" bisik Romeo di telinga Juliet.


"Iya yakin!" Juliet terisak dan masih memeluk Romeo.


Seulas senyum jahil terpatri diwajah Romeo. Lalu bibirnya berucap,"Baiklah aku akan menemui Queen!"


Juliet semakin terisak. "Iya, ke sana lah." Dia melepaskan pelukkan. Wajahnya menunduk, jari-jemarinya tak hentinya menyeka air mata.


"Siapa yang menyuruhmu melepaskan pelukan?" Romeo menatap penuh arti.


Kepala Juliet terangkat. Wanita itu merasa dipermainkan.


"Sebenarnya maumu apa Rom? Kalau kau tidak mencintaiku, tidak apa-apa! Aku tahu diri dan sadar diri! Pergi sana kau! Aku tidak bisa bersama lagi denganmu! Aku mem-ben-cimu!" Juliet meluapkan emosinya. Dia mengucapkan kalimat terakhir dengan terbata-bata. Rasanya sesak melontarkan kalimat barusan. Hati dan bibirnya tak selaras berucap.


Romeo mengulas senyum sekilas. "Tapi aku mencintaimu!"

__ADS_1


"Kau pembohong! Jangan permainkan aku!"


Romeo menarik tubuh Juliet lagi kala melihat istrinya sesenggukkan. Dia tak tega menatap wajah Juliet terlihat nelangsa dan menderita. Juliet hanya diam saja tak membalas pelukan Romeo.


"Dengarkan aku, tadi aku berbohong mengatakan tidak mencintaimu, ini semua ulah Queen." Romeo melonggarkan dekapannya. Ingin melihat reaksi Juliet.


"Queen?" Juliet mengerutkan dahi, dadanya masih bergetar pelan.


Romeo mengangguk, kembali dia mendekap Juliet dan mulai bercerita padanya secara singkat, padat, dan jelas.


Pecah tangis Juliet tatkala mendengar perkataan Romeo. Ia meraung-raung di dalam dada Romeo. Dia tak menyangka ternyata Romeo juga mencintainya. Juliet menangis bahagia karena cintanya terbalaskan Namun ia menahan sebal dan geram dengan perbuatan semua Queen. Mengapa perempuan ular itu selalu menganggunya? Apa maunya Queen?


Romeo melonggarkan pelukan, kemudian menempelkan keningnya ke kening Juliet.


"Jangan menangis lagi sayang," kata Romeo sambil menangkup kedua pipi Juliet.


Juliet mengulas senyum. Kepalanya mengangguk pelan. Isakannya mulai mereda.


"Sekarang kita ke sana!" Romeo memegang tangan Juliet dan menuntunnya ke sisi barat.


Kaki Juliet berayun mengikuti langkah sang suami. "Kenapa kita tidak pulang saja?" tanyanya penasaran.


"Mobilku rusak tadi menabrak pohon." Romeo menoleh ke belakang sekilas.


Juliet terlonjak kaget. "Ha?! Bagaimana bisa?"


"Sudah lah ikuti saja aku," kata Romeo cepat.


Hiro mengekori mereka dari belakang. Sedari tadi, ia hanya menjadi penonton saja. Kaki munggilnya berayun cepat tatkala hujan semakin bertambah deras.


***


Juliet tertegun melihat rumah kaca yang begitu besar dan megah. Matanya nampak berbinar. Sedangkan Romeo mengecup cepat pipi Juliet. Kala Juliet menatap kagum pada rumah kaca. Wajah istrinya terlihat selalu menggemaskan dimatanya. Juliet tersipu malu dengan perlakuan Romeo barusan. Sedari tadi kedua tangan mereka masih bertautan.


"Tunggu sebentar!" perintah Romeo.


Juliet mengangguk.


Romeo beralih menatap Hiro. "Hiro duduk di situ cari tempat yang hangat! Jangan masuk! Jagalah di luar ya! Aku akan membelikan ayam goreng upin-ipin nanti kalau kau menurut. Jangan mengintip dan tutup telinga jika mendengar sesuatu. Oke?" Romeo menunjuk di sisi kanan pintu terdapat bangku kayu. Hiro menyalak sebanyak satu kali, setuju dan segera melompat ke bangku.


Dahi Juliet berkerut samar mendengar kalimat terakhir Romeo.

__ADS_1


"Ayo kita masuk!" Romeo memutar gagang pintu dan lampu di dalam seketika menyala semua. Juliet terpana sesaat. Kedua matanya enggan berkedip.


__ADS_2